Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Plan B


__ADS_3

Setelah mengganti plat mobilnya, Jacqueline mengarahkan mobilnya menuju ke club malam dimana komunitasnya terbentuk di sana. Tidak ada cara lain lagi untuk Jacqueline selain merogoh koceknya dan meminta tolong komunitasnya untuk membantunya kali ini.


Sedangkan Malvin yang kini sudah berada di Mansion Utama, langsung menyerahkan titipan dari Sonia kepada Anya. Kali ini Anya membuka kotak besar tersebut di depan para intel dan kedua orang tuanya karena kebetulan Axel sedang meeting dengan kolega barunya di Restoran.


Di dalam kotak tersebut, ada satu alat rekam yang saat ini sudah jarang ditemukan. Kemudian 5 keping CD dan tumpukan album foto. Anya pun mulai menghidupkan kaset rekaman dengan alat rekam tersebut. Dari situ terdengar pertengkaran hebat antara Mama Divya dengan Miranda yang menolak bergabung dengan komunitas Jacqueline.


Tak lama kemudian terdengar sebuah tamparan dan suara Jacqueline yang bersumpah akan melenyapkan Mama Divya jika ia tidak bergabung dengan komunitasnya. Mama Divya pun menangis dan memohon agar Jacqueline tidak melakukan hal keji tersebut.


Rekaman ini membuat Anya tidak kuat untuk mendengar kepiluan Mamanya saat itu. Tangisnya pun mulai pecah dan Mama Icha langsung mematikan alat rekam tersebut dan menyodorkannya kepada Malvin. Kemudian Mama Iha langsung memeluk Anya dengan erat.


“Maa! Jacqueline sangat jahat dengan mama kandung Anya!” tutur Anya dalam isak tangisnya.


“Jangan khawatir, Sayang!” Papa Richie mengusap kepala Anya dengan sangat lembut. “Papa berjanji akan segera menemukan Jacqueline!”


“Iya, sayang! Anya harus tenang dan terus berdoa agar masalah ini cepat selesai dan teratasi!” timpal Mama Icha.


Anya pun langsung menganggukkan kepalanya. Semua yang ada di dalam kotak tersebut tidak lain adalah bukti kekejaman dan kegilaan Jacqueline dan juga Miranda. Mama Divya sengaja menyimpannya rapat-rapat bersama dengan sahabatnya karena saat itu mereka memang tidak mengetahui keberadaan Jacqueline dan juga Miranda selama bertahun-tahun.


Tak lama kemudian, ponsel Malvin berdering dan tampak panggilan masuk dari anak buahnya. Kali ini, anak buahnya mengabarkan jika apartemen Jacqueline sudah kosong. Akhirnya, Malvin pun langsung membuat rencana B sebagai umpan untuk menarik Jacqueline masuk ke dalam perangkapnya.


“Rencana apa yang akan dibuat?” tanya Papa Richie setelah mendengar kabar dari Malvin.


“Tentu saja berita hoax tentang tertangkapnya Jacqueline di apartemennya. Berita ini akan mengecoh Jacqueline dan para temannya. Dengan begini, ia pasti akan tenang untuk keluar dari tempat persembunyiannya!” jelas Malvin yang langsung memberi komando kepada anak buahnya untuk menjalankan Plan B.


“Terima kasih banyak, Pak Malvin atas kerja kerasnya. Saya sudah menyiapkan beberapa kamar untuk beristirahat para anggota intel. Asisten rumah tangga juga akan menyiapkan beberapa keperluan yang dibutuhkan!” jelas Papa Richie.


“Sama-sama, Tuan! Kami akan bekerja dengan baik untuk keluarga anda!” balas Malvin.


Akhirnya, Mama Icha pun mengajak Anya untuk kembali beristirahat di kamar. Sedangkan Papa Richie masih terus bersama anggota intel untuk mengetahui perkembangan informasi.


Satu jam berlalu, kabar tertangkapnya Jacqueline di dekat apartemen pun mulai merebak luas di media sosial. Hal ini membuat komunitas Jacqueline pun berpesta pora malam ini. Uang yang tadinya akan digunakan untuk meminta bantuan anggota komunitasnya, akhirnya dikeluarkan sedikit untuk berpesta malam ini.


“Aku pikir, anggota intel itu sangat pintar! Ternyata justru sebaliknya! Benar-benar dungu dan keterbelakangan mental!” umpat Jacqueline sambil tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


“Benar, Miss! Mana mungkin mereka bisa menangkap Miss Jacqy yang asli dan membahana ini?” timpal yang lainnya.


“Sebentar lagi, kita tunggu Miss Jacqy membawa mainan baru yang sangat cantik kemari!”


“Benar, boneka cantik itu harus jadi mainan kita semua!”


