
Satu minggu kemudian,
Anya sudah terikat pernikahan resmi dengan Axel dalam hukum dan juga agama. Keduanya juga tampak semakin kompak bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan besar yang tengah menimpa mereka. Anya yang mulai mudah lelah pun tidak diperbolehkan untuk banyak beraktivitas oleh Mama Icha.
Operasi kedua Hellencia masih belum bisa dilakukan dengan alasan kondisi Hellen yang semakin hari semakin drop. Sedangkan Hellen juga sama sekali belum mau memberitahu Axel dan juga Anya siapa dalang pembunuhan Mama Divya.
Setiap Axel dan Anya berkunjung ke rumah sakit, Hellencia hanya bisa merintih kesakitan tanpa mengucapkan kalimat yang lainnya. Dan Anya juga masih belum bisa menghubungi teman-teman mamanya satu orang pun.
“Satu-satunya cara cepat untuk menghubungi teman-teman Mama adalah membebaskan Papa Richie, Bang! Bukankah sebelumnya papa sudah menjalin hubungan spesial dengan Mama Divya sampai ada aku?” tukas Anya sambil memijat kepalanya.
“Membebaskan Papa, berarti kamu juga membebaskan Hellencia, Nak!” timpal Mama Icha mengingatkan Anya.
“Udah gak ada cara lain lagi, Ma! Lagi pula Hellencia sekarang masih berada di rumah sakit. Ia juga masih terpenjara dengan rasa sakit yang menderanya.”
Penjelasan Anya kali ini memang masuk akal. Tetapi yang Axel dan Mama Icha takutkan adalah, jika Hellencia kondisinya membaik dan operasi bisa segera dilakukan, ia akan kembali menggila dan membahayakan Anya.
“Mama hanya tidak ingin Hellencia akan semangat sembuh saat mendengar kebebasannya dari penjara dan keadaannya semakin membaik. Ini terlalu bahaya untukmu, Sayang!” tutur Mama Icha.
“Ya, Aku juga setuju dengan ucapan, Mama. Hellencia pasti akan menghalalkan cara apapun untuk membuatmu dan anak kita dalam bahaya!” timpal Axel yang masih didera dilema besar beberapa hari ini.
“Ma, keadaan kita juga sudah tidak sama dengan yang lalu. Jangan khawatirkan keadaan Anya! Bukankah ada papa, mama, Abang, dan beberapa maid di Mansion utama yang akan menjaga Anya?”
“Karena menurut Anya, seharusnya kita menemukan dalangnya. Bukan mengurung anak buahnya yang kini sudah lemah dan tidak bisa apa-apa lagi!”
“Terlebih saat ini kita sangat sulit untuk menemui papa di kantor polisi!”
Setelah mempertimbangkan beberapa usulan, Akhirnya Axel dan juga Mama Icha pun sepakat unuk membebaskan Papa Richie dan mencabut tuntutan mereka dari kantor polisi yang bermakna, Hellencia juga terbebas juga tapi dengan catatan kabar ini dirahasiakan dari Hellencia.
Untuk manipulasi kabar ini, saat Hellencia harus menandatangani surat bebas bersyarat, nantinya akan dihandel oleh Prima dan juga Tian. Sedangkan Anya, Axel, dan juga Mama Icha kini sedang menuju ke kantor polisi untuk segera mencabut tuntutan dan membebaskan Papa Richie.
__ADS_1
Sesampainya di kantor polisi, proses pencabutan tuntutan tidak semudah dan secepat yang dibayangkan. Setelah menandatangani beberapa berkas, masih banyak hal lagi yang harus dipenuhi Anya sebagai pencabut tuntutan. Hingga senja tiba, mereka baru bisa membawa Papa Richie pulang ke rumah Anya.
Papa Richie awalnya sangat kecewa saat tuntutannya dicabut karena ia sendiri tidak rela jika Hellencia harus terbebas. Tetapi, setelah mendengar penjelasan dari Anya dan juga Axel, papa Richie pun mulai menerima.
“Maafkan, Papa yang sudah membuatmu sangat kecewa Anya!” ucap Papa Richie yang masih menjaga jaraknya dengan Anya. Bahkan sampai turun dari mobil pun Papa Richie tampak menghindari Anya.
Anya sangat paham jika Papa Richie menghindarinya. Namun, Anya justru yang bergerak mendekati papanya.
“Bukankah hal yang wajar jika Anya merasa kecewa?” tanya Anya sambil menggenggam tangan papanya.
