
Bagaikan berada di depan meja sidang yang sedang menunggu keputusan hakim, jantung Wahyu berdetak sangat kencang. Bahkan udara dingin tak mampu menahan keringat dingin yang menetes begitu saja di keningnya. Dengan tangan gemetar ia mengusap keringat tersebut.
" Katakan apa yang ingin Tante sampaikan sebelum saya melangkah lebih jauh, karena usaha saya akan sia sia tanpa restu dari tante dan om." Ucap Wahyu, ia menghembuskan nafasnya dalam dalam.
" Saya ingin tahu apa yang akan kau lakukan jika kami tidak memberikan restu kepadamu untuk menyunting putri kami?" Bukan tanpa alasan nyonya Dodi menanyakan hal itu. Ia hanya ingin memastikan pria seperti apa yang sedang mengejar putri semata wayangnya saat ini. Ia tidak ingin salah memilihkan pendamping hidup untuk Claris.
" Saya akan berjuang untuk mendapatkan restu itu dari kalian berdua dan berusaha mendapatkan hati Claris, namun jika pada akhirnya usaha saya memang gagal maka saya akan mundur. Saya tidak akan memaksakan seseorang untuk bersama saya karena sebesar apapun usaha saya untuk membuatnya bahagia akan sia sia." Terang Wahyu.
Nyonya Dodi menatap suaminya sambil tersenyum. Inilah sosok yang mereka cari, pria yang mau berjuang tanpa memaksakan obsesinya.
" Apa kau bersungguh sungguh dengan semua janjimu yang akan membuat putri kami bahagia? Apa kau akan berjanji akan memprioritaskan putri kami dari apapun?" Tanya nyonya Dodi menatap Wahyu.
" Saya akan berusaha untuk menjadikan Claris prioritas utama saya, tapi saya tidak bisa berjanji akan hal itu. Karena bagi saya pekerjaan saya sama pentingnya dengan Claris, ada ribuan pegawai yang bergantung pada saya Tante. Jadi saya harus mempertimbangkan mana yang lebih membutuhkan saya saat itu." Sahut Wahyu tanpa takut di tolak.
Nyonya Dodi mengangguk anggukkan kepala tanda puas dengan jawaban Wahyu. Memang inilah jawaban yang ia tunggu, ia tidak suka dengan pria yang hanya mengobral janji demi mendapatkan wanita incarannya namun buktinya nol besar.
" Inilah saya Tante, saya serahkan semua keputusan pada Tante. Jika Tante dan Om mau menerima saya, saya akan sangat bahagia. Tapi jika tidak saya cukup tahu diri dengan keadaan saya saat ini." Ucap Wahyu pasrah.
" Atau Tante dan om mau mengorek tentang masa lalu saya? Saya siap untuk jujur di depan kalian berdua." Sambung Wahyu.
" Tidak perlu nak Wahyu, itu hanya akan menyakiti kamu saja. Tentang masa lalu biarlah itu menjadi kenanganmu. Kami menerimamu sebagai calon pendamping putri kami, kami memberikan restu kami untukmu." Ucap nyonya Dodi.
Wahyu melongo tak percaya, ia sampai membulatkan matanya sambil membuka mulutnya.
" Be.. Benarkah?" Tanya Wahyu memastikan.
" Iya, sekarang tugasmu meluluhkan hati putriku." Sahut tuan Dodi.
" Terima kasih Om, Tante. Saya akan berusaha semaximal mungkin untuk mendapatkan hati Claris. Sekali lagi terima kasih." Ucap Wahyu menyalami kedua orang tua Claris karena saking bahagianya.
" Kami anggap hari ini adalah lamaran darimu, segera luluhkan hati Claris dan segera nikahi dia. Kami juga khawatir kalau dia masih sendiri." Ujar nyonya Dodi.
" Siap Tante." Sahut Wahyu.
__ADS_1
Hati Wahyu berbunga bunga, bahkan seperti ada ribuan kupu kupu yang siap beterbangan di dalam dadanya. Tanpa ia sadari senyuman terus mengembang di bibirnya.
Sedangkan di dalam kamar, Claris nampak menepuk nepuk bantal dengan kesal. Ia merasa telah di bodohi oleh sorang pria tua seperti Wahyu.
" Sial sial sial!!!!!" Teriak Claris. Beruntung kamarnya kedap. suara hingga tidak ada yang mendengarnya.
