
Satu minggu kemudian,
Anya akhirnya diizinkan Axel untuk bertemu dengan teman-teman kampusnya dulu di Restoran miliknya sendiri. Kali ini, Anya ditemani oleh Ika sesuai dengan permintaannya. Meskipun begitu, Anya tetap datang sambil membawa undangan pesta pernikahannya dengan Axel yang akan dihelat satu minggu yang akan datang.
“Intel Ika, berapa usiamu saat ini?” tanya Anya saat mobil mereka sudah membelah jalanan ramai sore ini.
Meski sudah satu minggu lebih Anya didampingi oleh intel Ika, baru kali ini mereka pergi berdua saja. Karena biasanya Anya pasti didampingi oleh Mama Icha yang teramat posesif terhadapnya melebihi Axel.
“Dua puluh empat tahun, Nona!” balas Intel Ika.
“Wah, kalau begitu aku akan memanggilmu kakak di depan teman-temanku, nanti! Tidak masalah, bukan?” tanya Anya meminta persetujuan.
“Oke, Nona!” balas Intel Ika datar.
“Tapi, kamu jangan panggil Nona! Panggil saja Anya!” pinta Anya.
“Itu sangat tidak mungkin, Nona!” tolak Intel Ika yang memang sudah ditugaskan khusus untuk menjaga Anya dengan baik.
“Aku keberatan dipanggil dengan sebutan Nona di depan teman-temanku!” lanjut Anya lagi.
Suasana mobil pun kini hening seketika. Intel Ika sendiri mulai memikirkan bagaimana ia harus memanggil nama Anya di depan teman-temannya.
“Kalau begitu, nanti saya akan panggil anda dengan sebutan Cici Anya! Bagaimana?” tawar Intel Ika kemudian dan Anya pun mengangguk setuju.
Sesampainya di Diorama Resto, Anya langsung keluar dari mobil tanpa dibukakan terlebih dahulu oleh Intel Ika. Kemudian mereka berdua berjalan menuju pintu masuk Restoran yang selalu penuh dengan pengunjung. Mayoritas pengunjungnya saat ini memanglah kalangan anak muda.
Dari kejauhan, sosok Anya sudah tertangkap oleh Dela yang sudah tiba lebih dahulu.
“Anyaaa!” teriak Dela yang sudah sangat merindukan sahabatnya ini. Ia langsung berlari dan merentangkan tangannya untuk memeluk Anya.
Namun, dengan sigap Intel Ika langsung menghalanginya. “Mohon maaf, Cici Anya tidak bisa sembarangan dipeluk!” tegas Ika.
Anya dan juga Dela langsung memandang ke arah Intel Ika yang terlampau posesif terhadapnya.
“Kakak!” tegur Anya yang sedikit keberatan dengan sikap Intel Ika.
“Ini memang permintaan suami Cici!” tegas Intel Ika membuat Anya memutar bola matanya malas.
Dela langsung mengernyitkan dahinya saat mendengar kata-kata suami dari bibir Intel Ika.
__ADS_1
“Siapa perempuan yang kau panggil dengan sebutan Kakak ini, Anya?” tanya Dela sambil menunjuk ke arah Intel Ika.
“Lalu, dari kapan kamu menikah? Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? Sebenarnya apa yang udah terjadi sama kamu selama ini, Anya?” serbu Dela dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku bisa jelasin semuanya, Dela!”
“Kamu anggap aku ini apa? Aku tulus sahabatan sama kamu, Anya! Tapi kenapa masalah seperti ini aku justru gak tahu sama sekali? Aku kecewa!” ucap Dela.
Anya pun langsung memeluk sahabatnya itu sambil meminta maaf. Ia berjanji akan menceritakan semuanya setelah ini. Keduanya kini jadi bahan tontonan gratis di Restoran milik Anya sendiri karena Anya dan juga Dela bertemu tepat di tengah Restoran.
Saat ada pengunjung hendak mengeluarkan ponselnya untuk merekam pertemuan mereka berdua, Intel Ika dan karyawan Anya langsung menegaskan pengunjung i[untuk tidak merekam dan kembali menyimpan ponsel mereka.
Dela pun kemudian mengajak Anya berkumpul di meja yang sudah reservasi sebelumnya. Terlihat ada beberapa teman kuliah Anya yang turut hadir sambil membawa pasangan mereka.
Ada Ayula, Dewi, Indri, dan juga Laura. Bahkan Dela pun membawa kekasih barunya yang tak lain teman kampus mereka dulu. Padahal sebelumnya, Dela sudah berjanji untuk girls time sampai Anya tidak membawa Axel ikut serta.
Di antara mereka semua, hanya ada satu pria yang datang tidak membawa pasangan. Tak lain dan tak bukan adalah Mr. Jeff, dosen Anya yang sudah lama memendam rasa terhadap Anya.
“Hai, semuanya!” Anya melambaikan tangannya menyapa teman-temannya. “Hai, Mr. Jeff! Kita bertemu lagi, ya!” lanjutnya lagi menyapa Mr. Jeff secara khusus.
