Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Informasi Sonia


__ADS_3

“Maaf ya, Sayang! Gara-gara Abang istri kesayangan jadi sakit begini!” Axel tampak merasa sangat bersalah sambil menyuapi Anya.


Sedangkan Anya hanya tersenyum, “Gak masalah, Bang! Anya baik-baik aja! Mungkin ini juga karena pengaruh hormon kehamilan!” balas Anya sambil mengusap tangan suaminya dengan sangat lembut.


Satu mangkuk bubur kini sudah habis oleh Anya dan wajahnya sudah tidak begitu pucat. Setelah itu, Anya memaksakan dirinya untuk turun dari tempat tidur. Namun, dengan tegas Axel melarangnya karena ia tidak ingin terjadi apa-apa oleh Anya.


“Mau kemana, Sayang?” tanya Axel yang menahan Anya untuk tidak pergi.


“Anya mau kasih tau papa dimana alamat Tante Sonia!” balas Anya menyebutkan nama salah satu teman Mama Divya.


“Tidak perlu pergi!” cegah Axel lagi sambil menyodorkan ponselnya kepada Anya. “Bicara saja lewat telfon! Papa juga pasti akan memahaminya.”


Kali ini Anya pun menurut dengan titah Axel. Ia langsung menghubungi Papa Richie dan memberitahukan dimana kediaman Tante Sonia. Ternyata sebelum Anya memberitahukan kepada Papa Richie, salah satu utusan Papa Richie justru sudah sampai di tempat untuk mengorek informasi.


“Selamat siang Nyonya Sonia!” sapa utusan Papa Richie yang termasuk dalam anggota intel. Kali ini Papa Richie sengaja membayar Badan Intelijen Negara dengan biaya yang cukup mahal untuk bekerja sama memecahkan kasus ini.


“Saya dari Badan Intelijen Negara mendapatkan tugas untuk mengorek informasi dari anda selaku teman atau sahabat dekat dari Almarhumah Divya!” anggota Intel dengan nama Malvin itu memperlihatkan kartu identitas dirinya dan tentunya membuat Sonia gemetaran.


“Ma-maaf, Pak! Saya …”


“Tidak perlu takut, Nyonya! Tolong persilakan saya untuk masuk ke dalam dan kita bisa berbincang dengan baik! Anda tenang saja! Kami menjamin keselamatan anda kali ini!” lanjut Malvin.


Mau tidak mau, Sonia pun membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan Malvin untuk masuk ke dalam rumahnya. Kali ini Malvin memang sendirian masuk ke dalam rumah, tetapi beberapa teman lainnya menunggu di mobil.

__ADS_1


Karena tidak mau terlibat terlalu jauh dalam masalah ini, Tante Sonia pun langsung menjelaskan hubungannya dengan Divya.


“Saya dengan almarhumah memang berkawan sangat baik. Saya, Divya, Putri, dan juga Lidia memang sangat akrab sejak duduk di bangku sekolah.”


“Apa anda juga mengenal Miranda dengan Jacqueline?” pertanyan Malvin kali ini dijawab Sonia dengan anggukan kepalanya.


Sonia menceritakan jika dulu mereka berenam memang berkawan baik. Namun, persahabatan mereka merenggang saat mengetahui Jacqueline memiliki kelainan dengan menyukai sesama jenis. Awal mulanya dari kegusaran Divya yang mulai tidak nyaman dengan permintaan Jacqueline yang selalu memintanya untuk tidak mengenakan sehelai benang pun di depan Jacqueline.


Divya menolak permintaan Jacqueline secara terang-terangan dan akhirnya Jacqueline beralih kepada Miranda. Saat itu, Miranda yang tidak mengetahui kelainan yang dialami Jacqueline pun menurut begitu saja sampai akhirnya mereka berdua mulai tenggelam dalam kelainan yang sama.


Kelainan Jacqueline ini diceritakan oleh Divya kepada Sonia, Lidia, dan juga Putri. Akhirnya persahabatan mereka benar-benar pecah karena memilih jalan yang berbeda. Sayangnya, Jacqueline dan juga Miranda sama-sama terobsesi dengan kecantikan Divya.


