Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Two weeks later


__ADS_3

Dua minggu kemudian,


Regi benar-benar bekerja dengan baik dan sejauh ini tidak pernah mengecewakan. Sebagai karyawan laundry, Regi mendapatkan jam kerja shift pagi dimana jam 8 pagi ia mulai bekerja dan jam 4 sore, Regi sudah bisa pulang ke rumah.


Selama bekerja, Regi juga masih belum mengetahui sama sekali perihal Anya yang tinggal di roof top karena hal tersebut memang masih dirahasiakan. Hanya karyawan tertentu saja yang mengetahui hal ini. Sedangkan Regi hanya sesekali menemui Anya di ruang kerjanya.


Siang ini, Axel dan juga Papa Richie baru saja kembali dari tugas mereka yang ada di luar kota. Saat turun dari mobil, langkah Axel tampak sangat terburu-buru karena sudah sangat tidak sabar ingin meluahkan kerinduannya dengan Anya.


Sampai beberapa karyawan yang dilaluinya memberikan salam kepadanya, Axel sama sekali tidak menggubrisnya, apalagi menjawabnya. Axel terus saja melangkahkan kakinya dengan tegap dan bergegas menuju ke ruang kerja istrinya.


Hal ini tentunya menjadi trending topik oleh para karyawan di Restoran dan terdengar juga di telinga Regi.


“Wah, Tuan Axel nih roman-romannya udah kangen berat sama Non Anya,” celetuk salah satu asisten chef.


“Iya, bener. Sampe disapa kita aja gak jawab sama sekali,” timpal pramusaji.


“Gimana gak kangen, coba? Ninggalin istri secantik Nona Anya sampe hampir satu bulan.”


“Nah, bener tuh kata dia! Ampe Nona Anya aku perhatikan juga gak pernah keluar dari ruangannya sama sekali. Beuh, udah suaminya posesif banget, istrinya nurut pula.”


“Padahal nih ya, Nona Anya itu kabarnya masih muda banget loh. Kalo gak salah umurnya baru mau 22 tahun.”


Dapur restoran seketika langsung ramai membicarakan bos mereka. Sedangkan Regi yang tengah mengumpulkan lap-lap kotor untuk dicuci hanya diam mendengarkan celotehan para karyawan. Tapi, tiba-tiba dapur yang tadinya sangat ramai, langsung berubah jadi sepi bak kuburan saat Intel Ika masuk ke dalam.


“Tolong siapkan makan siang untuk keluarga besar Nona Anya, ya!” titah Intel Ika.


“Siap!” jawab Kepala Chef yang langsung memberi kode kepada anak buahnya untuk segera menyiapkan menu makan siang.


Regi yang melihat seperti itu hanya bisa terkekeh geli dalam hati, ‘Ternyata adik sepupuku itu bener-bener ditakuti sama anak buahnya yang usianya justru lebih tua darinya. Hemm, uang dan harta memang berkuasa atas segalanya,’ gumam Regi dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Axel yang kini sudah berada di dalam ruangan Anya pun langsung memeluk istrinya dengan sangat erat memperlihatkan betapa merindunya ia yang selama ini hanya saling menyapa lewat video call. Mama Icha yang melihat Axel tampak sangat merindukan Anya pun sadar diri.


Ia langsung mengajak Papa Richie ke ruang kerja yang ada di sampingnya untuk memberi waktu Axel meluahkan kerinduannya dengan Anya.


“Aku sangat merindukanmu, Cinta.” Axel mengecup kepala istrinya berkali-kali. “Akhirnya, aku bisa pulang dan memeluk boneka cantik kesayanganku!” lanjutnya lagi.


Anya pun membalas pelukan Axel sambil mengusap punggung suaminya dengan sangat lembut, “Anya juga kangen banget sama Abang. Tapi kalo meluknya kek gini, Anya jadi susah bernapas, Bang!”


Axel langsung cepat-cepat melepaskan pelukannya dan kini beralih mengelus perut istrinya yang tampak semakin membuncit dari sebelumnya.


“Uluh-uluh, maafin daddy ya, Sayang!” ucap Axel yang kemudian merangkul istrinya dan mengajaknya duduk di sofa.


Kemudian, Axel sengaja memangku istrinya sambil memandangi wajah istrinya yang semakin cantik dan mempesona di matanya.


