
“Ngobrolin apa aja, tadi?” tanya Axel saat mereka sudah berada di dalam mobil dan menuju ke jalan pulang.
“Biasa, Miss Hellen hanya mempertegas aku untuk selalu mengingat perjanjian kontrak di awal pernikahan kita!” balas Anya dengan santai.
Axel langsung menggenggam tangan Anya dengan erat, “Jangan risau, Anya Sayang! Aku akan segera menceraikannya. Aku harap kau tetap ada di sampingku apapun yang akan terjadi nanti!” ucap Axel.
“Aku takut, dia pasti akan banyak memberikan hasutan kepadamu saat aku memutuskan hubungan pernikahanku dengannya! Jadi, aku minta kau tetap percaya denganku dan terus ada di sisiku, Anya!” pinta Axel yang tampak sedikit gusar.
“Tenang saja, Bang! Bukankah papa dan mama juga berpihak dengan kita berdua? Selama ini kan Bang Axel hanya bersikap toleran dengan Miss Hellen, tidak menceraikannya karena dia masih berada di rumah sakit bukan?” balas Anya dan Axel langsung menganggukkan kepalanya.
Sungguh, Axel benar-benar takut jika Anya mengetahui apa yang ia dan kedua orang tuanya rahasiakan selama ini. Harapan mereka untuk kematian Hellencia ternyata sia-sia belaka. Hellencia justru keadaannya semakin membaik selepas mendengar kabar kehamilan Anya.
Bahkan, semangatnya yang tadinya sudah melemah dan hampir hilang, justru kembali seratus persen karena sebentar lagi tujuannya akan tercapai. Memiliki harta yang bersumber dari restoran milik Papa Richie yang sebentar lagi akan jatuh ke tangannya.
“Abang!” panggil Anya membuyarkan lamunan Axel.
“Iya, Sayang!” jawab Axel sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut.
“Anya pingin kencan!” tutur Anya membuat Axel langsung menyunggingkan senyumannya.
“Oke, malam ini kita kencan romantis yaa! Istri cantik abang ini mau kencan dimana sih?”
“Anya pingin makan bakso beranak yang ada di dekat taman kota, Bang!” balas Anya membuat Axel mengernyitkan dahinya.
“Bakso di dekat taman kota?” balas Axel sambil mengernyitkan dahinya. Setahu Axel, tidak ada restoran satupun di dekat taman kota.
“Iya, Abang! Di warung Mang Encep! Baksonya enak banget, Bang!” tutur Anya sambil mengusap perutnya.
“Tapi kalo gak higienis, gimana?” balas Axel yang belum pernah menikmati makanan di warung.
“Tempatnya bersih kok, Bang! Dedek bayinya kayaknya minta makan bakso di sana!” balas Anya sambil mengusap perutnya berkali-kali.
Mendengar jika itu adalah permintaan bayinya, Axel tidak bisa mengelak lagi. Ia pun langsung mengarahkan mobilnya menuju ke warung Mang Encep yang ditunjukkan oleh Anya.
Sesampainya di sana, semua mata langsung tertuju kepada Axel yang saat ini menggunakan outfit jas kantoran yang sangat rapi. Sedangkan Anya, tampak sangat santai saat suaminya menjadi bahan tontonan seluruh pengunjung warung bakso Mang Encep.
“Neng Anya!” sapa Mang Encep yang tampak masih muda di mata Axel. Jika ditaksir, usianya masih di bawah usia Axel. Tidak hanya itu, meski gayanya sangat kampungan, wajah Mang Encep terlihat sangat tampan. Tidak ayal jika warung baksonya sangat ramai dengan pengunjung.
__ADS_1
“Udah lama gak kelihatan, makin cantik aja Neng! Kemana aja?” tanya Mang Encep.
“Banyak kerjaan beberapa bulan ini, Mang! Saya pesen bakso beranaknya dua mangkok ya! Jangan yang pedes!” ucap Anya.
“Siap Neng! Silahkan duduk dulu!” ucap Mang Encep yang langsung meracik bakso untuk Anya dan Axel.
Anya pun langsung mencari tempat duduk di dekat jendela. Tak lama kemudian, pesanan Anya pun datang. Namun, kali ini yang mengantarkan pesanan Anya justru tampak seperti orang yang sama, namun dengan penampilan yang berbeda.
Jika tadi yang Anya sebut Namanya ‘Mang Encep itu tampak tampan dengan gaya pakaian yang kampungan. Kali ini, yang mengantarkan pesanan Anya penampilannya sangat stylish dan mengikuti perkembangan zaman anak kekinian.
“Hai, Anya! Apa kabar?” Pertanyaan pengantar pesanan Anya kali ini membuat Axel mengernyitkan dahinya.
Terlebih saat ia tiba-tiba tanpa permisi ikut duduk di samping Anya.
“Maaf, siapa yang memperbolehkan anda duduk di sini?” tanya Axel dengan nada yang tidak suka.
“Bang, kenalin ini dosen kuliah Anya. Namanya Mr. Jeff. Beliau ini kembarannya Mang Encep tadi!” ucap Anya memperkenalkan lelaki yang mengantarkan pesanan sebagai dosennya.
“Nah, Mr. Jeff, kenalin ini emm …” Anya mulai bingung bagaimana memperkenalkan Axel kepada dosennya ini.
“Saya Axello Richandra …” Axel mengulurkan tangannya ke arah Jeffrey dan Anya cepat-cepat memotong ucapan Axel.
