
Satu minggu berlalu, Wahyu dan Jia sama sama merasakan betapa beratnya menahan perasaan masing masing. Jia yang semula semangat membuat cerita novelnya, kini hanya nampak diam saja. Dalam satu minggu ini ia hanya bisa up date dua kali. Semangat dan inspirasinya terasa menghilang begitu saja sejak ia tidak berbalas pesan dengan Wahyu. Jangankan mengetik novel, melakukan pekerjaan rumah saja rasanya malas sekali, ia seperti seorang ABG yang sedang patah hati. Keinginannya melupakan Wahyu nyatanya tidak membuahkan hasil. Semakin ia melupakan, semakin ia teringat. Jia benar benar merasa putus asa dengan perasaannya sendiri.
Saat ini di meja makan, Jia nampak murung. Alex dan Valle menatapnya dengan heran, pasalnya tidak biasanya Jia bersikap seperti ini.
" Jia, aku lihat kamu sudah tidak menulis novel lagi. Biasanya kalau aku tinggal ke luar kota kamu tidurnya sampai malam. Bahkan sampai jam dua belas kamu masih begadang." Ucap Alex.
" Lagi malas aja, nggak ada inspirasi." Sahut Jia malas.
" Entah kenapa aku merasa kamu tidak menulis novel, tapi berbalas chat dengan pria lain."
Uhuk... Uhuk.. Uhuk...
Jia tersedak makanan yang sedang di kunyah nya saat ini. Alex memberikan segelas air putih pada Jia yang langsung di minum oleh Jia sampai tandas. Jia menghirup nafas dalam dalam untuk menghilangkan sesak di dadanya.
" Kamu baik baik saja?" Tanya Alex mulai perhatian.
Bagi Jia terlambat sudah, hati Jia bukan untuk Alex lagi. Lagian Alex menunjukkan perhatian hanya sementara saja, setelah itu ia akan kembali ke mode dingin.
" Memangnya aku chat siapa kalau tidak menulis novel?" Bukannya menjawab, Jia malah balik bertanya.
" Ya siapa tahu ada pria lain yang sedang mendekatimu." Ujar Alex.
" Tidak ada." Sahut Jia.
Pertama kalinya Jia mengucapkan kebohongan kepada suaminya. Selama ini ia selalu berkata jujur dan tidak pernah menyembunyikan apapun dari Alex karena Jia menghormatinya, tapi sekarang rasa hormat itu seakan tidak ada lagi.
Alex tidak banyak bertanya lagi. Mereka melanjutkan makan dengan khidmat. Sampai Alex berangkat ke kantor, Jia mengantar Valle ke sekolahnya.
Sepulang mengantar Valle, Jia telungkup di atas ranjang. Ia menatap foto profile Wahyu. Foto yang di rekomendasikan oleh Jia karena ia menyukai gaya Wahyu di foto itu.
" Sekuat tenaga aku melupakanmu, tapi aku gagal. Aku tidak sanggup melupakanmu Wahyu. Perasaan ini justru semakin dalam, sampai sampai setiap malam aku memimpikanmu." Monolog Jia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam delapan malam, Alex belum juga pulang dari kantornya. Jia nampak khawatir, bagaimana pun Alex suaminya.
" Kemana sih mas Alex, jam segini belum pulang juga. Kebiasaan banget kalau telat pulang nggak ngabarin dulu. Suka banget bikin aku khawatir." Gerutu Jia mengambil ponsel di atas nakas.
Jia segera menelepon Alex, panggilan tersambung namun Alex tidak mengangkatnya. Jia menghela nafasnya kasar.
" Selalu seperti ini, heran aku." Keluh Jia.
__ADS_1
Jia mengetikkan pesan pada Alex.
Mas kamu dimana~ Jia
Jia menatap layar ponselnya, ia berharap centang itu menjadi biru. Namun seperti biasa, Alex tidak membuka pesan yang Jia kirimkan.
Baca Mas kamu buat aku khawatir aja, kalau nggak di baca ya udah masa' bodoh. Mau pulang atau tidak aku tidak peduli
Ketik Jia dengan kesal, ia duduk di tepi ranjang menatap keluar jendela kamarnya.
Ting...
Ponsel Jia berbunyi tanda pesan masuk. Ia membuka pesan yang ternyata dari Alex.
Aku keluar kota sama Bos ~Alex
Kapan pulang Mas ~Jia
Lagi lagi hanya di read doank, istri mana yang betah bersama pria sedingij Alex? Hanya Jia yang mampu bertahan selama tiga belas tahun lamanya.
