Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Mau bakso yang hangat?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke Mansion, Axel terus saja bertanya mengenai dosen Anya yang dipanggil dengan sebutan Mr. Jeff itu. Anya sendiri menjawabnya dengan santai dimana Mr Jeff yang ia kenal selama ini memang sangat perhatian terhadapnya.


Terkadang, ia membawakan bekal untuk Anya atau sesekali membayarkan makan siang Anya di kantin kampus. Dari cerita Anya kali ini, Axel menyimpulkan jika dosen Anya itu sudah jatuh hati dengan istri mudanya.


“Aku yakin, Jeff pasti sudah lama memendam perasaan khusus terhadapmu, Sayang!” tukas Axel memberi penilaian.


“Tapi, Anya kan gak suka sama Mr. Jeff, Abang Sayang!” tegas Anya.


“Trus, kenapa kamu tadi cubit Abang, waktu Abang bilang pacar kamu?” tanya Axel dengan nada kesal.


“Yah … Awalnya Anya kan udah bilang sama Mr. Jeff kalo Abang itu bos Anya. Eh, Abang malah bilang pacar.”


“Gak salah kan kalo seorang atasan pacaran sama karyawannya?” balas Axel yang masih belum terima alasan yang diungkapkan oleh Anya.


“Ya salah dong, Bang! Mr. Jeff kan tahu persis kalo Anya itu gak pernah deket sama cowok mana pun waktu di kampus. Lah, ini baru juga lulus dan kerja, masa’ udah pacaran sama bosnya. Pasti dia jadi ilfeel nanti sama Anya!” balas Anya membuat Axel diam seribu Bahasa.


Kali ini Axel mulai memahami kenapa Anya tadi menutupi identitas dirinya dengan Axel. Ia juga tidak ingin jika istri kesayangannya ini dipandang sebelah mata. Akhirnya mereka berdua pun saling bungkam sampai mobil Axel sampai di Mansion.


Kedatangan mereka berdua langsung disambut oleh papa dan juga mamanya yang sudah menunggu kepulangan mereka berdua. Mama Icha langsung mendekati mobil Axel dan membukakan pintu untuk Anya.


“Kenapa pulangnya malem banget, Sayang?” tanya Mama Icha yang mulai protektif dengan Anya. “Mama sama Papa itu khawatir banget nungguin kalian berdua gak pulang-pulang!” lanjutnya lagi sambil menggandeng Anya masuk ke rumah.


Sedangkan Papa Richie sudah berkacak pinggang di dekat pintu mobil Axel sambil menunggU Axel keluar dari mobil.


“Axel!” hardik Papa Richie. “Kenapa membawa Anya dan pulang selarut ini?” tanya Papa Richie yang tampak memarahi Axel.


“Harusnya kalau bawa Anya pulang larut malam gini, kamu hubungi Papa sama Mama, biar kami gak khawatir!”

__ADS_1


Kemarahan Papa Richie kali ini membuat Anya tidak tega melihat suaminya. Sedangkan Axel hanya menggaruk tengkuk lehernya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


“Ini baru setengah sembilan malam loh, Pa! Belum bisa dibilang larut malam!” sanggah Axel yang sedikit tidak terima dengan omelan papanya.


“Dia sedang hamil, Axel. Seharusnya dia sudah ada di rumah sebelum jam 6 petang!” timpal Papa Richie yang tidak ingin terjadi apa-apa oleh Anya.


“Tapi, Axel baru aja nurutin ngidamnya cucu papa! Tadi tiba-tiba Anya minta beli bakso beranak. Akhirnya kita mampir dulu deh nurutin kemauan dedek bayi,” kilah Axel.


“Memangnya papa mau cucu papa kalo lahir nanti ngiler?” lanjutnya lagi membuat Papa Richie kini terdiam dan langsung meninggalkan Axel begitu saja.


Axel sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap papanya yang sangat posesif terhadap Anya. Bahkan bukan hanya Papanya. Mama Axel juga tampak lebih menyayangi Anya daripada anak kandungnya sendiri.


Buktinya, Mama Icha lebih memilih diam dan tidak membelanya saat Papa Richie tengah memarahinya. Namun, Axel sama sekali tidak merasa cemburu sedikitpun. Ia justru sangat bersyukur karena kedua orang tuanya menyayangi istrinya dengan sungguh-sungguh.


Saat masuk ke dalam Mansion, Mama Icha gantiaan menasehati Axel panjang lebar. Mulai dari tidak boleh membawa istrinya pulang larut malam, Anya juga dilarang untuk banyak beraktivitas yang membuatnya mudah lelah, dan satu lagi yang paling penting …


“Iyaa, Mamaa …” jawab Axel dengan singkat. “Axel juga paham untuk masalah itu.”


“Kalau begitu, Axel ke kamar dulu ya, Maa!” ucap Axel undur diri dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Saat Axel membuka pintu kamarnya, matanya langsung membeliak sempurna melihat istrinya yang sudah mengganti pakaiannya dan sengaja menggantinya dengan lingerie warna merah cabai.


Kedatangan Axel kali ini membuat Anya berlari-lari kecil untuk menyambut suaminya. Kemudian tangannya melingkar di tubuh Axel dengan manja.


“Maafin Anya ya, Bang! Gara-gara Anya, Abang jadi dimarahin sama papa!” tutur Anya sambil menempelkan kepalanya di dada bidang Axel.


“Iyaa, sayangku!” jawab Axel sambil menarik dagu Anya dengan cepat dan langsung mempertemukan bibir mereka sekilas.

__ADS_1


“Kamu sangat cantik dan men99air4hkan, cinta!” puji Axel.


“Kan Anya memang mau menuhi janji Anya buat kasih bakso hangat buat Abang!” balas Anya yang tangannya sudah mulai membuka kancing kemeja Axel satu per satu.


“Bakso hangatnya … berarti mau dibuat bareng sama Abang di atas ranjang?” tanya Axel yang mulai paham apa yang dimaksud Anya dengan bakso hangat buatan dari Anya malam ini.


“Kalo gak sama Abang, sama siapa lagi, dong?” balas Anya yang sudah menanggalkan kemeja suaminya.


Kemudian Anya melingkarkan tangannya di leher Axel dan mulai berbisik dengan manja.


“Gendong, Anya, Bang!” pinta Anya dengan sedikit merengek.


“Anya udah kangen nih, Abang jengukin adek bayi!” lanjut Anya lagi membuat Axel kembali membeliakkan matanya.


Tanpa menunda-nunda kesempatan emas kali ini, Axel langsung membawa Anya ke atas tempat tidur, dan merebahkannya di bawahnya.


“Abang sangat bahagia mendengar istri Abang meminta hal ini lebih dulu.” Tangan Axel terulur memainkan rambut Anya.


“Sekarang, katakan sama Abang, Apa yang Anya mau?” tanya Axel yang sudah mulai memijat dada sekal milik istrinya.


“Mulai dari sini!” Axel sedikit m3r3m45 dada Anya dan membuat Anya mulai mengeluarkan suara favorit Axel.


“Atau mau coba main dulu di bawah sini?” tawar Axel yang mulai menyusupkan jemarinya ke titik sensitif Anya bagian bawah.


“Emmh, Abaaang! Anya mau coba yang baru aja ya!” jawab Anya membuat tangan Axel mulai bebas dan bergerilya di bawah sana.


 

__ADS_1


__ADS_2