
Sesampainya di apartemen, Axel langsung masuk ke dalam kamar Anya. Tampak Anya sedang memejamkan matanya di samping mamanya. Kedatangan Axel kali ini membuat Mama Icha bangun perlahan-lahan dan merapatkan selimut Anya.
Kemudian ia mengajak putranya untuk bicara di luar kamar agar tidak mengganggu Anya yang baru saja memejamkan matanya.
“Bagaimana dengan Papa?” tanya Mama Icha yang mengkhawatirkan keadaan suaminya sedari tadi.
“Papa masih menunggu untuk di BAP. Mama tenang saja, semua bukti dan saksi sudah disiapkan untuk membela papa. Hanya saja, Hellen justru mengungkit tentang perjanjian pernikahan aku dengan Anya.”
“Dia mengancam untuk menjebloskan Anya ke penjara dan menemaninya di dalam sana!” ungkap Axel membuat Mama Icha sangat terkejut.
“Kurang Ajar, anak itu! Mama tidak rela jika Anya masuk ke dalam sel, Axel!” balas Mama Icha mulai gusar.
“Axel juga tidak rela, Ma! Makanya itu Axel minta Tian untuk memanggil pengacara yang mengurus surat perjanjian kemarin untuk datang ke apartemen!” balas Axel sambil mengusap wajahnya kasar. Titik penyelesaian masalah belum semuanya ketemu membuatnya masih belum bisa tenang dan bernafas lega.
“Anya gimana, Ma?” tanya Axel sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Seharian mengurusi berbagai masalah membuat tubuhnya terasa sangat lelah. Pagi harinya sudah diwarnai dengan percekcokannya dengan Hellencia yang terus merembet kemana-mana. Sampai kini, waktu menunjukkan jam 3 sore, Axel masih harus memikirkan ancaman Hellen.
Belum lagi ia masih harus berusaha untuk meminta maaf kepada Anya atas kebohongannya selama ini yang menutupi kesalahan papanya dan juga merahasiakan kebenaran tentang Anya.
“Cuci muka dulu dan temui Anya di kamarnya. Mama rasa kamu tidak akan kehilangan bidadari cantikmu itu, Axel. Anya benar-benar wanita berhati malaikat, Axel!” ucap Mama Icha membuat rasa lelah Axel hilang seketika.
Ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mencuci muka di kamar mandi. Kemudian ia mengamati wajahnya di cermin.
“Huft, seharian mondar-mandir membuat ketampananku sedikit berkurang!” gumam Axel.
“Lebih baik aku mandi terlebih dahulu sebelum menemui Anya!”
Axel pun kemudian melepaskan pakaiannya dan mandi secara kilat karena ia sudah sangat tidak sabar untuk menemui istrinya. Setelah menyelesaikan mandi kilatnya, Axel segera mengenakan kaos dan juga celana pendeknya. Kemudian ia menuju ke kamar istrinya.
Mama Icha melihat penampilan putranya yang fresh pun langsung menyunggingkan senyumannya. “Semangat untuk merayu istri, ya!” ucap Mama Icha membuat Axel makin semangat.
__ADS_1
“Makasih banyak, Maa!” balas Axel.
Tepat di depan pintu kamar Anya, Axel menggosokkan kedua tangannya berkali-kali sebelum membuka handle pintu.
“Tuhan, bantu aku untuk merayu istri kesayanganku kali ini!” pinta Axel dan kemudian ia mulai membuka pintu kamar Anya pelan-pelan.
Anya masih terlihat meringkuk di dalam selimut karena AC di kamar Anya diatur cukup dingin. Perlahan Axel naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Sedikit demi sedikit ia merapatkan jaraknya dengan Anya dan tangannya mulai bergerak memeluk istrinya dari belakang.
Pelukan Axel kali ini membuat Anya mulai terjaga dari tidurnya. Matanya mulai membuka perlahan dan kesadarannya pun mulai terkumpul. Aroma sabun mandi Axel yang tercium di hidung Anya membuat bibir Anya tertarik melukiskan senyumannya.
