Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Surat Dokter Firman


__ADS_3

Setelah Dokter Firman meninggalkan rumah Anya, Axel pun kembali masuk ke dalam kamar Anya dan sengaja menunggunya di atas tempat tidur.


Namun, Anya tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi. Sampai akhirnya ponsel Axel pun berdering dan tampak panggilan dari rumah sakit.


Sambil membuang nafasnya kasar, Axel pun keluar dari kamar Anya dan menerima panggilan dari rumah sakit. Pihak rumah sakit kali ini mengabarkan kondisi terkini Hellencia dan meminta Axel untuk segera datang ke sana.


Akhirnya, dengan berat hati Axel pun memenuhi panggilan dari rumah sakit. Tetapi sebelumnya, ia memberi tahu Mama Icha tentang keputusan yang sudah diambil oleh Dokter Firman yang akan mundur untuk mendekati Anya dan tidak lupa ia menitipkan surat dari Dokter Firman kepada Anya.


Mama Icha pun merasa senang dan lega mendengarnya. Setelah Axel meninggalkan rumah, Mama Icha pun menuju ke kamar Anya dan mengetuk pintunya.


“Sayang, Mama boleh masuk?” tanya Mama Icha dari luar kamar Anya.


“Boleh, Mama!” balas Anya yang kini sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Mama Icha pun membuka pintu kamar Anya dan masuk ke dalam. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan kini pandangannya tertuju pada foto keluarga kecil Anya yang terpasang di dinding.


“Kamu usia berapa ini? Imut sekali, Anya!” tutur Mama Icha yang mengamati foto kecil Anya dengan rambut sebahu dan juga poni yang tertata sangat rapi.


Anya berbalik dan melihat ke arah foto yang ada di dinding. Kemudian senyumnya mengembang, “Itu waktu Anya masih kelas 6 SD, Ma!”


“Parasmu sangat mirip dengan Mama Divya. Cantik dan menawan.” Mama Icha kemudian mengalihkan pandangannya ke foto wisuda Mama Divya.


Di sana, tampak beberapa teman Mamanya Anya yang hampir semuanya cantik dan gayanya mencerminkan jika mereka adalah kalangan orang berada.


“Itu teman-teman mama dan sampai mama meninggal dunia menjadi teman sosialita mama. Tapi sampai sekarang, Anya tidak lagi bertemu dengan mereka. Terlebih semua harta papa dan juga mama habis dalam waktu yang sangat singkat.”


“Apa kamu mengenal mereka semuanya?” tanya Mama Icha.


“Yang di samping mama ini, Anya tidak tahu namanya. Mama juga jarang menceritakan dua orang teman yang mengapit mama. Kalau yang baju merah, namanya Tante Sonia, yang baju biru di sampingnya Tante Putri, dan yang ini, Tante Lidia.”


Informasi dari Anya kali ini terdengar sedikit mengganjal. Dua orang wanita berdiri di samping Mamanya justru tidak dikenal Anya sama sekali. Seharusnya, yang berdiri di samping mamanya itu adalah teman mamanya yang paling dekat. Tapi, Mama Icha tidak mau membahasnya saat ini.


Ia teringat pesan yang diucapkan putranya untuk segera memberitahukan Anya tentang surat dari Dokter Firman. Akhirnya Mama Icha pun berbalik dan menatap Anya dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


“Ada titipan surat nih dari Dokter Firman. Tadi dia titipkan ke Axel. Tapi, karena Axel tiba-tiba dihubungi pihak rumah sakit, akhirnya suratya dititipin ke Mama deh!” Mama Icha menyerahkan surat tersebut kepada Anya.


“Maafin mama, ya karena udah sempat bikin Anya salah paham dan kecewa. Kamu baca dulu deh, suratnya. Setelah itu nanti kita makan bareng!” ucap Mama Icha sambil meninggalkan Anya yang tidak terpaku menerima surat dari Dokter Firman.


Anya pun langsung membuka amplop surat dari Dokter Firman yang aromanya sangat harum.


--- Teruntuk wanita yang akhir-akhir ini membuatku terus memikirkanmu. ---


Surat ini adalah tanda bahwa aku sudah kalah untuk mendapatkanmu, Anya. Aku sadar, jika ternyata aku tidak sanggup untuk menaklukkan hatimu yang ternyata sudah terpatri dengan nama pria lain, yang tentunya bukanlah namaku.


Maafkan aku, yang sudah egois memaksamu untuk mencoba membuka hati untukku.


Andai kau tahu, Anya. Aku sudah sangat terpesona denganmu di awal pertemuan kita. Tangisan histerismu kehilangan Mama, membuat aku sangat ingin menjagamu dan menemanimu melewati hari-hari.


