
Seakan lupa dengan kesedihan yang Ayu rasakan, malam ini setelah Erick melamar Devita, ia mengajak Devita jalan jalan ke sebuah mall ternama di kota itu. Sebuah mall yang bekerja sama dengan perusahaannya. Erick terus menggenggam tangan Devita sambil memancarkan senyuman di bibirnya, senyum bahagia karena lamarannya di terima dengan mudah oleh dokter Rayhan bahkan tanpa syarat yang memberatkan Erick. Dokter Rayhan hanya berpesan agar Erick tidak mempermainkan Devita, ia harus berjanji untuk selalu membuat Devita bahagia. Tentu saja Erick menerima syarat itu dengan baik.
" Kak lepasin tanganku! Semua orang menatap kita, aku malu." Ujar Devita.
" Kau harus terbiasa dengan semua ini sayang, karena ke depannya aku akan selalu mengajakmu kemana mana." Sahut Erick.
" Mana bisa begitu Kak? Aku harus siap stand by di rumah sakit untuk bekerja, kalau tidak kasihan para pasien yang membutuhkan bantuanku." Ujar Devita.
Erick menghentikan langkahnya, begitupun dengan Devita. Keduanya saling melempar pandangan.
" Apa tidak bisa kalau kamu di rumah saja? Aku ingin kamu menyambutku setiap aku pulang kerja. Dan aku ingin kau selalu ada di saat aku butuhkan." Ujar Erick.
Devita sampai lupa jika ia belum membicarakan hal ini pada Erick.
" Kak, aku calon seorang dokter. Dan sebentar lagi gelar dokterku akan turun, itu berarti aku akan lebih sibuk dari sebelumnya. Apalagi kalau aku di tempatkan di rumah sakit yang jauh, aku pasti tidak akan punya waktu untukmu. Kalau aku tidak bekerja, akan sia-sia usahaku mencapai semua itu selama ini. Aku minta maaf jika aku tidak bisa mengabulkan keinginan Kak Erick." Ucap Devita sendu sambil menundukkan kepalanya.
Erick menarik dagu Devita, Devita menatap Erick dengan perasaan khawatir. Khawatir Erick tidak mengijinkan ia bekerja setelah menikah.
" Baiklah kalau itu maumu, aku akan membebaskanmu untuk bekerja. Tapi kau tidak boleh sampai kecapekan, dan aku harap jika nanti kita menikah terus kamu hamil, kamu bersedia berhenti dari profesimu. Aku tidak mau sampai kamu dan calon anak kita kenapa napa." Ucap Erick. Devira tersipu malu, belum apa apa saja mereka sudah membicarakan soal anak.
" Akan aku pikirkan." Sahut Devita sambil tersenyum.
" Gadis baik." Erick mengelus rambut Devita.
Mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju bioskop yang ada di lantai dua karena Erick berencana mengajak Devita nonton film bergenre romantis agar ia bisa bersikap romantis kepada Devita. Saat hendak menaiki eskalator, Erick melihat Jia yang sedang berjalan bersama keluarga kecilnya.
" Jia." Gumam Erick.
Mendengar nama wanita yang Erick cintai, Devita mengikuti pandangan Erick. Satu kata untuk penilaian Jia, cantik.
Erick menarik tangan Devita menghampiri Jia. Argham memang membawa Jia dan kedua anaknya jalan jalan ke mall ini sekalian membeli kebutuhan bulanan yang telah habis di rumah. Valle nampak senang karena Argham membelikan apapun yang ia inginkan, termasuk ponsel baru pengeluaran terbaru di bulan ini.
" Jia."
Jia menghentikan langkahnya saat Erick memanggilnya, ia menoleh ke samping di mana Erick berdiri di depannya saat ini.
" Kau.. " Argham merasa geram melihat pria yang menjadi masalah dalam hidupnya sebelumnya.
__ADS_1
" Aku ke sini untuk meminta maaf pada kalian berdua atas apa yang telah aku lakukan pada kalian sebelumnya. Aku menyesalinya, sekali lagi aku minta maaf!" Ucap Erick tulus.
" Kami sudah memaafkanmu, dan kami bersyukur kau tidak mengganggu hidup kami lagi." Sahut Jia menatap Erick. Ia merasa bingung saat melihat tangan Erick yang menggenggam seorang wanita, lalu dimana Ayu?
" Syukurlah kalau kalian sudah memaafkan aku, aku bisa memulai hidup baruku dengan baik." Erick bernafas lega.
" Oh ya, kenalkan ini Devita. Calon istriku."
Mata Jia terbelalak sempurna mendengar ucapan Erick.
" Kami akan menikah bulan depan, jangan lupa kalian harus datang. Aku mengundang kalian secara khusus." Sambung Erick.
Jia dan Argham saling melempar tatapan. Tak lama Jia menatap Erick kembali. Devita tidak mau mencelah obrolan mereka, apalagi ia dapat melihat keterkejutan Jia. Ia memilih untuk diam menunggu suasana menjadi relax.
" Lalu dimana Ayu?" Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibir Jia.