Mereka berdua terus saja mencari cara untuk menjebak Divya untuk ikut masuk ke dalam lingkaran komunitasnya. Tapi, Divya berhasil mengelak dan mengancam keduanya dengan melaporkannya ke polisi. Hampir dua puluh tahun lamanya mereka tidak mendengar kabar dari Jacqueline dan juga Miranda.


“Dan selepas itu, kami mulai bertemu kembali dengan Jacqueline di sebuah acara Reuni. Dia sama sekali tidak menyapa kami sedikit pun. Dua bulan selepas reuni, kami mendengar berita kematian Divya dan mulai dari situ, kami tidak berani saling berhubungan satu sama lain!” jelas Sonia panjang lebar.


Penjelasan Sonia kali ini langsung ditarik kesimpulan oleh Malvin jika tersangkanya sudah pasti Jacqueline. Dan dia sengaja menggunakan identitas Miranda untuk bersembunyi.


“Terima kasih atas penjelasannya, Nyonya Sonia! Ini kartu nama saya!” Malvin menyodorkan kartu namanya kepada Sonia. “Hubungi kami kapan pun anda dan keluarga anda membutuhkan pertolongan!”


“Terima kasih banyak, Pak Malvin! Semoga masalah ini segera terusut dengan baik dan tidak meresahkan banyak pihak!” balas Sonia yang sudah lega karena setidaknya rasa takutnya sudah mulai berkurang.


“Baik, Nyonya! Kalau begitu, saya permisi dulu!” ucap Malvin undur diri.

__ADS_1


“Tunggu, Pak!” cegah Sonia. “Jika tidak merepotkan, bolehkan saya menitipkan sesuatu untuk Anya?”


“Tentu saja, boleh!” balas Malvin.


Sonia pun langsung berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian ia membawa kotak besar dan ia serahkan kepada Malvin.


“Ini semua adalah peninggalan Mama Anya yang sengaja kami simpan! Sampaikan salam saya kepada Anya dan juga permohonan maaf karena tidak bisa membantu dan menemaninya saat terpuruk!” ucap Sonia.


“Nanti akan saya sampaikan! Kalau begitu, saya permisi dulu!”


Malvin pun langsung keluar dari kediaman Sonia dan bergegas masuk ke dalam mobil intel. Kemudian, ia memerintahkan mata-mata khusus untuk terus mengamati kediaman Sonia karena ditakutkan jika Sonia termasuk dalam target berikutnya yang berada di dalam daftar Jacqueline. Sedangkan yang lainnya sudah mulai bergerak untuk mencari informasi tempat tinggal Jacqueline.


Di sisi lain, Jacqueline yang baru saja bangun dari istirahat panjangnya pun langsung mendapatkan informasi dari teman satu komunitasnya jika posisinya sedang tidak aman. Beberapa orang dari anggota komunitasnya ada yang melihat beberapa anggota intel yang berkeliaran di jalan dan tengah mencari alamat tempat tinggal Jacqueline.


“Argh! Sial! Ternyata anak Divya bergerak secepat ini! Bahkan aku belum sempat memperhitungkan semuanya!” umpat Jacqueline dengan geram.


“Sebentar lagi anggota intel pasti dengan mudah menemukan apartemenku! Aku harus bergegas pergi dari sini!”


Jacqueline pun langsung beranjak dari tempatnya dan mengambil koper besar miliknya. Kemudian, ia memasukkan barang-barang penting miliknya ke dalam koper. Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Jacqueline kini sudah meninggalkan apartemennya dan menuju ke tempat parkiran mobil.


Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil, Jacqueline segera melesat pergi menuju ke bengkel mobil. Langkah pertama yang ia lakukan untuk menyelamatkan diri adalah mengganti warna cat mobilnya dan mengganti plat mobilnya dengan nomor yang lainnya agar keberadaannya tidak terlacak.


Kini, waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. Jalanan mulai ramai dan sangat padat mengingat waktunya jam pulang kerja. Dan Jacqueline kini mulai terjebak dalam kemacetan panjang. Sedangkan sejauh ia mengemudi, ia tidak menemukan bengkel mobil sama sekali.

__ADS_1


Tetapi, sekitar 500 meter di depan tampak ada penjual plat di pinggir jalan. Akhirnya Jacqueline memutuskan untuk mengganti plat mobilnya terlebih dahulu.


__ADS_2