Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Tamu Pagi


__ADS_3

Keesokan harinya,


Seperti biasa, Anya selalu bangun lebih dulu dari pada Axel. Tapi, kali ini ia tampak begitu malas untuk beranjak dari tempat tidurnya dan semakin mengeratkan pelukannya dengan Axel sambil membenamkan wajahnya di dada Axel dengan manja.


Gerakan Anya kali ini membuat Axel terjaga dan membuka matanya sambil tersenyum. “Good morning, Cinta!” sapa Axel sambil memeluk istrinya.


“Morning, Abang! Anya lagi malas masak!” lanjut Anya dengan manja.


“Gak perlu masak, Cinta! Abang lebih suka istri Abang manja seperti ini!” balas Axel.


Anya pun memainkan jemarinya menyusuri dada bidang Axel. Sentuhan Anya pagi ini mampu membangunkan milik Axel yang ada di bawah sana. bahkan, tubuh Axel pun meremang dibuatnya.


“Mau di kolam renang atau di atas tempat tidur?” tawar Axel kemudian.


“Anya maunya dingdong ke bathtub, Abang!” balas Anya yang sudah tidak malu-malu lagi dengan Axel.


Jawaban Anya kali ini membuat Axel langsung bangun dan menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi. Kemudian ia merebahkan tubuh Anya di dalam bathtub dan mulai mengisi air hangat di dalamnya. Sedangkan Anya mulai mengisi bathtub dengan sabun dan juga aromatherapy.


Pagi ini, mereka berdua pun kembali bercinta dalam lautan busa yang ada di dalam bathtub. Sampai hampir jam 8 pagi, Anya dan juga Axel baru keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk pulang ke Mansion Utama.


Anya yang sudah memakai dressnya pun duduk di depan kaca rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Sedangkan Axel mulai mengaktifkan ponselnya yang sengaja ia matikan dari semalam.


“Wah, ada berita bagus, Cinta!” teriak Axel yang langsung mendekati Anya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


“Berita apa, Bang?” tanya Anya sambil mematikan hair dryer dan menengok ke arah ponsel Axel.


“Jacqueline akhirnya meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan!” jawab Axel.


Anya pun langsung membaca berita yang menampilkan tentang kronologi kejadian yang dialami Jacqueline. “Syukurlaah! Anya sangat senang mendengarnya!” tutur Anya. Beban masalahnya kini sudah hilang bersama dengan meninggalnya Hellencia dan sekarang disusul dengan Jacqueline.


Kini, Anya tinggal fokus menata rumah tangganya sendiri di usianya yang masih sangat muda. Apalagi sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.


“Aku juga sangat bahagia mendengarnya! Kita berdua bisa sama-sama fokus meniti karir dan membesarkan anak kita nanti!” tutur Axel sambil mengusap perut Anya.

__ADS_1


“Kalau anak kita sudah lahir nanti, boleh gak Anya lanjutin kuliah S-2?” tanya Anya tiba-tiba.


Di usianya yang hampir menginjak 22 tahun terhitung masih sangat pantas dan cocok untuk menjadi mahasiswa S-2. Terlebih saat ini ia sudah memiliki restoran sendiri meskipun masih tetap dalam pantauan Papa dan juga Suaminya tercinta.


“Tentu saja sangat boleh. Pernikahan kita bukan menjadi batasan untukmu melanjutkan pendidikan, Sayang!” timpal Axel. “Lakukan apapun yang Anya inginkan. Abang akan selalu dukung seratus persen!”


“I love you so much, Abang!” Anya langsung memeluk suaminya dan menciumnya tepat di bibir.


“Berdandanlah yang cantik! Abang akan meminta karyawan restoran untuk menyiapkan sarapan untuk kita!” ucap Axel dan Anya pun langsung mengangguk setuju.


Anya kembali berkutat di depan kaca rias sedangkan Axel keluar dari kamar dan memerintahkan karyawan hotel untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Tak perlu menunggu waktu yang lama, sarapan pun sudah siap di meja dan keduanya pun langsung menikmati sarapan bersama.


Setelah sarapan, keduanya pun bersiap untuk pulang ke Mansion Utama. Tian dan juga Intel Ika juga sudah menunggu di lobby restoran untuk mengantar mereka. Sesampainya di Mansion Utama, tampak ada dua buah kendaraan yang tidak asing di mata Anya.


“Motor siapa itu ya?” gumam Axel pelan.


“Itu seperti motor Pakdhe Joko dan Mbak Regi!” balas Anya yang mengingat betul kendaraan Pakdhenya dan juga kakak sepupunya.


