
Keesokan harinya, Regi sudah bangun lebih pagi untuk menemui Anya hari ini. Setelah mandi dan memakai pakaiannya, Regi bergegas mengambil kunci motor dan pergi begitu saja tanpa berpamitan ataupun mengucapkan salam.
Budhe Diba yang saat itu sedang memasak di dapur dan Pakdhe Joko dilewati begitu saja oleh Regi yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Anya. Kepergian Regi yang sangat tergesa-gesa juga diabaikan oleh kedua orang tuanya yang sudah sangat kecewa dengan kesalahan yang dibuat oleh putri semata wayangnya.
“Anak itu semakin tidak sopan! Sudah bikin malu keluarga, sekarang mau pergi juga seenaknya saja!” gerutu Budhe Diba.
“Sudahlah, biarkan saja! Aku juga sudah pusing memikirkan kelakuan anak itu!” timpal Pakdhe Joko.
Sedangkan Regi yang semalam sudah menyempatkan untuk browsing mengenai Keluarga Richie dan juga Axello sudah mulai menebak dimana keberadaan Anya pagi ini.
‘Aku yakin, Diorama Resto itu pasti punya Anya. Pagi ini, dia pasti akan berangkat bekerja di Restoran miliknya dan aku bisa menemui sekaligus membujuknya untuk menerima tawaran sebagai bintang iklan,” gumam Regi dalam hati sambil menjalankan motornya membelah jalanan pagi yang masih lengang.
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, Regi kini sudah sampai di depan gerbang Diorama Resto yang masih tertutup rapat. Kemudian Regi menemui satpam untuk menanyakan perihal restoran tersebut.
“Restorannya buka jam berapa ya, Pak?” tanya Regi.
“Jam 10 pagi sudah mulai buka bu!” jawab satpam.
“Kalo karyawan biasanya jam kerja mulai jam berapa sampai jam berapa?”
“Karyawan mulai bekerja jam 9 dan sebelum jam tersebut mereka sudah siap pada bagian masing-masing.”
Saat Regi tengah berbincang dengan Pak Satpam, dari roof top restoran tampak Anya tengah berdiri dan melihat ke aah gardu satpam. Ia teringat saat suaminya mengabarkan jika Regi tengah menunggunya dari siang sampai malam di gardu satpam Mansion Utama.
Akhirnya, Anya memerintahkan satpam untuk mempersilakan Regi masuk ke dalam dan menunggunya di taman restoran.
Pandangan Regi memutar melihat sekeliling taman yang ditata sangat cantik dan membuat pengunjung yang makan di Restoran tersebut sangat nyaman. “Anya benar-benar sangat beruntung. Bahkan Diorama Café sekarang berganti dengan sebuah Restoran yang sangat mewah, tetapi harganya sangat bersahabat di kalangan anak muda.”
__ADS_1
Tak lama kemudian, tampak Anya berjalan menuju taman didampingi oleh Intel Ika. Melihat kedatangan Anya yang masih sepagi ini membuat Regi bisa bernafas lega.
“Akhirnya, aku bisa bertemu lagi denganmu, Anya!” Regi berdiri dan menyambut kedatangan Anya. “Ternyata, kau sudah ada di restoran sepagi ini. Restoran milikmu ditata sangat indah dan elegan,” puji Regi membuat Anya tersenyum.
“Bukankah kemarin kita baru saja bertemu. Apa yang membuat bumil ini repot-repot ingin bertemu denganku sampai menunggu di Gardu Satpam sampai malam?” tanya Anya yang kemudian menyodorkan minuman hangat dan kudapan untuk Regi.
Regi menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia mengambil teh hangat yang disajikan oleh karyawan Anya. “Apa aku boleh meminumnya dulu?” tanya Regi kemudian.
“Silahkan saja, Mbak. Itu memang dibuat untuk Mbak Regi. Karyawan juga sedang membuatkan sarapan di pantry. Aku yakin, Mbak Regi pasti belum sarapan karena sepagi ini sudah ada di sini.”
Regi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sebersit perasaan haru mendapati perhatian dari adik sepupunya itu. Selama ini, ia tidak pernah mendapatkan perhatian seperti itu dari Papa ataupun Mamanya yang terlampau acuh dengannya.
