
Seolah sedang merasakan ikatan batin yang begitu mendalam, tiba tiba Raffa yang sedang di pangku Valle mendadak menjadi rewel.
" Ma.. Mam.. ma.. " Raffa terus menggerakkan badannya ke arah pintu.
" Iya sayang kamu mau sama Mama ya, ayo kita samperin Mama." Valle menggendong Raffa keluar dari ruang makan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu, bersamaan dengan Lervia hendak keluar dari pintu ia mendengar suara Raffa memanggil mama. Meskipun ia tahu jika panggilan itu bukan untuknya namun hatinya terasa begitu teduh. Ia membalikkan badannya menatap Raffa dalam gendongan Valle mendekati Jia.
" Mam.. a. " Sampai di depan Jia Raffa mengulurkan kedua tangannya.
" Anak Mama sayang." Jia memangku Raffa sambil menciumi pipi gembulnya. Hal itu tidak luput dari penglihatan Lervia.
" Putraku... " Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipi Lervia. Andai saja dulu ia tidak terserang penyakit mematikan, ia tidak akan terpisah dari putranya dengan memberikan Raffa kepada Argham. Pikirannya kembali ke satu tahun silam.
Flashback on
Di dalam ruangan di sebuah rumah sakit di kota xx, setelah melahirkan sang putra tercinta mendadak tubuh Lervia menjadi lemas tak berdaya. Ia berpikir jika mungkin ini saatnya ia meninggalkan dunia ini karena penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Di depan matanya, berdirilah seorang pria tampan yang tak lain mantan suaminya.
Ia menatap Argham dengan lekat, begitupun dengan Argham. Meskipun rasanya saat itu begitu membenci Lervia namun Argham tetap memenuhi undangannya.
" Gham.. " Lirih Lervia dengan lemah.
" Ya." Sahut Argham.
" Aku titip anak kita padamu, rawatlah dia dengan penuh kasih sayang. Tolong jangan lihat aku! Kau tidak akan mau merawatnya jika melihat aku karena aku wanita kotor. Tapi lihatlah jika dia darah dagingmu, maafkan aku karena aku telah membawanya ke lembah kegelapan. Tapi dia terlahir dalam keadaan suci Gham. aku merasa tidak bisa bertahan lagi, penyakitku semakin parah dan aku yakin umurku tidak akan lama lagi. Maukah kau berjanji padaku jika kau akan merawat putra kita dengan baik?" Lervia menatap Argham dengan tatapan sayu.
Argham hanya bungkam tanpa merespon ucapan Lervia. Ia sendiri merasa bingung harus bagaimana. Bisakah ia mengurus seorang bayi sendirian? Bisakah ia menyayangi anaknya yang terlahir dari wanita bayaran seperti Lervia? Berbagai pertanyaan dan ketakutan melintas di pikiran Argham.
Lervia menggenggam tangan Argham membuat Argham tersadar dari lamunannya.
" Berjanjilah padaku kau akan membesarkannya Argham! Aku tahu jika permintaanku terlalu berat untukmu, aku tidak masalah jika kau tidak mau menyayanginya tapi berjanjilah untuk membesarkannya. Jangan biarkan anak kita jatuh ke tangan Lora ataupun kedua orang tuaku. Aku takut mereka akan menjual anakku kepada orang lain. Mereka orang orang jahat Argham. Cukup aku yang menjadi korban mereka, jangan anakku. Aku mohon Argham hiks... " Isak Lervia.
Melihat itu Argham merasa iba.
" Baiklah aku berjanji akan membesarkannya." Ucap Argham.
__ADS_1
Lervia tersenyum senang mendengar ucapan Argham.
" Hatiku merasa lega Gham, kini aku bisa pergi dengan tenang." Ucap Lervia.
Tiba tiba mata Lervia terasa begitu mengantuk hingga ia langsung memejamkan mata. Argham sangat panik saat itu, ingin sekali ia meminta bantuan pada dokter ataupun suster, namun di tengah tengah kepanikannya ia di panggil oleh seorang suster yang memintanya untuk pergi ke ruang bayi karena bayi yang Lervia lahirkan saat itu mengalami keracunan di dalam kandungan hingga menyebabkannya kejang kejang. Tanpa pikir panjang Argham langsung berlari menuju ruang bayi tanpa memikirkan kondisi Lervia.
Di sinilah Lora menggunakan kesempatan untuk menukar Lervia dengan salah satu pasien yang meninggal dunia. Ia bekerja sama dengan dua orang suster yang sekarang sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit itu. Dengan uang Lora dapat dengan mudah menjalankan rencananya.
Argham kembali setelah jasad Lervia di mandikan dan di kafani. Ia tidak menaruh curiga sama sekali karena ucapan Lervia yang sudah tidak kuat menahan penyakitnya. Ia ikut mengebumikan jasad Lervia hingga selesai bersama dengan Lora dan kedua orang tuanya.
