
Valle berjalan menghampiri kedua orang tuanya kembali, melihat itu Deon langsung mengejar Valle.
" Alle dengarkan aku!" Deon mencekal tangan Valle.
" Lepas!" Valle menepis kasar tangan Deon.
Grep...
Tanpa di sangka Deon memeluk Valle dari belakang. Valle dan yang lainnya terkejut, Argham tidak terima dengan perlakuan Deon terhadap putrinya, ia langsung beranjak dari kursinya lalu menarik Deon dengan kasar, namun Deon tidak bergeming karena ia memeluk Valle dengan erat. Geram dengan kegagalannya memisahkan Deon dari Valle, Argham memukul punggung Deon dengan keras.
Bugh...
Semua orang nampak terkejut, bahkan mereka sampai menutup mulut mereka yang menganga dengan telapak tangannya.
" Lepaskan putriku! Dasar idiot." Bentak Argham.
" Aku tidak akan melepaskannya sebelum Alle mau mendengarkan penjelasanku Om."
Argham terkejut mendengar ucapan Deon, ia merasa Deon normal saat ini.
" Deon lepaskan aku! Papaku akan menyakitimu." Ujar Valle berontak, namun tenaga Deon lebih besar darinya.
" Lebih sakit kamu meninggalkan aku Alle."
Bugh..
Argham kembali memukul punggung Deon berharap Deon mau melepaskan Valle. Ia merasa Deon telah melecehkan putrinya di depan umum. Mendengar pukulan ayahnya, Valle memejamkan matanya. Ia tidak tega dengan Deon yang pasti sedang menahan sakit saat ini.
" Oke oke, kita akan bicara. Jauhkan tanganmu dari tubuhku!" Tidak mau membuat Deon semakin terluka, akhirnya Valle mengeluarkan kata itu walaupun sebenarnya ia begitu malas membicarakan pengkhianatan yang Deon lakukan padanya.
Deon langsung melepas pelukannya, ia meringis menahan sakit pada punggungnya.
" Dasar anak kurang ajar! Beraninya kau melecehkan putriku." Argham menarik tangan Deon hingga Deon menghadapnya.
Argham mengangkat tangannya hendak memukul Deon lagi namun Valle mencegahnya.
" Papa hentikan! Kita bisa bicara baik baik." Ujar Valle.
Argham menghela nafasnya meredam emosi yang memuncak di hatinya. Entah mengapa ia tidak bisa mengabaikan permintaan putrinya. Dari kejauhan kedua orang tua Deon hanya menjadi penonton setia saja. Mereka ingin melihat sejauh mana Deon memperjuangkan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Karena ke depannya ia akan menghadapi hal yang jauh lebih keras dari ini.
Valle meminta Deon untuk duduk di sebelahnya, sedangkan Argham kembali duduk di kursinya. Jia segera memberikan jus kepada Argham supaya Argham lebih tenang.
Deon menatap Valle yang nampak acuh, ia malah memainkan ponsel di tangannya.
__ADS_1
" Alle." Valle menoleh menatap Deon.
" Aku minta maaf." Valle tidak menjawabnya.
" Aku tahu kamu pasti sangat kecewa karena aku membohongimu. Aku salah Alle karena telah menyakiti hatimu." Deon menghirup oksigen dalam dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
" Aku punya alasan sendiri untuk itu, sebelum aku pindah ke sini. Aku belajar di SMP xx di kota xx. Mereka tahu aku anak orang kaya, mereka mendekatiku dan mulai mencari muka di depanku. Awalnya aku merasa senang karena aku merasa mereka menyayangiku hingga apapun yang mereka inginkan pasti aku belikan, bahkan aku sering mengerjakan PR mereka. Lama lama aku merasa muak dengan permintaan mereka. Dan aku berhenti untuk tidak menuruti kemauan mereka lagi, sampai pada akhirnya mereka menjauhiku."
" Suatu hari aku mendengar mereka menjadikan aku bahan gibahan, mereka bilang jika bukan karena uangku mereka tidak mau berteman denganku dari awal. Dari sana aku merasa tidak ada yang tulus berteman denganku. Mereka terus menjauhiku sampai aku meminta papaku untuk memindahkan aku ke sekolahan kita. Aku sengaja menyamar menjadi siswa idiot untuk mendapatkan teman yang benar benar tulus ingin bersamaku." Deon mengucek matanya yang nampak memerah, rasanya ia begitu sedih dan ingin menangis.
" Dan aku menemukan kamu sebagai orang itu, aku senang Alle. Aku bahagia bisa menemukan teman sepertimu, sampai aku merasa takut akan kehilanganmu. Berulang kali aku ingin mengatakan yang sebenarnya padamu, tapi aku takut kamu marah. Aku takut kamu kecewa dan menjauh dariku seperti sekarang ini. Aku minta maaf Alle. Tolong jangan jauhi aku, dan tetaplah bersamaku sebagai temanku." Ujar Deon panjang lebar.
" Maaf aku tidak bisa." Sahut Valle cepat. Tentunya membuat hati Deon sakit.
