Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Keadaan Hellencia Belum Membaik


__ADS_3

Setelah Dokter Gita dan juga papa mama Axel keluar dari kamar, Axel langsung memandangi wajah istrinya secara intens sambil memanyunkan bibirnya.


“Kenapa sih, Abang? Jadi jelek tauk kalo bibirnya manyun begini!” ucap Anya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di rahang Axel.


“Yaa, aku kan kesel! Harusnya itu aku dulu yang ngucapin selamat sama kamu. Ini malah aku jadi orang yang terakhir ngucapin selamat atas kehamilan istri kesayangan aku!” gerutu Axel sambil mengusap perut Anya yang masih datar.


“Tapi, Abang tetap jadi satu-satunya orang yang bisa jengukin calon dedek bayi looh!” timpal Anya membuat senyum Axel merekah lebar dan rasa kesalnya seketika menguar.


Dengan manja Axel langsung meletakkan kepalanya di atas pangkuan Anya dan menyingkap piyama yang dikenakan istrinya. Kemudian ia mencium perut Anya dengan sangat lembut dan lama.


“Abang sih pingin jengukin calon dedek bayi, tapi nanti nunggu mamanya sehat dulu!” Ucapan Axel kali ini membuat Anya menyunggingkan senyumannya.


“Terima kasih yaa, Sayang! Sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa dalam keluarga Abang. Abang sampai gak bisa bilang apa-apa lagi mendapatkan kebahagiaan ini,” ungkap Axel.


“Kehadiranmu, bukan hanya membuat Abang merasakan indahnya hidup. Tetapi, papa dan juga mama juga tampak merasakan hal yang sama.”


“Kau tahu, Papa marah besar denganku saat mendengarmu sakit karena kelelahan semalam. Apalagi, Mama. Dia sampai memintaku untuk tidak lagi mempekerjakan kamu dan tinggal di Mansion menemani Mama!”


Ucapan Axel kali ini membuat Anya terharu mendengarnya. Ia sendiri merasakan kasih sayang kedua orang tua Axel sangat tulus untuknya, bahkan sebelum mereka mengetahui kehamilan Anya.


Kemarin saja, Anya sengaja dibelikan Papa Richie ponsel keluaran terbaru dengan fitur yang super canggih. Sedangkan Mama Icha berulang kali membelikan dress atau tas branded untuk Anya. Padahal, Anya tidak pernah memintanya sama sekali.


“Anya kan sudah bilang, Anya sangat senang memanjakan lidah banyak orang dengan masakan buatan sendiri. Lagi pula yang jamuan kemarin itu juga Chef lain juga ikut bantuin kok!” balas Anya menimpali ucapan Axel.


“Tapi tetap aja, papa sama mama kayaknya gak mau denger alasan apapun itu. Terlebih saat ini kamu sedang hamil muda!” timpal Axel yang beranjak dari pangkuan istrinya.


“Sarapan dulu, ya sayang! Biar Abang suapin!” ucap Axel yang langsung diangguki oleh Anya.


Axel pun langsung mengambil nampan yang ia letakkan di atas meja dan siap untuk menyuapi istrinya.


“Mual gak, Sayang?” tanya Axel dan Anya langsung menggelengkan kepalanya.


“Gak mual, cuma agak lemes aja, Bang!” jawab Anya.

__ADS_1


“Habis makan, langsung minum obat yaa. Hari ini, Abang temenin di rumah. Kerjaan di Kantor biar di handel dulu sama Tian!” ucap Axel yang ingin fokus menemani istrinya sampai pulih.


Sedangkan di sisi lain, Hellencia yang selama ini ditunggu oleh orang kepercayaan Axel di rumah sakit pun mulai mengeluh karena sudah seminggu Axel sama sekali tidak datang mengunjunginya.


“Bik Kurni!” panggil Hellencia.


“Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bik Kurni.


“Bisa tolong panggilkan Axel untuk datang menjengukku?” pinta Hellencia. “Sudah seminggu ini dia tidak datang menemuiku!” lanjutnya lagi yang sudah sangat merindukan kehadiran Axel.


“Tapi, Tuan Axel kemarin sudah berpesan kepada saya untuk tidak menghubunginya karena Restoran sedang ada tender besar akhir-akhir ini. Sepertinya Tuan Axel juga sedang sibuk!” jelas Bik Kurni yang sudah diberi ultimatum untuk tidak selalu menghubungi Axel meski itu adalah perintah dari Hellencia.


Hellencia pun hanya bisa pasrah mendengar jawaban dari Bik Kurni. Pandangannya kembali kosong dan seperti tidak ada untuk semangat hidup lagi.


Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan tampak Cintia tengah mengunjunginya mengenakan kursi roda seorang diri.


“Cintiaaaa!” panggil Hellencia dengan mata yang berkaca-kaca. Sudah satu bulan ia dirawat di rumah sakit, baru kali ini intia mengunjunginya. Dan kini ia datang dengan menggunakan kursi roda.


Di belakangnya, tampak Dokter Firman mendorong istrinya untuk menemui Hellencia.


