Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Mendekati Ajal


__ADS_3

Jacqueline langsung berlari dan berteriak memanggil sipir penjara. Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi dan tentunya masih banyak narapidana yang terlelap dalam tidur mereka.


“Toloong! Sipir penjaraaa! Tolong akuuuu!” pekik Jacquline dengan sangat kencang.


Tentunya, teriakan Jacqueline kali ini mengganggu tidur para napi dan mereka langsung melayangkan protes mereka.


“Hei, lama-lama aku sumpal mulutmu dengan ce**** dalam!” umpat napi yang lain.


“Dari tadi malam kau seperti tarzan hutan! Aku akan beri perhitungan saat bersih-bersih pagi nanti!”


“Benar! Aku juga akan beri pelajaran untuknya! Tidurku benar-benar tidak nyenyak karenanya!”


Protes narapidana yang lainnya sama sekali tidak dihiraukan oleh Jacqueline yang terus saja berteriak, “Sipir penjaraa! Tolong temanku! Pak Sipiiir! Cepat tolong kamiii!”


Sipir penjara pun akhirnya datang memenuhi panggilan Jacqueline dengan tergopoh-gopoh karena ia pun baru saja terjaga dari tidurnya. “Ada apa?”


“Suhu tubuh Hellencia sangat tinggi!” jawab Jacqueline.


“Oke, aku akan ambilkan obat untuknya!” balas sipir penjara dan berbalik meninggalkan sel.


“Tapi dia butuh dibawa ke rumah sakit!” lanjut Jacqueline lagi.


“Siapa yang akan menanggung biaya ruah sakitnya?” balas sipir penjara dengan ketus. “Dokter saja sudah angkat tangan untuk membantu penyembuhannya. Apalagi aku!”


Ucapan sipir penjara membuat Jacqueline sangat kecewa. Ia pun berbaik dan kembali mengecek kegiatan Hellencia. Panasnya sudah sedikit turun, tapi gigi Hellencia mulai bergemeletuk seperti orang kedinginan.


“Bertahanlah, Hellencia! Aku mohon!” pinta Jacqueline sambil memegang erat tangan Hellencia.


“Panas! Sakit!” balas Hellencia dengan nafasnya yang sudah mulai tersengal-sengal.


Tidak hanya itu, suara di tenggorokannya mulai terdengar sangat berat seperti orang yang mengorok dengan kencang. Matanya juga melotot ke atas, “Sakit! Sakit! Aarrrggghhh!”


“Paanaas! Panaas! Arrgggghhh!”

__ADS_1


Hellencia terus seperti itu sampai sipir penjara datang membawa obat untuknya. Namun, melihat keadaan Hellencia yang sedang sakaratul maut, sipir penjara pun menyimpan kembali obatnya ke dalam saku.


“Sebentar lagi dia akan mati! Aku akan memanggil ustadz dulu untuk membantunya melewat ajal!”


Ucapan sipir penjara membuat Jacqueline tidak terima. “Mana obat untuk Hellen? Dia tidak akan mati!” sarkas Jacqueline.


Dengan geram sipir penjara pun melemparkan obat yang sudah ia bawa ke arah Jacqueline. Untung saja Jacqueline sigap untuk menangkap obat tersebut dan langsung meminumkannya kepada Hellencia. Sayangnya, Hellencia justru menyemburkannya ke wajah Jacqueline dan kembali mengorok.


Satu jam berlalu,


Hellencia terus kejang seperti itu, sampai ustadz datang dan berdoa untuknya, Hellencia masih tetap dengan keadaan yang sama sambil meneriakkan kata-kata sakit dan juga panas. Sampai akhir doa ustadz, tiba-tiba Hellencia memanggil nama Anya.


“Anya!”


“Mana Anyaku?”


“Aaarrrggghhh, Anyaa!”


Mendengar Hellencia memanggil nama Anya, Jacqueline pun langsung memohon kepada polisi untuk memanggil Anya. Sayangnya, polisi justru memerintahkan Jacqueline ikut membersihkan ruangan seperti narapidana yang lain.


“Enak saja! Dari pada ngeributin di sini, mendingan kamu ikut bersih-bersih sama yang lainnya, sana!” titah Pak Polisi.


Jacqueline pun meninggalkan sel dengan langkah gontai. Pandangannya kosong mengingat tersiksanya Hellencia yang tengah mendekati ajalnya. Sampai Jacqueline tidak sadar ada yang menunggunya di pintu Gudang.


