Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Lunch Time


__ADS_3

Kebahagiaan keluarga Anya saat ini tidak lepas dari pandangan Regi yang tengah melepaskan gorden yang ada di dekat ruang kerja Anya untuk di cuci. Setiap weekend tiba, gorden kantor memang harus dicuci dan diganti dengan yang baru. Kebetulan besok Regi juga tidak berangkat bekerja karena ia memang libur di hari minggu, berbeda dengan yang lainnya.


‘Sumpah! Enak banget, ya jadi Anya! Mana sekarang bergelimang harta, papa sama mamanya sayang banget, udah gitu suaminya cakepnya gak ketulungan lagi,’ gumam Regi dalam hati. ‘Kalopun jadi simpanan suaminya atau bahkan papanya juga aku rela.’


Regi terus saja memperhatikan keharmonisan keluarga Anya sampai mereka masuk ke dalam ruangan. Tiba-tiba, muncul ide jahat dalam benak Regi yang juga menginginkan kehidupan layak seperti Anya.


‘Kalau misalnya aku minta tinggal sama Anya terus jadi pembantu pribadinya, Anya bakalan mau apa enggak, ya? atau kalo enggak jadi pembantu papanya juga boleh. Seenggaknya aku bisa biayain anak aku nanti,’ gumam Regi dalam hati sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat sangat besar.


Perkiraan bayinya akan lahir sekitar 6 minggu ke depan. Tentunya, ia harus kembali memikirkan kehidupannya saat bayi tersebut lahir karena sudah jelas papa dan mamanya sudah tidak lagi peduli dengannya. Meski ia sudah berjanji ingin berubah, tetap saja kehidupannya masih harus dipikir secara logika.


Mana mungkin Regi bisa menghidupi dirinya dan juga bayinya nanti karena tidak ada satu orang pun yang mau bertanggung jawab atas dirinya. Terlebih di usia kehamilannya sekarang, Regi lebih cepat merasa letih dan tak berdaya saat sudah sampai di rumah.


‘Aku harus berfikir dengan cepat sebelum bayiku terlahir di dunia!’ gumam Regi sambil melanjutkan pekerjaannya.


Tak lama kemudian, tampak kedua orang pria tampan keluar dari pintu lift dan membuat Regi terkesima sampai tidak mengalihkan pandangannya dari kedua pria tersebut.


“Bu!” sapa Tian membuyarkan lamunan Regi.


“Eh, iya, Pak. Ada apa ya?” tanya Regi sedikit tergagap.


“Ibu karyawan baru, ya?” tanya Tian kemudian yang langsung dijawab Regi dengan anggukan kepalanya.


“Iya, Pak!” Regi langsung mengulurkan tangannya. “Kenalkan, nama saya, Regi!”


Tian dan juga Prima pun langsung menerima uluran tangan Regi sambil memperkenalkan balik nama mereka berdua.


“Tian, Asisten Tuan Axel!”


“Prima, Asisten Tuan Richie!”


“Oh, jadi anda berdua ini mau mencari Tuan Axel dan Tuan Richie?” tanya Regi kemudian.


“Ya, apa mereka masih makan siang?” jawab Prima dan balik bertanya.

__ADS_1


“Sepertinya, iya. Tadi mereka menuju ke ruangan yang ada di samping ruang kerja Nona Anya,” jawab Regi.


“Makasih, ya, Bu Regi informasinya!” ucap Tian sambil mengajak Prima berbalik dan kembali ke ruangan mereka.


Kali ini Regi juga terus saja memandangi ke arah Tian dan juga Prima sampai keduanya masuk ke dalam lift.


‘Atau aku cerita saja kepada Pak Tian dan juga Pak Prima tentang keadaanku saat ini yang anggap saja baru ditinggal pergi suami. Eh, tapi nanti dia tanya surat nikah, lagi. Atau aku bilang saja kalo anak ini adalah hasil pemerkosaan.’


‘Trus, aku nangis-nangis Bombay gitu deh biar mereka kasihan. Oke, fix! Aku akan melancarkan aksi ini hari senin besok. Tapi, kira-kira ke Anya dulu atau ke salah satu diantara pria tampan itu, ya?’ batin Regi bermonolog dalam hati.


‘Aha! Mendingan ke Anya dulu deh! Hati dia kan selembut sutra.’


Regi pun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan penuh semangat.


