Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Malam ini...


__ADS_3

“Maaf Bu, Tuan Axel tidak mengizinkan kami memberitahukan dimana Nona Muda Anya berada,” tutur satpam membuat Regi terhenyak.


“Hah?! Tidak memberikan izin? Barusan aku sudah bertemu dengan Anya di Rumah Sakit. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan membicarakan tawaran pekerjaan yang Anya berikan untukku!” balas Regi dengan gusar.


“Kenapa kalian orang kaya ini sangat sulit memiliki aturan? Aku ini kakak sepupunya Anya!” suara Regi meninggi dan tidak terima saat dirinya tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Anya.


“Maaf, Bu! Seharusnya jika anda tadi sempat bertemu dengan Nona Muda Anya, Anda bisa menghubungi Nona Muda secara langsung, bukan?” balas satpam tersebut.


“Berikan nomor ponsel, Anya! Aku akan menghubunginya!” pinta Regi.


“Kami juga tidak memiliki nomor ponsel Nona Muda!”


Jawaban satpam barusan membuat Regi ingin berteriak sekencang-kencangnya. Akhirnya, ia meminta nomor ponsel Axel karena tadi satpam tersebut menghubungi Axel. Sayangnya, panggilan Regi sama sekali tidak terhubung ke ponsel Axel karena nomornya tidak tersimpan dan dialihkan ke operator.


Regi terus saja berusaha untuk bisa menemui Anya sampai sore tiba dan dia masih tidak beranjak dari gardu satpam Mansion Utama. Makan siang juga Regi sengaja memanggil Tukang Ketoprak yang kebetulan lewat di depan gardu. Dia masih berharap Anya pulang ke Mansion dan menemuinya.


Sayangnya, sampai malam tiba, tidak tampak sedikitpun Anya pulang ke Mansion Utama sampai Regi mulai merasa lelah menunggunya.


“Nona Muda kalian sebenarnya pulang jam berapa?” tanya Regi sambil melihat ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan jam 7 malam.


“Aduh, ibu hamil ini tidak percaya sama sekali jika Nona Muda tidak pulang ke Mansion Utama!” balas satpam tersebut.


“Aku mohon, tolong bantu aku kali ini saja! Telfonkan lagi Tuan Axel dan mintakan izin kepadanya agar aku bisa menemui Anya!” pinta Regi sambil bersimpuh di kaki satpam jaga.


Akhirnya, satpam jaga pun merasa iba melihat Regi yang sedang hamil dan dalam keadaan yang sangat payah. Ia pun kembali menghubungi Tuan Axel dan memberitahukan keadaan Regi saat ini yang sangat ingin bertemu dengan Anya. Axel pun kemudian menghubungi istrinya dan memberitahukan akan hal ini.


“Halo, Abang!” terdengar suara Anya di ujung panggilan yang sangat senang mendapatkan panggilan dari suaminya.


“Hai, Cinta! Apa kabar? Abang kangen banget, nih!” balas Axel yang langsung mengubah panggilannya menjadi video call.

__ADS_1


“Baik, Abang! Anya di sini healing terus sama mama,” lapor Anya yang sudah menerima panggilan video dari Axel.


“Tadi, pulang dari dokter kandungan langsung diajak mama belanja krim buat dioles di perut.”


Axel yang memandangi istrinya hanya tersenyum tanpa berkedip sedikitpun. Tatapan Axel kali ini membuat Anya sedikit salah tingkah.


“Abang kok ngeliatin Anya kek gitu sih? Ada yang salah ya sama penampilan Anya?” Pertanyaan Anya barusan langsung dijawab Axel dengan anggukan kepala tanpa berpaling sedikit pun.


“Memang apa yang salah?” tanya Anya lagi.


“Salahnya adalah abang tidak mengajak istri abang bertugas di sini. Abang jadi kangen banget, Sayang. Kamu cantik banget, sih malam ini! Jadi pingin abang usel-usel!” balas Axel yang melupakan tujuannya menghubungi Anya malam ini.


“Ish, Abang nih! Malu atuh didenger sama Mama!” ucap Anya yang mengarahkan ponselnya ke arah Mama Icha yang sedang duduk di sampingnya sambil scroll tiktok.


“Biar gak malu, bentar lagi papa akan Abang suruh telpon Mama buat ngobatin rasa kangen juga!” balas Axel yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Mama Icha.


