
Jacqueline mengambil ponselnya dan menyalakan senter karena Gudang tersebut benar-benar sangat gelap. Setelah menghidupkan lampu ruangan, Jacqueline pun mulai bergidik ngeri melihat sekeliling Gudang yang penuh dengan debu.
Tidak banyak barang-barang yang ada di sana. Hanya satu lemari kayu besar dan dua buah sepeda gunung yang tampak masih sangat bagus karena memang jarang digunakan.
“Hish, orang kaya ini jorok sekali! Mansion sebesar ini, masih ada saja ruangan yang kumuh seperti ini!” gerutu Jacqueline sambil memasang masker dan mengambil sapu yang sudah disediakan.
Namun, ia mulai penasaran dengan isi lemari besar yang ada di ujung ruangan. Akhirnya, ia melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang tersimpan di dalamnya. Jacqueline memutar kunci pintu lemari besar tersebut dan membuka pintunya.
Tepat saat pintunya sudah terbuka, ada dua ekor tikus yang melompat tepat di wajahnya dan langsung menggigitnya membuat Jacqueline berteriak kencang.
“Aaarrgghhh! Tikuuus!”
Teriakan Jacqueline kali ini membuat puluhan tikus yang ada di dalam lemari langsung keluar berhamburan. Tentu saja hal ini membuat Jacqueline jijik dan berlari ke arah pintu untuk menyelamatkan dirinya.
Ternyata, bukan hanya Jacqueline saja yang merasa terancam. Tikus tikus yang kini berhamburan itu pun merasa terancam dengan teriakan Jacqueline sampai ada beberapa tikus yang menyerang Jacqueline dengan melompat ke arahnya dan menggigit baju yang dikenakan Jacqueline.
“Toolooong!” teriak Jacqueline melolong keras sambil terus berusaha menuju ke pintu keluar sambil menghalau tikus yang terus berlompatan ke arahnya.
“Toloooong!” teriak Jacqueline lagi saat ia melihat ada tikus yang paling besar bersiap untuk menyerangnya juga dan kemudian menggigit jempol kaki Jacqueline sampai berdarah.
Dengan jijik Jacqueline mengibaskan kakinya agar tikus besar itu melepaskan gigitannya di jempol kaki Jacqueline. Setelah gigitan tikus besar tersebut terlepas, Jacqueline langsung berlari ke pintu dengan darah yang mulai mengucur dari kakinya.
Nahasnya lagi, saat ia sampai di pintu, pintunya sama sekali tidak bisa terbuka karena memang kuncinya otomatis. Lagi-lagi Jacqueline mendapati serangan puluhan tikus di dalam Gudang yang ternyata sudah disiapkan sebelumnya oleh tim intel. Puluhan tikus tersebut memang sengaja dikumpulkan sebelumnya dan tidak diberi makan selama satu hari penuh.
Hal ini membuat tikus tersebut sangat kelaparan dan menjadi sangat brutal.
“Tolooong!” teriak Jacqueline lagi sambil memencet sandi nomor yang tadi diberikan oleh Maid yang mengantarnya.
Namun, karena panik luar biasa, Jacqueline salah memencet pin nomor tersebut sampai tiga kali sampai akhirnya pintu tersebut terkunci otomatis selama 8 jam penuh sesuai dengan settingannya.
__ADS_1
Lolongan Jacqueline kali ini tentunya didengar oleh Papa Richie dan juga yang lainnya. Namun, mereka memang sengaja menyiksa Jacqueline dengan seperti itu. Sampai akhirnya Malvin memerintahkan anak buahnya yang menyamar menjadi maid untuk mendatanginya saat Jacqueline mulai menggedor pintu dengan sapu.
“Ada apa, Mbok Tumpi?” tanya Maid dari luar jendela.
“Maaf, saya baru bawakan minuman dan snack untuk Mbok Tumpi!” ujar Maid tersebut sambil menahan geli melihat penampilan Jacqueline yang sudah acak-acakan. Wajahnya juga mulai mengeluarkan darah segar yang terkena gigitan tikus.
“Banyak tikus, bodoh! Cepat buka pintunya!” teriak Jacqueline yang sudah merasa sangat kesal karena Maid tidak kunjung datang untuk menolongnya.
“Waduh! Pintunya terkunci otomatis mbok karena sudah salah pin sampai tiga kali. Jadi, baru bisa dibuka delapan jam yang akan datang!” jelas Maid tersebut membuat Jacqueline membeliakkan matanya dengan sempurna.
“Apaaa?! Lalu bagaimana ini? Kalau begitu panggil tukang untuk membuka pintunya!” titah Jacqueline yang sudah melupakan dirinya yang sedang menyamar sebagai Mbok Tumpi.
