
Langit berubah menjadi gelap, bintang mulai muncul menyinari indahnya malam ini. Angin dingin berhembus merasuk ke sendi sendi meninggalkan linu di dalamnya. Seperti hati Argham saat ini, pasalnya hingga jam makan malam tiba Argham belum punya kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Jia karena Jia sibuk mengurus Raffa yang seharian ini rewel. Entah karena tidak enak badan atau karena ingin bermanja manja dengan Jia, Argham tidak tahu.
Selesai makan malam Argham mendekati Jia yang sedang mencuci piring di wastafel, sedangkan Valle dan Raffa kembali ke kamarnya.
Grep....
Tubuh Jia mematung saat Argham memeluknya dari belakang. Argham menempelkan dagunya pada pundak Jia membuat hembusan nafas Argham mengenai leher Jia, mendadak tubuh Jia meremang.
" Sayang aku minta maaf! Aku..."
Belum juga Argham selesai bicara tiba tiba bel rumah berbunyi nyaring. Argham tidak peduli siapa yang datang, yang ia pedulikan saat ini adalah kata maaf dari Jia.
" Sayang aku...."
Ting tong ting tong...
Kali ini suara bel terdengar lebih nyaring dan lebih banyak dari sebelumnya. Argham menghembuskan kasar nafasnya lalu segera berlalu dari sana untuk membukakan pintu.
" Tara....."
Ketiga teman Argham datang kembali ke rumah membuat Argham merasa kesal. Ia merasa ketiga temannya telah mengacaukan kesempatan yang sangat sulit ia dapatkan. Argham memutar bola matanya malas menatap ketiga temannya itu.
" Ngapain kalian ke sini lagi?" Tanya Argham.
" Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan padamu, ayo masuk dulu!" Eko langsung menarik tangan Argham menuju sofa ruang tamu. Siapa tuan rumah dan siapa yang menjadi tamu di sini malah Eko yang mempersilahkan Argham.
Bukannya langsung mengutarakan apa tujuan mereka, mereka malah duduk di sofa sambil berbincang bincang. Argham semakin kesal dengan situasi ini, ia duduk dengan gelisah menunggu mereka mengatakan tujuannya atau sekedar kata pamit dari ketiga temannya ini, namun sepertinya mereka malah betah berada di tempatnya.
__ADS_1
" Gham lo kenapa sih? Kenapa sepertinya lo tidak tenang gitu? Udah kebelet ya pengin ehm ehm sama istri lo." Goda Eko sambil menatap Argham.
" Kalian nggak peka banget sih jadi orang, sudah sana sekarang pada pulang aja. Katanya mau ngomongin sesuatu tapi malah ngobrol sendiri. Mending gue ke kamar tidur." Akhirnya Argham mengeluarkan jurus mengusirnya.
" Eits nggak bisa gitu donk! Ini hari bahagia lo, jadi malam ini lo harus buat kami bahagia biar kita bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan lo. Kita kita kan masih jomblo sedangkan lo udah nikah dua kali. Jadi mari kita bersenang senang. Lo harus traktir kita kita di club xx setelah ini."
Argham melongo mendengar ucapan Adnan.
" Lo tidak boleh nolak lagi! Sekali ini saja lo harus mengabulkan permintaan kita." Sahut Eko.
Ya... Walaupun bisa di katakan mereka teman dekat, namun Argham tidak pernah ikut ngumpul di club malam. Ia benar benar menjaga sikapnya dari hal hal seperti itu, ia merasa harus menjadi contoh yang baik untuk putranya kelak.
" Gue tidak mau." Sahut Argham.
" Sekali ini saja bro, please!!! Kalau lo tidak berani ngomong sama Jia, biar gue aja yang ngomong." Ujar Adnan.
Argham kembali bergabung bersama teman temannya. Mereka segera berangkat ke club xx yang berada di pusat kota. Lima belas menit mereka sampai di club xx. Mereka segera duduk di depan meja bertender lalu memesan minuman sesuai selera mereka. Argham hanya memesan jus anggur saja.
" Cobain ini Gham!" Adnan menyodorkan segelas sloki minuman beralkohol ke depan Argham.
" Gue tidak mau, kalau gue minum nanti di kira Jia gue suka mabuk. Gue nggak mau sampai Jia berpikiran buruk tentang gue." Sahut Argham mendorong gelasnya ke arah Adnan.
" Sekali kali Bro." Ucap Eko.
Adnan dan Eko semakin menyudutkan Argham hingga akhirnya Argham memenuhi keinginan mereka. Argham meminum satu gelas sloki membuat tenggorokannya terasa panas.
Dari satu gelas menjadi dua gelas begitupun seterusnya. Dengan alasan tidak enak dengan teman temannya Argham malah semakin terhanyut dengan dosa yang di tinggalkan minuman h@r@m tersebut sampai pada akhirnya ia mulai meracau. Sedangkan ketiga temannya nampak teler tidak bisa apa apa walaupun hanya sekedar bergerak.
__ADS_1
Di depan club tersebut, Lora baru saja turun dari mobil seorang pria yang menjadi teman kencannya selama ini. Ia masuk ke dalam menuju meja bartender, entah suatu kebetulan atau keberuntungan baginya, tatapannya tertuju pada Argham yang tak berdaya. Ia nampak memperhatikan Argham yang meracau memanggil nama Jia. Senyuman licik mengembang di sudut bibirnya, ia segera mendekati Argham.
" Mas Argham." Bisik Lora di telinga Argham.
Merasa namanya di panggil, Argham mendongak menatap Lora. Namun pandangannya melihat sosok Jia, sosok wanita yang sangat ia cintai.
" Jia." Ucap Alex mengelus pipi Lora.
" Iya ini aku Mas, ayo kita pulang." Ucap Lora selembut mungkin menirukan suara Jia.
Lora meletakkan tangan Argham ke pundaknya, melihat itu Adnan memicingkan matanya menatap sosok Lora lalu membandingkannya dengan sosok Jia dengan sisa sisa kesadarannya.
" Lo siapa? Mau di bawa kemana Argham hah?" Tanya Adnan lirih.
" Gue adiknya, mas Argham mau gue bawa pulang." Sahut Lora.
Lora segera memapah Argham keluar dari club sebelum Adnan melontarkan lebih banyak pertanyaan lagi. Sampai di depan club, ia menyetop taksi. Setelah keduanya masuk ke dalam, taksi segera melaju ke tempat yang Lora sebutkan. Yaitu hotel xx, hotel berbintang yang terletak tak jauh dari club. Ia rela menguras semua isi dompetnya demi melancarkan rencananya.
Tanpa mereka sadari, Alex melihat semuanya. Ia segera mengikuti Argham dan Lora sampai di pelataran hotel. Ia nampak tersenyum smirk lalu kembali melajukan kendaraan roda duanya.
Sampai di dalam hotel, Lora memesan satu kamar paket bulan madu. Ia mengaku kepada petugas hotel jika mereka pasangan yang baru saja menikah. Untuk membuat para pelanggan merasa nyaman, pihak hotel tidak menanyakan bukti pernikahan mereka karena itu merupakan suatu hal yang bersifat pribadi.
Sampai di dalam kamar, Lora segera membaringkan tubuh Argham di atas ranjang. Ia memandangi wajah Argham dengan seksama membuatnya semakin tertarik untuk memiliki Argham.
" Mas Argham." Ucap Lora dengan nada manja sambil mengelus pipi Argham dengan lembut.
Argham mencoba membuka matanya sekuat tenaga. Samar samar ia melihat wajah Jia dalam wajah Lora. Hingga pada akhirnya....
__ADS_1
TBC....