
Argham langsung berlari menghampiri Jia yang tersungkur di lantai akibat menabrak pinggiran bufet. Beruntung perutnya tidak terkena pojokannya yang sedikit lancip.
" Astaga sayang, kenapa bisa begini?" Argham langsung menggendong Jia lalu menurunkannya di sofa. Ia berjongkok di depan kaki Jia sambil menggenggam tangannya.
" Apa ada yang sakit?" Tanya Argham menatap Jia, di balas gelengan kepala olehnya.
" Tidak perlu malu, katakan mana yang sakit biar Mas obati!" Ujar Argham.
Jia meletakkan tangan kanannya tepat di dada bagian kanan.
" Sini Mas elus! Biar nggak sakit lagi." Argham menyingkirkan tangan Jia lalu mengelus nya dengan lembut.
" Bukan luarnya Mas, tapi dalamnya."
Argham menatap Jia sambil mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jia, sedangkan Romi menahan senyumannya melihat kebodohan Argham.
" Berarti Jia mendengar semuanya, bagaimana tidak sakit melihat suaminya masih perhatian terhadap mantan istrinya. Dasar Argham bodoh." Batin Romi.
" Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang, Mas tidak mau kamu sampai kenapa napa." Ucap Argham beranjak hendak menggendong Jia namun ucapan Romi menghentikannya.
" Hati Jia yang sakit dodol."
Argham menatap Romi dengan wajah yang menampakkan kebingungan.
" Hati?" Gumam Argham.
" Aku yakin Jia mendengar semua yang kita bicarakan tadi, dia pasti cemburu melihatmu masih peduli sama mantan istrimu itu." Ucap Romi menatap Jia.
" Bukan begitu Jia?" Sambung Romi.
Jia nampak salah tingkah, mau jujur malu tapi memang itu kenyataannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Argham padanya. Entah mengapa hatinya merasa tidak rela jika Argham peduli pada orang lain termasuk mantan istrinya, ibu dari Raffa. Entah Jia mulai egois atau karena hormon kehamilannya.
Argham duduk serong di samping Jia, ia menangkup wajah Jia dengan kedua tangannya.
" Benarkah begitu sayang?" Tanya Argham memastikan. Jia menganggukkan kepala.
Cup...
__ADS_1
Argham mengecup kening Jia.
" Maafkan Mas yang tidak bisa menjaga perasaanmu sayang! Kalau kamu tidak menyukainya Mas tidak akan melakukannya. Tapi biarkan Romi melakukannya, bukan karena Mas masih peduli ataupun masih menyimpan rasa padanya tapi Mas lakukan ini demi rasa kemanusiaan." Ucap Argham menatap Jia.
" Romi bertindak atas dasar perintah mas Argham, itu berarti mas Argham masih mempedulikannya." Ucap Jia membuat Argham terkejut.
" Sayang bukan begitu, rasa kepedulian Mas hanya sebatas kemanusiaan saja bukan karena adanya perasaan. Kamu jangan salah paham akan hal ini karena keduanya jauh berbeda." Ujar Argham.
" Entahlah Mas, aku juga tidak tahu kenapa aku merasa khawatir dengan kehadirannya Mas, aku takut dia mengambil mas dan Raffa dariku. Aku tidak bisa... "
Grep...
Argham menarik Jia ke dalam pelukannya. Ia mengelus punggung Jia sambil sesekali mencium keningnya. Ia tahu benar kegelisahan yang di rasakan oleh Jia, sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama.
" Jangan khawatir sayang! Itu tidak akan pernah terjadi, Mas akan pastikan itu." Ucap Argham.
" Bagaimana kalau dia datang dan meminta Raffa dari Mas? Apa yang akan mas lakukan jika saat itu tiba?" Tanya Jia memastikan keputusan apa yang akan Argham ambil jika sampai hal itu terjadi.
" Tidak sayang... Dia pasti akan lebih memikirkan masa depan Raffa daripada keinginannya. Kalau Raffa bersamanya yang ada Raffa tidak akan punya masa depan secerah bersama kita. Untuk mengurus dirinya sendiri saja dia tidak bisa, apalagi untuk mengurus Raffa. Jadi kamu tidak perlu khawatir ataupun memikirkan hal hal yang belum tentu terjadi. Lebih baik kita pikirkan kesehatanmu dan calon anak kita." Ujar Argham mengelus perut rata Jia.
