Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Girls Time


__ADS_3

“Anya kemana aja sih selama ini?” tanya Indri. “Sekalinya ketemu udah gandeng cowok cakep aja!”


“Nah, ngagetin banget emang! Aku pikir, Anya bakal jadian sama Mr. Jeff malam ini. Mana kita udah bikin rencananya jauh-jauh hari lagi!” timpal Dewi yang paling antusias menjodohkan Anya dengan Mr. Jeff.


Anya hanya terkekeh pelan, “Kalian nih suka ngarang, deh! Mr. Jeff itu bisa cari cewek yang lebih keren dari pada aku.”


“Tapi, An! Kamu gak tau gimana gusarnya Mr. Jeff yang terus menerus cari kabar tentang kamu! Sampe kalo kita bilang tuh dia kek hampir gila tau gak!” timpal Indri.


“Bener banget! Sasarannya itu Dela karena dia yang biasa bareng terus sama kamu!” lanjut Ayula.


“Apalagi waktu itu aku juga lagi prepare buat lanjut S2!” tutur Dela sambil menikmati makanannya.


“Sorry, deh! Aku beneran gak bermaksud untuk menghilang! Masalahnya beberapa bulan kemarin itu adalah hal paling terberat dalam hidup aku!” jelas Anya membuat semuanya langsung terdiam.


Anya pun kemudian menceritakan tentang masalah yang ia hadapi saat kedua orang tuanya sudah tiada. Namun, Anya tidak menceritakannya secara rinci dan cukup garis besarnya saja. Dimana saat ia jatuh terpuruk, hanya Axel yang selalu ada mendampingi dan membantunya lepas dari masalah yang ia hadapi.


“Trus, dimana kamu ketemu sama suami kamu?” tanya Dewi.


“Dia itu sebenarnya bos aku di Restoran tempat aku kerja!” jelas Anya membuat teman-temannya takjub.


“Wow! Istri sultan dong, sekarang!” celetuk Ayula.


“Pantesan, suaminya mau bayarin makan malam kita semua di sini!” timpal Indri.


“Jangan-jangan …” Dela menggantung kalimatnya.


“Restoran ini punya suami kamu, ya?” lanjut Dewi, Indri, dan Laura bersamaan.


Kali ini Anya hanya tersenyum dan diam tidak menjawab pertanyaan ketiga orang temannya itu sampai pramusaji membawakan pesanan untuk mereka.


“Ini restoran milik Nona Anya!” jawab pramusaji tersebut. “Kan namanya Diorama Resto! Kalau punya Tuan Axel masih sekitar 20 km lagi dari sini!” jelasnya.


“Ck, pake dijelasin segala sih, Mbak! Makasih yaa!” timpal Anya saat pramusaji menyajikan pesanan untuknya.


“Sama-sama, bos!” balas pramusaji tersebut.


Anya pun langsung mempersilakan teman-temannya untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan. Satu jam kemudian, teman-teman Anya pun berpamitan pulang dan Axel memutuskan untuk menginap di roof top restoran mereka.

__ADS_1


Keduanya pun langsung menuju ke lift dan menuju ke roof top yang memang disiapkan Papa Richie untuk Anya dan juga Axel.


“Aku sangat cemburu melihat Mr. Jeff memandangi kecantikan istriku!” gumam Axel pelan.


“Masa’ sih? Emang Abang liat, ya?” tanya Anya.


“Ck, suka gak sadar diri, deh!” gerutu Axel kesal. “Coba kalo abang gak datang, pasti Mr. Jeff udah duduk di samping kamu!”


“Untung aja insting Abang tuh tepat. Mana ada girls time pada bawa pasangan semua? Mereka pasti sengaja tuh jodohin kamu sama Mr. Jeff!” cerocos Axel dengan mode merajuk.


Ini bukan yang pertama kalinya Axel seperti ini. Sifat pencemburu Axel memang begitu kentara padahal Anya sudah menjadi miliknya seutuhnya. Bahkan di dalam perut Anya juga sudah tertanam benih cinta mereka berdua.


“Alamaaak, abang cemburu, ya?” balas Anya sambil memeluk lengan suaminya.


“Mana mungkin abang gak cemburu istrinya pergi dengan dandanan secantik ini! Harusnya, cantiknya kamu itu cukup buatt Abang aja!” tutur Axel yang masih terdengar begitu kesal.


Pintu lift pun terbuka dan kali ini Axel sangat terkejut melihat roof top yang di desain sangat romantis oleh Anya. Ada sofa di tengah yang dikelilingi oleh hiasan bunga berbentuk cinta.


“Istri Abang nyiapin semua ini?” tanya Axel dengan mata yang berbinar.