“Tapi, rasa kecewa itu kini mulai terkikis sedikit demi sedikit, Pa! Percayalah!”
Ucapan Anya kali ini membuat mata Papa Richie berkaca-kaca memandang putri kandungnya. Ingin rasanya memeluk Anya dengan sangat erat, tapi keinginan ini ia urungkan mengingat statusnya yang sebagai narapidana.
“Apa papa tidak mau memeluk Anya?” Pertanyaan Anya kali ini membuat papanya tersenyum dan menggandeng tangan Anya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Kini mereka pun duduk di ruang tamu dan Maid Yira langsung menyiapkan minuman untuk mereka. Anya sengaja duduk di samping papanya dan kemudian dengan manja bersandar di bahu papa Richie.
“Anya kangen dimanjain sama papa! Biasanya papa selalu nanyain apa aja yang Anya butuhin.”
Sikap manja Anya kali ini membuat Papa Richie tidak sanggup lagi menahan air matanya yang sejak tadi ia tahan. Ia pun memeluk Anya sambil berderaian air mata.
“Papa sangat bersyukur karena memiliki putri sebaik kamu Anya! Maafkan kesalahan papa!” pinta Papa Richie.
Anya pun membalas pelukan papanya erat, “Anya udah maafin, Papa! Anya sayang sama Papa!”
Pemandangan ini membuat Axel dan juga Mama Icha turut terharu. Mereka benar-benar merasa sangat bersyukur karena sekarang sudah berkumpul kembali. Tinggal menyusun rencana jitu untuk menemukan siapa pembunuh Mama Divya yang sebenarnya.
Sedangkan di Rumah Sakit, Prima dan juga Tian kini tengah berusaha meminta tanda tangan Hellencia untuk perjanjian pembebasan bersyarat. Sayangnya, Hellencia masih terus saja merintih kesakitan padahal obat pereda nyeri sudah diberikan dari satu jam yang lalu.
__ADS_1
“Maaf, Nyonya Hellencia! Ada berkas yang harus anda tanda tangani!” ucap Tian yang kini berada di samping Hellencia. Sedangkan Prima memilih untuk menunggu di luar.
“Apa matamu itu sudah rabun, haaa?” tanya Hellen sambil memegangi perutnya yang terasa begitu nyeri.
“Aku ini lagi kesakitan dan kamu malah datang minta tanda tangan!” gertak Hellencia sambil menahan rasa sakitnya.
“Pergi! Pergi!” usir Hellencia sambil memencet tombol pemanggil perawat.
Perawat yang dipanggil oleh Hellencia pun datang dan Tian masih tidak mau keluar dari ruangan Hellencia.
“Ada apa, bu?” tanya perawat sambil mengecek keadaan Hellencia yang kini tengah memegangi perutnya.
“Sakit, Sus! Tolong beri obat pereda nyeri lagi!” pinta Hellencia dengan tatapan memohon.
“Tapi, Bu! Obat Pereda nyeri tidak bisa diberikan secara terus menerus. Apalagi satu jam yang lalu sudah diberikan.”
“Tolong, Sus! Ini benar-benar sangat menyakitkan!” pinta Hellencia yang terus merintih kesakitan.
“Baik, Bu! Tunggu sebentar, ya! Saya akan mengambilkan obat penenang yang lainnya!” Perawat tersebut berbalik dan meninggalkan ruangan Hellen untuk mengambil obat yang lainnya.
Namun, suster tersebut justru terkena omelan dokter saat melaporkan keadaan Hellencia.
“Mana boleh diberi obat penenang? Dia buka pasien sakit jiwa, Suster!” tegur Dokter yang menangani penyakit Hellencia.
“Tapi, satu jam lalu sudah saya suntikkan obat Pereda nyeri ke dalam infusnya. Dan kini pasien kembali merintih kesakitan!” balas suster tersebut.
“Jika satu jam efek obat itu sudah hilang, bisa dipastikan jika pasien ini psikisnya mulai terganggu atau menghadapi depresi yang berlebihan. Baiklah, saya akan menuliskan resep untuknya dan tolong segera hubungi psikolog rumah sakit!” titah dokter tersebut.
“Baik , Dokter!” Perawat tersebut membawa resep kemudian segera mencari obatnya dan memberikannya kepada Hellencia. Selepas itu, perawat tersebut menemui psikologis untuk memeriksa keadaan Hellencia.
__ADS_1