
Mentari bersinar cerah menyinari bumi dan seisinya. Suara kicau burung terdengar nyaring seolah menyambut indahnya pagi ini. Jia yang sudah terbangun dari tadi kini menyiapkan keperluan untuk anak anaknya seperti baju ganti dan air hangat untuk Valle mandi. Setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk membangunkan sang suami yang baru setengah ia cintai. Namun sampai di dalam kamar ia tidak mendapati Argham di ranjang, ia berpikir mungkin Argham sudah masuk ke kamar mandi.
Jia menyiapkan baju ganti untuk Argham yang ia letakkan di atas ranjang. Sambil menunggu Argham keluar, ia merapikan tempat tidurnya. Ia melipat selimut lalu meletakkannya di atas tumpukkan bantal. Sampai saat itu, Argham belum juga nampak keluar. Jia segera mengetuk pintu kamar mandi, namun ternyata pintunya tidak terkunci.
" Mas.. Mas Argham di dalam." Ujar Jia membuka pintunya.
Kosong....
Kamar mandi nampak kosong begitupun dengan watering closed. Jia kembali keluar, ia turun ke bawah untuk mencari Argham namun ia tidak menemukannya di manapun.
" Ckk... Mas Argham kemana sih? Apa mungkin Mas Argham marah sama aku ya terus berangkat kantor lebih awal? Tapi masa' sih jam segini sudah pergi, atau mas Argham sedang jogging?" Gumam Jia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sampai bi Ijah yang baru pulang dari pasar masuk ke dapur sambil menenteng beberapa tas sayuran di tangannya.
" Apa non Jia mencari den Argham?" Tanya bi Ijah menatap Jia.
" Iya Bi, apa bibi melihat mas Argham?" Jia balik bertanya setelah menjawab pertanyaan bi Ijah.
" Semalam den Argham keluar, katanya mau menemui temannya yang sedang mabuk di club. Tapi sepertinya den Argham tidak pulang Non. Sebenarnya semalam bibi di minta memberi tahu Nona, tapi malah bibi lupa. Maklum bibi sudah tua, bibi minta maaf ya Non." Ujar bi Ijah.
" Tidak apa apa Bi, terima kasih. Saya ke kamar dulu." Ucap Jia.
Jia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya, setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia segera menghubungi Argham. Telepon tersambung namun Argham tidak mengangkatnya.
" Mas Argham kemana sih? Kenapa tidak angkat teleponku? Dia pasti benar benar marah padaku. Ya Tuhan.... Kenapa semua jadi begini? Sebenarnya siapa yang dia temui di club semalam? Aku jadi khawatir, aku takut kejadian waktu itu terulang lagi." Monolog Jia.
Tidak patah semangat, Jia kembali menghubungi Argham. Dan kali ini sesuai harapan Jia, Argham mengangkat teleponnya.
" Hallo assalamu'alaikum, mas Argham dimana? Kenapa semalam tidak pulang Mas? Apa mas Argham baik baik saja? Atau mas Argham dalam masalah?" Jia langsung melontarkan beberapa pertanyaan pada Argham.
" Wa'alaikumsallam, aku ada di rumah sakit."
Deg...
Jantung Jia berdetak sangat kencang, Argham di rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa Argham celaka? Pikir Jia.
__ADS_1
" Mas Argham kenapa di rumah sakit? Apa mas Argham terluka?" Jia kembali bertanya. Argham menyunggingkan senyum kecutnya mendengar ucapan Jia yang nampak mengkhawatirkannya.
" Kau tidak perlu khawatir! Bukan aku yang celaka, tapi Wahyu."
Deg...
Jantung Jia terasa berhenti berdetak, Wahyu? Wahyu celaka? Kenapa? Bagaiamana keadaannya? Apa Wahyu baik baik saja? Ingin sekali Jia mempertanyakan itu pada Argham namun ia tidak mau membuat Argham salah paham padanya seperti sebelumnya.
" Apa kamu tidak ingin tahu bagaimana keadaan Wahyu saat ini? Apa kamu tidak ingin tahu apa yang Wahyu alami sampai dia berakhir di sini? Bukankah dia sahabatmu?" Jia merasa bingung, kenapa justru Argham yang bertanya kepadanya seperti itu. Atau mungkin Argham sedang memancingnya? Jia benar benar tidak habis pikir.
