
Erick kalang kabut dengan perintah yang Devita berikan. Ia bingung, apakah Devita sedang mengujinya atau memang benar benar memintanya menjaga Mikayla? Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ayu mendekati Erick dengan langkah tertatih karena rasa sakit pada bagian pergelangan kakinya.
" Apa Devita marah pada kita?" Erick membalikkan badannya menatap Ayu yang sedang membungkuk sambil memegangi kakinya. Ia nampak meringis menahan sakit.
" Tidak. Dia hanya ada keperluan lain saja dengan suster tadi, makanya tidak masuk ke sini. Kau istirahatlah! Aku akan meminta dokter untuk memeriksa kakimu." Ucap Erick membuat hati Ayu tersentuh. Tapi sayang, semuanya sudah terlambat. Ayu merasa terbang untuk sesaat, namun sedetik kemudian ia tersadar jika perhatian yang Erick berikan padanya atas perintah Devita, ia tersenyum kecut.
Erick meninggalkan Ayu menuju ruang dokter, kebetulan yang bertugas saat itu adalah dokter Rayhan. Mertuanya sendiri, ia masuk ke dalam ruangan papa mertuanya.
" Ada apa Erick? Apa kau menyusul Devi? Dia ada di toilet." Ujar dokter Rayhan.
" Tidak Pa, kami sudah bertemu tadi. Aku hanya ingin meminta tolong pada Papa untuk memeriksa kaki Ayu yang terkilir." Sahut Erick di balas anggukan kepala oleh dokter Rayhan.
" Baiklah Papa akan memeriksanya, kau di sini tunggu Devi keluar atau dia akan marah jika di tinggal sendirian karena dia tadi berpesan pada Papa untuk tidak meninggalkannya." Ujar dokter Rayhan.
Dengan senang hati dan senyum yang mengembang, Erick menganggukkan kepalanya. Dokter Rayhan keluar dari ruangannya, Erick duduk di kursi yang ada di depan meja dokter Rayhan sambil menunggu Devita.
Ceklek...
Erick menoleh ke arah pintu kamar mandi, ia tersenyum melihat Devita yang sedang sibuk dengan ikat pinggang spageti nya.
" Pa aku pulang ke rumah Papa ya, aku kangen sama kamarku." Ucap Devita belum menyadari keberadaan Erick. Ia berjalan mendekati meja, Erick segera membalikkan badannya memunggungi Devita.
Tanpa memperhatikan siapa yang duduk, tiba tiba Devita membungkukkan badannya lalu..
Cup...
Devita mengecup pipi Erick yang di sangka papanya. Tidak mau membuang kesempatan, Erick langsung menarik tangan Devita hingga jatuh ke dalam pangkuannya, ia mengunci tubuh Devita dengan memeluk pinggangnya.
" Ma.. mas Erick." Devita melongo menatap Erick.
Erick langsung menempelkan bibirnya pada bibir kenyal Devita. Tangannya merasuk ke leher belakang Devita menahan tengkuk Devita untuk memperdalam ciumannya. Devita menepuk neouk punggung Erick agar melepaskan ciumannya, namun Erick malah semakin menjadi. Ia mencium bibir Devita dengan rakus. Suara decapan memenuhi ruangan yang saat ini mereka tempati.
Devita akhirnya hanya bisa pasrah menikmati ciuman suaminya. Jujur saja ia pun merasa candu dengan bibir Erick. Setelah puas memainkan lidah di dalam mulut istrinya, Erick melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Devita dengan lembut lalu menyatukan kening keduanya.
" Maafkan aku telah menyakiti dan membuatmu marah." Ucap Erick mengelus pipi Devita.
__ADS_1
" Aku sudah memaafkanmu Mas, tapi aku tidak bisa menahan rasa cemburuku." Sahut Devita mengalungkan tangannya ke leher Erick agar tidak jatuh.
" Itu tandanya kamu sayang sama aku, aku senang sayang." Ujar Erick.
" Mas senang membuat aku cemburu?" Devita melotot menatap Erick.
" Bukan begitu sayang, aku senang kalau kamu menunjukkan kecemburuanmu. So aku bisa tahu sampai mana kamu menyayangiku." Ucap Erick menoel hidung Devita dengan mesra.
Devita tersenyum malu, niatnya ingin marah namun tidak bisa.
" Sudah tidak marah lagi?" Tanya Erick menatap Devita. Devita menggelengkan kepalanya.