“Oh, bosnya Anya yaa! Waaah, saya kira pacarnya.” Jeffrey tampak sangat lega saat mengetahui jika lelaki yang kini bersama Anya ternyata adalah atasan Anya.
Jeffrey Wijaya memiliki kembaran yang bernama Ceffro Wijaya dan biasa dipanggil Mang Encep. Kedua saudara kembar ini memilih jalan yang berbeda untuk menggapai kesuksesan mereka.
Jeffrey memilih sebagai dosen di sebuah Universitas Swasta, sedangkan Ceffro atau Mang Encep lebih memilih menjadi pedagang bakso yang sukses dan ternama. Keduanya sama-sama belum menikah di usia yang sudah menginjak 28 tahun.
Ceffro sendiri sangat paham jika saudara kembarnya itu memiliki perasaan khusus terhadap Anya yang selama ini menjadi mahasiswi kesayangannya. Namun selepas Anya wisuda dan orang tuanya meninggal dunia, mereka tidak lagi bertemu dengan Anya.
Bahkan, Jeffrey yang mencari Anya sampai ke rumahnya pun tetap tidak mendapatkan informasi apa-apa karena pemiliknya adalah orang yang berbeda.
“Memangnya kenapa kalau saya pacarnya?” tanya Axel dengan sangat ketus.
Pertanyaan Axel kali ini membuat Anya mencubit paha Axel pelan sebagai kode agar dia tidak membocorkan informasi tentang mereka berdua.
“Oh, jadi kamu pacaran sama bos kamu sendiri, Anya?” tanya Jeffrey menyelidik.
__ADS_1
Kini Anya makin bingung harus menjawab apa. Ia memandang ke arah Axel dan juga Mr. Jeff secara bergantian.
“Okay, diamnya kamu saya anggap sebagai jawaban iya. Kalau begitu, selamat yaa atas hubungan kalian berdua.” Jeffrey yang tampak sangat kecewa pun langsung berdiri dan siap meninggalkan Anya.
“Oh, iya Anya! Seperti yang saya katakan saat wisuda kemarin. Kamu bisa menghubungi saya kapanpun kamu memerlukan bantuan. Ini kartu nama saya,” ucap Jeffrey sambil memberikan kartu nama miliknya kepada Anya.
Anya menerima kartu nama Jeffrey dan membacanya. Kemudian ia mengembalikannya kepada Mr. Jeff.
“Saya masih simpan kartu nama Mr. Jeff kok. Cuma kemarin saya memang sempat ganti nomor dan belum sempat menghubungi anda!” ucap Anya.
“Nanti saya akan chat Mr. Jeff setelah sampai di rumah!” lanjut Anya lagi.
“Saya tunggu yaa. Kalau begitu, saya permisi dulu. Silakan menikmati!” Mr. Jeff pun langsung meninggalkan meja dan kembali ke pantry.
“Oooooh, jadi ceritanya ngajakin kesini itu karena kangen sama pak dosen yang sok perhatian itu ya?” tanya Axel sambil menikmati baksonya yang sudah mulai dingin.
“Bukan gitu, Bang! Di sini itu baksonya memang terkenal enak banget!” timpal Anya.
“Apa enaknya makan bakso yang udah dingin begini!” gerutu Axel yang memasang wajah kesalnya.
Hawa dingin mulai menyelimuti suasana kebersamaan Anya dengan Axel kali ini. Anya paham betul jika kali ni Axel sangat cemburu dengan Mr. Jeff, meskipun Anya dan juga dosennya sama sekali tidak ada obrolan yang berarti.
Perlahan Anya memegang tangan kiri Axel dan mengusapnya dengan lembut. “Gimana kalo bakso angetnya nanti Anya kasih setelah sampai di Mansion! Anya buatin khusus buat Abang deh!” ucap Anya sambil mengedipkan matanya.
Axel pun langsung tersenyum mendengar tawaran Anya barusan, “Kamu bisa aja sih bikin marah Abang jadi hilang. Janji loh ya? Jangan kasih harapan palsu ke Abang!” ucap Axel yang sudah tidak marah lagi.
“Iya, Abang sayang!” balas Anya.
Keduanya pun menikmati bakso beranak itu sampai habis tak bersisa. Sedangkan dari kejauhan, tampak Jeffrey dan juga Mang Encep memandangi ke arah mereka berdua yang tampak sangat romantis.
“Sabar ya, Jeff!” Ceffro menepuk bahu kembarannya. “Mungkin Anya memang bukan jodohmu!” lanjutnya lagi.
“Tapi, Anya bukan orang yang mudah jatuh cinta! Buktinya selama dia kuliah, aku tidak pernah melihatnya duduk berdua dengan seorang laki-laki. Apalagi sampai seakrab itu!” balas Jeffrey.
Sudah lama ia menunggu dan mencari kabar tentang Anya. Namun, saat sudah bertemu, Anya justru sudah memiliki kekasih lain.
“Aku yakin, sahabat Anya juga pasti belum mengetahui jika Anya memiliki kekasih. Apalagi jika dilihat dari style-nya, aku pastikan usia kekasih Anya itu jauh di atasku!” gumam Jeffrey yang kemudian secara diam-diam membidik gambar Anya bersama Axel dan mengirimkannya ke nomor Della, sahabat Anya yang saat ini sedang melanjutkan kuliah S2nya.
__ADS_1