Anya pun langsung mengangguk, “Anya pingin ngobrol sambil lihat bintang di atas sana!” balas Anya.


Axel pun langsung duduk di sofa dan menarik tubuh Anya untuk duduk dipangkuannya. Kemudian Axel memeluknya dari belakang dengan sangat mesra.


“Apa kau senang bisa bertemu dengan teman-teman kuliahmu?” tanya Axel yang langsung dijawab Anya dengan anggukan kepalanya.


“Tapi, Aku lebih senang saat Abang datang dan mencium pipiku dengan mesra di depan mereka!” timpal Anya membuat Axel mengeratkan pelukannya.


“Benarkah?” tanya Axel berbisik. “Jika tahu begini, tadinya Abang cium aja bibirnya sampe bengkak. Biar Mr. Jeff langsung angkat kaki dan pergi!” lanjut Axel.


Anya terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya dan mencubit lengan Axel dengan geram. “Abang nih sukanya ngaco, deh!”


“Biar Mr. Jeff gak ngeliat istri Abang dengan tatapan lapar kayak tadi!”


“Oh, iya. Besok kita akan fitting gaun pesta punya kamu, yaa! Tapi Abang meeting dulu sama klien. Anya diantar Intel Ika gak papa kan?” tanya Axel.


“Beres, deh! Anya juga mau beresin kerjaan yang ada di sini juga. Ada beberapa berkas yang belum sempat di tandatangani!” balas Anya.

__ADS_1


“Jangan terlalu capek, ya, sayang! Abang Cuma mau istri dan calon anak abang sehat!” Axel menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anya.


“Abis pesta, kita harus cari tempat untuk berbulan madu, ya!” pinta Axel.


“Lah, kan kita udah bulan madu terus Abang! Lihat, tuh!” Anya menunjuk ke arah perutnya yang sedikit membuncit. “Perut Anya sampe melendung begini!”


Axel melihat ke perut Anya dan mengusapnya pelan. Gaun yang dikenakan Anya membuat Axel tidak bisa mengusapnya secara langsung.


“Belum melendung banget, kok, ini! Mungkin kalo udah membuncit, kau pasti akan terlihat semakin cantik dan seksi!”


Di saat keduanya sedang bercengkerama dengan mesra, Jacqueline dan juga Hellencia yang sudah mendekam selama satu minggu di dalam bui kini tengah meratapi nasib mereka yang begitu sial. Hampir sepanjang hari mereka berdua terus saja mengeluh.


Terlebih Jacqueline harus mengurus Hellencia yang masih sangat payah karena baru saja pulang dari rumah sakit dan semakin tidak bisa melakukan apa-apa. Makan, masih harus diambilkan oleh Jacqueline. Ke kamar mandi juga masih harus dengan kursi roda.


Padahal, kondisi Jacqueline juga kurang sehat. Ledakan bom yang mengenai wajah Jacqueline, membuat wajahnya melepuh dan terlihat tidak karuan. Apalagi bekas tusukan dari pisau milik Hellencia yang masih terasa begitu sakit.


“Jacqy, bisa antar aku ke kamar mandi?” tanya Hellencia dengan suara yang sangat lemah.


Jacqueline yang sudah sangat mengantuk pun langsung menolaknya dengan geram, “Gak bisa! Gue ngantuk!" jawabnya dengan ketus.


"Tapi, aku kesusahan untuk menuju ke kursi roda! Apa kau bisa membantuku?" pinta Hellencia.


"Argh!" Jacqueline bangun dari tidurnya dengan kesal dan kemudian membantu memapah Hellencia untuk duduk di kursi roda.


"Bener bener pembawa sial! Bukannya membawa keuntungan, malah nyusahin orang!" gerutu Jacqueline kesal.


"Mati aja sekalian lebih baik!" lanjutnya lagi.


"Tapi, aku sudah membantumu menghabisi nyawa Miranda juga dengan baik!" lanjut Hellencia dengan sangat lemah.


Karena sudah tidak kuat menahan, Hellencia terkencing di celana dan tepat saat ia melewati kasur milik Jacqueline. Akhirnya kasur Jacqueline penuh dengan air kencing Hellencia yang baunya begitu menyengat karena sampai saat ini masih mengkonsumsi obat.


"Dasar gila!" umpat Jacqueline sambil mendorong tubuh Hellencia begitu saja sampai terjatuh di lantai.


"Apa yang kau lakukan, bodoh?" umpat Jacqueline.


Hellencia yang tersungkur di atas lantai pun langsung menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Jacqy! Aku benar-benar tidak bisa menahannya!" balas Hellencia dengan nafas yang mulai tersengal.


__ADS_2