" Terima kasih sayang." Erick kembali mengecup bibir Devita, kali ini hanya mengecupnya saja.
" Kita lanjutkan nanti di rumah." Sambung Erick mengerlingkan sebelah matanya.
Devita turun dari pangkuan Erick.
" Aku mau pulang." Ucap Devita mengambil tas selempang nya di atas meja.
" Ah iya aku hampir melupakan putri cantikku itu." Ucap Devita membuat Erick terkekeh.
" Ya sudah ayo kita ke sana Mas!" Devita menarik tangan Erick. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruang rawat Mikayla.
Sampai di ruangan Mikay, mereka menghampiri Ayu yang sedang di balut kakinya oleh dokter Rayhan.
" Mbak Ayu kenapa Pa? Apa lukanya parah hingga harus di perban begitu?" Tanya Devita mendekati papanya.
" Hanya terkilir sayang, tapi belum boleh banyak bergerak dulu takut tulangnya geser." Ujar dokter Rayhan.
" Banyakin istirahat Mbak, biar aku dan Mas Erick yang jagain Mikay." Ucap Devita menatap Ayu.
" Terima kasih." Sahut Ayu.
Devita mendekati ranjang Mikayla. Ia mengelus pipi mungil Mikayla yang sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan infus di tangan kanannya. Ia merasa iba melihat bayi yang tidak berdaya itu.
__ADS_1
" Mikay kenapa Mbak?" Tanya Devita.
" Tadi dia badannya panas Dev, terus kejang kejang gitu. Aku panik tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku langsung menelepon Erick tanpa memikirkan perasaanmu lebih dulu. Aku minta maaf!" Ucap Ayu.
" Tidak apa apa Mbak, maafkan aku juga yang kurang bersikap dewasa." Ujar Devita. Ayu menganggukkan kepalanya.
Ayu membaringkan tubuhnya di atas sofa setelah di periksa dokter sedangkan Erick dan Devita duduk di bangku samping ranjang sambil menjaga Mikayla yang sedang tidur.
Di tempat lain tepatnya di dalam kamar Argham, saat ini Jia sedang muntah muntah di wastafel kamar mandi. Dengan setia Argham menemaninya sambil memijat pelan tengkuk Jia.
" Hah... " Jia mencoba mengatur nafasnya yang nampak ngos ngos an setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Ia membasuh mulutnya dengan air bersih lalu mengeringkannya dengan tisu yang Argham sodorkan padanya.
" Terima kasih Mas." Ucap Jia di balas anggukkan oleh Argham.
" Mas bantu ke ranjang." Argham segera menggendong Jia dengan pelan seolah tidak mau terjadi sesuatu pada Jia. Ia menurunkan Jia di ranjang, lalu menyelimuti tubuh Jia hingga batas bahu.
" Istirahatlah! Mas akan membuatkan susu jahe hangat untukmu." Ucap Argham mencium kening Jia.
Argham keluar dari kamar Jia bersamaan dengan Valle yang masuk ke dalam sambil menggendong Raffa.
" Ma.. Ma.. Ma... " Raffa nampak berceloteh senang melihat Jia. Ia mengulurkan tangannya meminta gendong kepada Jia.
" Duduk aja di sini! Mama tidak bisa gendong Raffa saat ini. Raffa sama Kakak aja ya." Valle menurunkan Raffa di samping Jia.
Yang namnya anak kecil pasti tidak bisa di bilangin. Raffa merangkak naik ke tubuh Jia. Jia tersenyum lalu memeluk sang putra tercinta.
" Anak Mama... " Jia mencium pipi gembul Raffa.
" Maafkan Mama ya sayang, karena Mama kamu jadi kurang terurus begini. Kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kak Vale daripada dengan Mama." Jia merasa sedikit bersalah kepada Raffa.
" Jangan merasa bersalah seperti itu sayang." Ucap Argham mendekati Jia sambil membawa nampan berisi susu jahe di tangannya.
" Iya Mas, maaf!" Ucap Jia.
Argham membantu Jia bersandar pada temukan bantal, lalu ia memberikan segelas susu jahe kepada Jia. Ia nampak sangat menyayangi dan menjaga Jia dengan sepenuh hati. Hal ini membuat Jia merasa bahagia karena telah di cintai oleh seorang Argham.
__ADS_1
TBC....