
Setelah makan siang bersama, Papa Richie langsung mengajak Mama Icha pulang ke Mansion Utama. Sedangkan Anya dan juga Axel menuju ke roof top. Namun, saat keduanya baru keluar dari ruangan, tampak Regi sudah menunggu Anya dan berdiri tepat di depan pintu ruang kerja Anya.
Penampilan Regi yang sangat berbeda saat Axel temui pertama kali membuatnya sangat terkejut melihat Regi yang sedikit lebih berisi dan dengan perut yang sudah besar. Bukan hanya itu, kali ini Regi juga mengenakan seragam karyawan yang bekerja di Diorama Restoran milik istrinya.
Selama Axel berada di luar kota, Anya memang tidak pernah membicarakan mengenai Regi sama sekali. Anya hanya melaporkan tentang ramai atau tidaknya restoran pada hari itu. Bahkan mengenai kerja sama atau persewaan Restoran juga sedang dinonaktifkan dengan alasan Axel tidak mau istrinya terlalu lelah.
Selebihnya, mereka hanya saling meluahkan kerinduan mereka masing-masing. Jadi sangat wajar jika Axel sama sekali tidak mengetahui keberadaan Regi di sini. Tiba-tiba saja, mata Regi berkaca-kaca sambil memanggil nama Anya.
“Non Anya!” panggil Regi dengan nada yang memelas.
Belum sempat Anya menjawab panggilan kakak sepupunya, Axel sudah langsung menegurnya dengan tegas.
“Prosedur untuk menemui atasan bukanlah seperti ini!”
“Harusnya, kau menemui manager restoran ataupun Intel Ika jika memang ada masalah dalam pekerjaan. Tapi, jika masalahnya ada pada dirimu sendiri atau berhubungan dengan masalah pribadi, kau juga tidak patut untuk langsung menemui Anya!” jelas Axel.
“Kau bisa menemui Intel Ika karena dia yang mengurus segala sesuatu tentang istriku!” tegas Axel yang langsung menarik tangan istrinya dengan sangat lembut dan meninggalkan Regi.
“Ayo, Sayang!”
Anya sendiri tidak bisa menolak ajakan suaminya sama sekali. Sebab, apa yang dilakukan oleh Axel memang benar adanya. Sedangkan Regi hanya bisa memandang kepergian Anya dengan tatapan kesal dan rasa iri dalam hatinya semakin membuncah.
‘Argh, sial!’ umpat Regi dalam hati.
‘Suami Anya benar-benar sangat protektif dan idaman semua wanita,’ batin Regi sambil menendang tempat sampah yang ada di depannya.
‘Aih, kenapa bukan aku aja sih yang punya suami kayak Axel? Setidaknya, tidak perlu terlalu kaya tapi penuh perhatian dan memiliki penghasilan yang tetap!’ gumam Regi.
__ADS_1
Matanya memandang ke arah tombol lift yang menuju ke atas dan keningnya langsung berkerut.
‘Loh, aku fikir ruang kerja Anya ini udah yang paling atas. Ternyata masih ada yang lebih atas lagi, ya!’
Regi mulai penasaran dan melangkahkan kakinya menuju ke lift khusus yang menuju ke roof top. Namun, saat ia memencet tombol ke atas, namanya langsung ditegur oleh seseorang yang sudah berdiri tepat di belakang Regi.
“Dilarang memencet tombol tersebut!” tegur Intel Ika dengan sangat tegas. “Apa yang ingin anda lakukan di sini? Sikap keingintahuan anda yang sangat besar justru membuat saya merasa sangat curiga.”
Keberadaan Intel Ika yang sudah berdiri tegak di belakang Regi membuat Regi menelan ludahnya kasar. Tubuhnya seketika gemetaran dan nafasnya terasa begitu sesak. “Emm, ma-maaf Intel Ika. Saya tadi hanya tidak sengaja memencet tombol tersebut!” jawab Regi sedikit tergagap.
“Kebohonganmu kali ini membuat kecurigaanku semakin bertambah. Mulai sekarang, kau tidak diizinkan untuk menginjakkan kaki di lantai ini!” tegas Intel Ika.
