HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
PERASAAN DUA INSAN


__ADS_3

Devita menghirup oksigen sebanyak banyaknya lalu ia hembuskan begitu saja. Ia merasa bimbang antara menyatakan atau menyimpannya. Ia tidak mau karena ungkapan perasaannya membuat Erick menjauhkan Mikayla darinya. Erick yang menyadari kebimbangan Devita angkat bicara.


" Katakan saja Dev! Tidak perlu sungkan." Ucap Erick.


" Apa jika aku mengatakan yang sebenarnya, kak Erick tidak akan menjauhkan aku dari Mikayla?" Devita menatap Erick dengan seksama sambil menunggu jawabannya.


" Tidak, apapun yang akan kau katakan, aku jamin tidak akan mempengaruhi hubunganmu dengan Mikayla. Lagian kamu yang selama ini merawatnya, mana mungkin aku menjauhkanmu darinya." Ujar Erick membuat Devita merasa lega.


" Sejujurnya... " Devita menjeda ucapannya sambil menatap Erick. Erick menganggukkan kepala seolah meminta Devita melanjutkan ucapannya.


" Aku mencintaimu Kak."


Deg...


Devita memejamkan matanya menahan malu, ia akan sangat malu jika sampai Erick menolaknya.


" Sejak kapan?" Devita terkejut dengan reaksi Erick, ia pikir Erick akan memarahinya atau malah menghinanya seperti yang ia lakukan pada Ayu sebelumnya.


" Entah sejak kapan aku tidak tahu, yang jelas perasaan ini semakin besar setiap harinya. Aku tahu jika ini salah, aku tahu seharusnya aku tidak memiliki perasaan ini terhadap pria beristri sepertimu. Tapi aku tidak bisa terus terus an menyimpan perasaan ini sendirian Kak. Aku merasa kamu juga harus tahu tentang perasaanku. Tidak peduli kau akan menyambut perasaan ini atau tidak, aku juga tidak mengharapkan balasan darimu Kak, yang jelas aku merasa lega setelah mengutarakan perasaan yang selama ini terpendam kepadamu. Aku minta maaf!" Ucap Devita menundukkan kepalanya.


" Tidak perlu khawatir! Aku tidak apa apa." Sahut Erick cuek.


" Aku akan menganggap kau tidak pernah mengatakan hal ini padaku." Sambung Erick.


Cessss....


Bagaikan di sayat sembilu, hati Devita merasakan sakit. Lebih baik mendapat penolakan daripada mendapat jawaban seperti itu dari bibir Erick. Devita tersenyum kecut saat mendapati Erick yang bersikap cuek terhadap perasaannya, ia melanjutkan makannya dengan lahap mengabaikan Devita yang saat sedang berperang dengan batinnya.


" Mungkin setelah kejadian itu kak Erick menyadari cintanya kepada mbak Ayu. Apalagi keadaan mbak Ayu yang seperti ini, pasti kak Erick semakin iba dan semakin mencintainya. Walaupun aku yang menjadi pengganti mbak Ayu, tapi tetap saja aku hanya akan menjadi bayangannya. Kau menang mbak, meskipun kau hanya bisa terdiam tapi ternyata kau lah yang menjadi pemenangnya." Batin Devita pilu.


Tidak mau merasakan yang lebih sakit dari ini, Devita segera berlalu dari hadapan Erick. Erick hanya menatapnya dengan perasaan entah. Sejujurnya ia pun merasakan hal yang sama dengan Devita. Kelembutan dan sikap keibuan yang Devita tunjukkan kepadanya membuat hatinya perlahan condong ke arahnya. Namun Erick berpikir, dia bukan pria yang baik apalagi pantas mendampingin wanita sebaik Devita. Ia hanya pria brengsek yang menyia-nyiakan istrinya hingga Ayu mengalami nasib malang seperti saat ini.

__ADS_1


Erick mengusap kasar wajahnya, ia merasa kesal dengan dirinya sendiri.


" Sial!!!" Umpat Erick.


" Kenapa Devita harus memiliki perasaan yang sama denganku sih? Aku jadi bimbang seperti ini. Akan jauh lebih baik jika hanya aku yang memiliki perasaan ini. Aku pria brengsek Devita.. Aku tidak pantas di cintai oleh wanita sebaik dirimu. Kau pantas mendapatkan pria yang jauh lebih dariku. Kau akan menyesali perasaanmu suatu hari nanti, kau akan menyesal telah mencintai pria sepertiku Devita." Erick menarik rambutnya seolah ingin menghilangkan moment yang baru saja terjadi yang membuat hidupnya tak menentu.


Erick beranjak dari kursinya menuju kamarnya, saat menaiki tangga ia berpapasan dengan Devita. Ia menatap Devita namun Devita lebih memilih menundukkan kepalanya. Ia menuruni tangga begitu saja sambil menggendong Mikayla. Erick melanjutkan langkahnya menuju kamarnya begitu pun dengan Devita. Ia berjalan keluar meninggalkan rumah Erick menuju rumahnya.


...****************...


Berbeda dengan hubungan Valle dan Tomi. Tomi semakin bentar mendekati Valle, seperti pagi ini Tomi mendatangi rumah Argham hanya untuk menjemput Valle. Ia bergabung dengan keluarga Argham yang saat ini sedang sarapan di meja makan. Ia menawarkan diri untuk mengantar Valle ke sekolah, namun Valle menolaknya.