Jia menghembuskan nafasnya lega setelah mengetahui suaminya baik baik saja. Tiba tiba senyuman mengembang di sudut bibirnya saat ia mengingat Wahyu. Ia membuka whatsapp lalu melihat kontak Wahyu. Jia kembali tersenyum senang saat tahu jika Wahyu sedang online saat ini. Entah dorongan darimana, Jia langsung mengirimkan pesan kepadanya.
Wahyu ~Jia
Ya, gimana ~Wahyu
Aku pengin ketemu bisa nggak? Entah mengapa aku ingin sekali bertemu denganmu, aku ingin memastikan perasaanku padamu. Aku harap kamu mau menemuiku ~Jia
Entah apa yang ada di pikiran Jia saat ini yang jelas hatinya terus mendorong ingin bertemu Wahyu.
Dimana~Wahyu
Di rumah saja, suamiku sedang di luar kota. Kau bisa ke sini nanti, sepertinya Valle sudah tidur ~Jia
Baiklah aku akan ke sana, apapun akan aku lakukan untukmu. Setelah aku sampai kau harus memberiku hadiah ~Wahyu
Gampang kalau itu ~Jia
Jia terus tersenyum bahagia, moodnya mendadak jadi baik. Ia membuka aplikasi novelnya lalu mengetik novel yang selama beberapa hari ini terbengkalai.
Jam sebelas malam Jia masih bertukar pesan dengan Wahyu. Berurusan dengan Wahyu membuat Jia lupa akan suaminya.
__ADS_1
Ting..
Jia aku sudah di depan rumah ~Wahyu
Jantung Jia berdebar kencang, ia bertarung dengan hatinya sendiri. Hatinya menginginkan Wahyu namun pikirannya menolak, Jia tahu jika ini salah tapi hatinya terus mendorong Jia untuk menemui Wahyu. Sebisa mungkin Jia mencoba menjaga kewarasaanya namun Jia lebih memilih kata hatinya.
Lewat pintu belakang aja, aku akan membukanya ~Jia
Baiklah ~Wahyu
Jia segera berjalan menuju dapur, ia membuka pintu yang menghubungkan antara dapur dan halaman belakang yang ia jadikan tempat untuk menjemur pakaian dan membakar sampah. Nampak Wahyu berdiri sambil celingak celinguk, ia takut ada orang yang memergoki mereka.
" Masuk aja." Ucap Jia setengah berbisik.
Wahyu masuk ke dalam, Jia segera menutup pintunya. Punggung Wahyu menempep pada tembok kamar mandi, sedangkan Jia berdiri di depannya. Keduanya saling melempar pandangan.
Deg.. Deg... Deg...
Jantung keduanya berpacu dengan cepat seperti genderang mau perang. Wahyu menarik Jia ke dalam pelukannya.
Grep...
Jia menubruk dada bidang Wahyu.
Nyaman...
Satu kata untuk yang mereka rasakan saat ini. Hati Jia berdesir, entah mengapa pelukan Wahyu terasa begitu hangat. Hancurlah sudah kesetiaan yang Jia jaga selama ini. Saat ini ia hanya menginginkan Wahyu, Jia ingin menghabiskan waktu bersama Wahyu.
" Pelukan ini begitu nyaman Jia." Bisik Wahyu di telinga Jia. Jia menganggukkan kepalanya. Seolah ia tidak mau kehilangan rasa nyaman ini. Rasa nyaman yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya.
Kini Jia bisa mengerti perasaannya, Jia jatuh cinta pada Wahyu. Pada seorang pria yang telah berkeluarga. Jia tahu ini salah, tapi perasaan itu hadir dengan sendirinya. Jia tidak menyalahkan dirinya sendiri, semua ini terjadi karena sikap suaminya. Dan bukankah perasaan cinta Tuhan yang telah memberikannya? Jia ingin egois kali ini, ia ingin merasakan kebahagiaannya sendiri.
Wahyu melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Jia dengan kedua tangannya. Keduanya kembali saling bertatapan sampai Wahyu memajukan wajahnya. Ia mencium bibir Jia dengan lembut. Bukannya menolak, Jia malah mengalungkan tangannya ke leher Wahyu. Perlahan tapi pasti, Jia membalas ciuman Wahyu yang sungguh memabukkan baginya. Suara decapan memenuhi ruangan itu, ruangan yang menjadi saksi pengkhianatan Jia terhadap suaminya.
Ciuman yang semula lembut kini berubah menjadi menuntut. Tangan Wahyu berada di salah satu gundukan kembar milik Jia. Ia meremasnya dengan pelan, sampai....
Sampai besok lagi....
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat nih dengan kebijakan baru NT..
Terima kasih...
__ADS_1
TBC...