“Ciee …!” serentak Ayula, Dewi, Indri, dan juga Laura memandang ke arah Mr. Jeff.
“Jadi, Cuma Mr. Jeff aja nih yang disapa secara khusus sama Anya?” tanya Ayula.
“Wah, kayaknya bakal ada yang jadian nih malam ini!” lanjut Indri.
Sedangkan Anya hanya tersenyum simpul sambil menarik kursi dan duduk di samping Dela. Kemudian, Intel Ika pun berbisik untuk pamit ke toilet sebentar.
“Maaf, Nona! Saya ke toilet sebentar, ya!” bisik Intel Ika dan Anya pun menganggukkan kepalanya.
Wal hasil, kini bangku di samping Anya pun kosong.
“Hush! Jangan bahas itu dulu, deh!” Dela yang sudah mendengar jika Anya telah menikah pun tidak lagi melanjutkan rencana mereka untuk menjodohkan dosennya dengan Anya.
“Mendingan kita dengerin dulu nih cerita Anya yang udah gak ada kabar selama tiga bulan lebih!” lanjut Dela.
“Ide bagus, tuh!” timpal Laura yang sudah sangat penasaran dengan cerita Anya. “Tapi, sebelumnya … Gimana kalo Mr Jeff pindah duduk di samping Anya? Kan kasihan kalo Anya gak ada pasangannya. Iya gak, guys!”
“Eh, gak usah!” tolak Anya yang tidak ingin memberi harapan kepada Mr. Jeff.
__ADS_1
“Udah, deh, Anya! Sekali-kali ini!” timpal Indri.
“Saya di sini aja!” Mr. Jeff mulai buka suara. “Saya takut Anya gak nyaman dengan keberadaan saya di sampingnya!” lanjutnya lagi sambil memandangi Anya dari tempat duduknya.
“Tapi kan tadi bapak bilang kalau mau …” Kalimat Ayula terhenti saat melihat ada sosok lelaki tampan yang berdiri tepat di belakang Anya dan menarik kursi kosong di samping Anya. Kemudian ia duduk di sana membuat semuanya tercengang.
“Maaf, ya, Sayang! Abang terlambat sedikit!” ucap Axel sambil mengecup pipi Anya dengan mesra di depan teman-teman Anya.
Kedatangan Axel saat ini membuat semuanya langsung melongo kecuali Mr. Jeff yang memang sudah bertemu dengan mereka berdua sebelumnya.
“Anya ternyata udah punya pasangan juga, ya?” tanya Ayula yang sangat tercengang dengan kedatangan Axel.
“Jadi, ini suami Anya!” timpal Dela histeris. “Cakeep bangeeeet!”
Ucapan Dela barusan membuat yang lainnya semakin tercengang, “Suami?!” tanya mereka secara serempak, sedangkan Mr Jeff hanya menghela nafasnya panjang mendengar kenyataan yang baru ia dengar.
‘Ternyata, Anya udah nikah sama cowok yang ini?’ gumam Mr. Jeff dalam hati. Kecewa tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tahu begini, dulu ia cepat-cepat menyatakan perasaannya terhadap Anya.
“Kami memang sudah menikah. Namun, pesta pernikahannya akan dihelat minggu depan!” tutur Axel sambil menggenggam jemari Anya dengan mesra.
Anya pun tersenyum dan mengeluarkan undangan pesta pernikahannya dengan Axel dari dalam tasnya. “Ini undangannya! Kalian jangan lupa untuk datang ya!”
“Titip buat temen yang lain juga, ya, Dela!” lanjut Anya yang langsung diangguki oleh Dela.
Keberadaan Axel kali ini membuat teman-teman Anya tidak puas bercengkrama dengan Anya karena Axel tampak begitu posesif. Sedangkan Mr. Jeff yang sudah merasa tidak nyaman pun langsung undur diri terlebih dahulu.
“Maaf, saya harus pulang duluan karena ada hal urgent dalam keluarga saya!” pamit Mr. Jeff.
“Pak Axel, Anya, selamat ya untuk pernikahan kalian berdua. Saya akan usahakan datang nanti!” lanjutnya lagi.
“Terima kasih, Mr . Jeff!” balas Anya dan juga Axel beriringan.
Dela pun mengernyitkan dahinya dan menatap ke arah Anya. “Suami kamu udah kenal sama Mr. Jeff?” tanya Dela.
“Emm, kita memang pernah bertemu di Warung Baksonya Mang Encep!” balas Anya.
“Ya udah, langsung pesen makanan aja. Kali ini biar saya yang bayar!” ucap Axel.
“Wah, jadi ngerepotin nih!” balas Dio kekasih Dela. “Gimana kalo yang cowok pindah ngobrol di meja samping? Kayaknya suami Anya pebisnis handal nih.”
__ADS_1
“Boleh juga, tuh! Biar yang cewek juga ngobrolnya enak!” timpal Dela.
Akhirnya, para cowok berpindah tempat duduk dan memberi waktu pada pasangan mereka untuk saling bercerita.