
Keesokan harinya, Anya bangun lebih awal dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Meski semalam Axel berhasil membuatnya kelelahan, tapi Anya justru merasa lebih semangat saat matanya mulai terbuka.
Setelah membersihkan tubuhnya, Anya sengaja tidak membangunkan Axel dan langsung menyibukkan dirinya di pantry untuk membuat sarapan. Kesibukan Anya kali ini membuat Maid Yira yang baru saja membersihkan rumah merasa tidak enak dengan nona mudanya.
“Maaf, Nona! Saya baru saja membersihkan rumah dan juga halaman. Setelah ini saya akan menyiapkan sarapan untuk anda!” ucap Maid Yira yang memang baru saja selesai membantu tukang kebun Mansion membersihkan halaman dan beberapa tanaman bunga.
“Tidak masalah, Maid Yira. Aku memang ingin membuatkan sarapan untuk Bang Axel dan Mama. Jika Maid Yira tidak keberatan, bisa tolong belikan beberapa bahan masakan yang kemarin lupa aku beli?” tanya Anya yang tangannya sangat lincah meracik makanan.
“Tentu saja, bisa, Nona Muda!” balas Maid Yira.
Anya pun langsung memberikan Maid Yira dua lebar uang seratus ribuan. Namun, Mad Yira menolak dan mengatakan jika dia sudah diberi uang untuk belanja. Tetapi Anya tetap memaksanya dan akhirnya Maid Yira pun menerimanya.
Sepeninggalan Maid Yira, tiba-tiba ada tangan yang melingkar memeluk Anya dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anya.
“Kenapa kau meninggalkan aku sendirian di kamar, sayang?” bisik Axel dan tentunya mengganggu aktivitas Anya yang sedang memotong sayuran.
Anya pun menghela nafasnya panjang dan kemudian berbalik menghadap Axel yang sudah menguncinya di meja pantry.
“Aku hanya ingin …” Belum selesai Anya menimpali, Axel sudah mendaratkan bibirnya di bibir istrinya dan mengabsennya dengan pelan.
“Morning kiss, sayang!” ucap Axel sambil mengusap bibir Anya dengan lembut.
“Ehm!” dehem Mama Icha yang baru saja keluar dari kamarnya dan langsung diperlihatkan kemesraan Anya dengan Axel di pantry.
“Kalau yang semalam masih kurang, lanjutin aja di kamar, Axel! Bukan di pantry seperti ini!” lanjut Mama Icha sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas dan kemudian duduk di kursi makan.
Anya pun langsung mendorong tubuh Axel untuk menjauh darinya dan kemudian kembali berbalik memotong sayuran. Jangan ditanya bagaimana lagi merahnya wajah Anya yang menahan malu karena kepergok Mama Icha tengah berciuman dengan Axel.
Sedangkan Axel justru sebaliknya. Ia kembali mencumbu Anya di depan Mama Icha sambil berbisik mesra, “Kita lanjutin lagi yuk yang semalam!” ajak Axel membuat Anya langsung mencubit pinggang Axel dengan geram.
“Ish, Abang ini gak tau malu banget sih!” gerutu Anya pelan.
“Anya lagi mau bikin sarapan dulu, Ma. Gak tau nih, bawaannya pingin masak sayur-sayur gituh! Kayaknya enak ajah!” celetuk Anya yang mulai mengabaikan Axel.
“Oh, bisa jadi kamu lagi ngidam, Sayang!” Mama Icha langsung mendekati Anya.
__ADS_1
“Axel, mandi dulu gih! Biar jabang bayi yang di perut Anya gak muntah karena cium aroma daddynya yang masih bau iler!”
“Mama mau bantu anak menantu mama masak nih! Biar calon debay tumbuh sehat di dalam sini!” ucap Mama Icha sambil mengusap perut Anya dengan lembut.
“Thank you, Nenda! Aku akan tumbuh dengan baik dan sehat!” balas Anya dengan nada yang meniru seperti anak kecil.
Mama Icha yang tampak sedang memonopoli Anya membuat Axel mau tidak mau meninggalkan pantry dan kembali masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, Maid Yira pulang dari berbelanja dan bergabung untuk membantu Anya memasak.
Dalam waktu singkat, beberapa masakan sudah siap tersaji di atas meja makan. Ada tumis kucai yang dicampur dengan tauge dan tahu, bakwan sayur, tempe dan tahu goreng, capcay, dan nasi hangat. Anya juga tidak lupa untuk menyajikan susu kedelai yang dibuatnya sendiri pagi ini.
Aroma masakan Anya yang begitu menggugah selera membuat Axel tidak sabar untuk segera mencicipinya. Sam[ai ia tidak sempat untuk menyisir rambutnya sendiri dan langsung bergabung di meja makan bersama Anya dengan Mama Icha.
