HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
JAWABAN ATAS DOAKU


__ADS_3

Jantung Jia berdetak sangat kencang saat seseorang menarik tangannya dengan keras hingga badannya berbalik lalu...


Brugh...


Tubuh Jia menimpa Argham dengan posisi telungkup, bibirnya tepat mengenai bibir Argham yang saat ini masih setia memejamkan matanya. Yang menjadi pertanyaan Jia, siapa yang menariknya? Mungkinkah itu Argham? Tapi bagaimana suaminya bisa melakukan hal itu? Atau Erick yang melakukannya? Rasanya tidak mungkin karena sangat terlihat jika Erick hendak mencium Jia. Namun siapapun itu Jia sangat berterima kasih, setidaknya ia selamat dari ciuman Erick.


Jia merasakan punggungnya seperti tertimpa sesuatu, tangannya ke belakang mencoba menggapainya.


Deg...


Seperti sebuah tangan, tapi tangan siapa? Pikir Jia.


Jia menoleh ke samping kanan dimana tangan Argham terulur ke belakang punggungnya. Mata Jia terbelalak saat ia menyadari situasi ini, ia kembali menatap wajah Argham dengan seksama.


" Mas kamu sudah sadar?" Jia tersenyum senang dengan mata berkaca kaca. Namun posisi Argham masih sama, masih memejamkan matanya tanpa merespon ucapannya.


" Jia turun!" Erick mencoba menarik tangan Jia agar turun dari ranjang namun Argham semakin mengeratkan tangannya.


Jia yang merasakan pergerakan tangan Argham menyunggingkan senyumannya. Walaupun Argham belum sadar tapi ia sudah bisa menunjukkan responnya. Ini merupakan kabar baik untuknya.


" Ayo Jia!" Entah kesurupan setan apa hingga Erick memperlakukan Jia seperti miliknya. Jia yang malas meladeni Erick mengalungkan kedua tangannya ke leher Argham. Tangannya menyusup ke bagian bawah leher Argham dengan sempurna sambil terus memandangi wajah tampan suami tercinta.


" Aku bahagia Mas, walaupun mas Argham belum membuka mata, tapi aku tahu mas Argham telah sadar dari koma. Aku akan menunggu sampai mas Argham tersadar dengan sempurna, aku mencintaimu Mas." Jia mengecup kening Argham, pipi kanan, pipi kiri dan berakhir di bibir Argham. Ia menempelkan bibirnya cukup lama di sana.


Merasa di abaikan, Erick keluar dari ruangan dengan kesal. Mendengar pintu telah tertutup, Jia hendak menjauhkan wajahnya dari wajah Argham, namun siapa sangka? Tuhan telah menunjukkan keajaibannya kepada Jia.


Tiba tiba Argham menekan tengkuk Jia lalu ******* bibir Jia dengan lembut. Meski terasa lemah namun Jia tetap menikmatinya. Hatinya berdesir bagaikan ada ribuan kupu kupu yang beterbangan di dalamnya. Benar benar rasa yang luar biasa.


Argham menghentikan kegiatannya, ia membuka mata lalu menatap Jia begitupun sebaliknya.

__ADS_1


" Mas kamu... "


Belum selesai Jia mengucapkan kata katanya, Argham sudah kembali mencium bibirnya. Kali ini ciuman yang Argham berikan tidak selemah tadi. Jia pun membalas ciuman Argham. Keduanya saling membelitkan lidah satu sama lain, menikmati manisnya bertukar saliva hingga suara decapan memenuhi ruangan itu.


Cukup lama mereka berciuman, hingga akhirnya Argham melepas ciumannya lebih dulu karena ia tahu Jia mulai kesulitan bernafas. Jia beranjak dari tubuh Argham, ia turun dari ranjang lalu duduk di kursi pinggir ranjang yang sudah tiga hari ini ia tempati.


" Alhamdulillah Mas, akhirnya mas Argham sadar. Aku panggil dokter dulu Mas." Ucap Jia di balas anggukkan kepala oleh Argham.


Jia keluar memanggil dokter, tak lama ia kembali bersama dokter yang selama ini menangani Argham. Dokter memeriksa alat vital Argham dan hasilnya semua bekerja dengan sempurna. Sampai dokter memeriksa keseluruhan tubuh Argham dan hasilnya semua baik baik saja. Jia merasa lega akan hal itu, tak henti hentinya ia mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa.


Setelah kepergian dokter, Jia berdiri di tepi ranjang menggenggam tangan Argham sambil terus menatapnya.


" Kenapa menatapku begitu? Apa kau begitu merindukanku?" Tanya Argham lirih.


" Sangat." Sahut Jia tersenyum.


