
Mau tidak mau, Jacqueline menghabiskan dua piring nasi goreng yang sebenarnya ia bawakan untuk Axel dan juga Anya. Sedangkan Anya yang baru mengkonsumsi roti sobek yang dipadukan dengan teh hangat kini sedang menonton Jacqueline menikmati nasi gorengnya sambil bercengkrama dengan Axel.
“Cinta, Hellencia meminta pulang ke apartemen sebelum dipulangkan ke kantor polisi!” ucap Axel sambil memperlihatkan pesan yang masuk dari dokter Firman.
Hellencia memang belum mengetahui jika dirinya sedang dalam proses pencabutan tuntutan. Maka dari itu, ia memilih pulang ke apartemen dan hidup bersama Axel dan juga Anya untuk sementara waktu sampai nantinya ia kembali ke dalam bui.
Jacqueline sendiri sangat terkejut mendengar Hellencia sudah bisa pulang dari rumah sakit. Tangannya sudah mulai gemetaran menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
‘Gak mungkin! Hellencia gak mungkin sadar secepat ini! Suntikan mematikan itu sudah aku periksa jika efeknya akan melumpuhkan syaraf penting dalam tubuh!’ gumam Jacqueline dalam hati.
‘Aku juga tidak mungkin memilih suntik mati yang abal-abal!’ batinnya yang mulai menceracau. Tapi, Jacqueline tetap berusaha setenang mungkin sambil mendengarkan obrolan Axel dengan Anya.
“Abang mau ngurusin Hellen?” tanya Anya sambil mengunyah roti di dalam mulutnya.
Axel pun langsung menggelengkan kepalanya dan kemudian melihat ke arah Mbok Tumpi. “Gimana kalo Hellencia diurus sama Mbok Tumpi aja? Nanti, Abang carikan asisten yang baru lagi untuk istri cantik Abang ini!” balas Axel.
Mendengar hal itu, Jacqueline seketika tersedak dan terbatuk-batuk tanpa jeda. Bahkan ia sampai berlari ke kamar mandi yang ada di dekat taman dan memuntahkan semua isi dalam perutnya. Sedangkan Axel dan Anya hanya saling melemparkan pandang dan mengedikkan bahu mereka.
“Sepertinya permainan kita ini akan semakin seru saat keduanya bertemu nanti!” gumam Anya.
“Tapi, aku sangat mengkhawatirkanmu, Cinta!” balas Axel sambil memeluk Anya dengan mesra. “Aku tidak mau kau tertekan karena adanya Hellencia!” lanjutnya lagi mengingat bagaimana saat Anya keluar dari ruang ICU kemarin.
Pelukan Axel yang terasa begitu hangat membuat Anya menyandarkan kepalanya dengan manja. “One step closer, Bang!” tutur Anya pelan.
“Iyaa, sayang! Abang akan mengikuti alur permainannya sampai Abang bisa menceraikan Hellencia dan mempublikasikan pernikahan kita!” balas Axel yang sudah tidak sabar untuk mengenalkan Anya kepada teman-temannya.
Tak lama kemudian, Mbok Tumpi datang merapat ke taman untuk membawa sisa makanan yang masih ada di meja. Namun, perutnya tiba-tiba terasa begitu melilit menandakan obat pencuci perutnya mulai bereaksi.
‘Argh, sial! Obat itu sepertinya sudah bereaksi!’ batin Mbok Tumpi sambil berbalik untuk kembali ke kamar mandi.
Sialnya, keinginannya untuk menuntaskan sakit perutnya di kamar mandi harus tertunda karena Anya memanggilnya untuk mendekat.
“Mbok Tumpi!” panggil Anya sambil melambaikan tangannya. “Sini, Mbok!”
__ADS_1
Mbok Tumpi pun terpaksa berbalik untuk memenuhi panggilan Anya sambil menahan sakit perut. “Iya, Non! Ada apa?” tanya Mbok Tumpi yang wajahnya sudah memerah menahan buang air besar.
“Minta tolong ambilkan jus buah yang sudah di buatkan Maid Yira di pantry yaa!” titah Anya.
“Baik, Non!” Mbok Tumpi langsung berlari ke dalam dan mengambilkan jus di pantry. Kemudian secepat kilat ia langsung membawakannya ke taman dan memberikannya kepada Anya.
“Ini, Non! Saya mau ke bela …” belum selesai Mbok Tumpi bicara jika ia ingin ke kamar mandi, Anya kembali memberi perintah kepadanya.
“Wah, jus alpukat ini enaknya dimakan sama biskuit yang ada di atas kulkas! Tolong ambilkan lagi ya, Mbok!” titah Anya lagi.
“Tapi, Non. Saya mau ke …”
“Heh!” gertak Axel dengan kencang. “Kamu gak denger, ya istri saya minta apa?”