" Tapi Mas... "
Tidak mau memancing perdebatan, Jia lebih memilih mengalah.
" Iya Mas." Sahut Jia mengangukkan kepala.
" Kalau begitu, apa kamu mengijinkan Romi membantunya pulang ke sini?" Tanya Argham memastikan, jika Jia tidak memberi ijin ia juga tidak akan bertindak. Biarlah itu menjadi urusan Lervia sendiri, mau tidak mau ia harus menutup mata.
" Ke rumah ini?" Jia membulatkan mata menatap Argham.
Argham tersenyum manis, wajah Jia nampak lucu sekali kalau sedang kesal seperti itu.
" Bukan ke rumah ini sayang, tapi ke rumah orang tuanya." Ujar Argham.
" Hah baiklah." Jia menghela nafasnya pelan.
" Terima kasih sayang, semoga bantuan kita akan membawa keberkahan untuk hidup kita ke depannya. Terutama untuk calon anak kita ini." Ucap Argham.
__ADS_1
" Amin."
Argham segera memerintahkan Romi untuk menelepon Lervia di sebrang sana. Mereka menyusun rencana agar Lervia bisa keluar dari pulau itu. Mulai dari perjalanan menuju pelabuhan, menyeberang pulau hingga sampai di rumah kedua orang tuanya Lervia di kawal oleh dua orang yang bekerja di biro perjalanan milik Argham.
Setelah itu Romi pamit pulang sedangkan Argham membawa Jia ke kamarnya. Ia mengajak Jia untuk beristirahat.
Keesokan harinya tepat di kota xx yang berada di pulau B, Lervia sedang bersiap di depan cermin. Wilson, seorang pria berkepala lima yang baru pertama kali menggunakan jasanya berjalan mendekatinya.
Grep..
Wilson memeluk Lervia dari belakang, ia mencium ceruk leher Lervia membuat tubuh Lervia meremang.
" Kau cantik sayang, aku jadi takut membawamu pergi dari sini." Bisik Wilson. Lervia terkejut mendengar ucapan Wilson, jika Wilson tidak jadi mengajaknya jalan jalan itu berarti tidak ada kesempatan untuknya kabur.
Ya.. Wilson merupakan pelanggan yang sangat di segani oleh mami yang telah membeli Lervia dari Lora. Khusus untuk Wilson bisa membawa keluar anak buahnya ke rumah atau pun ke hotel. Wilson sangat tertarik dengan Lervia, ia menyewa Lervia hingga satu minggu lamanya dan hari ini ia berniat membawa Lervia jalan jalan setelah mendengar cerita Lervia yang selama lima tahun bekerja hanya terkurung di sana.
Lervia segera membalikkan badannya, ia mengalungkan tangannya ke leher Wilson.
" Aku akan marah kalau kau tidak jadi mengajakku jalan jalan. Dan aku tidak mau melayanimu lagi." Ancam Lervia.
Wilson terkekeh mendengarnya, ia mencubit pelan hidung Lervia.
" Memangnya apa yang bisa kau lakukan sayang? Aku membayarmu memang untuk tugas itu kan? Jika kau tidak mau kau akan mendapat hukuman dari mamimu." Ucap Wilson.
Lervia mengepalkan erat tangannya, memang benar kata Wilson. Ia tidak punya pilihan, memang inilah tugasnya.
Lervia duduk di atas ranjang memasang wajah sedihnya membuat Wilson menghembuskan nafasnya dengan kasar. Entah mengapa ia tidak tega melihat Lervia bersedih.
" Baiklah ayo!"
Lervia mengembangkan senyumannya, ia mengapit lengan Wilson lalu berjalan keluar meninggalkan kamar hotel yang di sewanya. Mereka menaiki mobil menuju ke suatu tempat, sebuah taman rekreasi yang sangat indah. Tanpa Wilson ketahui, sebuah mobil sudah mengikutinya sejak keluar hotel.
Lervia menoleh ke belakang dimana mobil itu sudah siap menantinya.
" Semoga aku bisa kabur dari pria ini. Ya Tuhan selama ini aku telah menerima takdirku dengan baik, aku tidak pernah meminta apapun darimu. Tapi kali ini aku mohon, bantu aku kelaur dari belenggu dosa ini. Ijinkan aku bertobat sebelum aku kembali padaMu ya Rob."
Gimana nih? Mau kembali atau tetap di sini? Tulis di kolom komentar ya..
__ADS_1
TBC...