
Setelah masalah tentang perjanjian kontrak selesai dan Pengacara Dirga berpamitan, Mama Icha pun mulai menghubungi Pram untuk mengetahui kabar dari suaminya.
Papa Richie kini masih harus menginap di kantor polisi karena laporan dari Hellencia. Sedangkan saksi yang didatangkan oleh Prima masih belum bisa membantu untuk membebaskan Papa Richie dari tuduhan Hellen.
Kabar ini tentunya membuat Mama Icha sangat geram dan panik karena suaminya masih harus menginap di kantor polisi.
“Memangnya, apa alasan polisi untuk memenjarakan Papa?” tanya Axel yang turut gusar mendengar papanya tidak bisa bebas malam ini.
“Hellencia menuduh Papa Richie juga bekerja sama dengannya!” ucap Mama Icha yang tampak terduduk lemas di sofa.
Mendengar hal tersebut, Anya hanya bisa memandangi Axel dengan penuh tanya. Sedangkan Axel hanya terdiam lesu karena sebelumnya, papanya juga sudah mengatakan jika ia sudah siap untuk masuk ke dalam bui.
“Aku sayang tahu jika kabar ini membuatmu sangat kecewa dengan sikap papa, Sayang! Tapi, yang perlu kau tahu, Papa Richie sangat menyayangimu, Cinta!” tutur Axel sambil mengusap bahu Anya dengan lembut.
Anya menghela nafasnya panjang. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana saat ini. Permasalahannya karena Anya masih belum mengenal Papa Richie dan juga Hellencia secara baik.
Ia merasa masalah terus saja datang bertubi-tubi selepas kecelakaan yang menimpa kedua orangnya. Sejak itu Anya mulai kalang kabut untuk mempertahankan kehidupannya dan membiayai papanya yang terbaring koma di rumah sakit.
Saat harta miliknya mulai habis dan keluarganya tidak ada satupun yang peduli, Anya baru mencari pekerjaan dan ternyata langsung di terima sebagai Chef di restoran milik Axel. Tepat satu bulan bekerja di sana, kemalangan kembali menimpanya sampai akhirnya ia harus menikah dengan Axel.
“Maaf, Bang!” Anya melepaskan tangan Axel yang mengusap bahunya dengan lembut.
“Dari awal, aku sebenarnya tidak pernah mengenal kalian semua. Masalah terus saja datang bertubi-tubi selepas papa dan mama mengalami kecelakaan!” ungkap Anya yang mulai menjauh dari Axel.
Mendengar kabar dari Mama Icha membuatnya kembali bimbang untuk bersikap.
“Dan malam ini, kita berdua sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi karena semua perjanjian sudah berhasil dibatalkan!”
Ucapan Anya kali bagaikan boomerang bagi Axel. Ia sama sekali tidak berfikiran sampai situ karena ia menilai Anya kini tengah mengandung darah dagingnya.
“Tapi, sayang …”
“Anya bukan lagi istri Abang malam ini!” tegas Anya. “Pernikahan kita hanyalah sebuah kontrak perjanjian di atas kertas.”
__ADS_1
“Itu artinya, kita tidak ada hubungan apapun mulai detik ini!”
Mama Icha juga semakin gusar mendengar ucapan Anya kali ini. Kini ia sangat menyesal sudah mengatakan hasil dari kantor polisi secara terang-terangan di depan Anya. Seharusnya, ia memendamnya untuk sementara dan menunggu Anya masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu memang sudah tidak ada hubungan sama sekali dengan putra Mama, Anya!” timpal Mama Icha.
“Tetapi, mama tetap menganggapmu sebagai anak mama dan tidak akan pernah melepaskan kamu pergi dari mama sedikit pun!” tegas Mama Icha yang sama sekali tidak rela melepas Anya pergi.
“Ingat, Anya! Kamu anak kandung dari suami Mama! Meski status mama adalah ibu tirimu, tetap saja mama bertanggung jawab penuh atas kamu!”
Ucapan Mama Icha kali ini tidak bisa disanggah lagi oleh Anya. Apa yang dikatakannya memang benar adanya. Namun, kini ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya yang berkecamuk tidak karuan.
“Anya butuh waktu untuk sendiri untuk bisa menerima semua ini, Mama!” ungkap Anya.
“Abang akan memberikan waktu untuk sendiri, Anya Sayang! Abang berjanji tidak akan mengganggumu untuk merenungi semua masalah ini!” timpal Axel dan Anya langsung menggelengkan kepalanya.
