
Keadaan Mama Icha yang tidak sadarkan diri kali ini membuat Anya gusar bukan main. Sesampainya di Rumah Sakit, Axel langsung membawa mamanya ke Unit Gawat Darurat dan meminta dokter untuk segera memeriksa mamanya.
Sedangkan Anya memilih untuk tidak masuk ke dalam dan justru terduduk lemas di luar ruang UGD. Setelah memasrahkan Mama Icha kepada dokter, Axel langsung mendekati Anya dan duduk di sampingnya.
“Maafkan, aku, Sayang! Aku tidak bisa mengucapkan kata-kata lain selain kata maaf kepadamu!” tutur Axel.
Hubungan mereka berdua yang tadinya sudah baik-baik saja, kini, harus kembali dingin seperti sebelumnya setelah Anya mendengar kabar dari Kantor Polisi jika Papa Richie tertuduh sudah bekerja sama dengan Hellencia.
Untungnya, keadaan Mama Icha saat ini membuat Anya untuk masih tetap bertahan di dekat Axel. Bukan berarti Axel menyukai mamanya yang tiba-tiba terserang asma, hanya saja ia benar-benar tidak sanggup untuk kehilangan Anya. Terlebih saat ini Anya sedang hamil muda.
“Semua terasa berat untukku! Masalah ini datang bertubi-tubi dan tanpa permisi selepas kecelakaan papa dan juga mama!”
“Ini benar-benar seperti roller coaster yang sangat cepat berputar hingga aku merasa sangat ketakutan, Bang!”
“Baru saja aku merasa tenang dan bahagia berada di atas, tiba-tiba aku langsung dihempaskan di putaran yang paling bawah. Dan kini aku merasa tidak mampu lagi untuk bergerak menuju ke putaran yang ada di atas!” ucap Anya dan Axel langsung memeluknya dengan sangat erat.
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendiri, sayang!” balas Axel.
“Tapi, saat ini kita berdua bukanlah siapa-siapa!” timpal Anya yang akhirnya menangis dalam pelukan Axel.
“Kata siapa kita bukan siapa-siapa, Anya! Meskipun perjanjian pernikahan kita sudah dibatalkan, aku tetaplah ayah dari bayi yang kini ada dalam kandunganmu, Anya!” tegas Axel.
“Tapi, Bang …”
“Tidak bisa disanggah sama sekali apapun alasannya! Aku, tetap berhak sepenuhnya atas dirimu! Apapun yang terjadi, kau tidak boleh jauh dariku sama sekali, Anya!” ucap Axel membuat Anya mulai membalas pelukan Axel dengan erat.
“Aku sendirian, Abang!” ucap Anya yang mulai menangis di pelukan Axel.
“Masih ada Abang dan juga Mama, Sayang! Percayalah, saat ini Papa hanya sedang difitnah oleh Hellencia!” timpal Axel meyakinkan kepada Anya.
Sayangnya, Anya masih belum bisa percaya begitu saja kepada ucapan Axel saat ini sampai nantinya ada bukti yang jelas jika Papa Richie sama sekali tidak bekerja sama dengan Hellencia.
“Aku harap seperti itu, Bang!” balas Anya.
__ADS_1
Axel paham jika Anya masih belum mempercayai papanya. Namun, ia tidak ingin memaksa Anya sama sekali. Yang terpenting saat ini bukanlah kepercayaan Anya terhadap papanya sendiri, melainkan Anya tetap ada di sampingnya dan tidak beranjak pergi sedikit pun darinya.
Tangan Anya terus saja digenggam Axel dengan erat dan Anya juga menyandarkan kepalanya di dada bidang Axel sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter terhadap kondisi Mama Icha.
Tak lama kemudian, Dokter yang memeriksa Mama Icha pun keluar dari ruangan dan memberitahukan apa yang kini tengah diderita oleh Mama Icha. Kebetulan, yang saat ini memeriksa Mama Icha adalah Dokter Firman.
“Pak Axello Richandra, Nyonya Icha akan kami pindahkan ruangan secepatnya dan untuk beberapa hari ke depan, Mama anda masih perlu pengawasan dokter secara intensif!” ucap Dokter Firman.
“Apa penyakit mama sangat parah, dokter?” tanya Anya yang tampak sangat khawatir.
“Ya, dan untuk beberapa waktu ini Nyonya Icha tidak diperbolehkan untuk merasa tertekan karena sudah dipastikan asma nya akan terus kambuh!” jelas Dokter Firman.
Mendengar penjelasan Dokter Firman kali ini membuat Axel mengernyitkan dahinya dan berpikir sejak kapan Mamanya mengidap sakit asma. Seingat dia, keluarganya tidak pernah ada yang mengidap penyakit asma.
