
Taman yang begitu indah dengan di hiasi bunga bunga yang bermekaran di sekelilingnya. Ribuan kupu kupu nampak mengitari bunga tersebut membuat pemandangan menjadi menakjubkan. Lervia sampai menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, selama lima tahun berada di pulau itu ia tidak pernah melihat dunia luar.
" Ya Tuhan... Ini indah sekali Wilson." Lervia berlari ingin menangkap salah satu kupu kupu itu namun sayang sekali kupu kupu itu lebih dulu terbang meninggalkannya.
Tiba tiba wajah Lervia menjadi sedih, melihat hal itu Wilson segera menghampirinya.
" Kenapa sayang?" Tanya Wilson merangkul pundak Lervia.
" Kupu kupu itu saja enggan aku dekati, apalagi orang? Sepertinya aku memang tidak layak berada di tengah tengah mereka. Aku terlalu kotor." Ucap Lervia.
" Siapapun yang mendekatinya pasti kupu kupu itu akan terbang untuk melindungi dirinya, bukan karena siapa orang yang mendekatinya. Bahkan seseorang yang paling suci pun belum tentu bisa menangkap salah satu dari kupu kupu itu." Ucap Wilson membuat Lervia terharu.
Ia mendongak menatap wajah Wilson yang masih terlihat tampan.
" Apa kau mau berdekatan denganku?" Tanya Lervia membuat Wilson terkekeh.
Bukankah mereka sudah berdekatan? Lalu kenapa Lervia bertanya demikian? Pikir Wilson.
" Bukan berdekatan dalam arti kau menjadi pelangganku. Tapi berdekatan dalam arti kau menerimaku sebagai manusia pada umumnya." Sambung Lervia. Wilson mengerutkan keningnya.
" Bukan sebagai wanita hina seperti sekarang ini." Ucap Lervia.
Wilson tersenyum setelah paham dengan apa yang Lervia maksudkan. Ia menarik tangan Lervia menuju bangku yang ada di bawah pohon rindang, keduanya duduk berdampingan di sana.
" Lervia."
Lervia menoleh ke samping menatap wajah Wilson.
" Jujur, setelah beberapa hari bersamamu aku merasa damai, aku merasa menemukan jati diri yang selama ini telah pergi dari raga ini. Aku memandangmu sebagai wanita biasa bukan wanita hina seperti yang kau pikirkan. Meskipun aku tahu apa pekerjaanmu." Wilson mengelus punggung tangan Lervia.
" Aku ingin hidup lebih lama bersamamu." Sambung Wilson menatap Lervia.
" Kalau begitu, bantu aku keluar dari neraka jahanam itu. Aku sudah tidak sanggup berada lebih lama lagi di sana." Ucap Lervia memberanikan diri. Jika Wilson mau membantunya, ia tidak akan meminta bantuan Argham. Sejujurnya ia tidak mau melibatkan Argham dalam hal ini.
__ADS_1
" Bagaimana caranya? Bukankah jika sudah berada di sana kau tidak bisa keluar begitu saja?" Tanya Wilson.
" Biarkan aku pergi!"
Deg...
" Tidak.. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, setidaknya aku masih bisa bersamamu meskipun aku harus membayarmu setiap harinya." Ujar Wilson.
Lervia bersimpuh di kaki Wilson sambil menggenggam tangannya.
" Biarkan aku pergi dari sini saat ini! Temui aku di kota J, aku tinggal di jalan xx nomer dua. Kau bisa menemuiku di sana dan kita akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri. Itupun jika kau tidak berubah pikiran." Ucap Lervia penuh harap.
" Lalu alasan apa yang harus aku berikan pada mami?" Tanya Wilson.
" Katakan saja, Lora telah mengambilku kembali. Dengan begitu bukan aku yang akan menjadi bulan bulanan mami, tapi Lora." Ucap Lervia.
" Siapa Lora?" Tanya Wilson.
" Lora adalah adikku, dia tinggal di pulau sebelah. Aku mohon biarkan aku pergi sekarang Wilson! Sebelum mami mengerahkan anak buahnya untuk memata matai kita." Ujar Lervia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman. Ia hafal betul dengan beberapa anak buah mami yang selalu mengawasinya, dan saat ini ia tidak melihatnya.