“Iya, Budhe Diba itu kakak kandungnya mama!” balas Anya.


Sesampainya di depan pintu Mansion, Anya dan Axel keluar dari mobil dan langsung disambut oleh pakdhe, budhe, dan juga kakak sepupunya.


“Anyaaa!” Regi langsung berlari dan merentangkan tangannya hendak memeluk Anya. “Aku sangat merindukanmu!” lanjutnya lagi.


Axel langsung memicingkan matanya melihat penampilan Regi yang mengenakan baju tidak berlengan dan rok di atas lutut. Kemudian dandanannya terlihat cukup menor dengan lipstik yang merah menyala dan juga blush on yang tebal. Bahkan parfumnya juga sangat tidak enak dan membuat Anya bersin-bersin saat menghirupnya.


“Haaccim! Haciim!”


Melihat istrinya bersin-bersin, Axel pun langsung memberi kode kepada Intel Ika untuk mencegah Regi memeluk istrinya.


Bruk! Kali ini Regi bukan memeluk Anya, melainkan justru memeluk Intel Ika dengan begitu erat.


“Maaf, ibu! Nona muda kami tidak diperkenankan untuk dipeluk oleh sembarang orang!” tegas Intel Ika.

__ADS_1


“Loh, tapi dia ini kakak sepupunya Anya!” tegas Budhe Diba.


“Maaf, keluarga kami belum mengenal anda sekeluarga!” balas Axel yang tampak begitu posesif mendekap Anya.


“Anya! Kamu gak mungkin kan melupakan budhe, pakdhe, dan juga kakak sepupumu?” tanya Budhe Diba yang mulai gusar.


“Gak lupa, kok, Budhe! Tapi, Anya ingin mengikuti prosedur yang ada di Mansion Utama. Keluarga yang memang belum dikenal secara baik akan dijamu di teras Mansion demi keamanan bersama!” jelas Anya.


“Jadi, Pakdhe, Budhe, dan Mbak Regi tunggu di luar dulu ya! Anya sama suami biar masuk ke dalam!”


Axel pun langsung membawa istrinya masuk ke dalam Mansion. Kebetulan, keluarga besar Axel masih banyak yang berkumpul di dalam bersama dengan Papa Richie dan juga Mama Icha. Mereka langsung menyambut kedatangan Axel dan juga Anya yang baru saja tiba.


“Waah, pengantin baru nih kayaknya makin seger aja! Udah bebas penjajahan sekarang, ya!” tutur Om Rian, adik kandung Papa Richie.


“Bisa aja Om Rian ini! Kek gak pernah muda!” balas Axel yang langsung berkumpul bersama keluarga yang laki-laki.


Sedangkan Anya juga langsung berkumpul dengan keluarga perempuan bersama dengan Mama Icha.


“Nyonya Axel yang ini beneran cantik banget! Gak kayak yang lama!” puji Tante Inna, adik kandung Mama Icha. Face keduanya tampak sangat mirip meski usianya terpaut jauh.


“Bisa aja nih, Tante Inna! Tante juga cantik loh, awet muda lagi!” balas Anya yang memang sangat mudah untuk membaur dengan keluarga besar Axel. Tak ayal jika keluarga besar Axel lebih menyayangi Anya dan mendukungnya sebagai istrinya Axel.


“Menantu Mama Icha pasti cantik dong! Oh iya, Anya! Maafin Mama ya karena belum persilahkan keluarga kamu masuk ke dalam! Habisnya di sini masih ribet banget. Tapi, tadi Maid Yira udah bawain makanan sama minuman kok!” jelas Mama Icha.


“Gak, masalah, Ma! Lagi pula kenapa mereka baru dateng setelah Anya diumumkan jadi istri orang kaya!” balas Anya.


“Nah, bener tuh kata Anya. Tante Angel juga mikirnya begitu. Selama kamu susah, dia kemana aja?” timpal adik ipar Papa Richie, istri dari Om Rian.


“Tapi, mama sedikit ngerasa gak enak sih nyuekin tamu yang udah datang kesini. Apa Kita temui bareng-bareng aja, ya?” balas Mama Icha memberi usul.


“Ide bagus, tuh, Ma! Kita lihat aja, mereka bisa apa sekarang!” balas Papa Richie menimpali usulan Mama Icha.


Akhirnya, keluarga besar Papa Richie dan Mama Icha mempersiapkan diri mereka untuk menyambut keluarga dari Pakdhenya Anya. Maid Yira pun di perintahkan untuk membukakan pintu Mansion dan mempersilakan mereka bertiga untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2