" Tiga hari rasanya seperti tiga tahun tanpamu Mas. Aku begitu di tekan oleh keadaan hingga aku hampir merasa putus asa dan menyerah akan keadaan ini. Tapi setiap kali aku melihat wajah mas Argham, semangat itu kembali muncul. Keinginan untuk tetap hidup bersama selamanya begitu membara di hatiku Mas. Aku tetap kuat karenamu." Ujar Jia.


" Apa itu berarti kau mencintaiku?" Pertanyaan Argham sontak membuat mata Jia terbelalak.


" Apa mas Argham tidak pernah menyadari cintaku?" Jia mengembalikan pertanyaan Argham dengan kata yang berbeda.


" Maafkan aku! Saat aku melihatmu bersama pria itu, entah mengapa aku selalu curiga padamu, aku mengira kau tidak punya perasaan yang sama denganku sayang. Maafkan aku!" Ucap Argham mengelus kepala Jia.


" Aku memaafkanmu Mas. Sekarang tidak perlu memikirkan hal itu, yang harus kita pikirkan adalah kesehatan Mas." Ucap Jia menepuk punggung tangan Argham.


" Satu hal yang harus mas Argham tahu, kalau aku mencintai Mas. Kejadian buruk yang menimpa Mas kemarin membuat aku sadar, betapa aku takut kehilanganmu Mas. Aku merasa tidak rela jika harus kehilangan Mas Argham, aku takut tidak bisa hidup tanpa Mas. Aku takut membesarkan anak anak kita sendirian Mas, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika sampai Mas Argham tidak tertolong. Aku benar benar takut Mas." Argham tidak menghentikan Jia, ia ingin tahu isi hati Jia saat ini.


" Semua perasaan itu membuat aku menyimpulkan adanya satu rasa dalam hatiku."

__ADS_1


Jia menatap lekat wajah Argham, Argham tersenyum seolah meminta Jia untuk melanjutkan ucapannya.


" Cinta." Sambung Jia.


" Mungkin ini terdengar terlalu cepat jika aku bisa membalikkan hatiku untuk Mas Argham. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini Mas. Aku mencintai Mas Argham sepenuh hatiku, aku ingin hidup bersama Mas Argham selamanya, aku ingin Mas Argham menjadikan aku satu satunya dan aku ingin Mas Argham selalu berada di dekatku. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku Mas! Aku tidak bisa hidup tanpamu." Entah sadar atau tidak, Jia mencium punggung tangan Argham penuh rasa cinta. Argham pun terkejut melihatnya namun sesaat kemudian ia mengembangkan senyumannya.


Jia menatap Argham dengan perasaan sedikit kecewa karena Argham tidak meresponnya.


" Mas tidak akan pernah meninggalkanmu sayang, Mas berusaha sekuat tenaga berjuang melawan maut hanya untuk kembali kepadamu dan anak anak kita. Mas selalu mendengar ucapanmu yang memberikan mas semangat untuk hidup, bahkan mas juga sering mendengar tangisanmu sayang." Ucap Argham menangkup wajah Jia dengan kedua tangannya. Jia tersenyum mendengar perubahan panggilan Argham untuk dirinya sendiri.


" Maafkan Mas yang telah membuatmu sedih, lagi lagi Mas hanya membawa air mata untukmu. Mas merasa tidak bisa menjadi suami yang baik sayang, maafkan Mas." Seketika wajah Argham nampak berubah, ia merasa sedih dengan apa yang telah ia lakukan kepada Jia.


" Sebelum Mas Argham meminta maaf padaku, aku sudah memaafkannya Mas. Setelah ini aku berharap hanya akan ada kebahagiaan yang menghampiri kehidupan kita Mas. Aku bahagia hidup bersama Mas. Aku mencintai Mas." Ucap Jia.


" Mas lebih mencintaimu sayang." Sahut Argham mencium tangan Jia.


Argham nampak mengedarkan pandangannya, ia hendak mencari Valle namun sepertinya tidak ada tanda-tanda Valle pernah datang ke ruangan ini, karena biasanya Valle pasti akan selalu meninggalkan jejak seperti bungkus permen kesukaannya atau kulit kacang. Atau Jia terlalu bersih membersihkan ruangannya? Pikir Argham.


" Sayang dimana Valle? Kenapa dia tidak menjenguk papanya? Apa kau belum mengabarinya kalau aku sudah sadar?"


Deg...


Pertanyaan Argham membuat Jia bingung, ingin mengatakan yang sebenarnya takut Argham drop lagi. Apalagi Argham baru saja sadar.


" Sayang ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan anak kita?" Tanya Argham dengan panik.


" A... A... "


Mau jawab apa ya?????

__ADS_1


TBC


__ADS_2