“Sayangnya aku tidak, Hellen!” balas Cintia dengan nada ketus.


“Aku justru sangat menyesal sudah mengenalmu, Hellen! Karena ide gilamu, kini aku harus mengalami penyakit mengerikan ini!” lanjut Cintia yang kemudian menangis tersedu-sedu.


Wajah Cintia memang terlihat sangat pucat dan kuyu. Tapi Hellen sama sekali tidak mengetahui apa yang sudah terjadi dengan sahabatnya yang satu ini.


Sejak Hellencia masuk rumah sakit dan terinfeksi virus klamidia, Cintia langsung memblokir nomor ponselnya. Tidak hanya Cintia, kekasih wanita Hellencia yang lainnya pun juga sama. Banyak dari mereka yang sudah sangat was-was saat mendengar sakit yang dialami oleh Hellencia.


“Aku juga sakit, Cintia! Kita berdua sama! Aku mohon, janganlah seperti ini! Kau lihat aku! Aku juga lebih menyedihkan daripada kamu!”


“Mas Axel bahkan sama sekali tidak menemani aku di rumah sakit. Sedangkan kau masih sangat beruntung karena Dokter Firman masih setia menjagamu saat sakit!”


Ucapan Hellencia kali ini membuat Cintia berteriak tidak terima, “Kita gak sama, Hellen! Kau penjahat yang menyebarkan penyakit mematikan!” pekik Cintia. “Dan aku –”

__ADS_1


“Aku korban yang bodoh karena mau mengikuti semua permainanmu!”


“Aku rela mengikuti kemauanmu yang memintaku untuk memperbesar p*****raku hanya agar kau puas memainkannya!”


“Dan kini, aku mengidap kanker kelenjar getah bening stadium akhir karena implant yang kau tawarkan beberapa tahun yang lalu!” ungkap Cintia membuat Hellen turut menitikkan air matanya.


Cintia akhirnya membeberkan penyakitnya kepada Hellencia dimana ia mengidap kanker karsinoma sel skuamosa dan limfoma yang sering dikenal dengan sebutan kanker getah bening yang muncul di sekitar implant yang sudah dipasang lima tahun lebih di p******a Cintia.


“Aku memang bodoh, Cintia! Aku memang salah! Aku mohon, maafkan aku!” tutur Hellencia sambil menangis.


Tangisan Hellencia kali ini membuat Cintia menggerakkan kursi rodanya ke arah Hellencia.


“Hidupku juga sudah tidak lama lagi, Hellencia! Meski aku sangat menyesal sekarang, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengembalikan semuanya ke sedia kala!”


“Bertobatlah, Hellencia! Aku juga hanya bisa meminta ampun papa Tuhan agar semua dosa-dosaku yang lampau bisa diampuni.” Tangan Cintia terulur mengusap lembut lengan Hellencia.


Hellen mengangkat kepala dan beringsut turun dari bed nya. Kemudian ia tersungkur memeluk kaki Cintia.


“Aku mohon, maafkan aku, Cintia!”


“Aku juga sangat menyesali semua yang sudah aku lakukan. Maafkan aku, Cintia!” pinta Hellencia.


“Aku memaafkanmu, Hellencia! Dan kini, aku juga berharap Tuhan juga bisa memaafkan semua kesalahanku!” timpal Cintia dengan suara yang lirih.


Perlahan Cintia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi roda dan matanya mulai tertutup pelan. Sedangkan Dokter Firman pun langsung tanggap dengan reaksi Cintia kali ini. Ia pun langsung menggoyangkan tubuh Cintia yang masih ada di atas kursi roda.


“Cintia! Bangun, Cintia!” ucap Dokter Firman sambil mengecek denyut nadi istrinya.


Hellencia terkejut bukan main dan turut menggoyangkan tubuh Cintia. Sayangnya, tidak ada respon dari Cintia dan Dokter Firman pun cepat-cepat membawa Cintia keluar dari ruangan inap Hellencia untuk segera memeriksa keadaan istrinya.


Sesampainya di ruangan, Cintia pun langsung diperiksa secara menyeluruh oleh Dokter yang lain. Kini, Cintia sudah dinyatakan meninggal dunia karena sebelumnya, kanker yang diderita olehnya memang sudah sangat ganas dan tidak bisa diobati.


Dokter Firman pun hanya bisa menahan dirinya agar tetap kuat menghadapi kematian istrinya. Setidaknya, keinginan Cintia yang terakhir kalinya untuk bertemu dengan Hellencia bisa ia penuhi.

__ADS_1


Kabar kematian Cintia membuat Hellencia semakin drop karena semakin ketakutan dengan apa yang dialami oleh sahabatnya. Peringkat Kanker Serviks yang tadinya masih dalam stadium awal, kini justru naik menjadi stadium 2 dan kondisinya semakin tampak memprihatinkan.


Bik Kurni pun mau tidak mau langsung menghubungi Axel untuk memberitahukan keadaan Hellencia yang semakin drop karena kematian Cintia. Akhirnya, Axel memutuskan untuk menjenguk Hellencia selepas pulang dari pemakaman Cintia.


__ADS_2