
Anya, Dokter Firman, Mama Icha, dan kedua asisten rumah tangganya kini sudah berada di rumah Anya. Rumah yang sudah lama tidak ditempati itu tampak penuh dengan daun kering yang berguguran memenuhi halaman rumah.
Kondisi rumah Anya juga tampak sangat berdebu dan tentunya membuat Anya merasa tidak enak dengan Mama Icha.
Namun, di halaman rumah Icha tampak ada saung kecil di bawah pohon mangga dimana pohonnya kini sedang berbuah lebat. Bahkan ada beberapa yang sudah tampak matang dan siap untuk dipetik.
Mama Icha langsung merekahkan senyumnya dan memanggil salah satu asisten rumah tangganya.
“Maid Yira!” panggil Mama Icha. “Tolong panggil semua maid yang ada di Mansion utama untuk membersihkan rumah ini!” titah Mama Icha.
“Dan Kalian berdua saya minta untuk membersihkan saung yang ada di sana! Aku ingin beristirahat di sana sambil menikmati buah mangga!”
“Siap, Nyonya!” jawab Maid Yira.
Sedangkan Anya justru makin merasa tidak enak dengan Mama Icha. Ia pun menyarankan agar Mama Icha kembali ke Mansion Utama karena keadaan rumahnya sama sekali tidak kondusif.
“Ma, sebaiknya mama kembali saja ke Mansion Utama. Jangan repot seperti ini! Anya janji akan pulang ke Mansion Utama juga selepas beberes rumah!” tutur Anya.
“Tidak masalah, sayang! Anya dengar bukan, jika mama sangat ingin menikmati mangga itu di saung?” timpal Mama Icha sambil menunjuk ke arah buah mangga yang sudah matang di pohon.
“Tapi debu di sini banyak, Ma! Anya tidak mau jika Mama kembali sesak nafas lagi!” timpal Anya yang sangat mengkhawatirkan Mama Icha.
“Kalau begitu, kita pergi saja sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Mama yakin, asisten mama akan membersihkan rumah ini dengan cepat!” balas Mama Icha yang sama sekali tidak setuju dengan ucapan Anya.
“Ayo Mas Firman! Antar kita ke Supermarket!” pinta Mama Icha memerintahkan Dokter Firman.
“Ba-baik, Nyonya!”
Dokter Firman pun langsung berbalik ke arah mobil dan membukakan pintu untuk Mama Icha dan juga Anya.
‘Huft! Kenapa malah jadi kayak gini sih! Aku jadi beneran sopir pribadi di Keluarganya Axel!’ gerutu Dokter Firman dalam hati.
‘Seharusnya, aku hanya mengawal Anya saja! Bukan malah seperti ini!’ batin Dokter Firman yang sedikit tidak terima.
__ADS_1
Tentu saja ia tidak terima. Demi mendapatkan perhatian dari Anya dan membuat hubungannya lebih dekat, Dokter Firman merelakan dirinya mengubah status menjadi sopir pribadi untuk mencapai keinginannya.
Dokter Firman pun segera mengemudikan mobilnya menuju ke Supermarket. Sepenjang perjalanan, Anya terus saja mengobrol dengan Mama Icha dan tampak seperti mengacuhkan Dokter Firman. Hal ini membuat Dokter Firman mencari cara untuk bisa berduaan dengan Anya.
Sesampainya di Supermarket, Anya langsung menggandeng tangan Mama Icha dan membantunya keluar dari mobil. Sedangkan Dokter Firman bergegas menuju ke tempat peminjaman kursi roda untuk Mama Icha agar setidaknya ia bisa mengiringi langkah Anya.
“Waah, terima kasih, Dokter!” tukas Anya saat Dokter Firman datang ke arahnya dengan membawa kursi roda.
“Dokter memang yang terbaik! Tahu aja kalo Mama sangat membutuhkan ini!” lanjut Anya lagi sambil membantu Mama Icha duduk di kursi roda.
Dokter Firman pun tersenyum mendengar ucapan Anya, “Sama-sama, Anya!”
Mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam Supermarket dan kali ini Dokter Firman sengaja mendorong Mama Icha dan Anya pun berjalan di sampingnya.
“Kalian berdua bisa berbelanja untuk membeli bahan makanan yang Anya butuhkan. Mama ingin menikmati sup kacang merah di sana!” Mama Icha menunjuk ke araah café yang menyajikan sup kacang merah.