" Pria tua rese' bisa bisanya aku di bodohi sama dia. Menikah dengannya? Dih ogah banget. Umurnya ada sudah tiga puluh dua, terus kalau aku umur segitu berarti dia udah aki aki donk..." Claris turun dari ranjang, ia berjalan mondar mondar sambil memegangi dahinya, sedangkan tangan kirinya berada di pinggangnya.
" Oh ya Tuhan... Jangan sampai pernikahan ini terjadi, aku tidak mau jadi babby sister saat dia tua nanti. Pas aku mengalami masa masa puber kedua, dia udah nggak bisa apa apa. Oh my god.. Masa' iya nanti aku cari yang lainnya. Tidak tidak.. aku... "
" Jangan khawatir! Walaupun tua aku masih bisa memuaskanmu dalam urusan itu." Sontak Claris menoleh ke belakang dimana Wahyu sedang berjalan mendekatinya.
" Eh busyet, kapan dia masuk? Kok aku nggak tahu ya." Gumam Claris masih di dengar oleh Wahyu. Ia hanya tersenyum sambil menatap Claris.
Ya.. Nyonya Dodi mengantarnya ke kamar Claris untuk membicarakan hal ini lebih lanjut. Namun Claris tidak menyadari kedatangan mereka karena asyik mengumpat Wahyu.
" Ngapain Om ke sini? Nggak sopan masuk kamar seorang gadis tanpa ijin." Ucap Claris duduk di tepi ranjang.
" Aku di minta membicarakan pernikahan kita oleh papamu."
" Ya.. Kedua orang tuamu telah menerima lamaranku, dan mereka ingin pernikahan kita di laksanakan secepatnya." Ucap Wahyu menatap Claris. Jujur jantungnya berdetak sangat kencang saat ini.
" Tidak tidak... Aku tidak mau." Ucap Claris.
" Ini bukan pilihan, tapi keputusan. Kau tidak bisa menolak ataupun mengelak. Aku masih menghargaimu itu sebabnya aku ke sini untuk meminta pendapatmu. Menurutmu kapan waktu yang baik untuk kita berdua melangsungkan pernikahan?" Tanya Wahyu.
Claris nampak sedikit berpikir.
" Sepuluh tahun lagi." Sahut Claris enteng.
" Itu terlalu lama, yang ada kau tidak akan menikah denganku tapi dengan orang lain." Ucap Wahyu.
" Itu lebih bagus." Sahut Claris berjalan menuju jendela.
__ADS_1
" Kalau begitu kau harus membayar dua triliun pada perusahaanku, maka aku akan membebaskan kau dari pernikahan ini." Ucap Wahyu menantang.
Claris membalikkan badan menatap Wahyu. Ia mengepalkan erat tangannya sambil menghentakkan kakinya di lantai.
" Kenapa hmm? Kau yang menolak pernikahan ini kan? Jadi kau yang harus menanggung konsekuensinya sendiri." Ujar Wahyu.
" Aku akan mencicilnya setiap bulan." Ucap Claris mencoba terlepas dari rencana Wahyu.
" Sampai kapan? Aku akan memberikan keringanan padamu." Ucap Wahyu membuat Claris tersenyum senang.
" Aku... "
" Aku beri waktu tiga bulan." Ucap Wahyu memotong ucapan Claris.
" What?????" Sontak Claris langsung berteriak. Ia merasa kesal karena telah di permainkan oleh Wahyu.
" Gila apa Om? Dua triliun cuma di beri waktu tiga bulan. Terus aku mau dapat uang darimana hah?" Claris menatap tajam ke arah Wahyu. Tiba tiba ia mendapatkan ide yang luar biasa. Ia tersenyum smirk menatap Wahyu membuat Wahyu merasa was was.
" Rencana apa lagi yang mau di lakukan si bocil ini? Jangan sampai aku kalah darinya. Apapun yang terjadi aku harus mendapatkannya." Ujar Wahyu dalam hati.
" Baiklah aku setuju denganmu Om, dalam waktu tiga bulan aku akan melunasi semua hutang ku padamu. Jadi kita tidak perlu menikah." Ucap Claris.
" Memangnya apa yang akan kau lakukan gadis kecil?" Tanya Wahyu memastikan.
Claris berdiri di depan Wahyu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Wahyu menunggu jawaban darinya dengan jantung dag dig dug.
" Aku akan.... "
Akan apa hayooo.... Ada yang bisa nebak?
Author butuh doa kalian semua supaya di bab delapan puluh ini novel author ini bisa mencapai retensi...
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...