HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
MENJELASKAN SEMUANYA


__ADS_3

Bagaikan luka menganga yang di siram air cuka, hati Jia terasa sangat pedih dan sakit. Ia duduk di tepi ranjang menatap keluar jendela sambil merenung memikirkan apa yang telah menimpa hari pertama setelah pernikahannya. Air mata terus menetes di pipinya tanpa permisi. Walaupun perasaannya untuk Argham masih abu abu namun istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya bersama wanita lain. Entah itu suaminya bersalah atau tidak, yang jelas rasa sakit itu datang begitu saja.


Di saat Jia sedang berperang dengan hatinya, Argham membuka pintu kamarnya. Ia segera menutupnya kembali lalu menghampiri Jia.


Grep...


Argham naik ke atas ranjang lalu memeluk Jia dari belakang. Ia menempelkan wajahnya pada punggung Jia.


" Aku minta maaf!" Ucap Argham sadar telah melukai hati istrinya.


" Aku tahu kesalahpahaman ini tidak akan mudah terselesaikan. Apalagi kau menuntut bukti dariku dan Lora. Sudah terlihat dengan jelas kalau bukti kemenangan mengarah pada Lora. Tapi aku tidak akan mengalah begitu saja, aku akan memberikan bukti kepadamu kalau aku tidak bersalah, Jia." Ucap Argham.


Jia tidak menyahut apalagi meresponnya. Ia tidak berminat meladeni ucapan Argham saat ini. Hatinya terlanjur sakit, bukan karena ia egois karena tidak mau mendengarkan penjelasan Argham, namun untuk saat ini ia butuh ketenangan untuk berpikir jernih. Ia tidak mau berbicara saat hatinya sedang di liputi emosi karena biasanya ucapan yang keluar bersama dengan emosi akan terdengar sangat menyakitkan hati lawan bicara.


" Semalam aku pergi ke club bersama teman temanku untuk merayakan hari pernikahan kita, mereka memaksaku untuk minum. Aku... " Merasa harus menjelaskan semuaa akhirnya Argham menceritakan apa yang terjadi padanya saat di club sampai pada ia membuka mata karena Jia membangunkannya.


" Aku yakin tidak terjadi apapun pada kami Jia, Lora pasti hanya membual untuk menjebakku saja. Aku mohon percayalah padaku!" Ujar Argham semakin mengeratkan pelukannya.


Hening....


Untuk beberapa saat hanya keheningan yang melanda. Hal ini membuat hati Argham semakin tak karuan.


" Bicaralah sayang! Kalau kamu mau marah, pukul aku! Caci aku sepuasmu! Tapi jangan diam seperti ini! Aku tidak bisa menghadapi kebisuanmu Jia. Aku mohon!" Argham mencoba merayu dan meluluhkan hati istrinya.


Jia tetap tidak mau membuka suara, ia diam seribu bahasa sampai...


" Mam... Ma.. " Terdengar tangisan Raffa dari luar. Jia yakin Valle pasti akan membawa Raffa ke kamarnya.

__ADS_1


Tidak mau sampai kedua anaknya tahu permasalahan mereka, Jia menjauhkan tangan Argham dari tubuhnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh mukanya agar tidak kelihatan sembab. Argham menghela nafasnya panjang. Ia segera membuka pintu kamarnya begitu Valle mengetuknya.


Valle memberikan Raffa pada Argham lalu ia kembali ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke sekolah. Raffa nampak menangis dalam gendongan Argham. Mendengar itu, Jia segera keluar dari kamar mandi lalu menghampiri Argham.


Tanpa mengatakan apa apa, Jia mengambil alih gendongan Raffa lalu membawa Raffa ke bawah. Argham menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya.


Sampai di dapur, Jia menurunkan Raffa di sepeda bundarnya. Ia segera membuat sarapan untuk Raffa. Pagi ini Jia membuat nasi tim brokoli di campur dengan daging cincang sedangkan makanan untuk Valle dan Argham sudah di siapkan oleh bi Ijah. Selesai membuat makanan untuk Raffa, Jia segera menyuapinya bertepatan dengan Argham dan Valle yang baru masuk ke dapur menuju meja makan.


