HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
KEPERGOK BERDUAAN


__ADS_3

Awan gelap menyelimuti langit di sore hari ini. Suara gemuruh petir mulai terdengar di telinga para anak manusia. Bahkan kilatan putih mulai membuat sebagian orang takut untuk keluar rumah. Entah apa yang sedang terjadi saat ini, seolah alam ikut berduka melihat Wahyu yang sedang terpuruk.


Di dalam ruangan kerja, Wahyu duduk di lantai bawah menekuk kedua kakinya. Ia menyandarkan dagunya di tengah tengah kedua lututnya menahan sesak di dadanya. Tangannya meremas undangan pernikahan yang baru saja Argham kirimkan kepadanya. Sebagai teman dekat sekaligus sebagai seseorang yang telah mempertemukan Argham dengan Jia, Argham sengaja memberikan undangan pertama kepada Wahyu.


Bagaikan di hantam bebatuan besar, dada Wahyu terasa sesak saat membaca nama yang terukir indah di sana. Nama yang seharusnya menjadi namanya kini telah di gantikan oleh Argham. Padahal tinggal menghitung hari ia terlepas dari status suami. Dan rencananya ia akan mengejar cinta Jia kembali.


Ya... Wahyu dan istrinya sedang dalam proses perceraian. Wahyu sudah tidak tahan lagi menghadapi sikap sang istri yang semakin ke sini semakin ingin menang sendiri. Bahkan kedua orang tua Wahyu sudah tidak di hargai lagi. Masalah anak, biarlah dia ikut ibunya yang penting Wahyu akan bertanggung jawab dengan menafkahinya.


Bugh... Bugh...


Wahyu memukul dadanya sendiri berharap sesak yang mendera segera hilang. Namun tetap saja, rasa sesak itu semakin menghimpit.


" Kenapa nasib cintaku dengan Jia seperti ini ya Tuhan? Setelah aku mendapatkan kesempatan kedua, kini aku kehilangan kesempatan itu lagi."


" Jia... Aku harus memberitahu Jia kalau aku dalam proses perceraian. Siapa tahu Jia mau membatalkan pernikahannya dengan Argham karena aku yakin Jia masih mencintaiku." Monolog Wahyu.


Wahyu bisa berpikir seperti itu karena Argham menceritakan masalahnya dan Jia sampai Jia mau menerima lamarannya. Wahyu merasa Jia melakukannya karena terpaksa. Wahyu beranjak dari tempatnya, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Jia.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam rumah Argham. Argham yang baru saja masuk ke dalam segera menghampiri Jia di dapur yang sedang membuat susu untuk Raffa.


" Jia, aku baru saja memberikan undangan pertama kita pada Wahyu."


Deg...


Pyarrr.....


Karena saking terkejutnya Jia menyenggol gelas susu yang sedang ia aduk hingga pecah di berserakan di lantai.


" Hati hati Jia!" Argham langsung mendekati Jia lalu menarik tangan Jia menjauh dari pecahan beling tersebut.


" Kenapa sepertinya kamu terkejut seperti itu? Wajarkan kalau aku memberikan undangan pernikahan kita yang pertama pada Wahyu? Bukankah dia sahabatmu? Biasanya sahabat pasti akan menjadikam sahabatnya sebagai orang pertama yang mendengar kabar bahagia." Argham memberondong Jia dengan berbagai pertanyaan.


" I.. Iya Mas." Sahut Jia.

__ADS_1


Jia dapat merasakan apa yang sekarang Wahyu rasakan karena masalah ini. Ia yakin Wahyu pasti merasa tersakiti dengan keputusannya. Apalagi berulang kali Wahyu bilang kepadanya jika Wahyu tidak akan pernah melupakan cintanya kepada Jia.


" Maafkan aku karena telah menyakitimu." Batin Jia.


Belum juga kesadaran Jia kembali, ponselnya terdengar berdering tanda panggilan masuk. Jia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia menatap layar ponsel yang menunjukkan foto Wahyu di sana. Jia melirik Argham lalu ia segera berlalu dari sana. Ia menuju taman belakang untuk mengangkat teleponnya. Argham merasa ada yang aneh dengan Jia, ia jadi bertanya tanya kenapa Jia menjauh darinya saat menerima telepon? Ingin sekali Argham mengikuti Jia secara diam diam, namun sekuat mungkin ia menahan dirinya untuk tidak melakukan itu karena menghargai privasi Jia.


Di taman belakang, Jia duduk di atas gazebo. Ponsel menempel sempurna pada telinganya.