Tawa Jacqueline semakin pecah mendengarkan celotehan teman satu komunitasnya.


“Aku akan membawakan anak itu untuk mainan kalian semua sampai sepuasnya!” ucap Jacqueline yang sudah merasa sangat lega karena dirinya sudah tidak lagi menjadi buronan.


“Dan kami akan membantu Miss Jacqy membawa mainan itu kemari! Katakan siapa namanya?”


Jacqueline terdiam dan mulai mengingat nama panjang Anya.


“Hellencia pernah mengatakannya padaku siapa nama panjangnya. Tapi kenapa aku tiba-tiba lupa, ya?” gumam Jacqueline sambil memukul kepalanya pelan.


Kemudian tawanya kembali pecah, “Mana mungkin aku melupakan nama anak cantik itu!”


“Geanya Cantika!” ucap Jacqueline meneriakkan nama panjang Anya yang ia dapatkan dari Hellencia.


Tanpa Jacqueline sadari, Hellencia sudah membohonginya dengan memberikan nama panjang Anya dengan nama yang salah. Dari nama ‘Divanya Elea Razil’ diganti oleh Hellencia menjadi ‘Geanya Cantika’.


Sedangkan di sisi lain, Axel yang membaca kabar jika Jacqueline sudah tertangkap pun merasa sangat senang. Selepas meeting, ia langsung pulang ke Mansion Utama untuk berbagi kebahagiaan bersama Anya dan juga keluarganya. Setidaknya, uang yang dikeluarkan papanya sudah membuahkan hasil yang nyata.


Sayangnya, saat tiba di Mansion Utama dan mendengar informasi dari papanya jika hal tersebut adalah trik dari anggota intel untuk mengelabui musuh, membuat Axel merasa sedikit kecewa.


“Yah, jadi itu hanya berita hoax, Pa?” tanya Axel yang langsung lemas mendengar penjelasan papanya.


“Betul, berita ini dikeluarkan karena Jacqueline sudah meninggalkan apartemen dan membawa barang-barangnya. Ini dibuat sebagai perangkap, Axel!” jelas Papa Richie.


“Dan ini membuat aku semakin mengkhawatirkan Anya, Pa!” balas Axel sambil mengusap wajahnya kasar.


“Anya akan terus dijaga dan diawasi, Axel!” timpal Papa Richie

__ADS_1


“Tapi sampai kapan? Bagaimana jika ia merasa jengah dan ingin menghirup udara di luaran sana?”


“Ia sedang hamil, Pa! Dan aku tidak mau jika Anya mengalami stress karena tertekan seperti ini!” ucap Axel yang sangat mengkhawatirkan keadaan Anya.


Tak berapa lama pintu kamar terbuka dan tampak Mama Icha masuk ke dalam kamar.


“Hai, Axel! Kau sudah pulang?” tanya Mama Icha.


“Sudah, Ma!” Axel langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyalami mamanya.


“Anya apa kabar, Ma? Dia baik-baik saja, kan? Apa saja yang terjadi padanya saat aku tidak ada di Mansion?” serbu Axel dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada mamanya.


“Temui saja di kamarnya. Anya barusan bilang kalau dia sedang merindukan kamu!” balas Mama Icha.


“Kalau gitu, Axel ke kamar dulu, ya! Bye, Pa! Bye, Ma!” balas Axel yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar papa dan mamanya. Namun, langkah Axel langsung ditahan oleh Mama Icha.


“Eits! Tunggu dulu, Axel!”


“Apa lagi, Ma?”


“Anya saat ini baru saja di relaksasi dari spa. Lebih baik kamu mandi dulu dan menemui Anya dengan keadaan yang fresh!” tutur Mama Icha.


“Trus, siapa yang jaga Anya di kamar?” tanya Axel dengan gusar.


“Tentu saja tim intel yang wanita, kamu nih gimana sih?” balas Mama Icha yang menganggap khawatir Axel terlalu berlebihan.


“Kalo gitu, Axel mandi di kamar mandi sini aja, ya!” ucap Axel yang langsung berbalik dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamar papa dan mamanya.


Sedangkan Papa Richie dan Mama Icha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Axel barusan.


“Pa, apakah menurut papa rencana B dari anggota intel itu akan berhasil?” tanya Mama Icha mengemukakan rasa khawatirnya.


“Tentu saja! Jika tidak berhasil, nyawa mereka jadi taruhannya! Intel ini kerjanya tidak main-main, Ma! Bahkan cara mainnya juga sangat cantik!” timpal Papa Richie.

__ADS_1


“Mama harap juga begitu. Masalah ini segera selesai dan Anya bisa hidup bahagia dan tenang.”


__ADS_2