Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Titik Terang


__ADS_3

“Maaf, Sayang! Barang-barang ini rencana akan papa pindahkan ke Mansion Utama. Papa dan Mama mengkhawatirkan kamu setelah mendengar kabar dari rumah sakit!” jelas Papa Richie.


“Mama mohon jangan marah ya! Ini juga demi kebaikan kita semua!” timpal Mama Icha.


Anya pun menganggukkan kepalanya menyetujui keputusan sepihak yang diambil Papa kandungnya. Ia sendiri mulai was-was melihat keadaan Hellencia yang sangat memprihatinkan. Terlebih hal ini sengaja dibuat oleh seseorang yang pastinya hendak mencelakainya.


“It’s okay, Mama! Terima kasih banyak karena sudah berusaha menjaga Anya dengan baik!” balas Anya.


Mereka pun segera pulang ke Mansion Utama. Namun, sebelumnya Anya mengambil foto mendiang mamanya karena ada yang ia tanyakan di mobil dengan papa Richie.


“Pa, sejak kapan Papa mengenal Mama?” tanya Anya.


“Sejak Mama kamu menjadi murid kesayangan Papa!” balas Papa Richi yang mulai mengingat perjumpaannya dengan Mama Divya.


“Berarti, papa hafal dong nama-nama sahabat mama!” Anya langsung menyodorkan foto mamanya bersama dengan 5 orang sahabatnya.


“Anya Cuma kenal Tante Putri, Tante Lidia, dan Tante Sonia!” lanjut Anya sambil menunjuk gambar teman mamanya satu per satu.


Papa Richie melihat foto Mama Divya dengan kelima orang temannya.


“Yang dua orang di samping Divya ini sahabat paling dekat. Justru mereka bertiga terlihat begitu solid!” timpal Papa Richie.


“Tapi, Mama sama sekali tidak pernah menceritakan kedua orang temannya itu, Pa! Bahkan namanya saja Anya gak tau!” balas Anya yang semakin penasaran dengan cerita Papa Richie.


Jika kedua perempuan yang tidak Anya kenal itu ternyata sahabat dekat mamanya, tentunya mereka memiliki masalah yang besar sampai Mama Divya tidak menceritakan tentang keduanya sama sekali.


“Yang ini, namanya Miranda! Gaya rambut dan stylenya selalu dibuat mirip dengan Divya sampai mereka berdua dijuluki dengan sebutan Kembar Cantik Tak Serupa!” jelas Papa Richie membuat Anya dan juga Axel terkejut bukan main.


“Miranda?” Axel dan Anya serentak menyebutkan nama tersebut.


“Ya, namanya Miranda! Ada apa memangnya?”


Axel pun kemudian menjelaskan pada Papa Richie jika orang yang membuat Hellencia celaka memiliki kartu identitas dengan nama Miranda. Kali ini gantian Papa Richie yang sangat terkejut mendengarnya. Ia hampir tidak percaya jika Miranda bekerja sama dengan Hellencia untuk membunuh Divya.

__ADS_1


“Tidak mungkin Miranda bertindak sekeji itu!” timpal Papa Richie. “Papa mengenalnya dengan baik. Miranda sangat menyayangi Divya. Tingkah lakunya juga sangat lembut. Divya, Miranda, dan juga Jacqueline ini terkenal sebagai primadona sekolah!”


“Jacqueline? Ini adalah nama pemilik plat mobil yang tadi mengikuti kita kan, Bang?” timpal Anya dan langsung dijawab Axel dengan anggukan kepalanya.


“Benar! Berarti ini adalah sebuah konspirasi persahabatan. Bisa jadi mereka memang berencana membunuh Mama Divya karena permasalahan pelik yang mereka hadapi!” tutur Axel.


Masalah kali ini mulai terlihat titik terangnya. Kesimpulan sementaranya, Jacqueline dan juga Miranda sama-sama terlibat dalam masalah ini. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengunjungi rumah sahabat Mama Divya yang lainnya untuk mendapatkan alamat Miranda dan juga Jacqueline.


“Anya tidak boleh ikut mencari!” tegas Mama Icha.


“Kali ini biar Papa dan juga Mama yang bergerak. Axel fokus dengan perusahaan dan Anya tidak boleh terlalu lelah karena Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungan kamu!”