🐾🐾🐾


Di sisi lain, Keluarga Anya kini tengah menikmati makan siang mereka dengan sambil bercerita. Papa Richie dan juga Axel sudah sangat penasaran dengan gender bayi yang dikandung oleh Anya.


“Kemarin, waktu papa sama Axel tugas luar kota Anya udah pergi ke dokter kandungan, kan? Terus, gender cucu papa cowok apa cewek, nih?” tanya Papa Richie membuat Anya dan juga Mama Icha saling melemparkan pandangan mereka.


“Surprise itu, harusnya Mama sama Anya juga gak boleh tahu. Jadi, cukup dokter aja yang kasih tau ke asisten kita yang nantinya bikin acara baby shower,” balas Axel. “Baru deh namanya kejutan. Kalo Anya sama mama udah tahu, sama aja bo-ong atuh, Ma.”


“Nah, bener tuh kata Axel. Lagi pula apa susahnya sih kasih tau cewek atau cowok,” timpal papa Richie.


“Eits, tapi papa juga dilarang tahu sebelum Axel tahu duluan!” balas Axel membuat Papa Richie mengernyitkan dahinya.


“Loh, kok kamu malah gitu, sih! Papa juga berhak tahu gender cucu kesayangan papa sendiri. Anya kan anak kandung papa.”


“Iya, sih, Pa! Tapi dalam agama, Anya seutuhnya tanggung jawab seorang suami. Bukan papanya lagi,” balas Axel membuat Papa Richie kalah telak.


“Ya udah, nanti papa tanya sama mama aja! Dasar menantu pelit!”


“Dih, mama juga gak mau kasih tau papa dulu. Kan tadi mama udah bilang masih rahasia,” balas Mama Icha membuat Papa Richie langsung manyun karena tidak ada yang mendukungnya saat ini.

__ADS_1


Pertengkaran kecil keluarga Anya di meja makan membuat Anya tertawa kecil. Entah kenapa semuanya justru seperti anak kecil yang sedang memperebutkan sesuatu. Padahal hanya karena masalah gender bayi.


“Gimana kalo kita main tebak-tebakan aja, kira-kira anak yang ada di dalam kandungan ini perempuan atau laki-laki?” tanya Anya menengahi.


Papa Richie dan juga Axel pun dengan cepat langsung menjawab jawaban yang sama, “Perempuan!” tebak mereka.


Anya langsung memandang ke arah Mama Icha, “Kok tebakannya sama persis dengan tebakan Mama Icha kemarin?”


“Soalnya gak tahu kenapa nih kalo papa lihat aura kamu tuh semakin cantik aja, Anya Sayang!” balas Papa Richie yang lengannya langsung ditepuk oleh Axel.


“Dih, papa ini! Harusnya yang ngomong gitu kan Axel. Kenapa papa malah nyerobot duluan, sih?” gerutu Axel kesal yang langsung disambut dengan gelak tawa Anya, Papa Richie, dan juga Mama Icha.


“Anya sayang, kayaknya suami kamu kangen berat nih sampe sensi banget sama papa,” tutur Mama Icha.


“Mendingan buruan habisin makanannya dan langsung ke rooftop the daripada uring-uringan begitu.”


Blush! Wajah Anya langsung merona mendengar ucapan mamanya. Axel sendiri yang paham jika istrinya masih malu pun langsung mengusap wajah Anya yang sedikit memanas.


“Gak usah malu, Cinta! Mama tuh sebenernya juga udah gak sabar mau ehem-ehem sama papa,” ucap Axel dan seketika langsung membuat wajah Mama Icha juga merona seperti Anya.


Anya pun mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Mama Icha. “Oh, mama juga kangen ya sama Papa? Ya udah deh, kalo gitu Anya cepet habisin makan siangnya,” balas Anya membuat Mama Icha langsung menendang kaki Axel dengan geram.


“Axel!” panggil Mama Icha menahan kesal.


Papa Richie kali ini gantian mengusap wajah Mama Icha yang tampak merona, “Gak usah malu, sayang! Papa juga kangen kok!” tutur Papa Richie dengan mesra.


“Cieeee!” Anya dan Axel langsung bersorak seirama.


Makan siang mereka kali ini benar-benar terasa sangat berkesan. Peperangan kecil, canda, dan tawa mereka membuat keluarga Anya terasa semakin harmonis.


🐾🐾🐾


Weekend kali ini Author udah update banyak yaa. Besok kegiatan mulai padat, jadi updatenya malam. 🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian semua yaaa 😘


__ADS_2