
Satu bulan kemudian,
Hellencia masih dirawat di rumah sakit karena kondisinya semakin drop. Informasi terakhir dari pemeriksaannya, ia mengalami kanker serviks stadium awal karena bukan hanya cairan saja yang keluar dari mulut rahimnya, melainkan ia juga mulai mengalami pendarahan ringan.
Kondisi seperti ini membuatnya merasa sangat tersiksa, terlebih Axel tidak rutin mengunjunginya di rumah sakit. Bahkan Hellencia juga meminta tolong kepada Axel untuk merahasiakan penyakit yang saat ini dideritanya kepada Papa Richie dan juga Mama Icha.
Sedangkan Anya yang sudah mengetahui sakit yang di derita oleh Hellen pun sesekali menjenguk keadaan Hellen di rumah sakit bersama dengan Axel. Tapi, karena Axel tidak mau istri mudanya terlalu dekan dengan Hellencia, ia melarang Anya untuk dekat dengan Hellen Ketika menjenguknya di rumah sakit.
Pagi ini, Anya yang biasanya sudah bangun terlebih dulu, kini justru masih meringkuk di dalam selimut saat Axel membuka matanya. Senyum Axel merekah sempurna saat melihat Anya masih ada di sampingnya saat ia membuka matanya.
Ini baru pertama kalinya Axel bangun lebih dulu daripada Anya. Biasanya Axel membuka mata selepas mencium aroma sabun mandi yang datang dari tubuh istrinya yang baru keluar dari kamar mandi dan membangunkannya,
Namun, pagi ini sangat berbeda dan membuat Axel seperti memenangkan sebuah kompetisi bangun pagi dari Anya. Tangannya perlahan bergerak menyusuri wajah Anya yang tampak sangat imut saat terlelap. Namun, saat mulai menyentuh kulit Anya, Axel langsung panik karena suhu tubuh Anya sangat panas,
“Sayang, kau demam?” tanya Axel mulai gusar.
Semalam, mereka berdua memang pulang larut malam dari restoran dan langsung istirahat tanpa adanya olahraga malam. Kegiatan Anya di dapur juga lumayan padat karena Tuan Darrel sengaja mengajak kolega bisnisnya untuk mencicipi masakan Chef Handal favoritnya selama satu bulan ini.
“Aku hanya merasa tidak enak badan, Bang!” balas Anya yang semakin merapatkan tubuhnya ke arah Axel minta dipeluk.
“Peluk bentar, Bang!” pinta Anya manja dan Axel pun langsung memeluk istri kesayangannya dengan erat. Sedangkan tangannya mulai mencari ponselnya untuk menghubungi dokter pribadi keluarganya.
“Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu, Sayang! Maaf, sudah membuatmu terlalu lelah di dapur restoran kemarin!” tutur Axel yang terdengar begitu merasa bersalah.
Hanya karena masakan dari Anya, ia mendapatkan tender besar dari kolega bisnis Tuan Darrel. Namun, ternyata istrinya justru tumbang di tengah pencapaian tertinggi yang ia dapatkan untuk restorannya.
“Tidak masalah, Abang! Anya juga seneng kok kalo restorannya semakin ramai!” balas Anya lirih.
“Toh memanjakan lidah banyak orang juga jadi kebanggaan tersendiri buat Anya!” tuturnya lagi yang semakin manja dalam pelukan Axel.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Axel pun segera menghubungi Dokter Gita untuk segera datang ke Mansion dan memeriksa Anya. Tiga puluh menit kemudian, Dokter Gita pun sampai di Mansion Axel dan siap untuk memeriksa Anya.
Saat Anya mulai diperiksa, Axel pun langsung keluar dari kamar dan menuju ke pantry untuk mengambilkan sarapan untuk istrinya. Sebelumnya, ia sudah menghubungi tim pantry Mansion untuk menyiapkan sarapan Anya dan memberitahukan jika Anya sedang kurang sehat.
Namun, sesampainya di ruang makan, tampak Papa Richie dan juga Mama Icha sudah duduk di sana dan tengah memandang ke arah Axel dengan tajam.
“Anya sakit apa, Axel?” tanya Mama Icha yang kini sedang menyiapkan sarapan untuk Anya.
“Demam, Maa! Kecapekan karena semalam sampai larut malam di restoran!” jawab Axel.
“Tender besar itu gak berguna apa-apa kalau harus mengorbankan Anya terus berkutat memasak untuk mereka!” ucap Papa Richie yang sedari tadi sangat kalut mendengar Anya sakit.
