HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
RESMI BERPISAH


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu sejak kepergian Alex, sidang perceraian baru saja di bacakan oleh hakim di depan sana. Saat ini, detik ini, Alex dan Jia bukan lagi suami istri tetapi hanya menjadi masa lalu. Masa lalu yang indah dan tidak bisa terlupakan. Bukan egois karena memikirkan ego Jia melakukan ini, tapi ia melakukan ini karena ia memikirkan nasib anak Alex dari istri keduanya yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah sepenuhnya. Kalau pun Jia mempertahankan hubungan ini, pasti pernikahannya tidak akan berjalan sesuai harapannya. Jia ingin Alex bertanggung jawab kepada Ayu dan anaknya, ia tidak mau menempatkan Alex dalam posisi sulit hingga ia harus membagi kasih sayangnya dengan wanita lain.


Alex yang duduk di kursi sebelah kanan menatap Jia yang duduk di sebelah kiri. Air mata menetes begitu saja di pipinya, ia tak kuasa menahan sesak yang menyeruak di dalam dadanya karena perpisahan ini. Perpisahan yang tidak pernah ia harapkan selama hidupnya.


Jia beranjak dari kursinya begitupun dengan Alex. Keduanya berdiri berhadapan saling melempar pandangan. Tiba tiba...


Grep...


Alex menarik Jia ke dalam pelukannya, tidak peduli dengan tatapan orang lain termasuk Ayu, istri keduanya yang saat ini duduk di kursi sambil menggendong babbynya.


" Maafkan aku Jia! Hiks... Aku menyesali sikap dan perbuatanku kepadaku. Aku benar benar minta maaf Jia." Alex tidak bisa berkata apa apa lagi selain kata maaf dan penyesalan saja.


Jia mengelus punggung Alex seolah memberikan ketenangan di sana.


" Aku memaafkanmu Mas! Sekarang lepaskan aku! Kita sudah bukan lagi suami istri, ada hati yang harus kau jaga di sana. Lihatlah istrimu! Dia memperhatikan kita." Ucap Jia mendorong pelan tubuh Alex.


Alex melepas pelukannya, ia menoleh ke arah Ayu yang saat ini sedang menatapnya. Alex mengusap air matanya, lalu ia kembali memandangi wajah Jia.


" Walaupun kita sudah berpisah, tetapi hati dan cintaku tetap milikmu Jia. Aku tidak akan pernah memberikannya pada orang lain." Ucap Alex.


" Jangan mengulangi kesalahan yang sama Mas, jika kau tidak membuka hatimu untuk istrimu, maka Ayu akan bernasib sama denganku. Dan kau akan menyesal setelah Ayu pergi bersama orang lain." Ujar Jia.


Ayu berjalan mendekati mereka berdua.


" Hai, kenalkan aku Ayu. Maafkan aku jika aku terkesan tidak tahu malu merebut suamimu. Tapi apalah dayaku, jika kesalahan kami membuahkan hasil. Aku membutuhkan tanggung jawab suamimu. Sebenarnya tidak apa apa aku jadi yang kedua, tapi terima kasih telah melepas suamimu untukku sepenuhnya." Ucap Ayu menatap Jia.


Cukup mengesankan pertemuan pertama mereka. Tidak ada kebencian, tidak ada kemarahan ataupun perasaan yang lainnya. Jia memindai tubuh Ayu dari atas hingga bawah, sungguh jauh dari ekspektasinya. Ia berpikir Ayu memiliki postur tubuh yang luar biasa namun Ayu bertubuh sedikit gemuk, berbadan pendek dan kulitnya sedikit hitam serta rambut ikal. Jia tersenyum kepadanya.

__ADS_1


" Mungkin sudah takdir kami harus seperti ini, siapa nama anakmu?" Tanya Jia menatap Ayu tanpa kebencian. Jia tidak bisa marah kepada Ayu kerena ia juga korban, apalagi ia sama sekali sudah tidak ada perasaan kepada suaminya lagi.


" Namanya Mikayla." Sahut Ayu.


Jia menatap bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu dalam gendongan Ayu. Ia mengerutkan keningnya pasalnya bayi itu tidak mirip dengan Alex sama sekali. Ia menatap Ayu dan bayinya bergantian. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu di balik semua ini. Tidak mau berpikir buruk tentang orang lain karena ia merasa bukan wanita baik baik, ia segera menepia pikiran itu.


" Nama yang cantik secantik orangnya, semoga kelak putrimu menjadi anak sholehah." Ucap Jia memberikan doa terbaik kepada anak dari mantan suaminya.