“Wow, ini benar-benar sangat luar biasa!” puji Axel sambil mencium pipi Anya dengan mesra.
“Terima kasih, sayang! Setelah makan, kita masuk kamar lagi ya!” ucap Axel sambil mengedipkan matanya.
Mama Icha yang melihat putranya sangat ketaguhan dengan Anya hanya memutar bola matanya malas. Sedangkan Anya langsung menyenggol kaki Axel pelan sambil memberi kode untuk tidak membahas masalah itu.
“Axel, Axel! Mama gak nyangka banget kamu bisa sebucin itu sama Anya. Kerjaan dan tugas kamu itu banyak loh! Biasanya aja dikit-dikit kerjaan malah gak ada berhentinya!”
“Iya, Ma! Ini juga Axel ngajakin Anya ke kamar kan buat ngecek barang peninggalan mamanya!” balas Axel mulai berkilah.
“Iya, kan, Sayang?” tanya Axel dan Anya mulai menghela nafasnya panjang.
“Oh, iya kok. Kan nanti mama juga mau bantu juga!” balas Anya yang langsung mendapat tatapan protes dari Axel.
“Kenapa bawa-bawa mamah, sih!” gerutu Axel sambil menikmati susu kedelai buatan Anya.
“Hemm, susu kedelainya enak banget, nih! Beli di mana, Sayang?” tanya Axel yang kembali meneguknya sampai habis setengah gelas.
“Itu Anya yang bikin! Enak banget, kan?” balas Mama Icha yang langsung diangguki oleh Axel.
“Istri Abang ini memang terbaik!” puji Axel.
Mereka pun menikmati sarapan bersama. Hampir semua masakan buatan Anya sangat cocok di lidah Axel dan juga Mama Icha. Meski menunya sangat sederhana, rasanya tetap bintang lima.
__ADS_1
Selepas sarapan, Mama Icha mulai menanyakan keadaan Hellencia dan juga alasan Axel yang pulang larut malam. Axel yang tengah mengelap mulutnya dengan tissue pun tidak langsung menjawab pertanyaan dari Mama Icha dan justru menatap ke arah Anya.
“Axel!”
“Mama ini lagi tanya loh sama kamu!” tegas Mama Icha dan Anya langsung tersenyum sambil mengusap lengan Axel.
“Cerita aja, Bang! Anya siap seratus persen untuk mendengarkan cerita dari Abang!” ucap Anya meyakinkan kepada Axel.
“Hellencia keadaannya semakin parah! Seharusnya, ia beristirahat dulu selepas operasi. Namun, karena ulahnya sendiri dan membuat kita semua geram, akhirnya ia harus mendekam di penjara untuk sementara waktu.”
“Hal ini membuat operasi yang dilakukan kemarin bisa dikatakan gagal. Meskipun pendarahan yang dialami Hellencia kali ini tidak begitu parah, tapi keadaannya saat ini membuat kondisinya semakin drop.”
Mama Icha dan juga Anya masih diam sambil mendengarkan Axel berbicara.
“Dan yang lebih gilanya lagi, dia masih mengancamku untuk tidak menceraikannya.”
Ucapan Axel kali ini membuat Mama Icha menjadi naik pitam.
“Dasar gila! Bisa-bisanya ia menolak untuk diceraikan! Kalo menurut mama, ceraikan saja istri yang sudah sangat tidak berguna itu. Biarkan saja ia menikmati rasa sakit yang disebabkan karena ulahnya!” timpal Mama Icha.
“Aku pun juga ingin melakukan apa yang Mama sarankan. Permasalahannya, dia berjanji akan menceritakan siapa yang menyuruhnya membunuh Mamanya Anya. Bahkan, dia juga mengatakan jika aku rugi besar membiarkannya mati begitu saja!”
“Sebab, dalang pembunuhan Mama Divya sudah pasti saat ini sedang mengincar Anya.”
“Kurang ajar!” umpat Mama Icha sambil mengepalkan tangannya dengan geram.
“Jadi, jika aku tidak menceraikannya dan tetap mengurus biaya perawatannya di rumah sakit, dia pasti akan membongkar siapa yang sebenarnya sangat berbahaya!”
“Maka dari itu, semalam Axel langsung menghubungi Pengacara Dirga untuk membicarakan hal ini. Solusi terbaik darinya hanya satu.”
“Lebih baik aku tetap mempertahankan pernikahanku dengan Hellencia, kemudian menikahi Anya dan menjadikannya sebagai istri muda!”
“Terlebih, dalam agama hubungan aku dengan Anya masih terikat dalam pernikahan yang sah!”
__ADS_1