Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Periksa Kandungan


__ADS_3

Dua bulan kemudian,


Kehidupan Anya dan juga Axel semakin baik. Keduanya juga semakin mesra dan saling perhatian satu sama lain. Anya yang sibuk dengan berbagai pekerjaan di Restoran miliknya membuatnya diminta untuk tetap tinggal di rooftop restoran. Sedangkan Mama Icha turut membantu kesibukan menantu kesayangannya di Restoran.


Mama Icha tidak mau menantunya terlalu lelah bekerja dan mengabaikan kehamilannya. Kebetulan beberapa hari ke depan, Axel harus pergi ke luar kota untuk mengembangkan bisnis restoran dengan Papa Richie. Jadi, Mama Icha menginap di rooftop restoran bersama dengan Anya selama suami mereka bertugas ke luar kota.


Anya yang baru selesai mandi pagi, kini tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Sedangkan Mama Icha gantian membersihkan dirinya di kamar mandi. Tak perlu menunggu waktu lama, Mama Icha kini sudah tampak segar dan mendekati Anya yang masih duduk di depan meja rias.


“Duduk sini, Ma!” Anya langsung bangkit dari tempat duduknya. “Mau Anya bantuin keringin rambutnya?” tawar Anya.


“Gak usah, Sayang! Mama bisa kok keringin sendiri,” balas Mama Icha. Anya yang perutnya sudah tampak membuncit memang membuatnya terlihat semakin cantik dan 53k5i.


“Bumil cantik mama ini kapan terakhir periksa ke dokter kandungan?” tanya Mama Icha.


“Sebenarnya sih udah waktunya buat periksa lagi, Ma! Cuma nanti aja gak papa, nunggu Abang pulang dari luar kota,” jawab Anya sambil mengikat rambutnya ke atas.


“Loh, jangan ditunda-tunda begitu, Sayang! Kita periksa sekarang aja, yuk! Mama yang temenin. Vitaminnya udah habis belum?”


“Hampir habis, sih, Ma! Yaudah kalo gitu Anya bikin janji sama dokter kandungan dulu, ya, Ma!” Anya pun langsung mengambil ponselnya dan mendaftar antrian periksa kandungan secara online.


“Naaah, gituh dong! Mama juga kan pingin lihat cucu mama yang ada di perut kamu.” Mama Icha mengusap perut buncit Anya dan mengecupnya sekilas.


“Kalo mama perhatikan, sih, cucu mama ini cewek!” tutur Mama Icha.


“Kok bisa, Ma?” tanya Anya sambil mengerutkan dahinya.


“Karena perut kamu terlihat tinggi dan menonjol ke atas, Sayang!”


Ucapan Mama Icha barusan membuat Anya memandangi bentuk perutnya sendiri di depan kaca.


“Emang kalo hamil anak cewek pasti kayak gini, ya, Ma?” tanya Anya lagi.


“Gak mesti, sih, Sayang! Tapi kalo mama lihat-lihat nih semasa kamu hamil kelihatan makin cantik. Jadi mama tebak anak kamu pasti perempuan!”


“Duh, jadi penasaran, nih!” gumam Anya sambil mengusap perutnya sendiri. “Anya kira malah cowok, loh, Ma! Soalnya gerakannya udah aktif banget. Bulan lalu sih waktu di USG masih belum kelihatan soalnya.”

__ADS_1


“Ya udah, abis sarapan kita langsung ke rumah sakit aja, ya! Mama akan panggil Intel Ika untuk menemani!”


Anya pun langsung menganggukkan kepalanya. Saat Mama Icha menghubungi Intel Ika, Anya mulai menata sarapan di atas meja makan. Pagi ini ia sengaja membuat mash potato bersama Mama Icha. Kedekatan keduanya sudah tidak tampak seperti mertua dengan menantu, melainkan seperti teman dekat beda generasi.


“Ma, perut Anya nih udah mulai terasa gatal-gatal gitu. Kenapa, ya?” tanya Anya saat Mama Icha sudah bergabung di meja makan.


“Oh, itu biasa kok dialami sama wanita hamil. Saran mama, jangan digarut, ya, Sayang!” balas Mama Icha.


“Terus gimana, Ma?”


“Nanti mama akan carikan cream yang biasa digunakan untuk ibu hamil saat perutnya terasa gatal. Itu juga bisa menghindari stretch mark juga!” timpal Mama Icha.


“Waah, Mama memang the best pokoknya! Thanks a lot, Ma!”


“Sama-sama, Sayang!”


Setelah menikmati sarapan, mereka langsung menuju ke Rumah Sakit Ibu dan Anak untuk memeriksakan kandungan Anya. Sepanjang perjalanan, keduanya saling bercerita tentang pengalaman Mama Icha saat mengandung Axel. Saat itu usianya juga masih sangat muda, sekitar 20 tahun.


