
“Wah, babu buntung kita sudah sadar!” tutur seorang napi perempuan sambil mendekati Jacqueline.
“Benar! Jadi, dia tidak bisa melarikan diri lagi! Sudah wajahnya cacat, kakinya buntung, dan …” napi lainnya mencoba mengendus bau badan Jacqueline. “Bau ketek banget, huek!”
Jacqueline kembali meneteskan air matanya dan mencoba untuk berteriak sekuat tenaganya. Sayangnya, tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya sedikitpun.
“Ngapain mangap-mangap? Minta makan ya?” timpal Napi lainnya.
“Lah, dia kan memang belum makan!” seorang napi langsung mengambilkan bubur yang diperuntukkan untuk Jacqueline. “Sini, biar aku suapin!”
Mendengar hal tersebut, Jacqueline yang sudah sangat lapar pun langsung membuka mulutnya. Tapi bukan disuapin, melainkan seluruh bubur yang ada di dalam mangkuk di masukkan semuanya ke dalam mulut oleh napi tersebut sampai Jacqueline tersedak dan bubur yang ia makan keluar dari hidungnya.
“Hii, lihat babu buntung itu! Ingusnya jadi bubur!” ledek napi laki-laki yang disertai dengan gelak tawa teman-temannya.
Jacqueline yang terbatuk-batuk pun terasa sangat tersiksa. Apa lagi kondisinya masih sangat memprihatinkan. Ia hanya bisa menangisi kemalangannya sampai akhirnya terdengar gertakan polisi yang baru datang ke klinik.
“Hei! Kenapa kalian ada disini?” tanya polisi tersebut.
“Maaf, Pak! Kami hanya datang untuk menjenguk teman kami yang gagal melarikan diri!” timpal napi yang berbadan paling besar.
“Waktu menjenguk sudah habis! Sekarang, kalian kembali ke tempat kalian!” titah polisi tersebut membuat Jacqueline bernafas lega. Setidaknya, polisi tidak terlalu menyebalkan seperti napi yang selalu mengerjainya.
Sayangnya, dugaan Jacqueline tidak seluruhnya benar. Polisi tersebut juga memandang Jacqueline sebelah mata dan kata-katanya juga tidak kalah pedas dengan para napi yang tadi mengatainya.
“Sudah jelek, jahat, banyak tingkah, kakinya buntung pula!” ucap polisi tersebut.
“Kenapa penabrak tadi tidak menabrakmu sampai mati. Kalau gini kan pihak polisi jadi repot! Gak mungkin juga kamu kita kubur hidup-hidup!” tuturnya lagi.
‘Ya Ampun! Kenapa di dunia ini tidak ada yang berperasaan denganku!’ ratap Jacqueline dalam hati. ‘Kenapa semuanya sangat jahat dan tidak peduli denganku?’
Lagi-lagi Jacqueline hanya bisa menangis. Polisi yang lainnya pun datang dan kali ini membawa sebuah rotan panjang.
“Apa sudah diinterogasi kabur kemana saja?” tanya polisi yang membawa rotan.
“Belum!”
“Heh, kamu sudah kabur kemana aja?” tanya polisi sambil meletakkan ujung rotan di dagu Jacqueline.
“Gak kemana-mana!” jawab Jacqueline menggerakkan mulut dan juga rahangnya. Namun, suaranya sama sekali tidak keluar.
“Jawab!” gertak polisi tersebut sambil melibaskan rotan ke rahang Jacqueline.
__ADS_1
‘Sakit!’ rintih Jacqueline yang lagi-lagi mengeluarkan air matanya.
“Disuruh jawab malah nangis sih!”
Cplak! Rotan tersebut kembali di libaskan ke rahang yang satunya.
“Aku udah jawab, Pak!” Jacqueline kembali menggerakkan mulutnya. Tapi, suaranya sama sekali tidak keluar.
“Aku rasa orang ini jadi bisu!” tukas polisi yang lain.
“Haish! Benar-benar menyusahkan! Kenapa tidak mati sekalian?”
Akhirnya para polisi meninggalkan Jacqueline di klinik sendirian. Jacqueline masih terus saja menangisi dirinya sendiri. Tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah gunting yang ada di atas nakas di sampingnya.
‘Lebih baik, aku mengakhiri hidup saja daripada harus hidup seperti ini!’ batin Jacqueline yang kemudian berusaha meraih gunting tersebut.
Dengan susah payah, Jacqueline bergerak meraih gunting tersebut. Tapi karena letaknya cukup jauh, Jacqueline sama sekali tidak bisa menggapainya dan
Bruk! Akhirnya Jacqueline terjatuh dari brankar dan kepalanya terbentur keras di atas lantai. Kakinya yang patah langsung mengeluarkan darah dan membuat perbannya penuh dengan darah.