Mata Dokter Firman langsung berbinar sempurna mendengar hal ini. Sedangkan Anya justru merasa hal yang sebaliknya. ‘Jadi, Mama benar-benar ingin menganggapku sebagai anak, bukan sebagai calon menantunya?’ gumam Anya dalam hati.
“Anya …” panggil Mama Icha membuyarkan lamunan Anya.
“Gak masalah kan kalo mama tunggu di café?” tanya Mama Icha. “Mama hanya butuh istirahat sebentar, tapi mama juga tidak ingin jauh dari kamu!” timpal Mama Icha membuat Anya merasa sangat terharu mendengarnya.
“Iya, Mama! Gak masalah, kok! Oh, iya, mama pingin dimasakin apa? Biar Anya nanti belanja bahan-bahannya!” balas Anya.
“Mama lagi pingin makan olahan sayur sama buah aja.”
“Okey, nanti Anya akan beli bahannya. Mama beneran gak papa nih kita tinggal?” tanya Anya memastikan lagi.
“Iya, sayang! Mama juga udah biasa kok di sini!”
“Baiklah, Anya belanja dulu yaa! Jaga diri mama, ya!” Anya meninggalkan Mama Icha sambil melambaikan tangannya.
Sedangkan Dokter Firman pun mengikuti langkah Anya menuju ke supermarket. Senyumannya terlukis dengan lebar. Langkahnya ia samakan dengan langkah Anya dan tangannya berusaha untuk memegang jemari Anya.
__ADS_1
Sayangnya, Anya justru mengelak dengan meraih troli yang adaa tidak jauh darinya dan mendorongnya sambil mencari bahan makanan yang diperlukan.
“Kira-kira apa dulu yang mau dibeli?” tanya Dokter Firman.
“Kita ke tempat sayur dan buah dulu ya, Mas! Setelah itu baru cari yang lainnya!” balas Anya.
Keduanya pun langsung bergegas menuju ke tempat sayur dan buah. Dokter Firman terus berusaha untuk memberikan perhatian dan mengikir jaraknya dengan Anya. Namun, lagi-lagi Anya juga berusaha untuk menghindar. Sampai tiba-tiba ada yang datang mendekat ke arah mereka dan memanggil nama Anya dengan panggilan ‘sayang’.
“Hai, sayang! Lagi belanja apa sih?” tanya Axel yang tiba-tiba merangkul Anya dari belakang.
Sikap Axel kali ini membuat Dokter Firman menatap tajam ke arahnya, sedangkan Anya justru melepaskan rangkulan Axel dan sedikit menjauh darinya.
“Maaf, Bang! Kita saat ini sedang tidak ada hubungan apa-apa!” tegas Anya sambil menatap kesal ke arah Axel.
“Dan Anya juga tidak ingin mengganggu kesibukan Abang belakangan ini! Jadi, tolong Abang fokus dengan masalah yang saat ini sedang dihadapi. Sedangkan Anya, akan mencoba untuk membuka hati untuk Mas Firman!”
Ucapan Anya kali ini membuat Axel tercengang mendengarnya. Terlebih saat melihat Anya meninggalkannya dan menggandeng lengan Dokter Firman dengan manja.
“Ayo, Mas! Kita masih harus mencari bahan makanan di daerah aneka bumbu masakan!” ajak Anya.
“Oh, iya! Maaf, Pak Axel, kami permisi dulu!” ucap Dokter Firman sambil mengedipkan satu matanya ke arah Axel.
Tangan Axel langsung mengepal dengan geram menahan rasa cemburu yang begitu membuncah di dalam dadanya. Nafasnya pun mulai tidak beraturan karena rasa sesak dan hatinya terasa begitu nyeri melihat kebersamaan Anya dengan Dokter Firman.
Sedangkan Dokter Firman, jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya saat ini. Ucapan penolakan Anya terhadap Axel dan juga keinginan Anya yang ingin mencoba membuka hati untuknya terus saja terngiang di telinga Dokter Firman.
“Terima kasih karena sudah mencoba untuk membuka hatimu untukku, Anya!” ucap Dokter Firman sambil mengeratkan pegangan Anya di lengannya.
“Sama-sama, Mas!” jawab Anya.
Diam-diam Anya memperhatikan wajah Axel yang sedang cemburu berat dari kaca yang ada di dalam supermarket.
‘Emang enak dicuekin?’ gumam Anya dalam hati.
__ADS_1
‘Salah siapa udah jadiin Anya kek barang pinjaman! Ini baru awal ya, Bang! Anya masih punya kejutan selanjutnya sampai Bang Axel menyerah di depan Anya dan meminta ampun!’ batin Anya.