“Dih, gak usah telpon dulu, lah! Mama lagi asik scroll tiktok lihat gosip terkini,” balas Mama Icha membuat Anya dan juga Axel terkekeh bersamaan.


“Abang sebenarnya mau kasih kabar kalo Regi nyariin istri Abang dari tadi siang nungguin di gardu satpam sampai sekarang.”


“Hah? Mau ngapain lagi? Perasaan tadi juga udah sempet ketemu lama waktu periksa kandungan,” balas Anya.


“Trus, hasil dari dokter kandungan gimana, sayang? Anak kita cewek atau cowok? Dedek bayi sehat kan? Atau dedek bayi lagi kangen dijengukin sama Daddynya?” Serentetan pertanyaan Axel membuat Mama Icha geleng-geleng kepala mendengarnya.


“Hadeuuh! Ngedengerin kalian telponan gini bikin mama gak fokus, deh! Mama keluar dulu aja deh!” celetuk Mama Icha yang sengaja memberikan waktu kepada Anya dan juga Axel meluahkan kerinduan mereka.


“Tuh, kan! Abang bikin Mama pergi!”


“Santai aja, Cinta. Mama pasti paham kok sama kita.”

__ADS_1


“Ceritanya nanti aja, deh! Tunggu abang pulang ke rumah. Gak seru, dong kalo Anya cerita lewat telpon,” balas Anya. “Trus, abang kira-kira mau pulang kapan?” tanya Anya dan lagi-lagi mereka melupakan Regi yang masih menunggu Anya di Gardu Satpam.


“Emm, istri Abang udah kangen banget, yaa? Abang juga sama nih. Kangen banget nengokin dedek bayi,” balas Axel yang tak lama kemudian terdengar Papa Richie menimpali percakapan mereka berdua dari samping Axel.


“Alamak! Ini anak lagi diajakin fokus kerja malah asyik kangen-kangenan!” celetuk Papa Richie dan kemudian Axel mengarahkan kameranya ke arah Papa Richie.


Betapa terkejutnya Anya saat melihat Papanya tengah bergelut dengan gambar bangunan calon restoran baru mereka, sedangkan Axel justru tengah Asyik menelpon dirinya.


“Aduh, lagi sibuk begitu kenapa malah telfon sih, Bang? Maafin Bang Axel ya, Pa! Jewer aja gak papa, Pa kalo nakal!” ucap Anya.


“Iya, nanti biar Papa jewer. Anya sayang sehat-sehat di sana, yaa! Papa akan kebut kerjaan di sini biar bisa cepet pulang!” balas Papa Richie yang sudah meletakkan pulpennya dan fokus pada layar kamera.


“Anya tunggu, Papa! Semangat, ya, kerjanya!” Anya melambaikan tangannya ke arah kamera dan dibalas oleh Papa Richie dan juga Axel. Panggilan mereka pun berakhir.


“Trus, tadi kamu udah bilang belum sama Anya kalo Regi masih nunggu di Mansion?” tanya Papa Richie.


“Astaga!” Axel menepuk jidatnya sendiri. “Udah bilang, sih. Tapi bahasnya jadi kemana-mana. Aku suruh pulang aja,deh! Udah malem juga. Kasihan Anya sama Mama juga harus istirahat.”


Axel pun kemudian menghubungi satpam untuk menyuruh Regi pulang ke rumah dan kembali lagi besok pagi. Tapi, itupun Axel tidak bisa menjanjikan bisa bertemu dengan Anya atau tidak karena harus melihat situasi dan kondisi.


Keputusan Axel kali ini membuat Regi sangat marah dan kecewa. Dengan lemas ia menjalankan motornya dan kembali pulang ke rumah. Saking lelahnya menunggu, tanpa Regi sadari air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya.


‘Aku sangat menyesal tidak menemanimu di saat kau terpuruk dalam masalah yang besar! Dan kini, aku sudah menerima balasannya, Anya! Aku mohon maafkan semua kesalahanku! Aku seperti ini juga karena papa dan juga mama yang tidak memperbolehkan aku untuk menemanimu!’


‘Meski saat itu aku juga sedang gila-gilanya menikmati kehidupan malamku!’


‘Aku menyesal! Aku ingin dekat denganmu, Anya! Aku janji akan berubah menjadi orang yang baik!’


🐾🐾🐾

__ADS_1


Penyesalan itu memang datang belakangan. Tapi lebih baik menyesal daripada tidak mau berubah sama sekali. Semoga Regi mau benar benar berubah menjadi yang lebih baik.


__ADS_2