Sampai tiba di rumah sakit, mereka masih saja mengobrol layaknya teman dekat. Setelah registrasi di bagian administrasi dan memperlihatkan bukti pendaftaran online-nya, Anya dan Mama Icha duduk di ruang tunggu karena masih ada 5 antrian sebelumnya yang belum masuk ke dalam.


“Kenalkan, saya Bu Arini!” lanjutnya lagi yang kemudian tersenyum ke arahh Anya.


“Saya Icha!” balas Mama Icha singkat.


“Apa ini putri anda?” tanya Bu Arini dan Anya pun mengangguk dengan sopan.


“Iya, Bu! Saya Anya, putri Mama Icha!” balas Anya.


“Saya dari manajemen susu ibu hamil ingin menawarkan Bu Anya untuk menjadi bintang iklan produk kami. Kebetulan produk kami sedang mencari bintang iklan yang pas. Dan saya perhatikan, Bu Anya adalah orang yang tepat!” jelas Bu Arini sambil menyodorkan surat tugas yang ia bawa dan juga prosedural kontrak sebagai bintang iklan.


“Silahkan dibaca-baca dulu, Bu Anya! Saya harap ibu berkenan dengan tawaran saya kali ini.” Bu Arini kemudian mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkannya kepada Anya.


“Ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya jika berminat dengan tawaran ini!”


Tanpa berpikir panjang, Anya langsung mengembalikan prosedural kontrak yang diberikan oleh Bu Arini dan meminta maaf jika ia tidak bisa menerima tawaran tersebut.

__ADS_1


“Mohon maaf sebelumnya, Bu Arini. Saya tidak bisa menerima tawaran anda! Kebetulan kesibukan saya juga sudah sangat padat.”


“Apa tidak bisa dipikirkan lagi, Bu Anya?” tanya Bu Arini yang sedikit mendesak Anya untuk menerima tawarannya.


Anya menyunggingkan senyumannya sambil menggelengkan kepalanya, “Mohon maaf, saya benar-benar tidak bisa!” balas Anya.


“Apa saya boleh mengetahui alasannya secara jelas dan terperinci?”


Pertanyaan Bu Arini kali ini membuat Intel Ika yang duduk tidak jauh dari mereka pun langsung mendekat. “Tolong jangan mendesak Nona Muda kami untuk melakukan hal yang sudah ia tolak. Kesibukan Nona Muda sebagai pemilik perusahaan benar-benar tidak bisa menerima tawaran dari anda!” jelas Intel Ika dengan tegas.


“Baik, kalau begitu saya permisi dulu!” Bu Arini pun langsung melangkahkan kakinya untuk pergi.


Tak lama kemudian, giliran Anya untuk memeriksakan kandungannya pun tiba. Mama Icha langsung mendampingi Anya masuk ke dalam ruangan periksa. Sedangkan Intel Ika sengaja menunggu di luar sambil terus mengamati Bu Arini yang mencari bintang iklan untuk produk susu hamil.


“Bagaimana keadaan kandungan putri saya, Dokter?” tanya Mama Icha saat dokter sudah mulai melakukan USG.


“Kandungannya sangat sehat, bayinya juga sangat aktifnya, Bunda!” jelas Dokter Gita.


Bayi yang ada di dalam kandungan Anya memang tampak terus bergerak dengan aktif.


“Untuk gendernya kira-kira apa, ya, Dokter?” tanya Anya kemudian.


“Perempuan, Bunda!” jawab Dokter Gita membuat Anya langsung memandang ke arah Mama Icha.


“Wah, tebakan Mama benar!” celetuk Anya dengan mata yang berbinar.


Setelah memeriksakan kandungan Anya dan konsultasi seputar kehamilan, Anya dan Mama Icha kembali menunggu di ruang tunggu untuk mendapatkan vitamin yang harus dikonsumsi Anya selama masa kehamilan.


Namun. saat mereka berdua tengah menunggu, Anya melihat sosok yang sangat ia kenal sedang di depan bagian administrasi. Regi tampak sedang mendaftarkan dirinya untuk menemui dokter kandungan. Perut Regi kali ini tampak membuncit seperti Anya, tapi milik dia terlihat lebih besar.


Anya pun bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Regi untuk memastikan dari jarak yang lebih dekat. “Mbak Regi lagi hamil?” tanya Anya yang sudah berdiri di belakang Regi.


Regi yang sangat terkejut pun langsung berbalik dan wajahnya seketika pias saat mendapati Anya sudah berdiri di belakangnya. “A-a-anya! Kamu periksa di sini juga?” tanya Regi dengan sedikit tergagap.


“Iya! Mba Regi sendirian? Suaminya mana?” tanya Anya kemudian.

__ADS_1


Regi menelan ludahnya kasar dan mengajak Anya untuk duduk di sofa yang kosong. Melihat Anya duduk bersama Regi, dengan sigap Mama Icha langsung berpindah mendekati menantunya karena takut terjadi apa-apa dengan Anya. Sedangkan Intel Ika diperintahkan untuk mengambil vitamin Anya di loket pengambilan obat


__ADS_2