Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Peperangan di Bui


__ADS_3

“Dasar pembawa sial! Wanita menjijikkan seperti kamu harusnya sudah dimakan cacing di dalam tanah kuburan!” umpat Jacqueline.


“Jorok! Jelek! Bahkan kau sama seperti orang jalanan yang tinggal di bawah jembatan!”


“Bahkan, penjara ini masih terlalu baik untuk tempat tinggalmu!”


Ucapan Jacqueline yang menohok perasaannya membuat Hellencia menangis meraung-raung. Hatinya terasa begitu perih mendengarkan Jacqueline mengolok-oloknya. Padahal dulu, Hellencia selalu ada untuk membantu Jacqueline dalam keadaan apapun.


Jacqueline menyuruhnya untuk membunuh musuhnya pun ia turuti. Meski upahnya tidak seperti pembunuh bayaran pada umumnya. Tetapi, Jacqueline selalu memujinya. Entah itu kecantikan paras Hellencia, permainan panasnya, atau kemolekan tubuh Hellencia yang seperti gitar spanyol.


Bagi kalangan komunitas mereka, Jacqueline dan juga Hellencia memang yang terlihat paling unggul. Selain cantik dan energik, mereka berdua terkenal paling joss dalam berbagai gaya bermain panas. Tak ayal, wanita manapun yang sudah dekat dengan mereka berdua, pasti langsung ikut bergabung dalam komunitas gila.


Sayangnya, sekarang semuanya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. Pujian untuk Hellencia tidak lagi keluar dari mulut Jacqueline selepas Jacqueline berencana menghabisi nyawanya. Bahkan, sekarang hanya cacian yang terus saja keluar dari mulut Jacqueline untuknya.


“Kenapa sekarang mulutmu terus saja mencaci aku? Mana balas budimu, Jacqy?” pekik Hellencia sambil menepuk dadanya yang terasa sangat sesak.


“Aku ini sudah berjuang penuh untuk menuruti semua keinginanmu! Apa ini balasan yang pantas aku terima? Dasar buluk!” umpat Hellencia balik.


“Apa katamu? Aku buluk?” sarkas Jacqueline tidak terima. Ia pun langsung berjalan ke arah Hellencia dan menarik rambutnya dengan kasar.


“Mana mungkin aku bisa bersikap baik pada orang yang sudah membuat kasurku bau kencing!”


Tarikan tangan Jacqueline membuat rambut Hellencia rontok banyak sekali.


“Tolooong! Tolooong Pak Sipir!” teriak Hellencia sekuat tenaga. “Orang ini hampir membunuhku!” lolongnya lagi.


Plak! Tamparan Jacqueline pun mendarat sempurna di pipi Hellencia.


“Dasar gila! Kau menuduhku!” umpat Jacqueline dengan geram.


Teriakan Hellencia membuat sipir penjara masuk ke dalam sel dan memeriksa apa yang terjadi. Saat ia membuka pintu sel, bau menyengat yang berasal dari Kasur langsung tercium oleh hidungnya.


“Siapa yang kencing di sini?!” tanya sipir penjara dengan nada menggertak.


“Dia! Wanita menjijikkan itu yang sudah mengencingi kasurku!” tuding Jacqueline ke arah Hellencia.


Sipir penjara pun melihat ke arah Hellencia yang sudah tampak begitu pucat. Bajunya memang sudah basah dan kotor karena ia sudah kencing sembarangan. Namun, wajahnya sudah seperti mayat hidup. Pucat dan terlihat begitu lemas.


Kemudian sipir penjara beralih memandang ke arah Jacqueline. Wajahnya yang masih melepuh karena ulahnya sendiri membuat siapapun yang melihatnya tidak tega. Tetapi, mendengar ceracauan Hellencia tadi membuat sipir penjara tidak perlu berbelas kasihan padanya. Apalagi staminanya jauh lebih baik daripada Hellencia.


“Kamu!” sipir penjara menunjuk ke arah Jacqueline. “Cepat bawa perempuan ini ke kamar mandi untuk membersihkan badan! Setelah itu bantu dia mengganti pakaiannya!” titah sipir penjara.

__ADS_1


“Lakukan dengan baik atau aku akan menambahkan hukuman untukmu karena tadi aku sempat mendengar celotehan temanmu itu!” ancam sipir penjara.


“Tapi, dia sudah mengencingi kasurku!” kilah Jacqueline yang masih sangat kesal.


“Lakukan secepatnya!” gertak sipir penjara. “Kasurnya bisa kau jemur besok pagi!”


“Lalu bagaimana aku tidur malam ini?” balas Jacqueline kesal.


“Aku akan mengambilkan Kasur lain untukmu!” balas sipir penjara.


Akhirnya dengan berat hati Jacqueline membantu Hellencia membersihkan diri ke kamar mandi. Namun terus saja dengan mengeluh sepanjang jalan. Bahkan saat di kamar mandi, Jacqueline mengguyur Hellencia dengan kasar sampai Hellen menggigil kedinginan.


Setelah itu, Jacqueline tidak mengeringkan tubuhnya dengan baik dan langsung memakaikan pakaiannya. Kemudian membawanya kembali ke sel. Sesampainnya di sel, Hellencia masih dibantu merebahkan tubuhnya di Kasur. Namun, Jacqueline masih belum mendapatkan Kasur ganti untuknya tidur mala mini.


“Sipir penjaraa!” teriak Jacqueline memekakkan telinga. “Mana kasurku?”


“Woy! Udah malem jangan teriak-teriak!” gertak narapidana yang lain.


