Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
About Breakfast


__ADS_3

Keesokan harinya, Anya sudah berkutat di pantry Apartemen saat Hellen baru saja sampai di Apartemen. Mencium aroma makanan dari arah pantry membuat Hellen langsung melangkahkan kakinya ke pantry dan duduk di kursi makan.


“Apa yang sedang kau buat, Anya?” tanya Hellen sambil menuangkan air mineral ke dalam gelasnya.


“Nasi goreng seafood, Miss Hellen!” balas Anya. Ia langsung mengambil piring dan menghidangkan nasi goreng seafood untuk Hellen.


Hellen pun langsung menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya dan matanya seketika berbinar sempurna.


“Hmm, masakan kamu memang juara, Anya sayang! Ini benar-benar sangat lezat!” puji Hellen yang langsung menghabiskan nasi goreng buatan Anya tanpa sisa.


“Oh iya, Axel mana?” tanya Hellen kemudian sambil mengelap mulutnya.


“Sepertinya, masih tidur, Miss!” jawab Anya membuat Hellen langsung mengernyitkan dahinya.


“Oh, yaa? Tidak biasanya dia jam segini belum bangun!” gumam Hellen melirik ke arah jam tangannya.


“Kalau begitu aku akan membangunkannya dulu, ya! Oh, iya, dia tidur di kamarmu atau …”


“Bang Axel tidur di kamarnya Miss!” balas Anya dan Hellen pun bergegas menuju ke kamar Axel.


Sesampainya di kamar, tampak Axel masih meringkuk di dalam selimut. Keadaan kamar Axel tampak rapi, tidak seberantakan tadi malam saat bercinta dengan Anya. Hal ini membuat Hellen beranggapan jika semalam tidak terjadi apa-apa antara Axel dan juga Anya.


Perlahan Hellen mendekati Axel dan duduk di tepi tempat tidur. Kemudian tangannya terulur membelai bahu Axel dan berbisik pelan.


“Mas, bangun yuk! Udah pagi loh! Tumben banget udah jam tujuh lebih masih meringkuk di dalam selimut gini!”


Axel pun langsung ngulet dan merentangkan tangannya memeluk Hellen. “Apa kau menginginkan permainan p4n45 yang tadi malam, Anya sayang?” tanya Axel dengan mata yang masih terpejam.


“Hemm? Ice cube-nya sangat membuatmu melayang dan menginginkan lagi bukan?” ceracau Axel.


Hellen kini paham jika mereka berdua ternyata melakukan penyatuan lagi semalam. Cemburu? Tentu saja Hellen merasa sangat cemburu.


Tapi ia cemburu bukan karena suaminya bercinta dengan Anya, melainkan sebaliknya. Hatinya terasa seperti terbakar saat mendengar Anya, bercinta dengan Axel.


“Memangnya ice cube-nya diapakan, Mas?” tanya Hellen penasaran.


“Aku memainkannya memutar di ujung titik sensitif …” Axel menggantung kalimatnya dan perlahan mengerjapkan matanya.


“Hellen!” Cepat-cepat Axel melepaskan pelukannya dan bangun dari tidurnya sambil mengedarkan pandangannya.


“Dimana Anya?” tanya Axel yang tampak sangat kecewa setelah mengetahui jika yang dipeluknya kali ini adalah Hellen, bukan Anya.


“Sedang membuat sarapan di pantry!” jawab Hellen ketus. Ia pun langsung meninggalkan Axel begitu saja dan melepaskan seluruh pakaiannya di depan Axel. Kemudian ia mengamati tubuhnya sendiri di depan kaca.


Axel terkekeh pelan melihat baru kali ini Hellen bertingkah seperti tengah menggodanya. Sayangnya, Axel sama sekali tidak bergeming sedikit pun.

__ADS_1


“Apa kau tengah cemburu mendengar aku bercinta dengan Anya semalam suntuk?” tanya Axel.


“Ya, aku memang cemburu, Mas!” ungkap Hellen sambil berjalan ke kamar mandi.


“Aku cemburu karena saat ini aku juga sangat menginginkan Anya!” balas Hellen membuat Axel terkejut bukan main.


“Dasar gila!” umpat Axel geram.


“Aku tidak akan melepaskan Anya untuk Wanita gila sepertinya. Ini benar-benar sangat berbahaya!” gumam Axel yang segeraa keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Anya.


“Sayang!” panggil Axel setengah berteriak.


“Iya, Bang. Ada apa?” tanya Anya menghampiri Axel.


Axel menangkupkan kedua tangannya di wajah Anya dan memeriksanya secara intens.


“Ada apa, Bang?” tanya Anya lagi.


“Are you okay, Anya?” tanya Axel yang tampak begitu khawatir.


“Yes, I’m fine!” balas Anya. “Memangnya ada apa, Bang?” tanya Anya untuk yang ketiga kalinya.