Sayangnya, saat itu aku tidak bisa mengutarakan keinginanku, Anya. Selain keadaanmu yang masih sangat terpuruk, statusku juga masih memiliki istri. Tapi, aku merasa sangat bahagia bisa sering bersamamu dan menemanimu saat di rumah sakit.


Kebersamaan kita saat itu membuatku sangat mantap untuk menceraikan Cintia. Tapi, Cintia sama sekali tidak mau aku ceraikan dan saat ia mengetahui jika aku memiliki perasaan spesial terhadapmu, ia marah besar.


Tidak hanya itu, Cintia juga mengancam akan mencelakaimu jika aku masih tetap bersikukuh untuk menceraikannya. Akhirnya, aku bertahan demi keselamatanmu, Anya. Tapi setelah itu, aku sangat marah saat mengetahui jika ternyata kau menjadi istri muda dari Axello Richandra karena jebakan yang dibuat oleh Hellencia.


Cintia, sudah meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya akibat perbuatannya selama ini. Hellencia, juga mengalami sakit yang parah, bahkan kini sudah dalam status sebagai tahanan polisi.


Sedangkan kamu, juga tidak lagi terikat hubungan apapun dengan Axel atau siapapun itu, alias free. Hal yang wajar bukan, jika aku memiliki keinginan untuk mendekatimu dan juga harapan besar untuk hidup bersamamu.


Tapi, ternyata aku salah. Keputusan yang didasari oleh egoku ini justru membuatmu sangat menderita. Dan aku, sangat tidak sanggup melihatmu menderita untuk yang kesekian kalinya. Maka dari itu, aku putuskan untuk mundur memperjuangkan perasaanku.


Maafkan kesalahanku kali ini, Anya. Jangan pernah marah kepada siapapun mengenai masalah ini. Cukup dengan marah padaku, karena aku sendiri yang membuat ide gila ini.


Terima kasih sudah mengizinkan aku membersamaimu meskipun tidak dalam jangka waktu yang panjang. Setidaknya, aku sangat lega karena sudah mengutarakan perasaanku padamu, Anya. Aku sangat mencintaimu.


Dan memang benar kata pepatah, mencintai bukan berarti memiliki. Sekali lagi, maafkan aku, Anya!


--- Pria yang mencintaimu, Firman ---

__ADS_1


Anya menghela nafasnya panjang selepas membaca isi surat dari Dokter Firman. Tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


Selama kedua orang tuanya mengalami kecelakaan, Anya memang selalu menghabiskan waktunya bersama dengan Dokter Firman. Sosok itu memang selalu ada di saat Anya membutuhkannya. Hidupnya memang sangat sulit selepas mamanya meninggal dunia.


Sampai akhirnya ia harus bekerja mengingat semua harta kedua orang tuanya perlahan habis dan hampir tak bersisa. Tapi, lagi-lagi masalah besar menimpanya hingga ia harus menandatangani perjanjian kontrak sebagai istri muda.


Anya mengusap air matanya dan melipat kembali surat pemberian Dokter Firman, kemudian menyimpannya di laci kamar. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya dan mendekati Mama Icha yang sedang duduk menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menonton televisi.


“Maaa!” panggil Anya yang tiba-tiba memeluk Mama Icha.


“Iyaa, sayang!”


“Bang Axel pulangnya masih lama ya?” tanya Anya lagi yang mulai merindukan pria yang memiliki status sebagai ayah dari bayinya.


Mama Icha pun langsung tersenyum dan mengusap kepala Anya dengan lembut.


“Kenapa memangnya, kan baru aja pergi, sayang!” balas Mama Icha.


“Anya kangen!” ucap Anya.


Mama Icha yang sebenarnya sedang melakukan panggilan video dengan Axel pun langsung mengambil ponselnya yang sengaja ia sembunyikan saat Anya keluar dari kamar.


“Axel, ada yang lagi kangen tuh!” tutur Mama Icha sambil mengarahnya layar kameranya ke wajah Anya.


Blush! Wajah Anya langsung memerah dan salah tingkah di depan layar.


“Tunggu, Abang pulang ya sayang. Setelah urusan di rumah sakit selesai, Abang langsung pulang!” ucap Axel yang jika dilihat baru sampai di parkiran rumah sakit.


“Oh, amm, eeemmm, i-ya, Bang! Take care, ya!” balas Anya yang kemudian memalingkan wajahnya dari layar ponsel.


“Ya udah, mama matikan dulu, ya, Nak!” ucap Mama Icha.


“Iya, Ma! Titip Anya ya!” balas Axel dan panggilan mereka pun berakhir.

__ADS_1


 


__ADS_2