“Gimana gak teriak? Kasur gue kena ompol!” balas Jacqueline.


“Ya udah! Muka buluk dan mengerikan kayak kamu memang pantas tidur di Kasur yang kena ompol. Itu namanya sesuai!” lanjut narapidana yang lainnya lagi.


Akhirnya peperangan piring sel pun terjadi dan membuat suasana sangat gaduh. Lemparan dari Jacqueline sama sekali tidak mengenai lawan. Tetapi, Jacqueline terus saja terkena sasaran lawan. Sampai pelipisnya mulai mengeluarkan darah segar. Untung saja sipir penjara cepat datang untuk melerai peperangan lempar piring seng antara mereka.


“Berhenti atau dihukum membersihkan toilet seluruh penjara?”


“Dia yang mulai bikin rame, Pak!” tuduh narapidana menunjuk ke arah Jacqueline.


“Aku hanya butuh Kasur yang bersih! Mana kasurku?” tagih Jacqueline kepada sipir penjara.


“Kasur? Sudah tidak ada lagi Kasur yang tersisa! Tidurlah seadanya dulu dan besok baru kamu jemur kasurnya!” timpal sipir penjara yang langsung diiringi dengan gelak tawa narapidana yang lainnya.


Kini, Jacqueline tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain diam menahan rasa kesalnya. Jika dilimpahkan kepada Hellencia, ia takut jika Hellencia meregang nyawa karenanya. Tentunya masalah ini akan membuat hukumannya semakin berat dan lama.


Akhirnya, Jacqueline pun memutuskan untuk tidur beralaskan kardus dan berbantalkan lengannya sendiri. Tanpa ia sadari, matanya mulai berkaca-kaca dan ia pun menitikkan air matanya.


‘Kenapa hidupku harus menderita seperti ini?’ ratap Jacqueline dalam hati.


‘Tinggal di tempat yang mengerikan seperti ini! Mobil sudah dibawa lari, bahkan satu paket dengan kunci apartemen!’


‘Apa ini yang dinamakan sebagai karma seorang pembunuh?’

__ADS_1


‘Tapi, apa aku salah jika aku berharap kebahagiaan untukku sendiri? Kenapa dunia ini kejam terhadapku?’


‘Sebenarnya sebesar apa kesalahanku sampai aku harus menderita seperti ini?’


Jacqueline terus saja meratap dalam hati sampai lama kelamaan matanya pun terpejam. Sedangkan Hellencia yang diam-diam memperhatikan Jacqueline pun merasa tidak tega.


‘Terima kasih karena sudah menjagaku di sini, Jacqy! Meski perlakuanmu sangat kasar dan kau begitu jahat denganku, aku yakin, dalam hatimu masih ada rasa peduli terhadapku!’ gumam Hellencia dalam hati.


‘Aku akan berusaha untuk tetap hidup dan berjuang bersamamu agar kita berdua bisa keluar dari bui.’


Perlahan Hellencia berusaha bangkit dari tempat tidurnya dan membawa bantal beserta selimutnya. Kemudian, ia mengangkat kepala Jacqueline untuk menyelipkan bantalnya. Setelah itu, Hellencia menyelimutinya. Jacqueline perlahan mengerjapkan matanya dan tersenyum. Kemudian ia kembali terlelap dalam mimpinya.


“Have a nice dream, Jacqy!” gumam Hellencia dan kembali lagi ke tempat tidurnya.


🐾🐾🐾


Keesokan harinya, Jacqueline membuka matanya dan sedikit terkejut saa melihat dirinya menggunakan bantal dan juga selimut. Kemudian Jacqueline melihat ke arah Hellencia yang masih memejamkan matanya tanpa bantal atau pun selimut yang menutupinya.


‘Ternyata Hellencia masih sangat peduli denganku!’ gumam Jacqueline dalam hati.


Ia pun mendekati Hellencia dan mulai mengusap pipi Hellen dengan lembut. “Terima kasih, Hellencia! Ternyata kau peduli denganku!” ucap Jacqueline.


Tangan Jacqueline yang menyentuh pipi Hellencia terasa begitu panas dan Jacqueline cepat-cepat memegang kening Hellencia. “Oh My God, Hellencia! Suhu tubuhmu sangat tinggi!” gumam Jacqueline panik.


Jacqueline pun langsung mengambil handuk kecil miliknya dan berlari menuju ke kamar mandi untuk membasahi handuk tersebut yang akan ia gunakan untuk mengompres Hellencia.


Hellencia yang merasakan dingin menyentuh kepalanya pun perlahan membuka matanya. Kemudian bibirnya tersenyum melihat Jacqueline yang tengah mengompresnya.


“Thanks, Jacqy!” tutur Hellencia lirih. “Aku tahu, kau masih peduli denganku!”


Jacqueline memilih diam dan tetap mengompres Hellencia.


“Aku sangat ingin mendampingimu berjuang di sel ini! Tapi, rasanya aku sudah tidak sanggup lagi.” Hellencia tampak sudah menyerah dengan sakit yang ia rasa saat ini.


“Kau harus pulih, Hellencia! Kita harus berjuang bersama! Aku mohon maafkan sikap kasarku akhir-akhir ini!” ucap Jacqueline degan mata yang berkaca-kaca.


“Aku sudah memaafkan semuanya! Teruslah berjuang untuk menggapai semua mimpimu!” balas Hellencia.


“Aku benar-benar sudah tidak sanggup!”


“Kamu sanggup! Kamu harus sanggup!”  

__ADS_1


__ADS_2