Axel menghela nafasnya panjang dan mengecup kening Anya dengan lembut. “Aku akan menceritakannya saat pergi ke kantor nanti. Aku akan mandi dulu di kamarmu!” ucap Axel sambil menarik tangan Anya untuk ikut dengannya menuju ke kamar mandi.


Setelah mandi dan menikmati sarapan buatan Anya, kini mereka berdua berangkat ke kantor meninggalkan Hellen yang sudah tertidur di atas ranjang.


“Aku harap kau menjaga jarakmu dengan Hellencia!” tukas Axel dengan tegas saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


“Aku tidak begitu dekat, Bang!” balas Anya dengan santai.


“Harus lebih jauh lagi, Anya!” tegas Axel membuat Anya mengernyitkan dahinya.


“Memangnya kenapa?”


Pertanyaan Anya kali ini membuat Axel tidak bisa lagi menutupi apa yang ia ketahui tadi pagi. “Kau tahu kan jika Hellencia memiliki kelainan tentang hubungan antar sesama?”


“Heemm!” Anya menganggukkan kepalanya.


“Nah, itu alasannya. Dia sangat tidak baik jika berdekatan denganmu, Anya!”


Penjelasan dari Axel kali ini tidak membuat Anya puas mendengarnya.


“Aku rasa Miss Hellen baik-baik saja, Bang! Bahkan perlakuannya dengan ku juga masih dalam taraf wajar. Mungkin ia hanya seperti itu jika bertemu dengan sesame komunitasnya!” balas Anya membuat Axel membuang nafasnya kasar.


“Tapi dia sudah terang-terangan jika dia sangat mencintaimu, Anya!” gertak Axel.

__ADS_1


Kini Anya menelan ludahnya kasar sambil membeliakkan matanya. Suaranya tercekat seperti tidak bisa keluar sama sekali.


“Jadi, kau harus berhati-hati dengannya! Paham, Anya?”


Anya hanya bisa menganggukkan kepalanya menjawab intruksi dari Axel.


Sesampainya di kantor, Axel kembali dikejutkan dengan keberadaan mobil papanya yang sudah terparkir dengan rapi. Seketika ia mengingat apa yang dibincangkan oleh Hellen dengannya membuat Axel semakin mengkhawatirkan keadaan Anya saat ini.


Setelah memarkirkan mobilnya, Axel menarik tangan Anya dan menahannya agar tidak keluar terlebih dahulu.


“Ada apa lagi, Bang?”


“Selain kau harus berhati-hati dengan Hellencia, kau juga harus berhati-hati dengan papa dan mama!” tegas Axel lagi.


“Why? Aku rasa mereka memperlakukan aku dengan baik. Abang tenang saja! Aku tidak akan membeberkan pernikahanku dengan Abang di depan papa maupun mama!” balas Anya yang tepat keukeuh untuk segera keluar dari mobil.


Axel kini mengusap wajahnya kasar, “Argh! Bukan itu maksudku Anya!” gerutu Axel dengan kesal dan segara keluar dari mobilnya.


Dari kejauhan, tampak Papa dan juga Mama Axel menyambut Anya dengan sangat hangat. Bahkan pancaran kebahagiaan Pak Richie tampak jelas di wajahnya, tidak seperti tadi malam. Hal ini membuat Axel semakin ketakutan.


“Aku harus segera mengakui pernikahanku dengan Anya! Aku tidak mau, papa melenyapkan Wanita yang kini aku cintai!” gumam Axel sambil melangkahkan kakinya mendekati papa dan juga mamanya.


“Hai Axel,” sapa Mama Icha sambil mencium putranya. “Maaf jika papa dan juga mama datang sepagi ini!” ungkap Mama Icha.


“Ada apa sebenarnya, Ma?” tanya Axel sambil melirik ke arah papanya yang tampak terlihat akrab mengobrol dengan Anya.


“Papa dan mama hanya ingin menikmati masakan Anya pagi ini. Tidak masalah kan?” tanya Mama Icha.


“Tapi, Ma …”


Belum selesai Axel mengutarakan kalimat protesnya, Mama Icha langsung bertanya kepada Anya untuk meminta persetujuan.


“Anya sayang, kamu tidak keberatan bukan untuk membuatkan kami berdua sarapan?” tanya Mama Icha.


“Tentu saja, tidak Nyonya!” balas Anya dengan senyum indah yang merekah di bibirnya.


“Aduh, jangan panggil Nyonya dong! Sepertinya lebih akrab dan enak jika dipanggil Mama! Bukankah begitu, Axel” tanya Mama Icha sambil mengedipkan matanya.


Axel pun hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


‘Fix, papa dan mama pasti sudah mengetahui tentang pernikahan keduaku!’ gumam Axel dalam hati.


“Paa, sambil menunggu sarapannya siap, ada yang ingin Axel bicarakan dengan papa!” ucap Axel yang langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya dan tentunya diikuti oleh Pak Richie.


 

__ADS_1


__ADS_2