“Baik, Mbok!” ucap Maid tersebut sambil menyodorkan makanan lewat jendela.
Meski jendelanya lumayan besar, Jacqueline tetap tidak bisa keluar dari jendela karena sudah dipasang teralis besi secara keseluruhan. Maid yang menyodorkan makanan pun menjadi pusat perhatian para tikus yang kelaparan.
“Bertahan sebentar, Mbok! Saya akan langsung mencari bantuan!” Maid tersebut langsung berlari sambil memanggil tukang kebun untuk membantunya.
Sedangkan Jacqueline pun langsung meminum air mineral yang barusan diberikan oleh Maid sambil habis tak bersisa. Kemudian ia melemparkan botol kosong tersebut ke arah tikus yang sudah menghabiskan makanan yang sebenarnya adalah untuknya.
Kali ini matanya tertuju ke kamar mandi dan Jacqueline pun langsung berlari ke kamar mandi dan mengunci dirinya di dalam sana. Ia mengatur nafasnya yang sudah lelah menghadapi tikus kelaparan yang ada di dalam Gudang sambil berjalan memandangi dirinya di depan kaca.
“Kurang ajar! Bisa-bisanya aku terjebak di ruangan yang sangat mengerikan seperti ini!” umpat Jacqueline sambil mengusap darah yang mengalir di wajahnya dengan tissue toilet. Kemudian ia menyalakan keran untuk mencuci tangannya.
Sayangnya, keran tersebut sama sekali tidak mengeluarkan air dan membuat Jacquelin kembali berteriak kesal.
“Aaarrgghh! Apa-apaan ini? Kenapa airnya malah mati!”
Kini Jacqueline terduduk lemas di atas kloset yang tertutup sambil meratapi kesialannya hari ini. “Jangan menyerah, Jacqueline! Sebentar lagi kau pasti bisa mendapatkan targetmu dengan mudah!” ucap Jacqueline yang menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar gedoran pintu Gudang dan membuat Jacqueline akhirnya bernafas lega. Ia pun langsung bangun dan keluar kamar mandi sambil membawa sapu untuk menghalau tikus yang akan melompatinya.
“Maaf, Mbok! Tukan Kebun tidak berani mendobrak pintu karena harganya sangat mahal!” teriak maid dari luar.
“Lalu bagaimana denganku? Apa kalian sengaja ingin membunuhku di dalam sini, haaa?” gertak Jacqueline sambil terus berputar menghalau tikus yang mulai melompat ke arahnya.
“Kebetulan Tuan Richie dan semuanya sedang pergi untuk keluar dan di Mansion hanya ada saya dengan Pak Tukang saja!”
“Tapi, ini ada makanan yang sudah saya campur dengan racun tikus, Mbok! Setidaknya bisa membantu Mbok Tumpi untuk menghalau tikus yang ada di dalam!” ujar Maid tersebut sambil mengulurkan tangannya memberikan makanan yang sudah dicampur dengan racun tikus.
Meski dirinya masih harus terkurung di dalam Gudang, setidaknya ia mulai tenang karena puluhan tikus tersebut kini sudah mulai menghabiskan makanan yang dicampur dengan racun.
Jacqueline pikir, tikus yang sudah mengkonsumsi makanan beracun itu akan mati begitu saja. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Tikus-tikus yang sedang meregang nyawa itu kembali berlompatan tidak tentu arah. Meski tidak menyerangnya seperti tadi, tetap saja Jacqueline terus berpindah tempat sambil menghalau tikus-tikus yang sedang mendekati ajalnya.
Sedangkan Maid yang melihat aksi Mbok Tumpi menghalau tikus dari luar justru berteriak menyemangati Mbok Tumpi.
“Mbok, di ujung ada tongkat baseball! Ambil aja buat bunuh tikus biar cepat mati!”
“Ya, kamu benar!” Jacqueline langsung mengambil tongkat tersebut dan berperang membunuh tikus yang sedang mendekati ajalnya.
“Ayo, Mbok! Bagus! Pukul lagi lagi Mbok!” teriak Maid dari luar Gudang memberi semangat.
Sedangkan Anya yang melihat hal tersebut dari dalam Mansion hanya diam dan tidak menanggapi sedikit pun.
“Ini baru awal, Sayang! Tenang saja, tim intel sudah mempersiapkan yang lainnya lebih dahsyat lagi untuk menghukum Jacqueline!” ucap Papa Richie.
“Anya sangat membencinya, Pa! Wanita itu benar-benar keji karena sudah membunuh Mama!”
Axel yang ada di samping Anya pun langsung menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat. “Aku tidak akan pernah membiarkannya memegangmu sedikitpun sayang! Jangan risau, kami akan menjagamu secara totalitas sampai ia mendekam di dalam penjara.”
__ADS_1