Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Regi !!!


__ADS_3

Regi yang baru saja sampai di rumah, langsung disambut dengan kedua orang tuanya yang sudah duduk di teras. Selama ini, mereka selalu saja mengabaikan putrinya yang tengah hamil besar. Tapi, kali ini tampak berbeda dan hal ini membuat Regi merasa sedikit curiga.


“Kamu baru pulang, ya?” tanya Bu Diba yang sudah menyiapkan teh hangat untuk putrinya dan menyodorkan ke arah Regi.


“Wah, anak papa pasti capek banget ya? Sini duduk dulu, nak!” Pak Joko mempersilakan Regi untuk duduk di sampingnya dengan tutur kata yang sangat lembut.


Regi mengernyitkan dahinya dan duduk di kursi yang disiapkan oleh papanya. Kemudian ia mengambil minuman buatan mamanya dan meneguknya.


“Emm, Papa sama Mama kenapa sih sore ini? Aneh banget. Bukannya kalian udah gak peduli lagi ya sama Regi?” tanya Regi sambil menikmati minuman hangat buatan mamanya.


“Kata siapa kami gak peduli?” balas Bu Diba mengelak tuduhan Regi. “Kemarin itu kami hany shock mengetahui kamu hamil, nak. Apalagi tanpa suami dan semakin hari perut kamu juga makin besar.”


“Papa sama Mama hanya malu mendengar cibiran tetangga yang gak ada rem-nya bahkan sampai saat ini,” jelas Bu Diba.


Penjelasan Bu Diba memang ada benarnya, terlebih mereka masih tinggal di perkampungan yang ibu-ibunya sangat suka berkumpul untuk menyebarkan berita gossip. Beberapa kali Regi juga terus mendapat cibiran dari tetangga yang tanpa sengaja bertemu dengannya saat di luar rumah.


“Tapi, kali ini Papa dan juga Mama sadar bahwa kita berdua tidak bisa terus menerus marah dan bersikap seperti ini kepadamu, Nak!” tutur Pak Joko.


Kehangatan keluarga Regi yang sudah lama hilang, kini kembali Regi rasakan membuat matanya langsung berkaca-kaca. Tanpa menunggu lama lagi, air matanya langsung jatuh membasahi pipinya dan Bu Diba langsung memeluk putrinya dengan hangat.


“Jangan menangis, sayang! Maafkan mama yang sudah mengabaikanmu akhir-akhir ini!” ungkap Bu Diba.


“Maafkan Regi juga, Ma! Regi sudah membuat kesalahan besar yang membuat papa dan juga mama sangat malu.”


Regi mengeratkan pelukannya terhadap Bu Diba. Sedangkan Pak Joko pun mengusap punggung putrinya yang kini sedang terisak-isak.


“Maafkan papa juga karena turut mengabaikan putri tunggal papa ini,” ucap Pak Joko menyesali perbuatannya.


Suasana di teras rumah Regi benar-benar mengharu biru. Ketiganya saling berpelukan dan bermaafan satu sama lain. Kini, sudah tidak ada lagi perang dingin antara mereka bertiga. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah dan melanjutkan percakapan mereka di dalam.


“Mama dengar kamu sekarang bekerja di restoran milik Anya, ya?” tanya Bu Diba membuat Regi terhenyak.


“Dari mana mama tahu akan hal ini?” tanya Regi yang merasa sudah sangat rapat memelihara rahasia dimana ia bekerja.

__ADS_1


“Papa dan juga mama hanya tidak sengaja mengikutimu tadi pagi saat berangkat bekerja, Nak!” timpal Pak Djoko.


Regi menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Iya, Ma, Pa, Regi memang bekerja di sebuah restoran milik Anya.”


“Wah, mama sangat bangga mendengarnya. Ini bisa jadi pintu kita untuk bertemu dengan Anya lagi dan meminta banyak uang kepadanya. Iya, kan, Pa?” timpal Bu Diba.


“Benar, Ma. Tepat sekali! Berapa gajimu selama satu bulan?”


Ucapan Mama dan juga pertanyaan dari Papanya membuat Regi sangat terkejut mendengarnya. Ia tampak sangat kecewa saat mengetahui jika kedua orang tuanya bersikap baik hanya karena ia bekerja di Restoran milik Anya.


“Sekitar tiga juta, Pa!” jawab Regi membuat Pak Joko langsung menggebrak meja dengan keras.


“Apa? Tiga juta?”


“Dasar bodoh! Kenapa kau mau bekerja seperti ini dengan gaji yang sangat kecil Regi?” tanya Pak Joko yang langsung berubah saat mendengar nominal gaji yang keluar dari mulut putrinya.


