Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Misi Berhasil


__ADS_3

Polisi yang sudah dipanggil oleh Tim Intel pun langsung membawa Hellencia bersama Jacqueline dengan laporan kejahatan mereka berdua yang sudah dikumpulkan. Jacqueline digelandang dengan wajahnya yang melepuh karena kesalahannya sendiri.


Sedangkan Hellencia kali ini juga ikut digelandang ke kantor polisi karena hampir mencelakai Jacqueline dan ditakutkan akan membahayakan keluarga besar Tuan Richie nantinya. Polisi pun mendorong kursi roda milik Hellencia menuju ke mobil tahanan.


Kini, keduanya sudah sama-sama duduk di atas mobil tahanan. Jacqueline terus saja merintih kesakitan karena bahunya yang mengeluarkan darah dan wajahnya yang melepuh.


“Aduh, Pak Polisi! Tangan dan wajahku sakit sekali!” rintih Jacqueline sepanjang perjalanan.


Polisi yang sudah membawa kotak P3K pun langsung mengambil kain panjang dan mengikat lengan Jacqueline untuk menghentikan pendarahan. Kemudian ia memberikan kaca dan salep luka bakar kepada Jacqueline.


“Nih, obtain sendiri lukanya!” titah polisi yang mengawasi mereka berdua.


“Benar-benar sial!” umpat Jacqueline sambil mengobati luka bakar di wajahnya. “Dan ini, gara-gara kamu, Hellencia!” Jacqueline menatap ke arah Hellencia dengan tatapan penuh kebencian.


“Enak aja gara-gara aku! Ini semua itu gara-gara ulah gila Mbok Tumpi! Salah cari lawan!” timpal Hellencia yang wajahnya mulai pucat.


Lagi-lagi hal seperti ini terjadi dengannya untuk yang kedua kalinya. Pertama kalinya saat ia pulang dari rumah sakit dan harus mendekam di penjara karena kejahatannya membunuh Mamanya Icha terkuak.


Kali ini, sepulang dari rumah sakit, ia juga kembali digelandang ke kantor polisi karena membuat keributan di Mansion Utama saat bertemu dengan Jacqueline. Padahal tuntutan yang pertama kemarin baru saja dicabut.


Bayangannya menghabiskan waktu bersama Anya pun pudar seketika karena ke depannya, ia justru akan menghabiskan waktu bersama Jacqueline, wanita yang pernah berupaya untuk menghilangkan nyawanya.


Sedangkan di Mansion Utama, Anya dan Mama Icha sangat senang melihat keberhasilan Tim Intel dalam membekuk musuh mereka. Rencana yang sangat cantik dan mulus itu membuat Anya sangat lega. Ia pun tersungkur mengucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya atas kejadian ini.


Mama Icha pun turut bersyukur dan melakukan apa yang dilakukan oleh menantunya. Selepas itu mereka langsung berpelukan dengan erat.


“Kita menang, Ma! Penjahat itu berhasil diamankan oleh polisi!” ucap Anya sambil berurai air mata.


“Iya, Sayang. Kita menang dan selepas ini kita bisa fokus dengan masa depan keluarga kita!” balas Mama Icha.


Setelah berpelukan, keduanya pun keluar dari kamar untuk bergabung dengan Papa Richie dan juga Axel di ruang tamu. Sedangkan Tim Intel masih mengecek sekeliling Mansion terutama kamar yang ditempati oleh Jacqueline. Ternyata mereka masih menemukan beberapa bom yang sama di dalam koper Jacqueline dan langsung menonaktifkan nya.

__ADS_1


Kedatangan Anya pun langsung disambut oleh Axel yang langsung memeluknya dengan sangat erat. “Akhirnya, aku bisa menjadikanmu satu-satunya istriku, sayang!” ucap Axel yang dipenuhi rasa bahagia.


Anya pun membalas pelukan suaminya dengan erat juga. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Anya karena kegembiraannya yang tiada tara. Beban masalahnya sejak kecelakaan orang tuanya beberapa bulan yang lalu, kini berakhir sudah.


Awalnya, ia merasa hanya seorang diri di dunia ini selepas kedua orang tuanya meninggal dunia. Tapi, sekarang ia menemukan keluarga baru yang begitu menyayanginya. Dan satu lagi, bukan hanya papa dan mama untuk Anya, melainkan juga suami idaman dan juga buah hati yang kini dikandungnya.


Saking bahagianya, Axel langsung menggendong istrinya ala koala dan memandanginya secara intens. “Katakan padaku, dimana kita akan merayakan kebahagiaan kita sekarang ini?” tanya Axel.


Anya mengusap pipi suaminya dengan sangat lembut dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah papa dan juga mamanya yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.