“Putuskan saja kerja sama dengan siapa pun itu jika harus Anya yang memasak untuk mereka! Papa gak rela anak papa malah disuruh-suruh seperti itu!” omel Papa Richie.
“Maafin Axel, Pa! Axel akan mengurangi kegiatan Anya di restoran!” balas Axel yang merasa sangat bersalah.
“Udah deh, Anya mending di rumah aja sama Mama. Kalo kerja terus, kapan mama bisa gendong cucu?” timpal Mama Icha.
Sesampainya di kamar, Dokter Gita yang duduk di samping Anya langsung menyunggingkan senyumannya.
“Selamat Tuan Axel, sebentar lagi status anda akan berubah!” ucap Dokter Gita.
“Istri anda positif hamil, Tuan!” lanjut Dokter Gita lagi membuat Papa Richie dan Mama Icha langsung mendekati Anya lebih dulu daripada Axel yang kini masih membawa sarapan untuk Anya.
“Waaaah, selamaaat sayaaang!” ucap Mama Icha yang langsung duduk di tepi ranjang Anya dan langsung memeluk menantunya dengan sangat erat.
“Ini benar-benar berita yang sangat menggembirakan, sayang! Akhirnya, sebentar lagi mama akan menggendong cucu!” tutur Mama Icha yang tampak sangat Bahagia.
Tidak hanya Mama Icha, Papa Richie pun mulai matanya mulai berkaca-kaca mendengar kabar kehamilan Anya dari Dokter Gita. Kebahagiaan yang ia rasakan kini terus datang bertubi-tubi. Mulai dari perjumpaannya dengan Anya.
__ADS_1
Kemudian Anya juga tidak menolak saat diajak untuk tinggal bersama di Mansionnya dan membuat Papa Richie bisa meluahkan kasih sayangnya untuk anak kandungnya sendiri. Dan kini, Anya dinyatakan sedang mengandung buah hati yang kelak akan menjadi pewaris darinya.
“Apa papa boleh memeluk anak menantu kesayangan Papa?” tanya Papa Richie membuat Mama Icha mengendurkan pelukannya dan menatap Anya untuk meminta kepastian.
Anya pun tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya. Papa Richie pun langsung memeluk putri kandungnya untuk pertama kalinya. Pelukan Papa Richie kali ini justru membuat Anya tiba-tiba menitikkan air matanya.
“Terima kasih banyak karena sudah menyayangi Anya sebagai anak sendiri, Papa! Anya benar-benar seperti tengah memeluk papa kandung Anya sendiri!” tutur Anya membuat suasana kamar Axel kali ini mengharu biru.
Ucapan Anya kali ini membuat hati Papa Richie merasakan kebahagiaan yang tiada tara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Papa mohon, jangan anggap papa sebagai orang lain sayang!” timpal Papa Richie yang masih belum mampu mengatakan kepada Anya jika ia memang papa kandungnya yang asli.
Tiba-tiba saja kebahagiaan Papa Richie yang baru pertama kali ini bisa memeluk putri kandungnya sendiri harus buyar saat tangan Axel menepuk pundaknya.
“Paa, udahan dong meluk Anya nya. Aku ini suaminya loh, malah belum kasih selamat sama istri sendiri!” gerutu Axel melayangkan protesnya.
Papa Richie pun melepaskan pelukannya dan melirik kesal ke araah Axel, “Ck, kamu ini ya ganggu orang lagi seneng aja!” balas Papa Richie.
Mama Icha yang paham dengan kecemburuan Axel kali ini pun langsung mengajak Papa Richie untuk keluar dari kamar mereka.
“Papa Sayang, mendingan kita kasih waktu buat mereka yuk sambil memikirkan kamar yang baru untuk cucu kesayangan kita!” ajak Mama Icha.
Tawaran jitu Mama Icha kali ini langsung disetujui oleh Papa Richie.
“Ayoo, Maa! Papa juga udah gak sabar nih buat mendesainnya!” balas Papa Richie.
“Dokter Gita, kita bisa bicara di luar kan untuk apa saja yang kira-kira Anya butuhkan di semester pertamanya?” tanya Mama Icha.
“Tentu saja bisa, Nyonya Icha.”
__ADS_1
“Kalau begitu, selamat ya Nona Anya atas kehamilannya. Saya permisi dulu!” ucap Dokter Gita undur diri.