" Pagi Ma." Sapa Valle menatap sang mama tercinta. Tidak seperti biasanya, Jia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dapat Valle rasakan jika saat ini ibunya sedang tidak baik baik saja.


" Mama sedang sakit?" Tanya Valle menghampiri Jia.


" Tidak sayang, Mama baik baik saja." Sahut Jia lirih.


" Tidak, Mama tidak baik baik saja. Aku tahu benar siapa Mama. Apa Mama sedang dalam masalah?" Tanya Valle memastikan di balas gelengan kepala oleh Jia.


" Maafkan Papa yang tidak bisa menepati janji Papa untuk tidak menyakiti mama kamu, tanpa sengaja Papa telah membuat kesalahpahaman di antara kami." Ucap Argham.


" Tapi apapun masalahnya, Papa dan Mama akan segera menyelesaikannya. Sekarang kamu tidak perlu memikirkan hal ini, pikirkan sekolah dengan baik. Jadilah anak pintar dan bisa membanggakan orang tua. Hanya itu yang Papa inginkan darimu." Ujar Argham.


" Iya Pa." Sahut Valle.


Valle sadar tidak semua masalah ibunya dia hrus mengetahuinya. Apalagi sekarang ibunya sudah menikah lagi, ia tidak mau ikut campur masalah orang tuanya. Toh mereka berdua sudah sama sama dewasa, sudah bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk, pikir Valle.


" Baiklah tidak apa apa, tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah Pa. Aku harap kalian bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin. Dan tolong pikirkan aku dan Raffa jika kalian punya niatan untuk berpisah. Aku tidak mau sampai ada perpisahan dalam pernikahan kalian." Ucap Valle.


Jia dan Argham saling melempar tatapan mendengar ucapan Valle. Argham melempar senyuman manisnya kepada Jia, Jia memilih membuang muka membuat hati Argham mencelos. Valle mengambil makanan sendiri lalu amemulai sarapan sedangkan Argham malah meyangga dagunya sambil menatap Jia yang belum selesai menyuapi Raffa.

__ADS_1


Valle yang melihatnya segera memanggil Jia.


" Ma." Jia menoleh menatap Valle, Valle menggerakkan dagunya seolah memberi kode pada Jia. Jia menatap Argham lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia baru sadar dengan apa yang telah ia lakukan jika ia telah memberi contoh yang buruk kepada anak anaknya.


" Sebentar sayang, kita ambilkan makanan buat Papa dulu ya." Jia menggendong menggendong Raffa lalu mendekati Argham.


" Maaf Mas! Aku terlalu sibuk dengan Raffa hingga membuatku melupakanmu." Ucap Jia. Entah tulus atau sekedar ingin memberi contoh yang baik di depan anak anak mereka hanya ia yang tahu.


" Iya sayang tidak apa apa, aku memahami kesibukanmu. Terima kasih sudah mau mengurusku, maaf jika aku memberikan kesan yang buruk di hari pernikahan kita." Ucap Argham mendongak menatap Jia yang sedang mengambilkan makanan untuknya. Jia menganggukkan kepalanya.


Setelah itu Argham mulai memakan sarapannya sedangkan Jia melanjutkan kegiatannya kembali. Argham beranjak dari kursi menghampiri Jia sambil membawa piring makanannya.


" Kamu juga harus makan sayang."


Jia menoleh ke samping dimana Argham jongkok di sampingnya sambil menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut Jia. Jia menoleh ke arah Valle, sadar ingin memberikan waktu kepada keduanya untuk menyelesaikan masalah, Valle segera pamit berangkat sekolah. Ia pergi dengan di antar supir.


" Ayo buka mulutmu! Tanganku sudah pegel lhoh." Ujar Argham.


" Aku bisa makan sendiri nanti, Mas Argham makan saja dulu." Tolak Jia.


Lagi lagi Argham hanya bisa menghela nafasnya kasar, ia tidak mau memaksa Jia. Ia harus memberikan waktu untuk Jia sendiri. Argham kembali ke kursinya, saat ia hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya tiba tiba...


Bugh...


" Mas Argham!!!!"


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2