
Anya pun langsung mengganti gaunnya dengan gaun yang di bawa oleh Tante Netta. Kali ini warnanya hitam, namun terlihat sangat elegan dan bagian dadanya tertutup. Sehingga Anya tidak perlu memperlihatkan dadanya lagi seperti apa yang dikatakan oleh Axel tadi.
Kali ini, Tante Netta membantu Anya memakai gaunnya. Dan setelah semuanya siap, Anya tampak sangat menawan mengenakan gaun yang masih dalam tahap finishing.
“Sempurna!” ucap Netta. “Sebenarnya semua gaun sangat cantik untukmu karena parasmu saja sudah sangat cantik!” puji Nettta membuat Anya menarik bibirnya untuk tersenyum.
“Anda terlalu memujiku, Tante!” balas Anya sambil merapikan poninya di depan kaca.
“Sebentar, ya! Tante akan panggilkan suami dan juga mamamu untuk melihat kecantikanmu mengenakan gaun ini. Aku yakin, kali ini Axel akan setuju!” Netta pun langsung keluar dan memanggil Mama Icha dan juga Axel untuk masuk ke dalam.
Axel yang melihat penampilan Anya saat ini pun langung merekahkah senyumannya. “Aku pilih gaun yang ini, ya, Tan! Tolong dipercepat finishingnya karena aku akan membayarnya lebih untuk yang satu ini!” ucap Axel.
“Waah, Tante sangat senang mendengarmu menyukainya. Sayangnya, gaun ini akan tante berikan gratis kepada Anya. Anggap saja sebagai kado pernikahan kalian dari tante!” ucap Netta membuat semua yang ada disitu sangat terkejut mendengarnya.
“Hah? Serius, tante? Ini bukan gaun yang sembarangan loh!” tutur Axel.
“Iya, Jeng! Nanti malah Jeng Netta jadi bangkrut, gimana?” balas Mama Icha.
“Wah, Anya juga gak enak loh Tante nerimanya. Ini kan pasti mahal banget!” timpal Anya lagi.
Netta pun hanya terkekeh pelan. “Udah, santai aja! Tante Netta beneran udah ada niatan kok buat hadiahkan gaun ini ke Nyonya Axello!”
Anya pun melangkah mendekati Tante Netta dan memandangnya secara intens. “Tapi, Tan! Hadiah ini terlalu mahal buat Anya terima. Apalagi untuk kita yang baru saling kenal!” balas Anya.
“Kita memang baru saling kenal. Tapi, Tante mengenal sosok Mamamu sudah sangat lama!” lanjutnya lagi membuat Anya mengerutkan dahinya.
“Benarkah?”
Mama Icha dan juga Tante Netta pun serempak menganggukkan kepalanya bersamaan. “Tentu saja, kalau kau penasaran, tante akan bercerita sambil minum teh.” ucap Netta yang langsung memanggil karyawannya untuk membantu Anya melepaskan gaunnya.
Selepas mengganti pakaiannya, Anya dan juga Axel pun duduk menikmati teh hangat sambil mendengarkan cerita dari Tante Netta. Sampai sore hari tiba, mereka baru berpamitan untuk kembali ke Mansion Utama. Cerita Tante Netta tadi membuat Anya dan juga Axel makin tahu bagaimana masa lalu Mama Divya dengan teman-temannya.
🐾🐾🐾
Hari yang ditunggu tunggu pun akhirnya tiba. Pesta Pernikahan Anya dan juga Axel hari ini dihelat di Restoran milik Papa Richie yang paling besar. Tamu undangan yang hadir kali ini bukan hanya kalangan kolega bisnis dari Papa Richie, melainkan juga teman sekolah Axel dan juga Anya.
Tidak hanya itu, Pesta Pernikahan mereka juga ditayangkan di salah satu televisi lokal kota. Tayangan tersebut diketahui oleh salah satu anggota keluarga dari Anya yang tak lain adalah Pakde dan juga Budhenya yang merupakan kakak dari Mama Divya.
__ADS_1
“Diba, kenapa mempelai wanitanya seperti mendiang adik perempuanmu saat muda ya?” gumam Pakde Joko yang tengah menikmati siaran acara televisi.
“Tapi Divya sudah meninggal, Mas!” balas Budhe Diba sambil menajamkan matanya untuk melihat mempelai wanitanya.
Terdengar pembawa acara menyebutkan bahwa pesta pernikahan tersebut adalah pernikahan antara Axello Richandra dengan Divanya Elea Razil dan membuat Pakde dan Budhe Diba sangat terkejut mendengarnya.
“Iya, itu Anya, anaknya Divya! Wah, berarti kehidupan Anya sekarang sudah kembali menjadi baik setelah kedua orang tuanya meninggal!” tutur Budhe Diba.
“Benar! Bahkan bukan cuma jadi orang kaya. Sekarang malah jadi Konglomerat!” balas Pakdhe Joko.
“Ini tidak bisa dibiarkan! Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini Diba!” Pakdhe Joko mulai berdiri dari tempat duduknya. “Kita harus segera menemui Anya. Bagaimanapun, kita kan saudaranya juga!”
“Tapi jangan sekarang, Mas! Yang kita nanti bukannya menikmati pesta, tapi malah bermalam di Kantor Polisi!” balas Budhe Diba.
“Bener juga katamu! Baiklah, kalau begitu, besok kita harus ke kediaman Tuan Richie!” timpal Pakdhe Joko yang begitu antusias.
