
“Dokter Firman kenapa sih mau jadi sopir pribadi Anya selama tiga hari?” tanya Anya sambil membawakan minuman untuk Dokter Firman.
“Panggil, Mas Firman aja, Anya!” pinta Dokter Firman yang tentunya membuat Anya terkekeh pelan.
“Habis belum biasa sih panggil, Mas Firman!” balas Anya membuat Dokter Firman langsung meleleh mendengar Anya memanggilnya dengan sebutan yang berbeda.
“Nah, gituh kan kedengerannya jadi enak!” balas Dokter Firman sambil merapatkan duduknya lebih dekat dengan Anya.
“Mas Firman cuma pingin lebih deket aja sama Anya dan mengenal Anya lebih jauh lagi!” ucap Dokter Firman membuat Anya tertegun.
“Hah? Maksudnya apa ya?” tanya Anya sambil mengerutkan dahinya.
“Anya ini bukan perempuan yang sebaik Mas Firman kira loh! Anya itu bukan perawan lagi dan justru saat ini kondisi Anya tengah mengandung!” lanjutnya lagi mempertegas statusnya saat ini yang sudah berbadan dua.
“Tapi perjanjian pernikahanmu dengan Axel sudah batal, bukan? Berarti, Mas punya kesempatan dong buat deketin Anya?” balas Dokter Firman.
“Mas udah lama jatuh cinta sama Anya!” Kali ini Dokter Firman menyatakan perasaannya secara terang-terangan kepada Anya dan tentunya membuat Anya terkesiap mendengarnya.
“Bahkan sebelum Anya bertemu dengan Axel dan jatuh ke dalam perangkapnya. Mas sangat marah mendengar Axel sudah menjadikanmu sebagai istri kedua. Tapi, Mas gak bisa berbuat apa-apa saat itu.”
Anya menelan ludahnya kasar dan mulai menggeser posisi duduknya menjauh dari Dokter Firman.
“Tapi …”
“Mas sudah meminta izin kepada Nyonya Icha dan juga Axel untuk bisa mendekatimu selama tiga hari ke depan, Anya! Jika selama kita bersama nanti dan kamu masih belum memiliki perasaan apa-apa terhadap Mas, maka Mas Firman rela mundur!” ucap Dokter Firman yang terdengar begitu gentle menyatakan perasaannya terhadap Anya.
Sedangkan Anya kini berusaha setenang mungkin meski dalam hatinya mulai berkecamuk tidak karuan.
‘Apa-apaan ini?! Kenapa Bang Axel memperbolehkan Dokter Firman untuk mendekati aku?’ gerutu Anya dalam hati.
‘Mana bukti dari ucapannya jika ia tidak bisa hidup tanpa aku dan sangat mencintai aku? Dasar pembual ulung! Bisa-bisanya dia mengizinkan hal seperti ini. Emang dia pikir hati aku mainan yang bisa dipinjamkan kepada orang lain?’
__ADS_1
Anya mulai mengepalkan tangannya dengan geram. Kesal? Tentu saja ia merasa sangat kesal. Bagaimana tidak? Di saat genting dan penuh dengan masalah seperti ini, Axel justru memberi kesempatan pria lain untuk mendekatinya.
‘Mama Icha nih juga aneh! Dia tuh sebenarnya beneran sayang gak sih sama aku?’ batin Anya yang juga merasa kesal dengan Mama Icha.
‘Apa mama udah gak mau lagi punya menantu kayak aku dan hanya menganggap aku sebagai adik tiri Bang Axel?’
Hati Anya kini dipenuhi berbagai pertanyaan dan juga rasa kesal yang tiada tara saat mendengar pengakuan Dokter Firman tadi. Namun, Anya tidak mau berlaku gegabah. Ia mulai mengatur nafasnya dan mencoba untuk menimpali ucapan Dokter Firman dengan santai.
“Okelah kalau begitu! Gimana kalau mulai hari ini aja kita pulang ke rumah Anya dan mulai berberes barang? Anya udah kangen banget nih sama kasur kesayangan Anya di rumah!” pinta Anya kepada Dokter Firman.
Sikap welcome Anya kali ini membuat Dokter Firman seperti mendapatkan lampu hijau dari Anya untuk mendekatinya.
“Mas Firman akan selalu siap mengantar kemanapun Anya mau!” tutur Dokter Firman.
Sayangnya, Mama Icha yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka berdua pun langsung mencegah Anya untuk pergi secepat itu.