“Seharusnya gajimu itu mencapai sepuluh juta setiap bulannya karena kau bekerja di Restoran besar dan saat ini sangat ramai di kalangan tua dan muda!” timpal Bu Diba yang sudah hilang ucapan manisnya.


“Bahkan, aku juga tidak begitu lelah bekerja di Restoran milik Anya!” jelas Regi membela dirinya sendiri.


“Dasar anak tidak tahu diuntung! Disekolahkan sampai lulus SMA juga bukannya jadi pinter, eh, malah kerja jadi buruh cuci setrika! Memangnya ijazah kamu itu buat apa?” tanya Bu Diba.


“Nyesel mama punya anak kamu!” ucapan Bu Diba barusan membuat hati Regi semakin terasa sakit.


Ketiganya kini saling duduk berhadapan dan diam. Tak lama kemudian, Regi pun mulai angkat bicara.


“Apa sih yang bisa bikin papa dan mama kembali sayang sama Regi? Apa Cuma harta yang ada di dalam pikiran?”


“Apa segitu buruknya kah Regi di mata Papa dan Mama?”


Serentetan pertanyaan yang dilontarkan Regi membuat kedua orang tuanya saling melempar pandangan.


“Kalau kau bisa menikah dengan orang kaya seperti Anya, kau akan menjadi anak kesayangan papa dan juga mama!” balas Bu Diba.

__ADS_1


Jawaban Bu Diba membuat Regi sangat kecewa. Akhirnya, ia bangun dari tempat duduknya dan bersiap untuk kembali ke kamarnya.


“Lebih baik aku angkat kaki dari sini dari pada hidup bersama orang yang sama sekali tidak menyayangiku!” ucap Regi sambil berlinangan air mata. Ia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, sedangkan Pak Joko dan istrinya saling melemparkan pandangan.


“Apa kita begitu keterlaluan, Ma?” tanya Pak Joko kepada istrinya. “Perut Regi semakin besar dan dia juga sebentar lagi akan melahirkan. Papa jadi tidak tega melihatnya seperti itu,” ungkapnya tidak tega.


“Mama hanya kecewa melihat anak kita tidak beruntung seperti Anya. Mama malu punya anak seperti Regi, Pa!” balas Bu Diba.


“Banyak jalan menuju Roma, kita masih bisa membuat Regi menghasilkan uang yang banyak seperti Anya!” tutur Pak Joko membuat Bu Diba mengernyitkan dahinya.


“Bagaimana caranya?” tanya Bu Diba.


“Bukankah di luaran sana masih banyak orang yang menginginkan seorang anak?” Pertanyaan Pak Joko langsung diangguki kepala oleh istrinya.


“Kita bisa jual anak ini dengan harga yang tinggi saat ia lahir nanti, Bagaimana?” lanjut Pak Joko.


Mata Bu Diba langsung berbinar sempurna. Bayangan tumpukan uang mulai menari-nari di matanya saat anak yang dikandung Regi nanti terlahir di dunia.


“Benar juga. Kalau begitu, kita bujuk Regi untuk tidak angkat kaki dari rumah ini, Pa!” Bu Diba langsung beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan suaminya menuju ke kamar Regi.


Keduanya sama-sama meminta maaf kepada Regi untuk yang kedua kalinya. Sayangnya, saat keduanya masuk ke dalam kamar mereka sama-sama terkejut melihat putri mereka sedang meregang nyawa dengan pergelangan tangan yang terus mengucurkan darah.


“Regi!!!” teriak Bu Diba dan Pak Joko bersamaan.


Tanpa menunggu waktu yang lama, Pak Joko langsung memanggil ambulan desa untuk membantunya membawa Regi ke Rumah Sakit.


Regi pun langsung dilarikan ke rumah sakit dan selama perjalanan, langsung diberikan pertolongan pertama oleh bidan desa. Sayangnya, banyaknya darah yang dikeluarkan oleh Regi membuatnya lemas tak berdaya dan menghembuskan nafas terakhir sebelum mereka sampai di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, bayi yang ada di dalam perut Regi masih bisa di selamatkan melewati operasi caesar. Bayi perempuan tidak berdosa itu lahir dalam keadaan prematur. Haru, sedih, bahagia, dan berbagai rasa bercampur aduk menjadi satu.


Adakah orang tua Regi menyesal karena mereka menyebabkan putrinya bunuh diri dan meninggal dunia?


 

__ADS_1


__ADS_2