Beberapa jam kemudian...
Di dalam sebuah rumah yang berada di daerah terpencil, perlahan Lervia membuka matanya. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Ia mengernyitkan dahinya saat merasa asing dengan ruangan itu.
" Ehh... Dimana aku?" Lervia mencoba bangun lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Ceklek...
Pintu terbuka, Lervia menoleh ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Lora masuk mendekatinya.
" Lora.. Kamu." Ucap Lervia.
" Ada dimana aku?" Tanya Lervia.
" Kau ada di rumah mami Valen."
" Siapa dia?" Lervia bertanya lagi.
" Seseorang yang akan mempekerjakanmu." Sahut Lora.
" Aku tidak bisa bekerja Lora, aku penyakitan. Bahkan mungkin usiaku tidak akan lama lagi." Ucap Lervia.
" Kata siapa?"
Lervia mengerutkan keningnya menatap adiknya. Adik yang sangat ia sayangi namun beberapa kali menyakitinya.
__ADS_1
" Kau tidak sakit kakakku yang cantik." Lora memainkan rambut panjang Lervia.
" Apa maksudmu? Kau sendiri tahu kan kalau dokter mengatakan jika aku mengidap penyakit mematikan." Ujar Lervia.
" Karena dokter itu orang suruhanku." Mata Lervia membola sempurna saat mendengar ucapan Lora.
" Jadi.. "
" Selama ini penyakitmu hanyalah rekayasa saja kakakku tersayang, aku sengaja melakukannya agar kak Argham mau mengurus anakmu. Dengan begitu kau akan lebih menguntungkan buatku." Ucap Lora penuh arti.
" Apa maksudmu Lora?" Bentak Lervia.
" Ustttt sabar donk kakakku sayang, aku akan memberitahumu semuanya." Ujar Lora.
Lora menceritakan tujuan rencananya melakukan semua ini. Ia merekayasa penyakit Lervia dengan menyuntikkan obat yang menyebabkan Lervia menjadi sakit setelah obat itu masuk ke dalam tubuhnya, ia merekayasa kematian Lervia agar semua orang mengira jika Lervia sudah tiada. Dengan begitu ia bisa memberikan Lervia pada mami Valen. Ia memang sengaja mempekerjakan Lervia kepada mami Valen karena mami Valen lebih tinggi membayar daripada mami yang mempekerjakan Lervia sebelumnya. Itu sebabnya ia menyabotase tentang kematian Lervia.
Tidak hanya itu, Lora bahkan menunjukkan video pemakaman jasad Lervia palsu kepada Lervia. Lervia benar benar terkejut saat itu, ia tidak menyangka adik yang ia sayangi tega melakukan semua itu padanya.
" Hiks... Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku Lora? Apa kesalahanku padamu selama ini?" Tanya Lervia sambil menangis mengeluarkan kesedihannya.
" Karena kau telah mencuri kasih sayang orang tuaku." Sahut Lora.
" Apa maksudmu? Ayah dan ibu menyayangi kita berdua Lora." Ujar Lervia.
" Tidak... Sejak kecil mereka menyayangimu dan terus mengabaikan aku, mentang mentang aku bukan anak kandung mereka. Mereka membeda bedakan kita Lervia. Apapun keinginanmu selalu di penuhi, sedangkan keinginanku?"
" Selalu mereka abaikan, itulah sebabnya aku mulai membuat masalah dalam hidupmu, aku mulai membuat kau selalu di salahkan dalam setiap masalah yang datang pada keluarga kita hingga aku berhasil membuat mereka membencimu. Membenci anak kandungnya sendiri, mereka benar benar bodoh." Ungkap Lora.
Lervia menangis tergugu karena merasa telah di bodohi oleh Lora. Ya.. Lora bukanlah adik kandung Lervia melainkan anak dari panti asuhan yang di ambil oleh kedua orang tua Lervia sebagai teman main Lervia kecil saat itu karena mereka tidak bisa punya anak lagi. Mereka membesarkan keduanya bersama dengan penuh kasih sayang, tapi setelah mulai beranjak remaja mereka merasa Lervia mulai berulah, hingga kasih sayang mereka beralih ke Lora sepenuhnya.
" Kau memang bodoh Lervia, tapi bukan kau saja melainkan orang tuamu juga ha ha ha ha." Lora tertawa lantang memenuhi ruangan kamar itu.
" Kau sungguh jahat Lora, lihat saja! Kau akan mendapat karmanya suatu hari nanti." Teriak Lervia.
" Karma bahkan tidak berani mendekatiku Lervia, aku bahagia sekarang. Aku bahagia telah menghancurkan hidupmu dan keluargamu ha ha ha... " Lora kembali tertawa seperti orang kesetanan.
__ADS_1
Lervia mengepalkan erat tangannya hingga....
TBC.....