“Tapi, Ma! Mama juga kan masih harus istirahat. Anya baik-baik saja, Ma!” balas Anya.


“Papa setuju dengan Mama! Anya lebih baik tidak banyak beraktivitas dulu karena kehamilan pertama itu sangat rawan.”


Papa Richie terdengar lebih membela istrinya daripada Anya.


“Aku juga setuju dengan Mama. Jangan khawatir, sayang! Semuanya akan berjalan dengan baik! Kau juga bisa memantaunya dari Mansion Utama, bukan?” Kali ini Axel juga lebih setuju dengan pendapat mamanya.


Kini mereka sudah sampai di Mansion Utama. Anya yang hendak turun dari mobil tiba-tiba merasa sangat pusing dan juga mual. Kepalanya terasa berkunang-kunang dan Axel pun dengan sigap menggendong Anya saat melihat istrinya memegangi kepala.


“Are you okay?” tanya Axel yang mulai risau melihat wajah istrinya yang tampak sedikit pucat.


“Mual, Bang!” balas Anya.


“Mau ke rumah sakit?” tanya Axel dan Anya langsung menggelengkan kepalanya.


“Bawa saja ke kamar! Biar mama yang merawatnya. Hal seperti ini memang biasa dihadapi oleh perempuan yang tengah hamil muda!” balas Mama Icha sambil menepuk bahu putranya.


Axel pun segera membawa Anya ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Namun, Anya langsung bangun dan kemudian berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. Yang keluar hanya air karena memang sejak pagi perut Anya belum terisi makanan apapun. Hanya minum susu hamil untuk mengganjal rasa laparnya tadi pagi.

__ADS_1


“Tadi pagi belum sarapan ya?” tanya Mama Icha sambil memijat tengkuk leher menantunya.


“Belum, Ma!” balas Anya yang mulai keluar keringat dingin.


“Axel, minta bibi untuk buatkan bubur, ya!” titah Mama Icha sambil menggandeng menantunya menuju ke tempat tidur.


“Oke, Ma!” balas Axel yang langsung menjalankan perintah mamanya.


“Ibu hamil itu tidak boleh abai dengan Kesehatan diri sendiri, Anya Sayang! Karena ini sangat berpengaruh dengan Kesehatan dedek bayi. Apalagi kehamilannya sudah menginjak dua bulan lebih. Tentunya, lebih banyak lagi nutrisi yang kamu butuhkan!” tegur Mama Icha dengan sangat lembut.


“Maafin Anya, Ma!”


“It’s okay, sayang! Saat ini yang terpenting adalah kesehatanmu dan juga calon bayi. Serahkan semual masalah ini pada Papa. Dan demi keselamatanmu, berdiam dirilah di Mansion!”


“Apapun yang kamu inginkan, katakan saja pada Axel, Mama, atau maid di sini karena kami akan memenuhi keinginanmu, Sayang!” jelas Mama Icha.


Anya pun sangat terharu mendapati Mama Icha yang penuh perhatian terhadapnya. Tak lama kemudian, bubur untuk Anya pun datang.


“Biar Axel aja yang suapin, Ma!” ucap Axel sambil meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.


Mama Icha pun berdiri dan langsung menarik telinga putranya sedikit keras.


“Kamu nih, ya! Istri lagi hamil muda kenapa dibiarin telat makan, sih? Kamu gak kasihan yang anak kamu yang ada di dalam perut Anya?”


“Dia itu butuh nutrisi penting untuk perkembangan janinnya.” Mama Icha mulai memarahi Axel yang sudah membiarkan Anya kelaparan.


“Maaf, Ma. Ampun!” pinta Axel merintih kesakitan.


Mama Icha pun melepaskan tarikannya di telinga Axel dan Axel langsung mengusap telinganya yang sangat panas karena dijewer oleh mamanya.


“Awas aja kalo besok diulangi lagi! Mama gorok kamu!” ancam Mama Icha membuat Axel bergidik ngeri.


“Tega bener, sih, Ma! Masa’ anak sendiri mau digorok!” timpal Axel sambil mulai menyuapi Anya.

__ADS_1


 


__ADS_2