Tiba-tiba tangannya ditarik masuk ke dalam Gudang oleh narapidana yang dari semalam merasa terganggu olehnya dan langsung menguncinya dari luar. Jacqueline pun langsung menggedor pintu Gudang sekuat tenaga dan terus minta tolong. Sayangnya, ia justru mendengar gelak tawa dari luar tanpa ada satu pun yang membukakan pintu untuknya.


Satu jam meminta pertolongan, membuat Jacqueline lemas tak berdaya. Akhirnya, ia duduk bersandar di pintu sambil melipat kedua kakinya. Ini adalah yang ketiga kalinya Jacqueline menghadapi masalah seperti ini. Terkunci di dalam Gudang dan kali ini justru suasananya lebih horror dari yang sebelumnya.


Bukan hanya banyak tikus, kondisi barang yang tersimpan banyak sekali debu, lampunya sama sekali tidak bisa dihidupkan. Ruangan pengap yang penuh dengan debu membuat Jacqueline susah bernafas dan akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.


🐾🐾🐾


Di sisi yang lain, Anya dan juga Axel kini sama-sama sibuk di tempat kerja mereka. Anya yang sudah selesai menandatangani berkas, kini sedang mencoba bereksperimen menu baru yang digemari anak muda untuk membuat restorannya semakin ramai.

__ADS_1


Sedangkan Axel saat ini tengah mengikuti meeting dengan vendor penting yang akan menggunakan restoran miliknya untuk sebuah acara. Karena begitu sibuk, Axel sampai tidak menyadari ada panggilan berkali-kali dari pihak kepolisian yang hendak memberikan kabar kepadanya tentang keadaan Hellencia.


Siang harinya, selepas meeting selesai, Axel bergegas menuju ke Diorama Resto untuk bertemu dengan istrinya. Axel memang sengaja tidak mengaktifkan nada dering ponselnya selama meeting. Dan saat perjalanan menuju ke Diorama Resto, Axel terkejut karena ada puluhan panggilan tak terjawab.


Ada yang dari Papa Richie, Mama Icha, dan paling banyak adalah dari kantor polisi. Akhirnya, Axel menghubungi papanya terlebih dahulu.


“Halo, Pa! Maaf, ponselnya sengaja Axel buat mode silent! Ada apa, Pa?” tanya Axel saat panggilannya sudah terhubung.


“Papa dapat telfon dari kantor polisi jika Hellencia saat ini sedang mengalami sakaratul maut. Sudah dari pagi tadi sekitar jam 6 sampai sekarang nafasnya masih tersengal-sengal!” balas Papa Richie.


“Terus? Masalahnya sekarang, apa?” tanya Axel yang sudah tidak peduli dengan hal yang menyangkut Hellencia ataupun Jacqueline.


“Menurut informasi dari polisi, Hellen terus saja memanggil nama Anya berkali-kali! Maka dari itu polisi meminta papa atau kamu membawa Anya ke sana agar Hellencia bisa meninggal dengan tenang!” jelas Papa Richie di ujung panggilan.


“Papa sudah bilang tidak bisa, tetapi polisi terus saja meminta tolong pada Papa!” lanjut Papa Richie lagi yang seharian sudah seperti diteror oleh polisi.


“Anya sudah tahu tentang hal ini?” tanya Axel kemudian.


“Belum!”


“Kalau begitu, jangan diberi tahu! Sebentar lagi, Axel akan sampai di Diorama dan membicarakan hal ini dengannya!”


“Oke, hati-hati, ya! dan salam untuk anak Papa. Kalau bisa hari ini pulang ke Mansion Utama. Papa dan Mama merindukannya!” ucap Papa Richie sebelum mengakhiri panggilannya.


“Siap, Pa!” balas Axel dan panggilan pun terputus.


Axel menghela nafasnya panjang sambil mengusap wajahnya kasar. “Ck, selalu ada saja masalah dengan Hellencia!” gerutu Axel dengan kesal.


“Ada apa lagi, Tuan?” tanya Tian sambil mengemudikan mobilnya.


“Hellencia sekarat dan terus memanggil nama Anya. Aneh! Bukan manggil Nama Tuhan dan meminta pertolongan, ini malah manggil istri orang!” jawab Axel dengan nada kesal.


“Lah, kalo dia bisa manggil nama Tuhannya, gak jadi masuk neraka dong! Malah masuknya ke surga, nanti!” timpal Tian.

__ADS_1


“Terus, menurut kamu baiknya gimana?” tanya Axel kemudian.


 


__ADS_2