HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
INSIDEN PEMBAWA BERKAH


__ADS_3

Hari hari berlalu, hubungan persahabatan Valle dan Deon semakin renggang. Hal itu membuat Deon nampak uring uringan, namun ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Teman teman sekelas mereka nampak heran dengan sikap Valle yang dingin terhadap Deon, ada gerangan apa sampai kepedulian Valle terhadap Deon menghilang? Bahkan saat Deon di bully oleh teman temannya ia tidak lagi membelanya. Ya.. Deon masih menyamar menjadi idiot seperti biasa, ia hanya membiarkan Valle yang tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya. Dari sinilah Deon tahu sifat asli Valle, yaitu membenci yang namanya kebohongan. Untuk ke depannya ia tidak akan melakukan kebohongan lagi terhadap Valle.


Malam ini tuan Daniel mengundang keluarga Argham makan malam bersama di rumah mereka. Dengan senang hati Argham memenuhi undangan itu. Setelah turun dari mobil, Argham menggandeng Jia mendekati pintu rumah tuan Daniel dimana sang tuan rumah sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Dengan malas Valle mengekor di belakang kedua orang tuanya.


" Selamat malam tuan Daniel, terima kasih atas undangan makan malamnya." Ucap Argham.


" Selamat malam tuan Argham, kembali kasih atas kesediaan anda berkunjung ke rumah kami, silahkan masuk!" Ucap tuan Daniel.


Mereka masuk ke dalam sampai pada Valle yang berpapasan dengan Deon. Keduanya saling melempar tatapan, Deon tersenyum manis sedangkan Valle malah membuang muka. Deon menghela nafasnya sambil menahan rasa sesak di dalam hatinya.


Sampai di meja makan, mereka mengambil posisi duduk saling berhadapan membuat Valle berhadapan dengan Deon.


" Silahkan nikmati hidangannya tuan dan nyonya Argham, Valle juga." Ucap nyonya Diva.


" Terima kasih Nyonya."


" Terima kasih Tante." Ucap Valle.


Mereka makan dengan khidmat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selesai makan mereka berkumpul di taman sebelah kolam renang dengan berbagai hidangan di meja bundar yang ada di sana. Kali ini Valle kebagian duduk dalam satu meja dengan Deon yang lumayan jauh jaraknya dari meja Argham dan yang lainnya.


Deon menatap Valle yang asyik memainkan ponselnya.


" Alle." Panggil Deon.


Tidak seperti biasanya, Valle hanya menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada ponsel di tangannya.


" Sampai kapan kau akan marah padaku?" Tanya Deon.


Valle menghembuskan kasar nafasnya lalu menatap Deon dengan intens.


" Tidak perlu pedulikan hal itu, kita tidak seakrab itu." Sahut Valle.


" Aku tahu kau memang keras kepala Alle, tapi aku tidak tahu jika hatimu sekeras ini. Apa kesalahanku tidak pantas untuk di maafkan?" Tanya Deon.


" Hatiku sudah terlanjur kecewa Yon, aku juga tidak tahu kenapa aku tidak bisa kembali akrab denganmu seperti sebelumnya. Aku merasa malu, aku malu karena diam saja saat kau peluk, aku malu karena aku telah memberikan perhatian lebih padamu. Aku memperlakukanmu seperti anak kecil selama ini, kau minta di suapin aku suapin, kau minta apa aku turuti. Aku malu dengan semua yang pernah aku lakukan padamu." Ujar Valle mengeluarkan uneg uneg di dalam hatinya.


" Kenapa harus malu Alle? Itu perbuatan mulia. Lagian tidak ada yang tahu kalau aku cowok normal, hanya kamu yang tahu. Dan ya.. Biasanya kau cuek dengan keadaan sekitar, tapi sekarang kenapa kamu harus malu?" Ujar Deon.


" Aku malu padamu Deon." Tentunya Valle hanya bisa mengucapkannya dalam hati.


" Tau ah." Cebik Valle mengerucutkan bibirnya.


" Heh.. Jangan manyun gitu donk! Bikin aku tambah gemes tau nggak sih." Ucap Deon terkekeh.


" Bodo' amat." Sahut Valle cuek.


" Udah nggak marah kan?"

__ADS_1


" Siapa bilang?" Valle menatap Deon.


" Lha ini buktinya udah mau ngerespon aku, berarti kamu udah nggak marah donk sama aku. Aku minta maaf deh." Ucap Deon.


" Nggak akan maafin." Sahut Valle.


" Aku harus lakuin apa supaya kamu mau maafin aku?"


" Nyebur kolam." Sahut Valle.


Deg...


Jantung Deon berdetak kencang, walaupun ia anak orang kaya namun ia sama sekali tidak bisa berenang. Ada trauma tersendiri di dalam diri Deon karena waktu kecil ia pernah tenggelam di kolam renang hotel.


" Kenapa? Nggak mau?" Valle tersenyum remeh.


" Kalau nggak mau ya udah nggak apa apa, aku nggak akan maafin kamu." Ujar Valle.


Tiba tiba Deon beranjak dari kursinya lalu berlari mendekati kolam dan...


Byurrrr....


Semua orang terkejut, mereka menoleh ke asal suara.


" Deon!!!!!" Teriak nyonya Diva berlari mendekati bibir kolam.


