Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Mulai berpencar


__ADS_3

Siang harinya, mama Icha benar-benar sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Axel sudah sedari pagi dijemput oleh Prima untuk menyelesaikan beberapa urusan di Kantor Polisi. Sedangkan Tian kini sibuk mengurusi Restoran karena Axel belum bisa fokus memikirkan pekerjaan.


Akhirnya, Mama Icha dan juga Anya pun pulang bersama dengan sopir pribadi yang dijanjikan Mama Icha untuk mengantarnya kemana ia pergi.


“Nah, itu dia mobilnya!” Mama Icha menunjuk mobil yang berhenti di depan pintu lobby rumah sakit. Anya pun langsung beranjak menggandeng Mamanya dan berjalan ke mobil.


“Dokter Firman?” Anya mengerutkan dahinya saat melihat Dokter Firman datang menjemputnya dan juga Mama Icha.


“Kali ini aku bukan seorang dokter untuk 3 hari ke depan. Melainkan adalah sopir pribadimu, Anya!” ucap dokter Firman sambil membukakan pintu belakang dan mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam.


“Haaah?!” Anya makin tidak paham dengan ucapan Dokter Firman barusan. Bagaimana mungkin seorang Dokter di sebuah Rumah Sakit terkenal justru menjadi sopir pribadinya?


Bukan cuma aneh, namun terdengar sangat tidak realistis karena sopir pribadinya justru seorang dokter yang dulu merawat papanya, dan kini juga merawat Mama Icha.


“Maksudnya apa sih?” tanya Anya membuat senyuman di bibir Dokter Firman terlukis sempurna.


“Masuklah dulu ke dalam mobil, Anya! Aku akan menjelaskannya di dalam!” balas Dokter Firman.


Mau tidak mau, Anya pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Mama Icha. Setelah itu, Dokter Firman menutup pintu mobil dan langsung bersiap untuk mengemudikan mobilnya.


Sedangkan beberapa perawat yang sengaja mengikuti Anya dan Mama Icha tadi semakin percaya jika Anya memiliki hubungan khusus dengan Dokter Firman saat melihat pemandangan tersebut.


“Dokter Firman!” panggil Anya saat mobil sudah mulai berjalan.


“Call me, Mas Firman, Anya!” timpal Dokter Firman. “Atau kau bisa memanggilku dengan sebutan Abang, seperti kau memanggil Axello!” lanjutnya lagi.


“Sebenarnya ini ada apa sih, Ma?” tanya Anya yang semakin kebingungan.


“Begini, Anya sayang. Beberapa hari ini, Mama masih harus beristirahat dan tidak bisa mengawasimu. Sedangkan Axel juga masih harus mengurus masalah Hellencia di rumah sakit dan juga Papa Richie yang ada di kantor polisi.”


“Belum lagi dengan urusan pekerjaan di Restoran. Selain itu, papa, mama, dan juga Axel juga sudah sepakat untuk sedikit memberikan kebebasan untukmu, sayang. Tapi, tetap dalam pengawasan penuh.”

__ADS_1


Penjelasan Mama Icha kali ini langsung ditimpali oleh Dokter Firman, “Dan aku, siap mengantar dan menemanimu kemana saja!”


“Yaa Ampuun, Ma! I love you, so much! Anya cuma pingin ketemu sama temen-temen Anya aja. Membereskan beberapa barang-barang di rumah, dan ada satu tempat yang ingin Anya kunjungi …” Anya menahan kalimatnya dan membuat Dokter Firman menunggu jawabannya.


“Kemana?” tanya Dokter Firman yang tidak sabar mendengar dimana tempat yang ingin Anya kunjungi.


“Ke Puncak, karena Anya ingin memetik strawberry di sana!” jawab Anya.


“Oke, kalo begitu hari pertama kita akan menemui beberapa temanmu, kemudian beberes rumah dan menuju ke puncak. Bagaimana?” tanya Dokter Firman dan Anya pun langsung setuju.


Sedangkan Axel kini sedang berusaha untuk mengumpulkan saksi untuk membantu papa Richie terbebas dari tuduhan Hellencia bersama dengan Prima. Kini mereka berdua sedang berada di Restoran milik Papa Richie yang memang buka penuh selama 24 jam.