" Jia..." Panggil Argham di sebrang sana.
" Ah iya Mas, bagaimana keadaan Wahyu sekarang?" Akhirnya pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Jia. Sekuat apapun ia melupakan Wahyu, pada dasarnya Wahyu pernah menjadi pemilik hatinya dalam waktu yang cukup lama.
Di sebrang sana Argham memejamkan matanya menahan rasa pedih yang menjalar di dalam hatinya. Ia merasa cemburu dengan perhatian yang Jia berikan pada Wahyu, padahal ia sendiri yang memancingnya.
" Dia baik baik saja, jika berkenan datanglah kemari." Tanpa menunggu jawaban dari Jia, Argham mematikan sambungan ponselnya. Argham sengaja meminta Jia datang ke sana untuk memastikan sesuatu yang baru ia ketahui semalam. Rahasia besar yang sengaja Jia simpan darinya selama ini.
Dua puluh menit taksi yang Jia tumpangi sampai di depan rumah sakit xx. Jia segera turun setelah membayar ongkosnya. Ia segera menuju ruangan dimana Wahyu di rawat.
Ceklek....
Jia membuka pintunya membuat dua pria yang berada di dalam menoleh ke arahnya. Jia menatap Wahyu yang sedang duduk bersandar di ranjang yang saat ini tersenyum manis padanya, tatapan Jia beralih ke arah Argham yang menampilkan senyum kecut. Setelah itu Argham membuang muka membuat Jia semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Argham. Benarkah karena masalah semalam? Atau karena masalah yang lainnya?
" Masuklah Jia!" Ucapan Wahyu menyadarkan Jia dari lamunannya.
Jia masuk ke dalam, ia berjalan mendekati Wahyu dan Argham setelah menutup pintunya.
" Pagi Mas, pagi Wahyu." Sapa Jia.
" Pagi." Sahut Wahyu sedangkan Argham hanya bergumam saja.
" Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk menjengukku kemari Jia." Ucap Wahyu.
__ADS_1
" Maaf Wahyu, aku kemari karena permintaan mas Argham. Kalau mas Argham tidak memintaku kemari, aku tidak akan sampai di sini. Tapi sebagai sahabat aku doakan semoga kau cepat pulih." Ucap Jia.
Kecewa...
Hati Wahyu merasa kecewa mendengar alasan Jia. Namun sebisa mungkin ia tersenyum sambil menganggukkan kepala.
" Duduklah sayang!" Ucap Argham beranjak dari kursinya.
" Terima kasih Mas." Jia yang tidak tahu maksud Argham pun duduk di bangku dekat ranjang, sedangkan Argham berdiri di belakangnya.
" Jia, semalam Wahyu mabuk berat hingga ia harus di larikan ke rumah sakit. Beruntung nyawanya bisa tertolong, kalau tidak mungkin saat ini dia sudah tiada." Jia mendongak menatap Argham.
" Apa kau tidak merasa kehilangan jika sampai Wahyu tiada?" Pertanyaan Argham menohok hati Jia. Ia semakin tidak mengerti dengan maksud Argham.
" Mas sebenarnya apa maksud ucapan mas Argham? Sebagai sahabat tentu aku akan merasa kehilangannya. Mas Argham juga pasti merasa kehilangan kan jika sampai hal buruk terjadi pada Wahyu?" Jia balik bertanya sambil menatap Argham.
" Tentu saja aku kehilangan, tapi sebagai sahabat tidak lebih." Sahut Argham.
Mendengar ucapan Argham yang semakin membuatnya pusing, Jia segera beranjak. Ia berdiri menghadap Argham sambil menatapnya dengan tajam.
" Lalu apa mas pikir aku akan kehilangan Wahyu sebagai..... "
" Selingkuhanmu."
Jeduarrrrr.......
Nah loh darimana Argham tahu nih? Penasaran? Lanjut di bab selanjutnya ya... Sebelum itu jangan lupa telan like koment vote dan mawar yang banyak buat author...
Terima kasih....
Miss U All....
Tbc...
__ADS_1