" Tenang Nyonya!" Jia mengelus lengan nyonya Diva.


" Bagaimana saya bisa tenang nyonya Jia, Deon tidak bisa berenang."


Jeduaaarrrr....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Valle terasa kaku.


" A... Apa?.. Tidak bisa berenang?" Tanya Valle memastikan.


" Iya Valle, Deon tidak bisa berenang. Ia punya trauma dengan kejadian seperti ini, ya Tuhan.. Semoga Deon baik baik saja."


Sontak Valle menatap ke arah kolam renang dimana tubuh Deon sudah tenggelam. Tuan Daniel segera mengangkat tubuh Deon ke permukaan di bantu oleh Argham. Nyonya Diva langsung mendekati tubuh Deon yang basah kuyup, yang tuan Daniel tidurkan di tepi kolam.


" Deon bangun Nak!" Nyonya Diva sangat khawatir putranya tidak bisa tertolong. Tuan Daniel menekan dada Deon berulang kali sampai Daniel mengeluarkan air dari mulutnya.


Uhuk.. Uhuk.. Uhuk...


Valle merasa lega, ia begitu tegang dengan situasi darurat ini.


" Alhamdulillah sayang, kamu baik baik saja." Nyonya Diva memeluk putra semata wayangnya.

__ADS_1


" Kenapa kamu bisa melompat ke sana sayang? Bagaimana jika terjadi hal buruk padamu? Mama tidak akan memaafkan diri Mama sendiri." Nyonya Diva menciumi pipi Deon yang masih merasa lemas.


Deon menatap Valle namun sesaat kemudian ia memejamkan mata kehilangan kesadarannya.


" Astaga Deon, Papa bawa Deon ke kamar! Mama akan memanggil dokter." Ucap nyonya Diva.


Tuan Daniel segera membopong tubuh Deon menuju kamarnya di ikuti yang lainnya. Valle nampak cemas, rasa bersalah menjalar di dalam hatinya.


" Kenapa kau lakukan ini Deon? Kenapa kau membahayakan dirimu sendiri hanya untuk mendapat maaf dariku? Kau begitu konyol, apakah sepenting ini diriku bagimu?" Batin Valle.


Tuan Daniel dan yang lainnya masuk ke dalam kamar Deon. Valle nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar bernuansakan abu abu ini. Mata Valle terbelalak saat melihat banyak fotonya tertempel pada dinding tepat di depan ranjang Deon. Mungkin Deon akan melihat fotonya sebelum ia tidur.


" Gawat kalau mama sama papa sampai lihat, bisa bisa di bully aku sama mereka. Semoga mereka tidak melihatnya." Ujar Valle dalam hati.


Tanpa mengurangi rasa hormat, tuan Daniel meminta Argham dan yang lainnya meninggalkan kamar Deon karena ia harus mengganti baju putranya. Argham, Jia dan Valle keluar dari kamar, mereka menunggu di kursi yang berada di ruangan samping kamar Deon.


Jia menatap Valle dengan tatapan menyelidik.


" Valle, apa ini terjadi karena kamu yang memintanya?"


Glek..


Valle menelan kasar salivanya di tatap seperti itu oleh Jia. Ia tidak berani mengatakan apa apa kepada ibunya.


" Jika benar kau sudah keterlaluan Valle, kau membahayakan nyawa orang hanya karena menuruti egomu. Setelah ini minta maaf pada Deon dan kembali berteman dengannya seperti sebelumnya. Anggap saja kau sedang menebus kesalahanmu yang bisa berakibat fatal ini." Ucap Jia penuh penekanan. Kalau sudah seperti ini Valle tidak bisa membantah Jia, ini artinya Jia sudah terlalu kecewa atas sikapnya.


" Baik Ma." Sahut Valle.


Tak lama dokter datang memeriksa keadaan Deon, mereka semua bisa bernafas lega karena tidak ada hal yang perlu di khawatirkan. Deon baik baik saja. Para orang tua dan dokter meninggalkan kamar Deon, kini tinggal Valle yang ada di sana. Ia menatap wajah pucat Deon dengan perasaan bersalah.


" Deon maafkan aku! Aku tidak bermaksud mencelakai kamu, sadarlah! Mari kita berteman lagi seperti dulu." Ucap Valle.


Tiba tiba Deon menggenggam tangan Valle tanpa membuka matanya membuat Valle terkejut.


" Tepati ucapanmu Alle, terima kasih sudah memaafkan aku dan mau berteman lagi denganku." Ucap Deon.


" Kau sudah sadar?" Tanya Valle menatap Deon yang masih setia memejamkan matanya.


" Iya, tapi aku merasa pusing. Aku butuh istirahat, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke depan saat kau pulang nanti." Ucap Deon.


" Tidak apa, kau istirahatlah! Aku pulang dulu, sampai jumpa besok di sekolah." Ujar Valle.


" Hati hati." Ucap Deon.


Valle berjalan keluar meninggalkan kamar Deon, Deon nampak bahagia karena hubungannya dengan Valle kembali seperti dulu.


" Aku bahkan rela mati demi bisa mendapatkan kamu lagi Alle. Aku menyayangimu, semoga kita tidak pernah terpisahkan sampai kita dewasa nanti. Setelah kita dewasa, aku akan menjadikanmu sebagai istriku. Itu janjiku padamu." Batin Deon.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2