Wajah Mbok Tumpi yang sudah berubah warna karena menahan buang air itu pun kembali berlari ke dalam untuk mengambilkan biskuit yang diinginkan oleh Anya. Dengan cepat ia kembali dan langsung meminta izin untuk buang air besar.
“Maaf Nona! Saya harus segera ke kamar mandi untuk pup!” ucap Mbok Tumpi yang langsung berbalik dan berlari ke kamar mandi tanpa menunggu lagi diizinkan oleh Anya atau tidak.
“Hoeek! Menjijikkan sekali Mbok Tumpi!” keluh Anya yang terus memuntahkan isi perutnya sampai tidak bersisa.
Sedangkan Maid Yira yang melihat hal itu pun langsung sigap mengambilkan minuman hangat untuk Anya, sedangkan Axel dengan telaten memijat tengkuk leher dan punggung istrinya.
“Maid Yira, tolong bawa Anya ke kamar. Aku akan membuat perhitungan kepada Mbok Tumpi!” jelas Axel yang sudah geram.
Maid Yira pun langsung membawa Nona mudanya ke kamar untuk beristirahat. Sedangkan Axel kini menunggu Mbok Tumpi keluar dari kamar mandi. Tak lama kemudian yang ditunggu pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak begitu pucat. Sedangkan Axel langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Mbok Tumpi.
Kemudian, ia melayangkan tangannya dan mendarat tepat di pipi Mbok Tumpi.
Plak! Tamparan keras dari Axel membuat Mbok Tumpi sangat terkejut sampai ia mengangkat kepalanya memandang Axel.
“Apa lagi salah saya, Tuan?” tanya Mbok Tumpi sambil memegangi pipinya.
“Kau sudah membuat istriku muntah karena kalimatmu yang menjijikkan!” gertak Axel sambil menunjuk ke arah meja taman yang penuh dengan tumpahan muntahan Anya.
__ADS_1
“Cepat bersihkan meja itu dan selepas itu, kau harus kembali membersihkan Gudang yang belum tuntas kau kerjakan kemarin! Hari ini harus selesai karena nantinya kau akan pindah tidur disitu dan mengurusi Hellencia!” titah Axel sambil berbalik meninggalkan taman dan bergegas ke kamar untuk menemani Anya.
Sedangkan Mbok Tumpi kini pertahanan dirinya mulai hilang. Terlebih saat ada maid yang melemparkan lap basah tepat di wajahnya.
“Buruan kerja! Bukan malah melamun!”
“Masih baik aku bantu ambilkan lap dan alat kebersihan!”
Kini air mata Mbok Tumpi pun tak tertahankan lagi dan jatuh membasahi pipinya. Ia mulai mengambil lap basah tersebut dan mengelap meja taman yang bekas muntahan Anya sambil menangis.
Ia meratapi nasibnya yang begitu dilecehkan di Mansion ini. Padahal, sebelumnya ia terus saja dipuji di kalangan komunitas besarnya. Selain glamour, Jacqueline terkenal memiliki banyak uang hingga semua orang justru menawarkan diri mereka untuk menjadi budak Jacqueline.
Namun, sekarang justru berbalik dengan cepat. Harga dirinya sudah diinjak-injak sejak ia melangkah masuk ke Mansion Utama. Bahkan, ia sudah tidak dianggap sebagai manusia lagi dan derajatnya justru lebih hina dari seorang babu.
‘Kenapa harus seperti ini?’ batin Mbok Tumpi sambil terisak pilu.
‘Kenapa aku justru yang terus mengalami kemalangan? Apa sikap orang kaya selalu semena-mena seperti ini?’
‘Apa ini ujian seorang asisten rumah tangga yang ada di sini? Atau jangan-jangan keluarga Richie sudah mengetahui jika aku adalah Jacqueline?’
‘Tidak! Tidak mungkin mereka tahu! Bukankah mereka juga sudah menangkap dan menjebloskan Jacqueline ke penjara?’
Tiba-tiba saja ada seorang yang mendekati Mbok Tumpi dan menepuk punggungnya pelan. “Sabar, ya, Mbok! Awalnya, memang akan diuji seperti ini. Tapi sebenarnya mereka semua sangat baik!” ucap Maid tersebut.
Mbok Tumpi pun menyeka air matanya dan sedikit lega saat mengetahui ada orang yang peduli dengannya.
“Siapa namamu? Terima kasih karena sudah peduli denganku!” ucap Mbok Tumpi sambil mengulurkan tangannya.
Sayangnya, Maid yang kini mendatanginya sama sekali tidak menyambut uluran tangan Mbok Tumpi. Ia justru kembali menepuk punggung Mbok Tumpi dan melihat jijik ke arah tangannya.
“Panggil saja Maid Enci! Setelah ini, saya akan menemani Mbok Tumpi untuk melanjutkan membersihkan Gudang.”
Ucapan Maid Enci barusan bak embun di tengah padang pasir. Setidaknya, kali ini Mbok Tumpi tidak lagi sendirian di neraka dunia ini.
__ADS_1