“Terima kasih banyak, Anya. Kau benar-benar sangat baik. Maaf, jika aku mengganggu waktumu pagi ini. Kedatanganku kali ini hanya ingin menyampaikan permintaan Bu Arini yang sangat menginginkanmu untuk menjadi bintang iklan susu hamil.”
Mendengar tujuan kedatangan Regi kali ini membuat Anya membuang nafasnya kasar. “Aku sudah mengatakan berkali-kali jika aku tidak bisa. Bahkan aku juga sudah mencarikan bintang iklan yang tepat. Kenapa Bu Arini masih mengejarku juga,” gumam Anya yang tidak habis pikir.
"Dia mengatakan jika kau dan aku sangat berbeda. Wajah dan tubuhku sama sekali tidak menjual di pasaran. Tapi, jika aku bisa membujukmu untuk menerima tawaran ini, aku bisa mendapatkan tip yang lumayan dari Bu Arini."
"Sedangkan, gajiku sebagai buruh cuci setrika di laundry hanya dibayar sebesar satu koma lima juta perbulannya."
Anya kini terdiam mendengar permintaan Regi. Ada perasaan tidak tega yang menjalar dalam hatinya.
"Aku tahu Anya, aku sangat jahat dengan mu dan pernah tidak mempedulikanmu sama sekali. Aku sangat menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi!"
Regi menangis dan memperlihatkan jika dia benar benar sangat menyesal dengan sikapnya yang terlampau acuh dengan Anya. Bahkan baru kali ini Anya mendapati sepupunya seperti ini.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu Mbak Regi. Sudahlah, jangan menangis lagi. Tapi, mohon maaf aku tetap tidak bisa memenuhi penawaran menjadi bintang iklan susu hamil itu," tegas Anya.
"Aku benar-benar membutuhkan uangnya, Anya. Tolong aku!" pinta Regi.
Anya menghela nafasnya panjang. "Berapa uang yang Mbak Regi dapatkan jika aku memenuhi penawaran itu?" tanya Anya.
"Sepuluh juta, Anya!" balas Regi.
"Bagaimana jika Mbak Regi bekerja denganku dan aku akan memberikan gaji sekitar 3 juta setiap bulannya?" tawar Anya.
"Kebetulan posisi yang kosong di sini adalah bagian laundry."
Penawaran Anya kali ini membuat mata Regi berbinar. Ia langsung menganggukkan kepalanya dan menyetujui tawaran Anya.
"Aku mau, Anya!" pekik Regi dengan sangat gembira. "Aku akan menghubungi Bu Arini dan memberikan kabar jika aku tidak berhasil membujukmu."
Regi langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghubungi Bu Arini. Ternyata, Bu Arini juga sudah mendapatkan bintang iklan yang tepat dan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dari situ, Regi merasa sangat bersyukur mendapatkan tawaran pekerjaan dari Anya.
📱📱📱
“Terima kasih banyak, Nona! Saya sangat bersyukur mendapatkan tawaran pekerjaan dari anda. Ternyata, Bu Arini juga sudah mendapatkan bintang iklan yang ia inginkan,” ucap Regi yang langsung mengubah cara bisaranya dengan Anya.
Hal ini tentunya membuat Anya mengerutkan dahinya, “Loh, kok Mbak Regi ngomongnya jadi berubah gituh? Gak usah manggil nona, kali. Biasa aja panggil Anya,” tutur Anya yang kurang nyaman dengan cara bicara Regi barusan.
“Gak bisa, dong, Nona! Bagaimanapun juga, status saya saat ini adalah bawahan dan Nona Anya adalah atasan saya,” balas Regi.
“Ya udah, nanti Mbak Regi akan ditunjukkan oleh Intel Ika , dimana seragam yang harus dikenakan, apa aja yang harus dikerjakan, dan juga akan ada tanda tangan kontraknya. Sekarang, Mbak Regi bisa sarapan dulu! Sebentar lagi karyawan akan membawakannya kemari,” jelas Anya.
__ADS_1
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Nona Anya. Saya berjanji akan bekerja dengan baik,” balas Regi dengan mata yang berbinar.
Kemudian, Anya pun kembali ke roof top untuk menikmati sarapannya. Sedangkan Regi menikmati sarapannya bersama dengan karyawan Anya yang kebetulan sudah pada datang. Ternyata, seluruh karyawan di restoran milik Anya memang disiapkan sarapan, makan siang, dan juga makan malam dari restoran tergantung shift masing-masing karyawan.