" Jangan kembali pada mami hari ini! Biarkan aku menikmati perjalananku dengan tenang. Aku menyayangimu." Lervia menjatuhkan sebuah kecupan di pipi Wilson. Entah mengapa hati Wilson mendadak menjadi hangat.
" Kau pergi menggunakan apa?" Tanya Wilson.
" Ada biro perjalanan yang sudah menungguku, rahasiakan ini dari mami. Dan jangan lupa temui aku segera setelah kau sampai sana." Ujar Lervia.
" Baiklah, aku akan menulis alamatmu di ponselku." Sahut Wilson.
Wilson mengeluarkan dompet dari saku celananya lalu memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Lervia serta kartu tanpa batas.
" Ini untukmu, aku harap cukup untuk kebutuhanmu sehari hari sebelum kedatanganku. Nomer pinnya akan aku ubah tanggal kelahiranmu." Ujar Wilson.
" Kau tahu tanggal lahirku?" Tanya Lervia memastikan.
__ADS_1
" Aku membacanya di kartu Tanda pengenalmu semalam. Sekarang pergilah! Hati hati di jalan, aku mencintaimu." Ucap Wilson mengecup kening Lervia.
" Terima kasih." Lervia segera memasukkan pemberian Wilson ke dalam tasnya. Ia berlari sambil celingak celinguk menuju mobil yang sedari tadi menunggunya. Ia sangat beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik Wilson. Ia tahu jika Wilson akan mengalami masalah besar karena telah membantunya pergi, apalagi jika sampai mami tahu.
Wilson menatap kepergian wanita yang entah mulai kapan telah mengisi hatinya. Hingga mobil yang Lervia tumpangi meninggalkan taman tersebut. Wilson segera berlari menuju mobilnya lalu kembali ke hotel sebelum anak buah mami melihatnya di sana.
Di dalam perjalanan Lervia terus berdoa untuk kelancaran proses kaburnya dan keselamatannya. Tak lupa ia juga mendoakan untuk keselamatan Wilson.
" Semoga mami percaya dengan alasan Wilson. Aku merasa berhutang budi padamu Wil, aku akan menepati janjiku untuk menjadi istrimu jika kau datang menemuiku kelak. Aku akan menunggumu." Batin Lervia.
Di sebrang sana, Romi yang sedang duduk bersama Argham dan Jia mendadak mendapat telepon dari Lervia yang menggunakan ponsel anak buahnya karena Lervia meninggalkan ponselnya di hotel. Ia yakin ponselnya telah di pasang GPS oleh mami.
" Halo Romi, aku sudah berada di kapal menuju pelabuhan kota J.. " Lervia menceritakan tentang bantuan Wilson dan rencana ke depannya. Ia sangat bahagia karena telah terlepas dari tempat terkutuk itu tanpa hambatan. Tak lupa ia berterima kasih kepada Romi dan Argham. Setelah itu ia menutup sambungan teleponnya.
" Syukurlah ternyata masih ada orang baik yang mau membantunya." Ucap Romi.
Argham tidak berkomentar karena takut salah, ia sangat menjaga perasaan Jia saat ini.
" Semoga orang itu tidak akan menemukannya lagi. Aku merasa kasihan padanya, selama lima tahun menjalankan hidup yang tidak sesuai keinginannya. Itu pasti terasa sangat berat sekali." Ucap Jia.
Argham langsung menatapnya, ia tidak menyangka dengan reaksi yang Jia tunjukkan. Ia berpikir Jia akan semakin khawatir dengan kabar ini namun sepertinya di luar dugaan.
" Kamu sudah tidak khawatir lagi sayang?" Tanya Argham.
" Tidak Mas, aku percaya jika sebenarnya Lervia orang yang baik. Hanya saja nasibnya yang tidak sebaik orangnya, kalaupun dia datang kemari aku tidak keberatan asalkan kedatangannya tidak mengancam kebahagiaan keluarga kita. Bagaimanapun dia ibu dari anak kita, Raffa." Ucap Jia yang pada dasarnya memiliki hati yang mulia.
" Terima kasih sayang, kau memang wanita hebat dan terbaik di dunia ini. Mas sangat bahagia bisa memilikimu. Mas mencintaimu." Argham memeluk Jia sambil memberikan kecupan di dahinya.
" Aku juga Mas." Sahut Jia membalas pelukan Argham.
Romi yang melihatnya nampak iri.
" Ehem ehem."
__ADS_1
TBC...