Anya mulai menggerakkan tangannya menyentuh tangan Axel membuat Axel semakin merapatkan pelukannya. “Maafkan aku, Sayang karena sudah membuatmu merasa sangat kecewa dan mungkin juga menyesal karena telah mengenalku!” bisik Axel.
Anya yang tadinya mengusap tangan Axel dengan lembut pun kini berganti jadi mencubitnya dengan kesal. “Kenapa sih gak bilang jujur aja dari dulu?” tanya Anya dengan mode kesal.
“Awh, sakit sayaaang!” keluh Axel dengan nada manja sambil mengusap tangannya yang memerah karena cubitan Anya.
“Biarin aja! Salah siapa bo-ong!” balas Anya sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Axel.
“Abang ngaku salah, Sayang! Anya boleh hukum Abang apa aja, asal kesalahan Abang kali ini dimaafkan!” pinta Axel.
“Abang gak sanggup dicuekin sama istri Abang yang cantik ini!” lanjutnya lagi membuat Anya kembali mencubit tangan Axel untuk yang kedua kalinya.
“Nih, hukuman buat Abang yang udah bikin Anya kesel!” balas Anya.
“Awh!” pekik Axel lagi. Cubitan Anya yang kedua ini lebih sakit dari yang pertama. “Abang rela deh dicubit sekenceng apapun asal Anya maafin Abang. Mau dicubit punya Abang yang bawah juga gak papa asal istri Abang suka!” tutur Axel membuat Anya berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Axel karena tiba-tiba senjata milik Axel mulai berdiri dan menyentuhnya dari belakang.
“Iiiih! Abang nih minta maaf kok malah parno gini sih!” gerutu Anya yang sudah terlepas dari pelukan Axel dan kini berbalik menghadap ke arah suaminya.
Axel hanya tersenyum dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang Anya. “Bukan parno, Sayang! Intinya, Abang rela mau dihukum apa aja atas kesalahan Abang! Maafin Abang, yaa!” ucap Axel sambil menatap kedua Netra Anya.
Tatapan Axel kali ini membuat wajah Anya seketika merona dan sedikit salah tingkah. Anya pun hanya berdehem singkat sambil memutar bola matanya menghindari tatapan dari Axel.
__ADS_1
“Hemm!” jawab Anya membuat Axel mulai gemas mendengarnya.
Tangan Axel langsung memegang dagu istrinya dan membuat Anya tetap memandang ke arahnya.
“Abang minta maaf, ya Sayang!” pinta Axel lagi sambil menatap Anya dengan hangat.
“Iya. Anya udah maafin!” balas Anya lirih.
Axel pun kemudian menarik dagu Anya dan mendaratkan ciumannya. Dengan lembut Axel memagut bibir istrinya sebentar dan kemudian melepaskannya.
“Terima kasih, Sayang! Aku sangat mencintaimu!” ucap Axel sambil mengusap bibir Anya dengan jarinya.
“Aku juga sangat mencintaimu, Abang!” balas Anya.
Axel pun kembali mendaratkan ciumannya dan kembali memagut bibir Anya. Kali ini, Anya juga membalas pagutan suaminya dan membuat rasa marah sekaligus rasa kecewanya berubah menjadi gelora asmara yang begitu membara.
Bahkan, kini Anya merasakan jika berciuman selepas ada masalah ternyata rasanya sangat berbeda. Perasaan cinta dan hasratnya lebih membuncah dibandingkan yang biasanya.
Tangan Anya kini mulai melingkar di leher Axel sedangkan tangan Axel justru menarik tengkuk leher Anya untuk memperdalam pagutannya. Sampai saat Anya hampir kehabisan nafas, Axel barui mulai melepaskan pagutannya.
“Kau benar-benar membuatku candu, Sayang!” ucap Axel yang mulai melepaskan kancing piyama yang digunakan oleh Anya.
“Kali ini, izinkan aku untuk menjenguk anak kita!” lanjut Axel yang sudah mulai menanggalkan piyama yang dikenakan oleh Anya.
“Tapi ini masih sore, Abang!” kilah Anya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Masalahnya, si otong gak tau waktu sore, malam, pagi, atau siang, Sayang!” Axel menunjuk miliknya yang mulai berdiri tegak.
“Tuh liat aja deh kalo gak percaya!”
__ADS_1