" Amin, terima kasih." Sahut Ayu.


Jia menatap Valle yang hanya duduk di kursi panjang yang ada di ruangan itu sambil memainkan ponselnya tanpa tertarik dengan obrolan orang dewasa.


" Valle, lihatlah adik kecilmu!" Ucap Jia.


Valle hanya menoleh sekilas saja, ia kembali fokus pada ponselnya.


"Valle, ayo sapa Mama dan adik baru kamu sayang." Ucapan Alex mbuat Valle berdiri. Ia mendekati mereka bertiga lalu menatap Alex dengan tajam.


" Valle jang...


" Jangan membela mereka lagi Ma! Aku tidak sanggup lagi mendengar pembelaan Mama untuk mereka berdua." Ucap Valle memotong ucapan Jia.


" Dan apa tadi? Adik?" Tanya Valle menatap Alex dan Ayu bergantian.


" Adikku hanya akan terlahir dari rahim ibuku bukan wanita lain." Ucap Valle penuh kebencian. Lagi lagi ucapannya membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Valle akan mengatakan penolakan sekejam ini.


Jia merasa tidak enak kepada Alex dan Ayu. Ia hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Aku rasa tidak ada gunanya lagi kita di sini Ma, ayo pergi." Valle menggandeng tangan Jia meninggalkan ayah dan istri barunya.


Alex menatap Ayu, lalu berlalu begitu saja. Ayu segera berlari menyusul Alex karena tidak mau pulang sendirian.


Valle membawa Jia ke jalan raya untuk menunggu taksi yang sudah ia pesan sebelumnya, Jia mencekal tangan Valle membuat Valle menatap ke arahnya.


" Kenapa kamu berbuat seperti tadi sayang? Papamu pasti sangat terluka Nak." Ujar Jia.


" Stop memikirkan perasaan papa Ma! Sekarang sudah saatnya kita memikirkan diri sendiri. Aku mau melihat Mama bahagia. Dan jangan protes dengan sikapku tadi, karena aku sudah melakukan hal yang benar." Ucap Valle dalam mode kesal. Jia tidak bisa berbuat apa apa kalau sudah seperti ini, atau Valle akan bertambah marah dan mogok makan selama berhati hari.


Mereka berdiri di trotoar tepi jalan raya, mereka dapat melihat Alex dan Ayu yang meninggalkan pelataran pengadilan agama dengan berboncengan motor. Tiba tiba ponsel Jia berdering tanda panggilan masuk, ia mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu melihat layar ponsel yang bertuliskan Wahyu memanggil. Jia menolak panggilannya.


Ya... Sudah berulang kali Wahyu menelepon Jia namun ia selalu menolaknya. Selama satu bulan ini, Jia berusaha menghindari Wahyu. Ia ingin melupakan Wahyu dari dalam hatinya. Egois? Memang Jia akui dia egois, tanpa kejelasan tiba tiba dia memutuskan hubungan dengan Wahyu. Seharusnya mereka bertemu lalu membicarakan masalah ini dengan baik baik, namun Jia tidak melakukannya. Bukan tanpa alasan Jia melakukan itu, ia tidak mau bertemu dengan Wahyu karena ia yakin ia tidak akan sanggup menatap mata Wahyu. Apalagi untuk membicarakan tentang perpisahan. Itu sebabnya ia hanya berusaha menghindarinya.


Tidak tahu saja Jia, jika di sebrang sana Wahyu nampak kelimpungan. Ia yang sedang bekerja di ruangannya mendadak menjadi marah semarah marahnya. Ia tidak terima di perlakukan seperti ini oleh Jia setelah ia merasa nyaman menjalin hubungan dengannya.


" Aku akan datang ke rumahmu sekarang juga kalau kamu terus menghindar dariku, sudah cukup aku memberimu waktu selama asatu bulan ini Jia." Wahyu mengirimkan voicenote kepada Jia.


Satu menit, dua menit, dan hitungan menit ketiga Wahyu mendapatkan balasan dari Jia.


Temui aku di cafe xx sekarang, ada yang ingin aku bicarakan padamu ~Jia


Wahyu tersenyum senang, ia segera beranjak dari tempatnya menuju tempat yang di janjikan oleh Jia.


Apakah Jia bisa memutuskan hubungan dengan Wahyu seperti tekadnya?


Temukan jawabannya di bab selanjutnya..

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat...


TBC....


__ADS_2