“Loh, gak sekarang juga sayang, perginya!” timpal Mama Icha yang tanpa sengaja mendengar keinginan Anya untuk pergi.
“Makan siang dulu di sini, selepas itu kalian berdua boleh pergi!” lanjutnya membuat Anya memandang ke arah jam dinding yang masih menunjukkan jam 11 siang.
Permintaan Anya kali ini membuat Mama Icha sedikit keberatan untuk mengabulkan permintaan Anya.
“Gimana kalo Kasur dan barang-barang Anya dipindahkan ke Mansion? Mama gak bisa kalo Anya gak pulang ke rumah, Sayang!” timpal Mama Icha yang tidak mau terjadi apa-apa dengan Anya.
“Tapi, Ma …” Lagi-lagi Anya memohon sambil memperlihatkan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Atau enggak, gini aja! Gimana kalau Mama juga akan ikut ke rumah Anya dan selama 3 malam ke depan, kita menginap di sana?” tutur Mama Icha memberi saran.
Sayangnya, saran dari Mama Icha kali ini langsung ditolak mentah-mentah dengan Anya.
“Gak bisa, Mama! Rumah Anya kecil dan tidak sebesar ini. Bahkan cuma ada tiga kamar aja dan pantry-nya juga tidak selengkap di Mansion. Anya tidak mau Mama merasa tidak nyaman tinggal di sana!” tutur Anya.
__ADS_1
Sedangkan Dokter Firman sendiri juga merasa sangat terganggu jika Nyonya Icha harus ikut dengan mereka berdua.
“Tidak masalah, Mama akan membawa satu orang pelayan dan juga tukang kebun untuk membantu beberes di sana!” ucap Mama Icha yang keinginannya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
Akhirnya, Anya hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Mama Icha. Begitu juga dengan Dokter Firman yang sudah tidak bisa protes sama sekali. Mama Icha pun langsung menyiapkan beberapa pakaian dan juga barang-barang yang nanti diperlukan olehnya selama 3 hari di rumah Anya.
Mama Icha juga tidak lupa menghubungi Axel tentang rencana Anya dengan Dokter Firman dalam waktu tiga hari ke depan. Axel yang kini tengah menuju ke kantor polisi pun langsung berencana mengunjungi rumah Anya selepas menemui papanya.
‘Aku tidak akan pernah membiarkan mereka berdua berdekatan dalam waktu yang selama itu! Bahkan saat ke puncak nanti juga aku akan tetap mengikuti Anya secara diam-diam!’ gumam Axel dalam hati.
‘Semoga masalah ini cepat selesai!’ batinnya lagi.
Di rumah sakit,
Hellencia yang sedang diperiksa oleh dokter, kini tengah memegangi perutnya yang terasa sakit bukan main.
“Perut saya sangat sakit, Dokter!” keluh Hellencia dengan wajah yang terlihat sangat pucat.
“Obat pereda nyeri sudah disuntikkan lewat infus. Tahan sebentar karena obat itu akan bereaksi tidak lama lagi. Setelah itu, kita akan kembali memeriksa bekas operasinya!” tutur Dokter Gita.
Tapi, Hellencia terus saja menggeliat menahan rasa sakit yang sudah tidak tertahankan lagi. Kemudian, Hellencia kembali mengalami pendarahan di atas bednya. Untung saja bednya sudah dipasang pelapis, sehingga darahnya tidak terkena sprei yang ada dibawahnya.
“Bagaimana Dokter Gita? Tindakan apa yang harus kita lakukan saat ini?” tanya perawat baru saja mengganti lapisan bed Hellencia dan kini kembali kotor lagi.
“Kita harus mengecek keadaannya secara berkala. Kemungkinan ada resiko kerusakan kandung kemih, saluran yang mengalirkan urin ke kandung kemih (ureter), atau usus.”
“Saya akan menghubungi Ahli onkologi ginekologi. Beliau biasanya memperhatikan jika masalah berkembang selama operasi dan dapat memperbaikinya. Diperkirakan juga pasien mungkin memerlukan operasi kedua.”
Penjelasan Dokter Gita kali ini membuat Hellencia mulai risau dan khawatir tak terkira. Operasi yang pertama saja baru terlewati dan efek rasa sakitnya masih sangat terasa. Namun, keadaannya saat ini justru lebih parah daripada sebelumnya dan membuatnya mulai ketakutan.
__ADS_1