Jatuh dengan posisi tengkurap membuat Jacqueline mengalami sesak pada pernapasannya dan mulai tersengal-sengal. Satu jam terjatuh, masih belum ada yang datang membantunya. Dua jam kemudian Jacqueline menghembuskan nafas terakhirnya dan dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Di sisi lain, Anya dan juga Axel kini benar-benar masih menikmati buka puasa mereka. Setelah permainan panas mereka tadi sore, malam ini Anya mengajak Axel untuk bermain di tempat yang berbeda.
Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Sedari tadi, mereka berdua menghabiskan waktu untuk saling bercerita dan bermanja-manja ria di kursi panjang sambil menikmati pemandangan malam. Dan kini, Axel mengajak Anya masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat.
“Masuk ke dalem, yuk, sayang!” ajak Axel. “Kasihan dedek bayi kalo diajak di luar ruangan lama-lama! Lagi pula Abang masih pengen nengokin dedek malam ini.”
Axel langsung menggandeng tangan Anya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
“Anya pingin berenang, Bang!” balas Anya.
“Boleh, tapi dilarang pakai apa-apa, ya!” timpal Axel.
Anya langsung memeluk lengan suaminya dengan manja. "Memangnya kalo pake baju renang kenapa?"
"Nanti Abang buka puasanya jadi ribet, Cinta!" balas Axel membuatkan Anya terkekeh pelan.
"Kan istri Abang mau ajakin main di tempat baru!" lanjut Axel yang sangat paham dengan ajakan Anya.
Tanpa membuang waktu, Anya dan juga Axel kini sudah masuk ke dalam kolam renang tanpa mengenakan apapun. Penampilan Anya kali ini membuat Axel menelan ludahnya kasar.
__ADS_1
Anya yang kini tengah duduk di tangga kolam renang tampak begitu cantik, 53k5!, dan semakin m3n994irahkan. Bahkan senjata Axel langsung berdiri tegak melihat Anya seperti itu.
Sebelum berenang, Anya sengaja menggoda Axel dengan mempertontonkan tubuh polosnya yang begitu menantang. Hal ini membuat Axel berenang ke arah Anya dan langsung mencumbunya.
"Ternyata kau semakin luar biasa di dalam air, Sayang!" bisik Axel yang kemudian memagut bibir istrinya dengan penuh n4f5u.
Anya sendiri membalas pagutan suaminya sambil tangannya bermain di senjata Axel yang sudah ON.
Setelah saling memagut, Anya sengaja berenang ke tengah kolam renang meninggalkan Axel di tepi kolam renang yang sudah sangat ingin menikmati penyatuan mereka.
Dengan cepat Axel pun mengejar Anya ke tengah kolam renang dan menggiringnya ke tepi. Selepas itu, Axel kembali mencumbu istrinya mulai dari leher dan kini turun ke bawah.
Secara bersamaan, Anya menarik senjata milik Axel dan menyatukan dengan miliknya. Axel pun mendorong tubuhnya ke tubuh Anya dan penyatuan mereka pun terjadi.
Keduanya sama sama menikmati satu sama lain dan mengeluarkan suara kenikmatan mereka bersamaan.
"Awh, ini benar-benar sangat nikmat, Cinta. Ternyata, jauh lebih nikmat darinyng aku bayangkan!" racau Axel.
"Kau sangat $3k$i, Sayang!"
Tangan Axel mulai menahan tubuh Anya di tepi kolam renang sambil menggerakkan tubuhnya yang sudah menyatu dengan Anya.
"Punya Abang juga makin besar dan nikmat!" balas Anya sambil ter3n9ah-3n94h.
"Mainin ujung dadanya sendiri, Sayang!" pinta Axel.
"Tapi, Bang..."
"Please! Ini permintaan dan perintah dari Abang!" pinta Axel lagi.
Tangan Anya pun tergerak untuk memainkan dadanya sendiri dan membuatnya terlihat semakin hot. Apalagi saat jemari Anya mulai menjepit ujung titik sensitif miliknya.
Axel pun semakin cepat menggerakkan miliknya sampai akhirnya sampailah mereka di pelepasan pertama di dalam air.
Setelah itu, mereka cepat cepat keluar dari air dan mengeringkan tubuh mereka dengan bathrobe. Kemudian kedua nya sama-sama naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama.
"Selamat tidur, Cinta!" ucap Axel sambil memeluk tubuh Anya.
"Bawa permainan panas kita ke dalam mimpiku!" lanjut Axel sambil mengecup kening Anya.
Anya yang sudah sangat lelah dan mengantuk pun hanya menganggukkan kepalanya sambil membalas pelukan Axel.
__ADS_1