“Komunitas Hellencia ini sangat besar namun begitu tertutup rapat sehingga sangat sulit bagi kita untuk masuk ke dalam!” ujar Prima yang baru menemukan satu titik jalan keluar untuk membebaskan Papa Richie.


“Maksudnya, Komunitas penyuka sesama jenis?” tanya Axel sambil bergidik ngeri.


“Yap, tepat sekali! Dan aku yakin, di sana pasti ada beberapa teman Miss Hellen yang ikut andil dalam kecelakaan orang tua Non Anya.”


Tentunya mereka harus memiliki lisensi untuk masuk ke dalam gerombolan komunitas tersebut. Tidak hanya itu, mereka berdua juga harus berpenampilan seperti wanita untuk mengelabui semuanya dan menjalankan misi dengan mulus.


Belum lagi mencari satu persatu yang nantinya juga akan dicurigai banyak orang di sana. Axel langsung menepis saran yang diajukan oleh Prima kali ini, “Gak bisa, Prima! Ini sama aja kita lagi cari mati!”


Prima langsung memijat kepalanya yang mulai berdenyut. Semalaman ia mencari tempat komunitas ini dan baru saja mendapatkan jam 3 dini hari tadi. Dan kini sarannya justru tidak diterima oleh Axel. Meskipun begitu, ucapan Axel memang ada benarnya.


“Lalu, darimana kita harus bergerak?” tanya Prima.


“Atau kita meminta Non Anya menghapus masalah ini di kantor polisi dan memaafkan Tuan Richie agar ia terbebas?”


Pertanyaan Prima kali ini kembali disanggah oleh Axel, “Tidak bisa, Prima! Kalau tuntutan ini dicabut, tentunya Hellencia juga akan terbebas dari hukuman dan kegilaannya akan semakin merajalela!”


Prima mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi yang diucapkan oleh Axel memang benar adanya.

__ADS_1


“Satu-satunya cara adalah …” Axel memandang ke arah Prima secara intens.


“Kita menggeledah barang-barang Hellencia di Apartemen, kemudian barang milik Cintia di Kediaman Dokter Firman, dan satu lagi …”


“Kita juga harus mencari informasi di rumah milik Anya. Kematian orang tuanya pasti dikarenakan adanya masalah antara Hellencia dengan kedua orang tua Anya. Jika tidak, untuk apa ia membunuh Mamanya Anya dan sengaja membuatnya kecelakaan!” tukas Axel membuat mata Prima berbinar dengan sempurna.


“Wow, ini benar-benar ide bagus, Tuan! Kalau begitu, kita langsung ke apartemen sekarang juga untuk mencari bukti!” ajak Prima dengan semangat 45.


“Aku masih harus menemui papa di kantor polisi dan kamu aku perintahkan untuk mencari tim hacker handal yang bisa dipercaya untuk melacak isi ponsel Hellencia!”


“Oke, kalau begitu, kita berpencar!” ucap Prima yang langsung beranjak mengambil kunci motornya.


Sedangkan Axel mencoba menghubungi mamanya untuk menanyakan rencana Anya dengan Dokter Firman. Informasi dari mamanya yang memberitahukan jika Anya akan bersama Dokter Firman selama 3 hari ke depan membuat Axel panas dingin.


"Ck, enak aja mau enak enakan selama 3 hari!" gerutu Axel dengan geram.


"Besok, aku akan menemani Anya beberes di rumahnya dengan alasan untuk mencari bukti. Aku tidak akan membiarkan Dokter Firman bersama Anya selama itu."


"Hanya satu hari, aku mengizinkannya. Tidak akan aku beri kesempatan lebih dari itu!"


Setelah berbalas pesan dengan Mamanya, Axel pun langsung menuju ke kantor polisi untuk menemui papanya.


💞💞💞


Maaf, yaa kalo agak berbelit masalahnya. Tapi tenang aja, di tengah masalah yang dihadapi oleh Axel dan juga Anya, author tetap akan bikin mereka terlihat so Sweet di bab selanjutnya.


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan cara tinggalkan jejak kalian semua 😍😍😍


Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua. Semoga kalian selalu sehat ya. 🤗🤗🤗


 

__ADS_1


__ADS_2