Bermakna, asma yang saat ini diderita oleh Mamanya sudah tentu bukanlah penyakit keturunan. Dan mamanya juga baru kali ini mengalami asma sampai seperti itu.
“Nah, Anya! Kali ini, kau bisa menemani Nyonya Icha untuk pindah ke ruangan khusus. Sedangkan aku masih ingin berbincang dengan Pak Axel secara pribadi di ruangan saya!” jelas Dokter Firman.
Anya langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam Ruang UGD. Sedangkan Axel kini mengikuti langkah Dokter Firman menuju ke ruangannya.
“Apa yang sudah terjadi dengan Anya?” tanya Dokter Firman sambil menatap tajam ke arah Axel.
“Hei, apa yang sedang kau tanyakan, Dokter Firman? Bukankah kau memanggilku untuk membicarakan tentang kondisi Mama?” balas Axel yang belum paham dengan arah pertanyaan yang dilontarkan oleh Dokter Firman.
“Tak usah banyak berpura-pura di depanku, Axel seperti apa yang sudah dilakukan oleh Nyonya Icha!” balas Dokter Firman membuat Axel semakin tidak paham.
“Aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang kau bicarakan ini, Dokter!” balas Axel lagi membuat Dokter Firman akhirnya menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Nyonya Icha.
“Mamamu hanya berpura-pura sakit untuk mengelabui Anya agar dia tidak pergi meninggalkan kalian!” ucap Dokter Firman membuat Axel sangat terkejut mendengarnya.
“Benarkah? Mana mungkin mama berpura-pura sesak nafas? Tadi dia benar-benar merasakan kesulitan bernafas sambil menepuk dadanya berkali-kali!” terang Axel yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Firman.
“Dan setelah capek bernafas dengan tersengal-sengal, kemudian ia tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri?” timpal Dokter Firman yang langsung membuka kedok Nyonya Icha di depan putranya sendiri.
__ADS_1
“Dasar aneh! Aktingnya masih kurang professional. Tapi bodohnya lagi, yang mengantarnya ke rumah sakit justru lebih payah karena menganggap penyakit Nyonya Icha sangat kritis!” terang Dokter Firman membuat Axel justru merasa sangat senang mendengarnya.
“Wow, aku tidak menyangka jika mamaku sehebat ini untuk berusaha membuat Anya tidak pergi meninggalkanku!” tutur Axel yang merasa lega setelah mengetahui mamanya baik-baik saja sambil menyugar rambutnya.
“Sebenarnya aku sangat enggan untuk membantunya berbohong di depan Anya karena aku justru memilih untuk mengatakan semua kebohongan mamamu secara gamblang kepada Anya. Tapi, aku kini akan membantu kalian setelah mendengar Anya sudah hamil!” jelas Dokter Firman yang terdengar sangat terpaksa membantu Axel.
“Terima kasih banyak atas bantuanmu, Dokter Firman! Aku doakan kau juga bisa hidup Bahagia dan mendapatkan pengganti Cintia yang jauh lebih baik lagi!” timpal Axel.
“Sayangnya, aku masih mengharapkan Anya untuk bersanding denganku!” tukas Dokter Firman membuat Axel langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang tidak suka.
“Apa maksudmu?” tanya Axel mulai tampak geram.
“Aku tidak tahu persis masalah apa yang sedang terjadi di keluargamu. Sedangkan aku sudah mengajukan satu syarat kepada Nyonya Icha untuk merahasiakan penyakitnya di depan Anya.”
“Jujur, aku sangat tidak rela melihat wanita yang sangat aku cintai menderita. Apalagi karenamu!” tegas Dokter Firman sambil menunjuk ke arah Axel.
“Katakan saja, syarat apa yang kau ajukan!” balas Axel.
“Beri aku waktu selama satu hari penuh untuk berkencan dengan Anya! Aku benar-benar harus menyatakan perasaanku terhadapnya, Axel.”
“Tidak bisa! Anya itu hanya milikku, Dokter Firman!” tegas Axel tidak setuju.
“Aku hanya meminta satu hari saja. Aku akan melepaskannya jika dia memang mencintaimu. Dan aku akan berjanji akan menghapus rasa cinta ini untuknya!”
“Tapi, jika dia tertekan denganmu dan juga keluargamu, aku mohon lepaskan dan relakan dia untuk hidup bersamaku. Aku berjanji akan mengurus anak yang ada di dalam perutnya dengan baik saat ia terlahir di dunia nanti!” pinta Axel.
“Dan aku mohon maaf, jika syarat ini tidak kau setujui, maka aku juga tidak berjanji akan menjaga rahasia yang disembunyikan oleh Nyonya Icha!” balas Dokter Firman.
__ADS_1