“Kalau memang Anya tidak mau tinggal di sini, Anya ikut Mama pulang ke Mansion Utama dan Mama pastikan Axel tidak akan datang untuk mengganggumu, Sayang!” tawar Mama Icha dan lagi-lagi Anya menggelengkan kepalanya.
“Mama mohon jangan pergi, Sayang! Mama akan semakin bersalah jika Anya bersikap seperti ini!” ucap Mama Icha sambil tersungkur di depan Anya.
Anya pun cepat-cepat meraih kedua lengan Mama Icha dan memintanya untuk berdiri, “Jangan seperti ini, Mama!”
“Anya bukan pergi dalam waktu yang lama. Anya hanya ingin menenangkan diri sebentar saja, Ma! Anya berjanji tidak akan membenci kalian semua!” ungkap Anya.
“Tapi mama benar-benar tidak bisa melepasmu untuk pergi, Sayang!” ucap Mama Icha sambil terisak-isak.
Tangisan Mama Icha membuat Anya tidak tega sama sekali. Tetapi, keinginannya untuk pergi sudah bulat.
“Maaf, Mama! Anya hanya butuh waktu untuk sendiri sebentar saja!”
Anya beranjak dari tempatnya dan bersiap untuk membereskan beberapa barang yang perlu ia bawa. Sedangkan Axel semakin kalut melihat tekad Anya yang sudah bulat untuk meninggalkannya.
“Anya, aku mohon jangan pergi!” pinta Axel menghadang Langkah Anya.
__ADS_1
“Pikirkan kandunganmu, Anya! Meski kita berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa, anak yang ada dalam kandunganmu adalah darah dagingku!”
“Bertahanlah sebentar saja dan aku akan sesegera mungkin menjadikanmu istri sahku di depan semua orang!” tutur Axel.
Sayangnya, Anya masih tetap bersikeras dengan keputusannya kali ini. Melihat hal tersebut tangis Mama Icha semakin kencang dan tiba-tiba saja ia merasakan sesak di dadanya. Nafasnya mulai tersengal-sengal di tengah tangisannya sambil memanggil nama Anya.
“Mamaaa!” pekik Anya dan juga Axel yang mulai khawatir melihat keadaan Mama Icha kali ini.
“Tiaaan! Kita bawa mama ke rumah sakit secepatnya!” titah Axel dengan panik. Tian pun secepat kilat langsung menggendong tubuh majikannya.
Sedangkan Axel, masih terpikir menarik tangan Anya untuk ikut serta dengannya ke rumah sakit di tengah kegusarannya. Anya yang ikut panik pun hanya menurut dan mengikuti Langkah Axel dan juga Tian keluar dari apartemen.
Mama Icha yang mengetahui Anya ikut mengantarnya ke rumah sakit pun langsung merasa lega.
‘Huft, akhirnya cara ini sangat ampuh untuk menahan Anya agar tidak pergi dari keluargaku!’ gumam Mama Icha dalam hati.
‘Untung saja, aktingku sangat keren. Axel pasti sangat khawatir melihat mamanya yang tiba-tiba terkena asma!’ batin Mama Icha sambil memegang dadanya dan berpura-pura untuk sulit bernafas.
Namun, saat mereka sudah berada di mobil, Mama Icha mulai kelelahan berakting seperti orang asma. Keringatnya mulai mengucur dari dahinya membuat Anya yang kini tengah memangkunya di mobil semakin panik.
“Bertahan ya, Mama!” ucap Anya sambil menyeka keringat Mama Icha.
“Anya mohon, mama bertahan sampai kita mendapat pertolongan di rumah sakit!” ucap Anya sambil melepaskan pengait br4 Mama Icha dan membuka beberapa kancing blouse yang ia kenakan agar Mama Icha tidak terlalu sesak.
“Ja-jang-jangan per-gi, Anya!” pinta Mama Icha dengan terbata-bata.
“Anya berjanji tidak akan pergi dari Mama!” ucap Icha.
Mama Icha pun perlahan-lahan mulai mencoba mengatur nafasnya dan saat sesaknya sudah mulai berkurang, ia justru tergolek pingsan di pangkuan Anya.
“Mamaaa!” pekik Anya sambil menggoyangkan tubuh Mama Icha.
‘Maaf yaa, kali ini Mama pura-pura pingsan dulu. Capek akting sesak nafas!’ batin Mama Icha yang tidak bergeming sama sekali saat Anya menggoyangkan tubuhnya.
__ADS_1