" Kau telah membuat aku kecewa, dan aku tidak setulus yang kamu pikirkan. Aku berteman denganmu karena aku merasa kasihan kepadamu yang tidak punya teman, kalau ada yang mau berteman denganmu pasti aku sudah mundur dari awal." Ketus Valle.
Hati Deon seperti tersayat sembilu, kata kata Valle mampu membunuh hidupnya saat ini juga.
Merasa putranya sudah terdesak, tuan Daniel menghampiri mereka. Kebetulan ia mengenal Argham karena bisa di katakan mereka teman bisnis. Ia tidak menyangka jika gadis yang di sukai oleh putranya adalah putri dari rekan bisnis nya.
" Selamat malam tuan Argham."
Argham mendongak menatap tuan Daniel yang berdiri di depannya.
" Tuan Daniel? Selamat malam Tuan. Silahkan duduk!" Ucap Argham.
" Terima kasih Nak." Ucap tuan Daniel di balas anggukkan kepala oleh Valle.
Argham melirik Deon yang masih diam di kursinya, ia merasa Deon harus pergi dari sana. Melihat itu tuan Daniel tersenyum.
" Kenalkan, ini Deon putra saya."
" Apa???" Pekik Argham kaget. Bagaimana bisa ia menghajar putra dari rekan bisnis yang telah banyak membantunya selama ini? Argham merutuki kebodohannya.
" Maaf Tuan, saya tidak tahu jika Deon putra anda. Bahkan saya tadi sempat memukulnya." Ucap Argham.
" Tindakan anda untuk melindungi putri anda sudah benar tuan Argham, sudah sewajarnya seorang ayah melakukan hal itu. Lagian di sini putra saya yang salah karena bertindak tidak sopan kepada putri anda. Saya minta maaf!" Ujar tuan Daniel.
Argham menjadi tidak enak hati.
" Saya ke sini untuk meminta maaf atas apa yang telah putra saya lakukan terhadap nak Alle... "
" Valle Pa, hanya aku yang boleh memanggilnya dengan sebutan Alle." Sahut Deon tidak terima panggilan sayangnya terhadap Valle di duplikat oleh ayahnya.
__ADS_1
Tuan Daniel terkekeh melihat sikap anaknya yang posesif.
" Baiklah maafkan Papa." Ujar tuan Daniel.
" Nak Valle saya ingin meluruskan permasalahan yang sedang kalian hadapi, tentang alasan yang telah di ucapkan oleh putra saya, saya pastikan semuanya benar. Saya berharap nak Valle mau memaafkan putra saya dan tetap berteman dengannya. Bukan begitu tuan Argham?" Tuan Daniel menatap Argham.
" Ah iya Tuan." Sahut Argham.
Argham menatap ke arah Valle.
" Bagaimana sayang? Apa kau mau memaafkan Deon?" Tanyanya.
" Aku mungkin bisa memaafkannya Pa, tapi untuk dekat seperti sebelumnya aku tidak bisa. Aku merasa kecewa dengan Deon karena secara tidak langsung dia telah meragukan aku dan menyamakan aku seperti teman teman sebelumnya. Untuk ke depannya aku harap kau tidak menemuiku lagi Deon." Ucap Valle mengeluarkan kekecewaannya.
" Alle aku mohon jangan seperti ini!" Deon beranjak berdiri di depan Valle.
" Aku mohon Alle! Hanya kamu satu satunya teman yang aku miliki. Aku tidak mau pindah sekolah lagi karena aku nyaman bersamamu berada di sekolah itu. Aku mohon!" Deon mengatupkan kedua tangan di depan dadanya dengan tatapan menghiba.
Valle menghembuskan kasar nafasnya.
" Maaf aku tidak bisa, aku tidak akan nyaman bersama cowok normal sepertimu. Aku tidak mau menjadi bulan bulanan teman teman setelah mereka tahu kau seorang cowok yang normal dan anak orang kaya, Deon. Aku harap kau menghargai keputusanku."
Pupus sudah harapan Deon untuk tetap menjalin hubungan pertemanan dengan Valle.
" Aku tunggu di mobil, Ma, Pa. Aku permisi dulu." Valle meninggalkan mereka semua menuju parkiran. Deon hendak mengejarnya namun tuan Daniel mencegahnya.
" Berikan dia waktu." Ucap tuan Daniel.
Dengan patuh Deon menganggukkan kepala.
" Tuan Argham saya berharap anda bisa membantu permasalahan yang sedang anak anak hadapi, mereka masih membutuhkan bimbingan dan perhatian dari kita." Ujar tuan Daniel penuh arti.
" Saya akan membantu Tuan, Valle anak yang baik. Dia hanya butuh waktu untuk melupakan semuanya." Sahut Argham.
" Terima kasih." Ucap tuan Daniel.
" Aku harus membujuk Alle, aku tidak mau kehilangannya. Alle kau yang membuatku merasakan indahnya jatuh cinta, aku tidak akan menjadikanmu cinta monyetku tapi aku akan menjadikanmu cinta sejatiku." Batin Deon.
Mohon maaf jika bab ini kurang berkenan di hati readers semua. Author terinspirasi dari anak anak sekarang yang sudah menyukai lawan jenis saat mereka masuk sekolah menengah pertama.
Tapi jangan lupa tetap like, koment dan vote ya...
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....