“Istri Abang ini makin cantik aja, sih!” puji Axel sambil mengabsen wajah istrinya dengan jari telunjuknya. Menyibakkan poni rambut Anya, kemudian turun menyusuri hidung mancung istrinya, dan mengusap bibirnya dengan ibu jari.


“Tapi kita kan telfonan hampir tiap malem, Bang!” balas Anya yang sudah melingkarkan tangannya di leher Axel dengan manja.


“Tetap aja rasanya beda. Megang bibir istri sendiri aja udah nikmat banget, apalagi …”


Axel mendekatkan bibirnya ke bibir Anya dan memagutnya dengan sangat lembut. Meski kerinduannya sudah di ubun-ubun kepala, tetap saja Axel tidak mau tergesa-gesa menikmati bibir istrinya. Anya yang juga merindukan sentuhan suaminya pun membalas pagutan Axel.


Keduanya saling berciuman dan bertukar saliva meluahkan rasa rindu yang sudah lama tak berjumpa. Pagutan yang tadinya sangat lembut, kini mulai berubah sedikit liar karena getaran keduanya menginginkan yang lebih daripada sekedar berciuman.


Axel melepaskan pagutannya saat keduanya hampir kehabisan nafas dan mengusap bibir Anya yang sedikit membengkak karena ulahnya.


“Kita pindah ke roof top, yuk! Abang udah kangen banget nih!” ajak Axel yang tangannya mulai mengusap dada sintal Anya.


Anya pun mengangguk dan bangun dari pangkuan Axel. Namun, tiba-tiba terdengar suara demo dari perut Anya yang sudah waktunya diisi.

__ADS_1


“Yaah, ternyata dedek butuh makan siang dulu, ya?” ucap Axel sambil mengusap perut Anya. “Ya udah deh, kali ini Daddy bakal ngalah dulu jengukin dedek di dalam sini. Tapi habis mommy makan siang, dedek anteng dulu ya di dalam perut mommy. Soalnya daddy udah kangen banget,” tutur Axel yang kemudian mengecup perut Anya dengan mesra.


Tepat saat bibir Axel mengecup perut Anya, terasa perut Anya berdenyut karena tendangan kencang dari bayi yang ada di dalam.


“Wah, anak Daddy udah bisa jawab -iya-. Terima kasih banyak, Sayang.” Axel kembali mengusap perut istrinya dan denyutan di perut Anya semakin terasa.


“Ya Ampun, Cinta. Anak kita udah bergerak-gerak di dalam sini,” tutur Axel dengan mata yang berkaca-kaca. “Gak nyangka, ya? Ternyata sebahagia ini menjadi seorang daddy.”


Cup! Axel kembali mengecup kening istrinya dengan sangat mesra,


“Terima kasih sudah mengandung anak kita dengan sangat baik. Aku sangat mencintaimu!” ungkap Axel sambil memandang istrinya dengan sendu.


Anya membalas tatapan suaminya dengan senyumnya yang merekah. Kemudian, ia mendekat ke telinga kiri Axel dan berbisik mesra, “Terima kasih juga karena udah bikin Anya hamil, Bang!”


Bisikan Anya kali ini membuat Axel menelan ludahnya kasar. Tubuhnya seketika meremang dan jika tidak mengingat bunyi di perut Anya tadi, ia sudah membawa Anya ke roof top untuk meluahkan kerinduannya selama ini.


“Udah, dulu kangen-kangenannya,” ucap Mama Icha sambil membuka pintu ruang kerja Anya dan masuk bersama Papa Richie. “Sekarang kita makan dulu, yuk! Udah disiapin semua tuh, di ruang samping,” ajak Mama Icha.


Papa Richie mendekati putri kesayangannya dan merentangkan tangannya karena memang belum bertemu dengan Anya.


“Apa kabar putri cantik papa?”


Anya langsung menyambut papanya dan memeluknya dengan manja, “Baik, papa! Papa juga sehat, kan?” tanya Anya balik.


Papa Richie melepas pelukannya dan memandangi putrinya secara intens, “Kalo papa sih baik, Anya Sayang.” Kemudian Papa Richie menunjuk ke arah Axel, “Tapi kalo suami kamu kayaknya lagi sekarat!”


Jawaban Papa Richie kali ini membuat Anya, Mama Icha, dan juga Axel tertawa bersama. Mereka berempat akhirnya menuju ke ruang samping untuk menikmati makan siang mereka.


 

__ADS_1


__ADS_2