Sedangkan di acara pesta pernikahan Anya dan juga Axel, semuanya benar-benar menikmati acara dengan nikmat. Tim Intel yang kebetulan diundang juga turut memberikan ucapan selamat.
Mr. Jeff datang bersama kembarannya, Ceffro yang biasa dipanggil Mang Encep. Penampilan keduanya membuat beberapa tamu undangan yang masih gadis memandang ke arah mereka.
Sebagian teman kuliah Anya memang belum banyak yang tahu jika dosen tampannya itu memiliki kembaran yang identik. Bahkan karena penampilan mereka yang sama, keduanya sangat susah untuk dibedakan.
“Selamat, ya, Pak Axel dan Anya!” ucap Mr. Jeff.
“Aamiin!” jawab Axel dan juga Anya bersamaan.
“Terima kasih banyak Mr. Jeff dan Mang Encep atas doanya!” lanjut Anya.
Pesta Pernikahan antara Axel dan juga Anya pun juga diketahui oleh Jacqueline yang kebetulan sedang menyapu lantai sambil menonton televisi. Kebahagiaan Anya dan juga Axel yang terlihat oleh Jacqueline membuat tangannya mengepal dengan geram.
“Argh, sial! Anak Divya seharusnya tidak pantas untuk merasa bahagia! Dia harus merasakan apa yang sudah aku rasakan karena sakit hati atas penolakan Divya!” gumam Jacqueline dengan kesal.
“Aku harus bisa melarikan diri dari sini." Jacqueline langsung memperhatikan sekeliling penjara.
"Tapi, lewat mana ya? Semuanya sudah di tembok tinggi dan aku hanya bisa keluar dari satu pintu saja yang ada di depan."
Kemarin, saat Hellencia meninggal dunia, Jacqueline sempat terkunci lama di dalam gudang dan akhirnya tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya narapidana yang sengaja mengunci Jacqueline pun akhirnya membuka pintu dan menyeret Jacqueline ke dalam sel.
Sejak saat itu, Jacqueline selalu jadi bahan bulian mereka dan tentunya membuat Jacqueline sangat tertekan. Seperti halnya hari ini.
__ADS_1
Ketika narapidana yang lain sudah menikmati makan pagi, Jacqueline justru masih bersih-bersih. Padahal sekarang sudah hampir jam dua belas siang.
Tiba-tiba, Jacqueline melihat seorang ibu ibu yang bertugas memasak di dapur penjara berjalan menuju ke tempat sampan yang ada di belakang gudang. Jacqueline diam diam mengikuti ibu-ibu tersebut dari belakang.
Setelah keadaannya terlihat sepi dan aman, Jacqueline langsung memukul tengkuk leher tukang masak tersebut menggunakan sapu berkali-kali sampai terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Jacqueline pun tidak mau membuang buang waktu. Ia segera melucuti pakaian tukang masak tersebut dan juga pakaian miliknya.
Kemudian ia bertukar pakaian mengenakan pakaian tukang masak dan
"Huueek!" Seketika rasa mual datang saat aroma pakaian tukang masak tersebut sangat bau menurut Jacqueline.
Bukan hanya sekedar bau bumbu masakan atau minyak panas. Namun, aroma keringat tukang masak tersebut membuat Jacqueline hampir muntah.
"Busyeet dah! Ni baju bau ketek banget! Mana aroma ya pait bener lagi ampe masuk ke tenggorokan!" umpat Jacqueline dengan jijik sambil menutupi tubuh tukang masak itu dengan pakaian narapidananya.
"Maaf ya buk, gak aku pakein baju. Abisnya ribet banget. Keburu gak bis kabur, ntar!"
Jacqueline bergegas meninggalkan tukang masak dan berjalan dengan santai melewati koridor yang menghubungkan antara penjara dengan Kantor Polisi.
Kebetulan para polisi juga sudah bersiap untuk istirahat kerja dan makan siang. Jadi, situasi sangat aman terkendali.
Sesampainya di depan gerbang kantor polisi, Jacqueline pun langsung menyetop angkutan umum yang lewat.
'Huft! Ternyata melarikan diri semudah ini!' batin Jacqueline saat angkotnya berhenti dan Jacqueline pun langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Kebetulan Angkot yang ia naikin tidak penuh sesak dan membuat Jacqueline bisa bernafas lega. Namun, tiba-tiba ia teringat jika tidak memiliki uang sepeser pun. Akhirnya, mulailah Jacqueline berakting mengeluarkan air mata buayanya.
"Ada apa mbah?" tanya seorang anak perempuan yang memakai seragam SMA.
'Sial, aku dipanggil mbah lagi sama anak ingusan ini. Kalo lagi gak butuh uang usah aku gampar nih mulutnya!' rutuk Jacqueline dalam hati.
"Aku baru saja kecopetan dan tidak punya uang sama sekali!" balas Jacqueline dengan terisak-isak.
"Owh, kasihan sekali mbah ini!" timpalnya sambil merogoh saku seragam dan menyodorkan uang kertas lima ribu ke arah Jacqueline.
"Ini ada uang lima ribu, Mbah. Semoga bisa membantu mbah pulang ke rumah!" ucap anak SMA tersebut.
'Alamaaaak, uang segini dapet apaan?' pekik Jacquline dalam hati.
__ADS_1
'Dasar kere! Udah manggilnya gak sopan lagi!' batin Jacqueline yang terus saja merutuki kekesalannya sampai tidak mengucapkan terima kasih mesti uangnya sudah ia terima.
🐾🐾🐾