Keputusan Intel Ika barusan membuat Regi cepat-cepat menundukkan kepalanya dan memasang wajah penuh penyesalan, “Sekali lagi saya mohon maaf, Intel Ika. Saya berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi.”
Intel Ika menghela nafasnya panjang, “Saya maafkan dan cepat kembali ke ruangan kerjamu. Mulai besok, ada karyawan khusus dari lantai ini yang akan mengumpulkan kain kotor ke tempat laundry.”
Setelah pintu lift terbuka dan Regi masuk ke dalam, ia baru bisa menghela nafasnya panjang sambil bersandar di dinding lift.
“Oh My God! Anya benar-benar sudah tidak bisa aku permainkan lagi. Penjagaan yang dikhususkan untuk dia begitu ketat.” Regi mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia mengusap perutnya yang semakin hari semakin besar.
“Tapi, aku benar-benar membutuhkan seorang suami!” gumam Regi.
🐾🐾🐾
Sedangkan di sisi yang lainnya, Anya kini tengah memandangi wajah suaminya sendiri secara intens sambil tersenyum.
“Kenapa sih, Cinta? Ngeliatin Abang kek udah gak sabar mau nerkam begitu,” tanya Axel menggoda Anya. Padahal, saat ini ia sedang salah tingkah mendapati tatapan tajam dari istrinya.
__ADS_1
“Anya sangat suka dengan sikap protektif Abang barusan. Makasih banyak, ya, Bang!”
Cup! Satu kecupan dari Anya langsung mendarat sempurna di bibir Axel.
Blush! Jika biasanya Anya yang dibuat merona di wajahnya, kali ini terbalik. Justru Axel yang wajahnya terasa begitu panas dan warnanya merah merona.
“Berterima kasihlah dengan benar, Cinta!” pinta Axel yang menarik tubuh Anya mendekat dengannya.
Ting! Pintu lift pun terbuka dan mereka langsung melangkahkan kakinya menuju tempat kesenangan mereka.
“Apa tadi Anya belum berterima kasih dengan benar?” tanya Anya sambil memeluk lengan Axel dengan manja.
“Emm, abang Cuma ingin yang lebih dari sekedar ciuman di bibir!” balas Axel dengan terang-terangan.
“Oooh, boleh aja, sih! Tapi nanti abis Abang mandi, ya! Anya akan siapkan air hangat di bathtub. Abang pasti capek banget, kan?”
Penawaran Anya kali ini membuat Axel merekahkan senyumannya dengan sempurna sambil menganggukkan kepalanya. Tubuhnya memang sudah sangat lengket setelah melakukan perjalanan. Meski hasratnya sudah sangat menggebu, tetap saja ia ingin bercinta dengan istrinya dalam keadaan yang fresh.
“Terima kasih, cintaku!” tutur Axel sambil mengecup ubun-ubun kepala Anya.
Anya langsung bergegas menuju ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Tak lupa ia meneteskan aromatherapy ke dalamnya. Sedangkan Axel sendiri langsung melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan di dalam kamar mandi yang sama.
Setelah Anya mengisi air di dalam bathtub dan mengukur kadar kehangatannya, ia pun berbalik. Matanya langsung membola sempurna melihat suaminya yang sudah tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Tubuh atletis suaminya membuat Anya sangat terkesima.
Tidak bisa dibohongi, Anya sangat merindukan untuk menyentuh tubuh kekar suaminya. Terlebih saat pandangannya mulai turun ke bawah dan berhenti tepat di senjata milik Axel yang ternyata sudah tegak berdiri. Anya langsung menelan ludahnya kasar.
Pikirannya langsung berlari kemana-mana. Titik sensitif miliknya yang ada di bawah sana sudah terasa begitu gatal. Tidak hanya itu, tubuh Anya juga seketika meremang saat Axel mulai melangkah mendekatinya.
__ADS_1
“Bisa bantu Abang gak, Cinta?” tanya Axel sambil mulai melepaskan kancing blouse yang dikenakan oleh Anya. “Abang butuh digosokin, nih punggungnya!” pintanya lagi.