" Ayolah Valle, aku akan mengantarmu ke sekolah. Aku juga akan menjemputmu nanti saat pulang." Ujar Tomi menatap Valle membuat Valle bergidik ngeri. Entah mengapa Valle menjadi infeel dengan kehadiran Tomi yang begitu mengganggunya.


" Tidak, terima kasih Om. Aku bisa berangkat bareng papa atau di antar pak Lukman." Sahut Valle.


Baru saja Valle selesai bicara tiba tiba bi Ijah datang mengabarkan jika pak Lukman ijin tidak bekerja hari ini karena istrinya masuk rumah sakit. Tomi langsung mengembangkan senyumannya mendengar semua itu, ia merasa alam sedang berpihak kepadanya.


" Baiklah, terima kasih Den." Ucap bi Ijah sebelum meninggalkan meja makan.


" Papa, aku berang.... "


" Maaf sayang, Papa tidak bisa mengantarmu karena Papa harus survei dan mengambil beberapa berkas ke rumah orang yang mau mengambil mobil di shorum Papa. Papa harus sampai sana pagi ini karena orangnya mau keluar kota." Ujar Argham.


Valle hanya bisa menghela nafasnya pelan. Niat hati ingin menghindar dari Tomi tapi seolah alam malah mendekatkan mereka. Ia hanya bisa pasrah tanpa mau melakukan perlawanan lagi.


Selesai sarapan, Tomi mengantar Valle ke sekolah. Jia menatap kepergian mereka di depan pintu dengan perasaan entah.


" Jangan khawatir sayang! Tomi pria yang baik. Dia akan menjaga anak kita dengan baik." Ucap Argham merangkul pundak Jia.


" Tapi Mas, aku merasa Valle tidak nyaman bersamanya. Apalagi setelah Tomi menyatakan perasaannya kepada Valle, Valle seperti risih atau mungkin dia... "

__ADS_1


" Ini masalah perbedaan waktu saja sayang, walaupun usia mereka berbeda jauh tapi Mas yakin seiring berjalannya waktu Valle pasti akan merasa nyaman dan terlindungi bersamanya." Sahut Argham.


Argham berdiri di depan Jia, ia genggam tangan istrinya dengan lembut.


" Tomi memang pemabuk berat, tapi dia pria yang baik sayang. Dia sangat menghargai yang namanya wanita. Dia tidak akan pernah menyentuh wanita begitupun sebaliknya. Dia tidak akan membiarkan dirinya di sentuh oleh wanita manapun, dia bersih dalam hal yang berbau ranjang." Terang Argham seolah tahu kekhawatiran Jia. Bagaimana Jia tidak khawatir? Valle anak di bawah umur sedangkan Tomi pria dewasa, ia takut Tomi berbuat hal buruk kepada putrinya. Apalagi dia tidak mengenal Tomi dengan baik.


" Baru kali ini Mas melihat Tomi tertarik dengan lawan jenis sayang. Jika mereka berjodoh suatu hari nanti, Mas harap kau tidak akan menghalanginya. Namun jika mereka tidak berjodoh, anggap saja kita menemukan bodyguard gratis untuk putri kita saat ini. Percayalah jika Tomi akan menjaga putri kita dengan segenap jiwa dan raganya. Kalau dia berani macam macam dengan Valle, Mas yang akan menghajarnya." Ujar Argham mencoba memberikan ketenangan untuk istrinya.


" Apa kau tidak akan merestui hubungan mereka jika suatu saat nanti mereka berjodoh?" Tanya Argham ingin tahu pendapat Jia.


" Aku tidak mempermasalahkan perbedaan umur mereka Mas, yang jelas aku ingin putriku berada di tangan yang tepat. Yaitu di tangan pria yang selalu berusaha untuk membahagiakannya." Ucap Jia.


" Tentu sayang, Mas jamin Tomi adalah pria itu. Sekarang jangan hilangkan kekhawatiranmu tentang mereka, kita fokus saja pada program memberikan adik bayi untuk mereka berdua. Mas suka gaya permainanmu sayang." Bisik Argham di akhir kalimatnya.


" Mas.. " Jia mencubit perut Argham membuat Argham memekik kesakitan.


" Awh sakit sayang."


" Biarin, salah sendiri kalau ngomong asal. Sudah tahu aku malu, masih saja menggodaku." Ujar Jia.


" Menggoda istri sendiri sah sah saja sayang, kalau menggoda istri orang baru... "


Jia langsung berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah Argham, Argham langsung menelan kasar salivanya.


" Jadi selama ini mas Argham suka menggoda istri orang begitu?"


" Bagus ya... Sekarang baru ngaku." Jia mencubit perut Argham berkali kali.


" Awh sakit sayang, hentikan." Walaupun sebenarnya tidak terasa sesakit yang Argham bilang, tapi ia ingin menyenangkan hati istrinya. Ia suka dengan sikap Jia saat ini, selama ini Jia benar benar menghormatinya hingga candaan seperti ini jarang sekali Jia lakukan membuat pernikahan mereka tidak begitu asyik.


Entah sejak kapan Jia berubah menjadi pribadi yang pendiam seperti sekarang ini, Jia sendiri tidak tahu. Yang jelas saat ini ia merasa lebih bahagia hidup bersama Argham. Hidupnya menjadi lebih berwarna dari sebelumnya.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2