" Aku sudah menceraikannya Jia, aku tidak bisa membohongi perasaanku. Sebesar apapun aku mencoba pada kenyataannya aku tidak bisa mencintainya. Aku mencintai Devita, sama seperti aku mencintaimu dulu." Ujar Erick.
" Ini hidupmu, kau sendiri yang harus menentukan pilihannya. Aku ikut bahagia akhirnya kau menemukan wanita yang kau cintai. Semoga kalian bahagia." Ucap Jia tidak mau ikut campur dalam urusan orang lain.
Setelah di rasa pembicaraan mereka selesai, barulah Devita maju mendekati Jia. Ia berkenalan dengan Jia dan yang lainnya sampai pada babby mungil yang di gendong oleh Valle. Ia merasa sangat gemas melihat pipi gembul Raffa.
" Hai tampan, siapa namamu hmm?" Devita mencubit pelan pipi Raffa.
" Aku Raffa Tante." Tentunya Valle lah yang menjawabnya.
" Gemesin banget pipi kamu, semoga Tante bisa punya anak seperti kamu." Ujar Devita.
" Tentu sayang, kita akan mendapatkannya." Sahut Erick.
Jia dapat melihat betapa cintanya Erick terhadap Devita, sebelumnya ia tidak melihat sisi lembut Erick saat bersama Ayu. Ia pun berharap Erick bisa bahagia seperti dirinya.
Setelah salam perkenalan selesai, mereka berpisah dengan tujuan masing masing. Argham dan yang lainnya menuju sebuah restoran yang ada di mall tersebut. Mereka duduk di meja depan lalu memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang mereka nampak mengobrol, Valle mengedarkan pandangannya hingga matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
Deg...
" Deon." Gumam Valle.
__ADS_1
Valle memicingkan matanya memastikan penglihatannya tidak bermasalah. Benar... Ia melihat Deon sedang duduk bersama seorang wanita dan pria paruh baya. Valle mengira kalau itu orang tua Deon. Namun yang menjadi perhatian Valle adalah kondisi Deon, Deon nampak seperti pria normal pada umumnya tidak seperti pria idiot di sekolahnya.
" Apakah aku salah lihat? Tidak... Sepertinya memang itu Deon, ternyata dia cowok normal. Aku harus memastikannya." Batin Valle.
Valle memberikan Raffa kepada Jia, ia pamit ke toilet sebentar untuk menunaikan hajatnya. Ia berjalan perlahan hingga mendekati meja Deon. Ia duduk di meja belakang Deon mendengarkan obrolan mereka.
" Deon, besok kamu harus ke perusahaan. Papa butuh tanda tanganmu untuk pengalihan saham Papa nantinya. Jadi setelah usiamu genap tujuh belas tahun, kau resmi menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan Papa." Ujar tuan Daniel, Papa Deon.
" Tidak perlu terburu buru Pa, lagian aku masih sangat kecil. Perjalanannya masih panjang Pa." Ujar Deon.
" Iya Pa, saat ini Deon sedang fokus mendekati calon menantu kita. Gadis baik yang mau menerima Deon apa adanya." Ujar nyonya Diva, mamanya Deon.
" Sampai kapan kamu mau bersandiwara jadi anak culun seperti itu? Papa suka jijik sendiri melihat kelakuan culunmu itu. Entah dari mana kau mendapat ilmu untuk berakting dengan baik." Ujar tuan Daniel terkekeh.
" Sampai aku siap memberitahu Alle yang sebenarnya Pa. Aku takut Alle kecewa padaku karena aku telah membohonginya." Sebenarnya Deon merasa khawatir akan hal itu. Ia takut Valle akan marah padanya dan tidak mau berteman lagi dengannya.
Bukan tanpa alasan Deon melakukan hal itu, ia hanya ingin tahu mana teman yang tulus ingin berteman dengannya. Dan hanya Valle yang tulus dengannya, awalnya ia hanya ingin menjadikan Valle sebagai temannya saja karena ia merasa mereka masih sangat kecil. Namun tidak ia sangka jika kedekatannya dengan Valle membuat hatinya menyukai Valle. Hingga timbullah rasa ingin memiliki dan takut kehilangan. Atau mungkin bisa di bilang cinta monyet. Ia akan berusaha menjadikan Valle kekasihnya suatu hari nanti.
Sedangkan perasaan Valle saat ini, kecewa. Ia tidak menyangka jika Deon telah membodohinya selama ini. Ia mengepalkan erat tangannya menahan emosi yang membuncah di dadanya. Walaupun dalam hati kecilnya ia merasa senang dengan kondisi Deon sebenarnya, namun ia merasa Deon lah yang tidak tulus berteman dengannya.
Valle beranjak dari kursinya, karena tidak fokus ia malah menabrak seorang pelayan yang sedang membawa jus.
Prang...
Gelas di atas nampan yang pelayan bawa jatuh ke lantai membuat semua pengunjung menatap ke arah mereka berdua.
" Ah maaf maaf Mbak!"
Deg...
Jantung Deon berdetak sangat kencang saat mendengar suara yang menurutnya sangat familiar. Ia yang awalnya tidak peduli pun menoleh ke belakang.
Deg..
" Alle."
TBC....
__ADS_1