“Anya boleh minta apapun?” tanya Anya.


“Tentu saja boleh, sayang!” balas Papa Richie sambil merangkul istrinya dan mendekati mereka.


“Secepatnya papa dan mama akan segera menggelar pesta pernikahan kalian berdua!” lanjutnya lagi.


“Setelah itu, kalian bisa mencari waktu untuk berbulan madu!” timpal Mama Icha.


Kini Anya kembali mengalihkan pandangannya ke Axel. “Apalagi yang harus aku minta lagi jika semuanya sudah lengkap?”


“Kita ke kamar dulu ya, Pa, Ma!” pamit Axel.


“Loh, urusan kita sama intel belum selesai Axel!” balas Papa Richie.


“Bang, turunin dulu! Papa masih butuh Abang itu!” pinta Anya.


“Bentar aja kok, Pa! Satu jam lagi Axel turun ke bawah!” ucap Axel yang menaiki anak tangga dengan cepat dan membawa Anya masuk ke dalam kamar.


Papa Richie dan Mama Icha hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Axel.


“Maklum lah, Pa! Namanya juga budak cinta!” tukas Mama Icha.

__ADS_1


Papa Richie pun hanya menghela nafasnya panjang dan mengajak istrinya untuk berkumpul di taman bersama dengan Tim Intel yang saat ini sedang menonaktifkan bom yang dibawa oleh Jacqueline.


“Semuanya sudah dicek dan aman, Tuan Richie! Bom juga sudah dinonaktifkan. Ke depannya, Intel Ika yang akan menjadi bodyguard Non Anya!” lapor Intel Malvin.


“Terima kasih banyak atas bantuannya Intel Malvin. Kami sekeluarga benar-benar sangat puas dengan kinerja tim anda! Untuk bonusnya juga sudah saya kirim ke nomor rekening!” timpal Papa Richie.


“Kami juga berterima kasih banyak, Tuan Richie! Senang bekerja sama dengan anda! Kalau begitu kami akan berkemas untuk melanjutkan misi yang selanjutnya!”


Mansion Utama kini sudah bebas dengan bahaya dan keadaannya juga sudah bersih seperti sedia kala. Gudang barang juga tidak kotor dan menjijikkan lagi karena sudah dibersihkan oleh Jacqueline. Ruang tamu yang kacau karena ledakan Jacqueline juga sudah dibersihkan oleh para Maid di Mansion Utama.


Sedangkan Axel dan juga Anya, kini tengah memadu kasih di kamar mereka. Anya kini menyandarkan kepalanya dengan manja di dada bidang Axel. Perlahan tangannya bergerak mengusap dada suaminya dengan lembut.


“Bang, Anya boleh kan ketemu sama teman-teman kampus Anya?” tanya Anya membuat Axel memegang tangan Anya dan menghentikan sentuhan istrinya.


“Teman kampus?” tanya Axel balik. “Siapa mereka? Kenapa Abang gak pernah tahu temen kampus istri abang sendiri sih?” timpal Axel.


Kemudian tangan Axel menarik dagu Anya dan pandangan mereka berdua pun bertemu. “Jangan bilang kalo istri Abang ini mau ketemu sama Mr Jeff! Dosen kamu yang kita pernah ketemu di Bakso Mang Encep!” lanjut Axel yang mengingat dengan jelas pertemuan mereka saat itu.


“Wah, abang masih inget juga ya sama dosen Anya!” balas Anya yang tidak menduga sebelumnya.


“Tentu saja abang inget, Anya Sayang! Abang kan gak rela kalo istri cantik abang ini dideketin sama cowok lain!” balas Axel sambil memainkan rambut panjang Anya dengan jemarinya.


“Abang cemburu berat, Sayang! Please deh, jangan bikin Abang jealous!” pinta Axel.


“Ini bukan ketemu dosen, kok, Bang! Cuma ketemu teman kuliah Anya aja. Ada Della, Priska, Mima, dan temen-temen lainnya!” balas Anya.


“Kayak reuni gituh, kan?” tanya Axel dan Anya langsung menganggukkan kepalanya.


“Berarti, Abang boleh ikut, kan?” Axel langsung mendaratkan ciumannya tepat di bibir Anya dengan sekilas.


“Tapi, kayaknya acaranya cuma buat girls aja kok, Bang! Cuma makan aja terus pulang!” balas Anya yang kemudian melingkarkan tangannya memeluk Axel.

__ADS_1


“Bolehin, Anya, ya Bang! Kan udah ada Intel Ika juga,” rengek Anya dengan manja.


Axel pun menghela nafasnya panjang. Ia merasa keberatan melepaskan istrinya pergi tanpa dirinya. Meski sudah ada bodyguard khusus untuk Anya.


__ADS_2