" Ha... Halo." Jia mendadak gugup menerima telepon dari Wahyu. Dapat ia tebak jika Wahyu pasti akan menuntut penjelasan darinya.


" Temui aku di cafe xx jam tujuh malam! Aku butuh penjelasan darimu tentang undangan pernikahan ini Jia." Ucap Wahyu di seberang sana.


Tanpa membalas ucapan Wahyu, Jia memutuskan sambungan teleponnya. Ia tahu jika sudah seperti ini, permintaan Wahyu tidak bisa di tolak. Mau tidak mau Jia harus menemui Wahyu nanti malam.


" Jia kamu sudah selesai?" Argham berjalan menghampiri Jia sambil menggendong Raffa.


" Raffa menangis, mungkin dia haus." Sambung Argham.


" Ah iya Mama sampai lupa ya sayang, anak Mama memang kehausan dari tadi. Maafin Mama ya sayang." Jia mengambil Raffa dari gendongan Argham. Ia menciumi pipi Raffa dengan lembut lalu berjalan menuju dapur kembali.


" Biar aku saja yang membuatkan susu! Kamu tunggu di kamar saja." Ujar Argham.


" Iya Mas, terima kasih." Sahut Jia.


Jia membawa Raffa ke kamarnya sedangkan Argham mulai membuat susu untuk Raffa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruangan vip di cafe xx yang terletak di barat alun alun kota, Wahyu dan Jia duduk saling berhadapan. Wahyu menatap Jia sedangkan Jia hanya bisa menundukkan kepalanya tidak berani menatap Wahyu.


" Kau sadar telah menyakitiku?" Tanya Wahyu. Jia menganggukkan kepalanya.


" Tapi mau bagaimana lagi Yu? Semua karena keadaan." Sahut Jia.

__ADS_1


" Aku tahu, kau tidak akan membuat keputusan tanpa banyak pertimbangan." Sahut Wahyu.


Wahyu menggenggam tangan Jia membuat Jia mendongak menatap ke arahnya.


" Aku dalam proses perceraian."


Deg...


Ucapan Wahyu membuat Jia terkejut. Ia menatap Wahyu dengan tatapan menyelidik seolah meminta penjelasan.


" Sama sepertimu. Aku tidak tahan dengan sikapnya, aku memilih untuk berpisah. Aku berniat memberikan kejutan untukmu untuk mengambil cintamu setelah aku resmi berpisah. Tapi ternyata kau duluan yang memberikan kejutan padaku dengan mengirim undangan itu." Ujar Wahyu.


" Jia, aku mohon bersabarlah untuk menungguku! Tinggal beberapa hari. Batalkan pernikahanmu dengan Argham dan menikahlah denganku. Kita wujudkan impian kita untuk bersama selama ini. Tuhan telah memberikan kesempatan emas kepada kita Jia, tolong jangan sia siakan kesempatan ini." Sambung Wahyu menatap Jia dengan penuh cinta. Pikirkanlah keinginanku ini Jia." Ucap Wahyu.


Jia menatap tangannya yang di genggam oleh Wahyu, tanpa sengaja ia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya membuatnya teringat dengan hubungannya dan Argham. Ia segera menarik tangannya dari genggaman Wahyu.


" Maaf aku tidak bisa, aku sudah terikat dengan Mas Argham. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku padanya Wahyu. Ini bukan masalah cinta, tapi tentang hubungan yang harus aku jalin dan aku jaga sampai menjadi bahagia. Valle butuh Mas Argham dan Raffa membutuhkan aku. Maafkan aku! Aku tidak bisa mewujudkan impianmu."


Ucapan Jia membuat Wahyu semakin terpuruk. Ia tidak menyangka jika Jia lebih memilih Argham daripada dirinya. Pria yang telah Jia cintai selama ini.


" Aku harus pergi, Valle di rumah sendirian. Sekali lagi maafkan aku!" Ucap Jia beranjak dari kursinya tanpa menunggu balasan dari Wahyu.


Jia membuka pintunya bertepatan dengan Argham yang lewat di depannya. Entah kebetulan atau bagaimana hingga kejadian seperti itu bisa terjadi.


Deg...


Keduanya saling menatap dengan jantung yang berdetak kencang. Melihat Jia yang mematung di depan pintu, Wahyu segera menghampirinya.


" Ada apa Ji... " Wahyu menjeda ucapannya saat melihat ada Argham yang berdiri di depan pintu.


" Kalian berduaan? Apa....


Nah loh ketahuan nggak nih? Jangan lupa tekan like koment dan votenya biar Jia semangat donk...

__ADS_1


Terima kasih...


TBC....


__ADS_2